Minggu, 10 Oktober 2010

TUGAS IDK 3 "KAnker VS Tumor"

2.1 Proses Infeksi dan Konsep Dasar Mikrobiologi
2.1.1 Dua tujuan hidup: Survive & Reproduksi
Mikroorganisme adalah semua organisme yang berukuran kecil (mikro), sehingga untuk mengidentifikasinya diperlukan alat bantu (mikroskop). Mikroorganisme yang dikenal secara umum terdiri dari; bakteri, virus, jamur (fungi). Sama halnya dengan manusia, mikroorganisme juga menjalankan dua tujuan hidupnya, yaitu bertahan hidup (survive), dan berkembang biak (reproduksi).
A. Reproduksi Mikroorganisme
1. Algae
Algae bereproduksi dengan cara aseksual dan seksual. Pada setiap tipe reproduksi mereka menggunakan banyak cara. Beberapa algae mempunyai daur hidup yang rumit yang mencakup cara-cara aseksual maupun seksual.
2. Bakteri
Reproduksi pada protozoa ialah melalui proses aseksual dan seksual, tergantung kepada spesies dan kondisi lingkungannya. Beberapa protozoa mempunyai daur hidup yang sangat rumit.
3. Virus
B. Survive Mikroorganisme.
Cara mikroorganisme bertahan hidup terkait dengan adaptasinya dengan lingkungan. Beberapa factor di bawah ini merupakan hal-hal yang mampu mempengaruhi keberlangsungan hidup mikroorganisme.
1. Suhu.
Berdasarkan kisaran suhu aktivitasnya, bakteri dibagi menjadi 3 golongan:
a. Bakteri psikrofil, yaitu bakteri yang hidup pada daerah suhu antara 0°– 30°C, dengan suhu optimum 15°C.
b. Bakteri mesofil, yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu antara 15° – 55°C, dengan suhu optimum 25° – 40°C.
c. Bakteri termofil, yaitu bakteri yang dapat hidup di daerah suhu tinggi antara 40° – 75°C, dengan suhu optimum 25° – 40°C.
Pada tahun 1967 di Yellow Stone Park ditemukan bakteri yang hidup dalam sumber air panas bersuhu 93° – 94°C.
2. Cahaya.
Cahaya sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan bakteri. Umumnya cahaya merusak sel mikroorganisme yang tidak berklorofil. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan terjadinya ionisasi komponen sel yang berakibat menghambat pertumbuhan atau menyebabkan kematian. Pengaruh cahaya terhadap bakteri dapat digunakan sebagai dasar sterilisasi atau pengawetan bahan makanan.
Jika keadaan lingkungan tidak menguntungkan seperti suhu tinggi, kekeringan atau zat-zat kimia tertentu, beberapa spesies dari Bacillus yang aerob dan beberapa spesies dari Clostridium yang anaerob dapat mempertahankan diri dengan spora. Spora tersebut dibentuk dalam sel yang disebut endospora. Endospora dibentuk oleh penggumpalan protoplasma yang sedikit sekali mengandung air. Oleh karena itu endospora lebih tahan terhadap keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan bakteri aktif. Apabila keadaan lingkungan membaik kembali, endospora dapat tumbuh menjadi satu sel bakteri biasa. Letak endospora di tengah-tengah sel bakteri atau pada salah satu ujungnya.
3. Kelembapan.
Pada umumnya bakteri memerlukan kelembapan yang cukup tinggi, kira-kira 85%. Pengurangan kadar air dari protoplasma menyebabkan kegiatan metabolisme terhenti, misalnya pada proses pembekuan dan pengeringan.

2.1.2 Kontak antara manusia dan mikro’organisme yang mengntungkan
Bakteri yang menguntungkan dan merugikan di dalam tubuh manusia
Bifidobacterium merupakan bakteri menguntungkan. Bayi yang mengkonsumsi ASI memiliki 92% bakteri itu. Bakteri lain yang menguntungkan ialah:

Bakteri Entamoeba coli
hidup di kolon (usus besar) manusia, berfungsi membantu membusukkan sisa pencernaan juga menghasilkan vitamin B12, dan vitamin K yang penting dalam proses pembekuan darah.
Lactobacillus bulgaricus untuk pembuatan yogurt susu
Streptococcus thermophilu untuk pembuatan yogurt susu
Streptococcus lactis untuk pembuatan mentega susu
Lactobacillus sp. untuk pembuatan terasi ikan
Pediococcus cerevisiae untuk pembuatan sosis daging
Lactobacillus bulgaricus untuk pembuatan kefin susu
Srteptococcus lactis untuk pembuatan kefin susu
Bacillus brevis, menghasilkan terotrisin (antibiotik)
Bacillus subtilis, menghasilkan basitrasin (antibiotik)
Bacillus polymyxa, menghasilkan polimixin (antibiotik)
Hasil sebuah penelitian yang diumumkan ilmuwan baru-baru ini dalam pertemuan akbar Nasional ke-19 yang bertemakan “Manusia dan obat-obatan” yang diadakan di Rusia pada Mei 2007 lalu, menyebutkan bahwa bakteri yang hidup di dalam tubuh manusia ada 1-3 kg. Bakteri yang hidup di kulit manusia saja ada 100 macam bakteri, dan jumlah mikroba adalah 10 kali lipatnya dari total sel manusia. Di antara mereka terdapat bakteri mematikan, tapi ada juga bakteri bermanfaat dan mutlak bagi manusia.
Jika dalam jangka panjang dipengaruhi oleh bakteri perusak, maka susunan organisme akan mengalami perubahan. Akibatnya dapat menyebabkan terjadinya penyakit kronis. Penyakit menular yang tidak disembuhkan saat muda dapat menjadi penyakit gawat menjelang dewasa. (Tampak dalam gambar adalah karang gigi). Berbagai penyakit yang diderita manusia justru karena keseimbangan antara bakteri yang merugikan dan bermanfaat mengalami perpecahan. Rusaknya keseimbangan ini menjadi awal proses peradangan, dan tentu saja, akan merusak kesehatan. Menurut hasil statistik para ilmuwan menunjukkan, bahwa dalam berbagai kondisi dapat menyebabkan terjadinya peradangan akut selaput lendir.
Periodontosis, mungkin dapat mengakibatkan susunan penyangga dan sekitar gigi rusak. Bakteri perusak pada rongga mulut harus bertanggung-jawab terhadap 75% tanggalnya gigi orang dewasa, bahkan dalam sejumlah kondisi dapat mengakibatkan penyakit lainnya, misalnya memburuknya penyakit urine, atau kelahiran dini wanita hamil setelah terinfeksi. Dewasa ini, banyak negara-negara maju di dunia sangat memperhatikan penelitian diagnosa klinis. Sebab dengan bantuan mereka, ilmuwan bisa secara tepat memastikan sejumlah besar bakteri perusak. Dan bisa dengan segera merespon terhadap soal ini, agar dapat mencegah penyakit yang serius. (Sumber Boxun-rekanan Dajiyuan).
2.1.3 Agen-agen infeksius
Infeksi adalah proses invasif oleh mikroorganisme dan berpoliferasi di dalam tubuh yang menyebabkan sakit (Potter & Perry, 2005). Infeksi adalah invasi tubuh oleh mikroorganisme dan berproliferasi dalam jaringan tubuh. (Kozier, et al, 1995). Dalam Kamus Keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah invasi dan multiplikasi mikroorganisme dalam jaringan tubuh, khususnya yang menimbulkan cedera seluler setempat akibat metabolisme kompetitif, toksin, replikasi intraseluler atau reaksi antigen-antibodi. Munculnya infeksi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan dalam rantai infeksi. Adanya patogen tidak berarti bahwa infeksi akan terjadi.
Mikroorganisme yang bisa menimbulkan penyakit disebut pathogen (agen infeksi), sedangkan mikroorganisme yang tidak menimbulkan penyakit/kerusakan disebut asimtomatik. Penyakit timbul jika pathogen berkembang biak dan menyebabkan perubahan pada jaringan normal. Jika penyakit bisa ditularkan dari satu orang ke orang lain, penyakit ini merupakan penyakit menular (contagius). Mikroorganisme mempunyai keragaman dalam virulensi/keganasan dan juga beragam dalam menyebabkan beratnya suatu penyakit yang disebabkan.
Mikroorganisme yang termasuk dalam agen infeksi antara lain bakteri, virus, jamur, parasit, riketsia, dan clamidia. Mikroorganisme di kulit bisa merupakan flora transient maupun resident. Organisme transient normalnya ada dan jumlahnya stabil, organisme ini bisa hidup dan berbiak di kulit. Organisme transien melekat pada kulit saat seseorang kontak dengan obyek atau orang lain dalam aktivitas normal. Organisme ini siap ditularkan, kecuali dihilangkan dengan cuci tangan. Organisme residen tidak dengan mudah bisa dihilangkan melalui cuci tangan dengan sabun dan deterjen biasa kecuali bila gosokan dilakukan dengan seksama. Mikroorganisme dapat menyebabkan infeksi tergantung pada: jumlah microorganisme, virulensi (kemampuan menyebabkan penyakit), kemampuan untuk masuk dan bertahan hidup dalam host serta kerentanan dari host/penjamu.

A. Virus
Virus adalah parasit intraseluler obligat dan ukurannya 20-300 nm, bentuk dan komposisi kimianya bervariasi,tetapi hanya mengandung RNA atau DNA. Partikelnya secara utuh disebut Virion yang terdiri dari Capsid yang dapat terbungkus oleh sebuah Glycoprotein/ membrane lipid. Virus resisten terhadap antibiotics. Virus terutama berisi asam nukleat (nucleic acid), karenanya harus masuk dalam sel hidup untuk diproduksi.
Organisme ini tidak mampu bermetabolisme/ bereplikasi mandiri, memerlukan organel sel terinfeksi untuk berkembang biak. Oleh karena itu, virus dikelompokkan ke dalam organism intrasel obligat, memerlukan sel hidup untuk berepllikasi. Setelah masuk ke dalam sel mikroorganisme ini mengubah biosintetik dan metaboliknya ke sintesis viral-encoded asam nukleat dan protein.
Mikroorganisme ini merupakan penyebab tersering timbulnya penyakit pada manusia sering tanpa gejala dan berkembang tanpa diketahui. Hal demikian menyebabkan perbedaan antara infeksi virus (replikasi ditubuh penjamu) dan penyakit virus (replikasi disertai kerusakan jaringan) sangat kritis. Lebih lanjut, banyak infeksi tanpa disertai eliminasi virus dari tubuh tetapi menetap bertahun-tahun atau seumur hidup, multiplikasi berlanjut dan dapat diperlihatkan sebagai infeksi menahun atau hidup di dalam bentuk laten non-infektif dengan potensi direktifkan kemudian, contoh yang klasik yaitu virus herpes zoster penyebab cacar air (varicella) dapat menetap dalam bentuk laten di ganglia dorsalis dan secara periodic diaktifkan timbul sebagai vesikel dikulit yang dapat menyebabkan rasa sakit.
Sel yang terinfeksi virus akan mengalami perubahan yang secara mikroskopik dapat dilihat sebagai ciri sel terinfeksi virus berupa:
 Pembengkakan sel, sitoplasma sel menggelembung seperti balon (ballooning cells), terlihat pada sel hati dengan hepatitis virus akut.
 Inclusion body, merupakan materi hasil produksi metabolisme virus, mikroskopik tampak sebagai materi halus merata berbatasa tegas pada inti, dijumpai pada infeksi virus Rabies pada sel neuron.
 Koilosit, sel dengan inti sedikit membesar dan tampak keruh seperti berpasir, secara electron mikrograf merupakan komponen virus, serta sitoplasma lebar memiliki rongga jernih (halo) sekeliling inti dengan dinding sitoplasma tebval dan tegas. Cirri sel koilosit ini tampak pada infeksi papiloma virus manusia (human papilloma virus- HPV).
 Sel datia, sel berinti banyak dengan sitoplasma lebar, biasanya terlihat pula inclusion body, terlihat pada infeksi virus herpes simplex, atau dapat berupa sel dengan inti sangat besar dan mengandung inclusion body, seperti pada infeksi cytomegalo virus (CMV).
 Ground glass, bangunan seperti dasar gelas yang terlihat di sitoplasma sel, mudah ditemukan pada sel hati terinfeksi virus hepatitis B, yang secara imunohistokimia merupakan komponen selubung virus.
Patogenesis penyakit akibat infeksi virus dapat berlangsung karena beberapa hal, seperti:
 Sel terinfeksi mati/ nekrosis misalnya pada infeksi virus hepatitis A, yang bersifat hepatotoksik.
 Fungsi sel terganggu oleh karena perubahan kecepatan metabolism, seperti pada infeksi rotavirus yang mengganggu sintesis protein oleh enterosit yang berfunsi sebagai transportasi molekul dari lumen usus sehingga timbul diare.
 Virus melepas mediator kimia yang mengganggu fungsi sel seperti pada infeksi virus influenza.
 Menimbulkan perubahan poliferasi sel yang kemudian tidak terkontrol, seperti pada infeksi HPV yang menimbulkan perubahan prakanker dan kanker.
 Infeksi laten tanpa mengganggu sel, baru kemudian pada keadaan status imunitas seluler menurun akan menimbulkan penyakit, akibat perubahan sel lama setelah infeksi primer, misalnya pada infeksi cytomegalo virus dan herpes simplex.
Infeksi berbagai jenis virus yang menyebabkan penyakit sering digolongkan ke dalam sistem organ yang terkena seperti infeksi virus pernapasan, bentuk kelainan klinik yang ditimbulkan seperti virus yang menyebabkan eksantema, dan sifat infeksi laten virus.

B. Bakteri
Bakteri merupakan mikrobia prokariotik uniselular, termasuk klas Schizomycetes, berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan sel. Bakteri tidak berklorofil kecuali beberapa yang bersifat fotosintetik. Cara hidup bakteri ada yang dapat hidup bebas, parasitik, saprofitik, patogen pada manusia, hewan dan tumbuhan. Habitatnya tersebar luas di alam, dalam tanah, atmosfer (sampai + 10 km diatas bumi), di dalam lumpur, dan di laut. Bakteri mempunyai bentuk dasar bulat, batang, dan lengkung. Bentuk bakteri juga dapat dipengaruhi oleh umur dan syarat pertumbuhan tertentu. Bakteri dapat mengalami involusi, yaitu perubahan bentuk yang disebabkan faktor makanan, suhu, dan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi bakteri. Selain itu dapat mengalami pleomorfi, yaitu bentuk yang bermacam-macam dan teratur walaupun ditumbuhkan pada syarat pertumbuhan yang sesuai. Umumnya bakteri berukuran 0,5-10 ┬Ám. Bakteri diklasifikasikan berdasarkan deskripsi sifat morfologi dan fisiologi. Bakteri dibagi menjadi 1 kelompok (grup), dengan Cyanobacteria pada grup 20. Pembagian ini berdasarkan bentuk, sifat gram, kebutuhan oksigen, dan apabila tidak dapat dibedakan menurut ketiganya maka dimasukkan ke dalam kelompok khusus. Bakteri juga merupakan organisme hidup dan dapat ditemukan di mana-mana. Ada waktu saat sistem kekebalan tubuh tidak dapat menyingkirkan suatu infeksi bakteri. Antibiotik berfungsi untuk membunuh bakteri dan menghentikan pertumbuhannya. Infeksi bakteri sering terjadi bersamaan dengan adanya rasa sakit, nyeri atau borok pada bagian tubuh kita.
Bakteri memiliki flagel atau bulu cambuk, pili atau fimbriae, kapsula atau lapisan lendir, dinding sel dimana ada yang struktur dinding sel bakteri Gram Negatif yaitu merupakan struktur yang berlapis, sedangkan bakteri Gram Positif mempunyai satu lapis yang tebal. Dalam sel bakteri terdapat membran sitoplasma, protoplasma, inti, organel-organel lain yang memiliki peran masing-masing. Bila bakteri tumbuh di dalam medium yang tidak cair, maka terjadilah suatu kelompok yang dinamakan koloni. Bentuk koloni berbeda-beda untuk setiap spesies, dan bentuk itu merupakan ciri khas bagi suatu spesies tertentu. Pengamatan bakteri dapat kita lakukan secara individual, satu persatu, maupun secara kelompok dalam bentuk koloni, dan sifat-sifatnya dapat kita ketahui melalui koloni yang tumbuh di medium permukaannya.
 Sifat umum suatu koloni
 Sifat khusus suatu koloni dalam medium padat
 Sifat khusus suatu koloni dalam medium cair
Dalam kehidupan manusia bakteri mempunyai peranan yang menguntungkan maupun yang merugikan.
Bakteri yang menguntungkan adalah sebagai berikut :
 Pembusukan (penguraian sisa-sisa mahluk hidup contohnya Escherichia colie).
 Pembuatan makanan dan minuman hasil fermentasi contohnya Acetobacter pada pembuatan asam cuka, Lactobacillus bulgaricus pada pembuatan yoghurt, Acetobacter xylinum pada pembuatan nata de coco dan Lactobacillus casei pada pembuatan keju yoghurt.
 Berperan dalam siklus nitrogen sebagai bakteri pengikat nitrogen yaitu Rhizobium leguminosarum yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman kacang-kacangan dan Azotobacter chlorococcum.
 Penyubur tanah contohnya Nitrosococcus dan Nitrosomonas yang berperan dalam proses nitrifikasi menghasilkan ion nitrat yang dibutuhkan tanaman.
 Penghasil antibiotik contohnya adalah Bacillus polymyxa (penghasil antibiotik polimiksin B untuk pengobatan infeksi bakteri gram negatif, Bacillus subtilis penghasil antibioti untuk pengobatan infeksi bakteri gram positif, Streptomyces griseus penghasil antibiotik streptomisin untuk pengobatan bakteri gram negatif termasuk bakteri penyebab TBC dan Streptomyces rimosus penghasil antibiotik terasiklin untuk berbagai bakteri.
 Pembuatan zat kimia misalnya aseton dan butanol oleh Clostridium acetobutylicum.
 Berperan dalam proses pembusukan sampah dan kotoran hewan sehinggga menghasilkan energi alternatif metana berupa biogas. Contohnya methanobacterium.
 Penelitian rekayasa genetika dalam berbagai bidang.sebagai contoh dalam bidang kedokteran dihasilkan obat-obatan dan produk kimia bermanfaat yang disintesis oleh bakteri, misalnya enzim, vitamin dan hormon.
Bakteri yang merugikan sebagai berikut :
 Pembusukan makanan contohnya Clostridium botulinum.
 Penyebab penyakit pada manusia contohnya Mycobacterium tuberculosis ( penyebab penyakit TBC ), Vibrio cholerae ( penyebab kolera atau muntaber ), Clostridium tetani (penyebab penyakit tetanus ) dan Mycobacterium leprae (penyebab penyakit lepra ).
 Penyebab penyakit pada hewan contohnya Bacilluc antrachis (penyebab penyakit antraks pada sapi ).
 Penyebab penyakit pada tanaman budidaya contohnya Pseudomonas solanacearum (penyebab penyakit pada tanaman tomat, lombok, terung dan tembakau) serta Agrobacterium tumafaciens (penyebab tumor pada tumbuhan).
C. Jamur
Jamur merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan, dan reproduksinya. Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Untuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit.
Peranan jamur dalam kehidupan manusia sangat banyak, baik peran yang merugikan maupun yang menguntungkan. Jamur yang menguntungkan meliputi berbagai jenis antara lain sebagai berikut.
 Volvariella volvacea (jamur merang) berguna sebagai bahan pangan berprotein tinggi.
 Rhizopus dan Mucor berguna dalam industri bahan makanan, yaitu dalam pembuatan tempe dan oncom.
 Khamir Saccharomyces berguna sebagai fermentor dalam industri, keju, roti, dan bir.
 Penicillium notatum berguna sebagai penghasil antibiotik.
 Higroporus dan Lycoperdon perlatum berguna sebagai dekomposer.
Di samping peranan yang menguntungkan, beberapa jamur juga mempunyai peranan yang merugikan, antara lain sebagai berikut.
 Phytium sebagai hama bibit tanaman yang menyebabkan penyakit rebah semai.
 Phythophthora inf'estan menyebabkan penyakit pada daun tanaman
kentang.
 Saprolegnia sebagai parasit pada tubuh organisme air.
 Albugo merupakan parasit pada tanaman pertanian.
 Pneumonia carinii menyebabkan penyakit pneumonia pada paru-paru manusia.
 Candida sp. penyebab keputihan dan sariawan pada manusia.

Rickettsia
Ordo : Rickettsiales
Famili : Ricketsiaceae
Genus : Rickettsia

Meskipun sangat kecil dan selalu terdapat di dalam sel, Rickettsia merupakan bakteri, bukan golongan virus. Rickettsia memiliki sifat-sifat yang sama dengan bakteri yakni mengandung asam nukleat yang terdiri dari RNA dan DNA, berkembang biak dengan pembelahan biner, dinding sel mengandung mukopeptida, mempunyai ribosom,, mempunyai enzim aktif pada metabolisme, dihambat oleh obat-obatan anti bakteri dan dapat membentuk ATP sebagai sumber enersi. Rickettsia dapat berbentuk batang, kokoid atau pleomorf, bersifat negatif Gram, berukuran 1-0,3 mikron, merupakan parasit interseluler obligat. Penyakit yang ditimbulkannya ditandai dengan demam dan kelainan pada kulit. Rickettsiosis ditularkan lewat gigitan serangga pada kulit, hanya penyebab Q fever yang ditularkan lewat udara, sehingga pada penyakit ini tidak ditemukan kelainan kulit.

Sifat-sifat Kuman
Dalam pewarnaan Giemsa, Rickettsia terlihat berwarna biru. Dapat dilihat dengan mikroskop biasa. Tumbuh dalam kantong kuning telur bertunas dengan cara sentrifugasi dapat diperoleh kuman murni. Rickettsia juga dapat tumbuh dalam biakan sel. Perbandingan kadar RNA dan DNA pada rickettsia adalah 3,5 : 1. Dinding sel serupa dengan dinding sel kuman negatif Gram, terdiri dari peptidoglikan yang mengandung asam muramat. Rickettsia mempunyai enzim yang penting untuk metabolisme. Dapat mengoksidasi asam piruvat, suksinat, dan glutamat serta merubah asam glutamat menjadi asam aspartat.
Rickettsia tumbuh dalam berbagai bagian dari sel. Rickettsia prowazekii dan Rickettsia typhi tumbuh dalam sitoplasma sel. Sedangkan golongan penyebab spotted fever tumbuh di dalam inti sel. Rickettsia dapat tumbuh subur jika metabolisme sel hospes dalam tingkat yang rendah, misalnya dalam telur bertunas pada suhu 32o C. Pada umumnya rickettsia dapat dimatikan dengan cepat pada pemanasan dan pengeringan atau oleh bahan-bahan bakterisid.

Antigen dan Antibodi
Terdapat tiga macam antigen utama pada rickettsia yaitu antigen grup, antigen spesies, dan antigen yang serupa dengan proteus. Antigen grup dapat ditemukan di lingkungan kuman , berasal dari permukaan lapisan pembungkus kuman. Pada golongan tifus dan spotted fever, mereka memiliki antigen grup yang sama. Sedangkan pada golongan scrub tifus mempunyai antigen grup sangat heterogen. Antibodi pada rickettsiosis mulai muncul pada minggu kedua sakit dan akan mencapai puncaknya sewaktu atau sesudah penyembuhan berlangsung.

Gambaran Patologis
Rickettsia berkembang biak di dalam sel endotel pembuluh darah kecil. Sel membengkak dan mengalami nekrosis, kemudian terjadi thrombosis pembuluh darah yang dapat mengakibatkan rupture dan nekrosis. Di kulit Nampak adanya lesi vaskuler. Vaskulitis terjadi pada beberapa organ merupakan dasar terjadinya gangguan hemostatik. Dalam jaringan otak dapat ditemukan penumpukan limfosit.
1. Golongan Tifus ( Typhus group)
Rickettsia penyebab tifus epidemik dan tifus endemic, yaitu Rickettsia prowazekii dan Rickettsia typhi. Kuman ini berkembang biak di dalam sitoplasma sel hospes. Penyakit yang ditimbulkannya disebut demam tifus. Masa inkubasi demam ini antara 5-18 hari.
• Tifus Epidemik
Biasa disebut louse-borne typhus, camp fever atau jail fever. Penyakit ini ditularkan oleh kutu manusia, Pediculus vestimentii yang bersarang di dalam lipatan pakaian. Dalam sehari, kutu beberapa kali keluar untuk menghisap darah dari kulit manusia. Jika darah yang dihisapanya mengandung kuman, maka kuman tersebut akan berkembang pada sel-sel usus kutu tersebut. Sewaktu sel pecah, kuman keluar dan bercampur dengan tinja kutu. Sambil mengisap darah, kutu mengeluarkan tinja. Gigitan kutu menimbulkan rasa gatal, sewaktu hospes menggaruk, tinja yang terinfeksi secara tidak sengaja masuk ke dalam luka gigitan dan menimbulkan infeksi. Kutu yang terkena infeksi mati dalam waktu 1-3 minggu. Pada tifus epidemik gejala penyakitnya berat dan deman berakhir dalam waktu 2 minggu.
• Tifus Endemik
Biasa disebut dengan murine typhus, ras typhus atau fleaborne typhus. Penyebabnya adalah Rickettsia ty phi. Penyakit ini ditularkan dari tikus ke tikus dan dari tikus ke manusia melalui pinjal tikus dan dari kutu tikus. Selain itu, kutu manusiapun dapat menularkannya. Mekanisme infeksinya serupa yang terjadi pada tifus epidemik, yaitu lewat tinja dan luka di kulit. Penyakit ini sering ditemukan pada daerah-daerah yang banyak tikus. Gejala penyakit ini lebih ringan jika dibandingkan dengan tifus epidemik. Jarang berakibat fatal kecuali pada orang-oarang tua.
2. Golongan spotted fever
Penyakit demam pada golongan ini disebabkan oleh beberapa jenis Rickettsia yang sukar dibedakan dari penyebab golongan tifus, dapat berkembang biak dalam sitoplasma maupun inti sel hospes. Penyakit ini terutama ditularkan oleh sengkenit (tick). Dalam tubuh sengkenit, kuman tersebar di seluruh organ, termasuk ovarium dan kelenjar ludah sehingga dapat terjadi transmisi secara transovarium dan melalui air ludah.
Dalam golongan ini termasuk Rocky Mountain spotted fever yang disebabkan oleh Rickettsia rickettsii. Mediteraneum fever, South African tick borne fever disebabkan oleh Rickettsia conorii, dan lain sebagainya.

Golongan Demam Semak
Demam semak biasanya disebabkana karena Rickettsia tsustsugami, Rickettsia nipponica, Rickettsia akamushi, atau Rickettsia orientalis. Penyakit ini bersifat endemik dan ditularkan melalui oleh tungau trombiculid. Tungau trombiculid dewasa meletakkan telurnya di atas tanah lembab yang kaya humus. Telur menetas dan keluar larva. Stadium larva adalah kondisi dimana larva menghisap darah , setelah menghisap darah, larva menjatuhkan diri ke tanah dan membentuk menjadi nimfa dan kemudian menjadi dewasa. Secara klinik, penyakit ini ditandai dengan adanya demam, menggigil,dan sakit kepala hebat. Dalam beberapa hari selanjutnya, timbul kelainan di kulit dan pneumonitis.

Golongan Q fever
Disebabkan oleh Coxiella burnetii. Penularan lewat manusia lewat inhalasi partikel infeksius dan bukan lewat giggitan serangga. Penyakit yang ditimbulkan oleh coxiella pada manusia berlangsung secara mendadak, demam, dan menggigil tanpa kelainan kulit. Dapat menimbulkan pneumonitis.

Golongan Demam Parit
Disebut dengan demam lima hari, demam quintina, dan lain sebagainya. Penyakit ini disebabkan oleh Rochalimaeae.Penyakit ini ditularkan melalui kutu manusia lewat tinja yang dikeluarkannya. Kuman berkembang biak di dalam lumen usus dan bukan di dalam epitel usus. Pada demam ini, penderita kan menggigil berlangsung secara mendadak, hilang timbul dengan siklus 3-5 hari. Gejala lainnya berupa sakit kepala, malaise, nyeri otot, dan nyeri tulang. Kelainan kulit nampak pada masa demam.

Chlamydia.
Ordo : Chlamydiales
Famili : Chlamydiaceae
Genus : Chlamydia
Dikenal juga dengan Miyagawanellla atau Bedsonia. Negatif Gram, berukuran 0,2 -1,5 mikron, berbentuk sferis, tidak bergerak dan merupakan parasit intrasel obligat. Chlamydia termasuk bakteri, memiliki ribosom, RNA, dan DNA, dinding sel dari peptidoglikan yang mengandung asam muramat.Chlamydia berkembang melalui beberapa stadium mulai dari badan elementer yang infeksius, berbentuk sferis dengan garis tengah 0,2-0,4 mikron, memiliki satu inti dan sejumlah ribosom. Badan elementer kemudian berubah menjadi badan inisial dan kemudian badan intermedier.Siklus perkembangan Chlamydia memakan waktu 24-48 jam.
Chlamydia mempunyai 2 jenis antigen yaitu antigen grup dan antigen spesies. Keduanya terdapat di dalam dinding sel. Antigen spesies tetap dalam dinding sel meskipun sebagian besar grup telah dilepaskan dengan fluorocarbon atau deoksikholat.
Chlamydia dapat dibeda-bedakan atas dasar patologenitas dan jenis hospes yang diserangnya. Dua spesies yang terpenting adalah :
• Chlamydia psittaci
Membentuk badan inklusi intrasitoplasma yang tersebar secara difus dan tidak mengandung glikogen. Penyebab penyakit Psittacosis pada manusia, ornitosis pada burung, dll.
• Chlamydia trachomatis
Membentuk badan inklusi intrasitoplasma yang padat dan mengandung glikogen. Dapat menyebabkan pneumonitis pada tikus.Pada manusia dapat menyebabkan penyakit trachoma, konjungtivitas inklusi, uretritis non-spesifik, salpingitis, servisitis, pneumonitis.

Parasit
Vermes
1. Nemathelminthes
Badan berbentuk bulat memanjang dan pada potongan transversal tampak rongga badan dan alat-alat. Cacing ini memiliki alat kelamin terpisah
2. Platyhelmintes
Dibagi menjadi kelas trematoda dan cestoda . Kelas ini memiliki bentuk tubuh pipih, tidak memiliki rongga badan, dan biasanya bersifat hemafrodit.Kelas trematoda berbentuk daun, badannnya tidak bersegmen, mempunyai alat pencernaan. Kelas Cestoda mempunyai bentuk pita dan terdiri atas skoleks, leher dan badan (Strobila) yang bersegmen

Protozoa
Adalah hewan bersel satu yang hidup sendiri atau pun dalam koloni. Pada umunya protozoa mempunyai dua stadium yaitu bentuk vegetatif dan bentuk generative. Bentuk vegetatif atau stadium trofozoit. Berukuran kecil sekali, hanya beberapa micron saja. Bentuk protozoa ada yang bulat, lonjong, simetris, bilateral,atau tidak teratur. Protozoa terdiri dari inti dan sitoplasma. Kelangsungan hidup protozoa berdasarkan kemampuan reproduksi yang tinggi. Reproduksi pada protozoa terdiri dari aseksual dan seksual. Pembiakan aseksual terdiri dari belah pasang, skizogoni,kista. Pembiakan seksual yaitu, sporogoni dan konyugasi.
Protozoa dibagi menjadi empat kelas :
• Rhizopoda ( mis, Entomoeba hystolitica, Entomoeba coli, amoeba, dll)
• Mastighospora (mis, Trichomonas,Leismania,Giardia lamblia,Trypanosoma,dll)
• Ciliata (mis, Balantidium Coli)
• Sporozoa

Infeksi parasit ke dalam tubuh manusia dapat mealui kontak langsung maupun melalui perantara. Pada jenis vermes, infeksi yang terjadi biasanya melalui hospes perantara seperti sapi, babi, siput air tawar, dll. Kelas Ciliata dan Flagellata, infeksi juga melalui serangga seperti nyamuk dan lalat. Namun, kadangkala infeksi juga terjadi akibat kontak langsung. Hal ini biasanya terjadi pada kelas rhizoppoda dimana sumber penyakit langsung mengkontaminasi tubuh tanpa melalui hospes perantara.

2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi transmisi agen-agen infeksius
Penyakit dapat menular terjadi sebagai akibat dari adanya interaksi agent, proses transmisi dan host (pejamu).Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi transmisi agen infeksius diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Factor penyebab atau agent
b. Sumber penular (hewan, manusia, air, dll)
c. Penularan (kontak-langsung, udara, makanan n minuman, vektor)
Sumber dan tempat masuknya infeksi diantaranya adalah sebagai berikut:
 Infeksi melalui udara
Pada waktu kita bernafas udara dapat berisi dua partikel-partikel yang bersifat infeksi yaitu:
a. Debu, Meskipun kering tapi masih dapat mengandung bakteri.
b. Droplest (tetesan), Berupa tetesan ludah atau dapat juga berbentuk mukosa pada Waktu batuk atau bersinyang dapat menyebabkan infeksi kepda orang lain secara langsung.
 Infeksi secara kontak langsung atau melalui luka
Sudah dikenal sejak lama bahwa timbulnya kelamin, seperti penyakit tetanus, gas gangren serta infeksi streptococus kerena kontak langsung dengan luka.
 Infeksi melalui injeksi
Jarum suntik yang tidak steril dapat pula menularkan penyakit pada orang lain seperti hepatitis.
 Infeksi berasal dari keracunan makanan
Kelompok bakteri seperti Salmonella atau Stapillococcus dapat ditularkan melalui makanan yang bersifat carier. Penularan dapat terjadi pada makanan melalui perantara tikus atau lalat. Kuman dapat tumbuh dan berkembang dengan bebas didalam makanan yang telah berkontaminasi dengan kuman penyakit. Dalam hubungan ini infeksi terutama terjadi pada salauran pencernaan yang menyebabkan gastroenteris, Dengan gejala khusus diare dan muntah. Demikian pula penyakit tipus dan para tifus, dapat ditularkan melalui makanan. Botulismus adalah tipe kuman yang paling berbahaya yang menyebabkna keracunan makanan yang sering terjadi pada produksi makanan kaleng. Yakni kuman Clostridium botulinum yang terdapat dalam daging.
Susu, sering jadi perantara dari berbagai macam penyakit infeksi. Secara langsung sapi dapat menyebabkan penyakit TBC kelenjar limfe yang disebabkan Mycobacterium Tubercolosis tipe bovinus. Penyakit difteria pun dapat ditularkan melalui susu, misalnya melalui carier dari penjual susu.
 Water- Brone Infection
Selokan, sungai banyak mengandung kuman penyakit yang bersak dari kotoran manusia atau binatang, kotoran atau sampah yang berasal dari rumah sekitarnya. Penyakit yang dapat ditularkan melalui perantara air yang telah terkontaminasi dengan kuman ini antara lain: tifus kolera dan penyakit kuman menular lainnya.

 Infeksi yang disebabkan oleh manusia (Carier)
Setelah seseorang sembuhdari penyakit infeksi tertentu, dalam jumlah yang terbatas, orang tersebut menjadi penerus kehidupan kuman didalam dirinyza atau yang disebut dengan carier atau bacilen drager atau pembawa kuman.
 Infeksi sebagai carier Infeksi
Mikroba yang patogen dari berbagai macam jenis disebarkan melalui lalat, kutu atau pinjal binatang, kutu bususk atau tumbela. Plasmodium malaria diisap oleh nyamuk dari orang yang menderita penyakit malaria, sesudah mengalami siklus perkembangan didalam badan nyamuk kemudian nyamuk tersebut menulrkan parasit yang dewasa kepada manusia sehat lainnya (keiasaan nyamuk yang meludah terlebih dahulu, dengan demikian memasukkan parasit ke dalam tubuh manusia).
Lalat mewmindahkan bakteri atau virus secara mekanis, yaitu dengan bulu-bulu yang melekat pada kakinya, atau yang terdapat pada kotoran lalat, berkontaminasi dengan makanan. Pinjal atau kutu binatang (tikus), memindahkna mikroba plagua (kuman penyakit pest=sampar) yang disebut Pasteurella pastis dari tikus-tikus yang telah mati ke manusia yang sehat. Demikian pula kutu dapat menyebarkan kuman thyfus fever terhadap masyarakat yang tidak higienies dan kelaparan.
d. Host yang rentan.
Di definisikan sebagai orang atau binatang yang memberikan tempat yang cocok bagi suatu agent yang infeksius, untuk tumbuh dan berkembang dalam kondisi yang alamiah. Cara masuk host adalah melalui kulit, membrane mukosa, saluran pernapasan dan saluran pencernaan
 Reaksi dari host terhadap adanya agent infeksi itu amat bervariasi di pengaruhi oleh interaksi antara host, agent dan factor transmisi
 Mulai dari tidak ada gejala hingga gejala berat
 Periode inkubasi
 Derajat kekebalan/resistensi host
Secara umum berbagai penyebab yang mempengaruhi transmisi agen infeksius, sehingga dapat menyebabkan terjadinya infeksi adalah sebagai berikut:
a. Faktor internal
• kegagalan sistem imun pasien menghadapi berbagai kuman penyakit.
• Keadekuatan virus yang berlebihan
• umumnya gangguan pertumbuhan, khususnya sel-sel yang tumbuh dengan luar biasa cepat yang di sebut tumor.
• Host yang rentan, misalnya yang tidak mempunyai daya tangkal terhadap agent tertentu karena di pengaruhi oleh beberapa factor. Antara lain : status gizi, keturunan, imunitas dan factor resiko lainnya. Sehingga mudah terinfeksi oleh agen infeksius.
• penyempitan pembuluh darah dan gangguan faal tubuh lainnya
• Kelainan kongenital (cacat bawaan)
• Pradisposisi yaitu factor pada tubuh yang menyebabkan tubuh mudah terserang penyakt. Misalnya keturunan, umur, jenis kelamin, bentuk perawakan dan kebiasaan.
b. Faktor eksternal
• kontaminasi makanan/minuman dengan kuman tersebut
• melalui inhalasi/droplet infection
• hubungan seksual (51% kasus)
• penggunaan narkoba intravena (45% kasus)
• menyebar melalui paparan darah/produk darah
• Kontak langsung dengan luka infeksi atau saliva dan darah yang terinfeksi.
• Kontak tidak langsung dari alat-alat yang terkontaminasi.
• Percikan darah, saliva atau sekresi nasofaring langsung pada kulit yang terluka maupun yang utuh atau mukosa.
• Aerosol atau penyebaran mikroorganisme melalui udara.

2.1.5 Perbedaan proses infeksi berbagai agen infeksius
Perbedaan Proses Infeksi pada Virus, Bakteri dan Jamur berdasarkan struktur, siklus hidup dan mekanisme yang menyebabkan kerusakan sel penjamu
I. Virus
a. Struktur Virus
Virus merupakan mikroorganisme terkecil yang pernah dikenal. Ukurannya kira-kira 300x250x100 nm sampai 20 nm. Inti virion merupakan asam nukleat yang seringkali bergabung dengan protein sehingga disebut nucleoprotein. Memiliki kapsid yaitu lapisan protein lain di luar nucleoprotein yang berfungsi sebagai pembungkus. Kapsid terdiri dari sejumlah kapsomer yang terikat satu sama lain dengan ikatan nonkovalen yang berfungsi melindungi asam nukleat dari pengaruh ekstraseluler, mempermudah proses penempelan dan mungkin pula proses penembusan ke dalam sel. mengandung RNA atau DNA dalam tubuhnya.
Struktur tubuh virus secara sederhana adalah sebagai berikut:
1. Ukuran <200 mikrometer
2. Bagian dalam tubuhnya terdiri dari asam nukleat dan enzim
3. Penutup tubuh yang terdiri dari kapsid dan amplop
b. Siklus Hidup virus
Proses infeksi virus pada sel dimulai dengan menempelnya virus infektif pada reseptor yang ada di permukaan sel. Ada tidaknya reseptor tersebut pada sel tertentu ditentukan oleh factor genetik, tingkat diferensi sel dan lingkungan sel. selanjutnya virus atau genomnya masuk ke dalam sel. Dengan bantuan organel-organel sel, genom virus membentuk komponen-komponennya, baik komponen antara maupun komponen structural virus. Setelah komponen-komponen structural dirakit, virus dilepaskan dari dalam sel.
Gambar siklus infeksi virus:









c.
d.
e.
f. Mekanisme yang menyebabkan kerusakan sel penjamu
Patogenesis penyakit akibat infeksi virus dapat berlangsung karena beberapa hal seperti:
1. Sel terinfeksi mati/nekrosis misalnya pada infeksi virus hepatitis A yang bersifat hepatotoksik
2. Fungsi sel terganggu oleh karena perubahan kecepatan metabolism, seperti pada infeksi rotavirus yang mengganggu sintesis protein oleh enterosit yang berfungsi sebagai transportasi molekul dari lumen usus sehingga timbul diare
3. Virus melepas mediator kimia yang mengganggu fungsi sel seperti pada infeksi virus influenza
4. Menimbulkan perubahan proliferasi sel yang kemudian tidak terkontrol seperti pada infeksi HPV yang menimbulkan perubahan prakanker dan kanker
5. Infeksi laten tanpa mengganggu sel, baru kemudian pada keadaan status imunitas seluler menurun akan menimbulkan penyakit, akibat perubahan sel lama setelah infeksi primer, misalnya pada infeksi cytomegalo virus dan herper simplex
Akibat infeksi virus pada sel
1. Kerusakan sel akibat virus sitosidal
Pada sel yang terinfeksi, terjadi perubahan-perubahan biokimiawi. Protein awal virus akan menyebabkan RNA sel tidak berfungsi dan pembentukan protein sel pun berkurang sampai hilang sehingga akhirnya akan bersifat letal untuk sel. Selain itu beberapa komponen virus sendiri, mungkin kapsid, bersifat toksik untuk sel dan pengumpulan virion dalam jumlah besar akan menyebabkan sel mengalami distorsi. Kadang- kadang lisosom pecah dan menyebabkan lisis sel. Akibat penyebaran infeksi dari satu sel ke sel tetangganya, maka lama-lama sejumlah sel akan mati dan tampak sebagai plaque. Selain itu, juga dapat terjadi piknosis inti, yaitu perubahan pada struktur anak inti dan kromatin serta pembentukan massa granular atau fibriler di dalam sitoplasma
2. Pembentukan antigen baru pada permukaan sel
Pembentukan antigen baru ini sebenarnya yang terbentuk adalah antigen virus. Beberapa di antara virus berselubung pada membrane sel, setelah bahan-bahan selubung disintesis dan ditransportasikan ke membran sel. Selanjutnya virus akan dilepaskan keluar sel dengan proses budding.
3. Pengaruh infeksi pada kromosom dan mitosis
Virus berpengaruh pada mitosis sel. Pada infeksi yang menyebabkan steady state infection, mitosis sel berlangsung terus bersama-sama dengan perkembangbiakan virus sendiri. Beberapa virus baik yang sitosidal maupun yang tidak sitosidal dapat menyebabkan aberasi kromosom. Aberasi ini tidak hanya terjadi pada sel yang peka infeksi tetapi juga pada sel yang tidak begitu peka .
4. Perubahan biokimiawi pada sel
Efek pertama akibat kebanyakan infeksi virus yang bersifat litik adalah hambatan replikasi DNA, disusul sintesis RNA sel. Sebagai akibatnya penyediaan ribososm baru juga mengalami gangguan, sedangkan ribosom yang ada dipakai untuk pembentukan protein yang diperlukan untuk perkembangbiakan virus. Selain itu, setelah infeksi berlangsung, aktivitas beberapa enzim meningkat.
II. Bakteri
a. Struktur bakteri
Bakteri termasuk dalam golongan prokariota yang strukturnya lebih sederhana dari eukariota, kecuali bahwa struktur dinding sel prokariota lebih komplek dari eukariota
Struktur bakteri:
1. Inti dan nucleus
Badan inti tidak mempunyai dinding inti atau membrane inti. Di dalamnya terdapat benang DNA (DNA fibril) yang bila diekstrasi, berupa molekul tunggal dan utuh dari DNA dengan berat molekul 2-3x109
2. Struktur Sitoplasma
Sel prokariota tidak mempunyai mitokondria atau kloroplast sehingga enzim-enzim untuk transport electron tidak bekerja di membrane sel, tetapi pada lamellae yang berada di bawah membrane sel. Bakteri menyimpan makanan cadangannya dalam bentuk granula sitoplasma.Pada sitoplasma prokariota tidak didapatkan struktur mikrotubulus seperti yang ada pada eukariota.
3. Membran sitoplasma
Membran sitoplasma disebut juga membrane sel yang komposisinya terdiri dari fosfolipid dan protein. Membran sel dari semua jenis prokariotik tidak mengandung sterol, kecuali genus Mycoplasma. Di tempat-tempat tertentu pada membrane sitoplasma terdapat cekungan atau lekukan ke dalam yang disebut mesosom
Ada 2 jenis mesosom:
a. Septal mesosom: berfungsi dalam pembelahan sel
b. Lateral kromosom
Kromosom bakteri (DNA) melekat pada septal mesosom
4. Dinding sel
Dinding sel terdiri dari lapisan peptidoglikan yang disebut juga sebagai lapisan murein atau mukopeptida. Dinding sel yang ada pada bakteri atau sel kuman relative sangat kuat sehingga meskipun tekanan osmotiknya tinggi, sel kuman tidak akan pecah.
5. Kapsul
Kapsul merupakan hasil sintetis bakteri terhadap polimer ekstrasel yang berkondensasi dan membentuk lapisan di sekeliling sel. Pada umumnya kuman yang berkapsul lebih tahan terhadap efek fagositosis dari daya pertahanan badan
6. Flagel
Flagel adalah bagian kuman yang berbentuk seperti benang yang umumnya terdiri dari protein dengan diameter 12-30 nanometer. Flagel merupakan alat pergerakan. Flagel memiliki 3 jenis yaitu:
a. Monotrik: flagel tunggal dan terdapat di bagian ujung kuman
b. Lofotrik: lebih dari satu flagel di satu bagian polar kuman
c. Amfitrika: flagel terdapat satu atau lebih di kedua polar dari kuman
d. Peritrik : flagel tersebar merata disekeliling badan kuman
7. Pili=fimbriae
Beberapa kuman negative gram memiliki rambut pendek dan keras yang disebut pili. Pili terdiri dari subunit-subunit protein . pili terdiri dari 2 jenis yaitu:
a. Pili yang memegang peranan dalam adhesi kuman dengan sel tubuh hospes
b. Seks pili yang berfungsi dalam konjugasi kuman
Struktur sel bakteri bagian dalam:
Dibandingkan dengan eukaryota, bagian dalam sel bakteri sangat sederhana.struktur bakteri bagian dalam antara lain:
Kromosom dan plasmid


Struktur sel prokaryota
Tidak seperti eukaryota, kromosom bakteri tidak dikelilingi membran-bound nucleus melainkan ada di dalam sitoplasma sel bakteri. Ini berarti translasi, transkripsi dan replikasi DNA semuanya terjadi di tempat yang sama dan dapat berinteraksi dengan struktur sitoplasma lainnya, salah satunya ribosom. Kebanyakan bakteri memiliki plasmid. Plasmid dapat dengan mudah didapat oleh bakteri. Namun, bakteri juga mudah untuk menghilangkannya. Plasmid dapat diberikan kepada bakteri lainnya dalam bentuk transfer gen horizontal.
Membran intraselular
Membran intraselular dapat ditemui pada bakteri fototrof, bakteri nitrifying dan bakteri metana.
Ribosom
Semua prokaryota memiliki 70S (di mana S = satuan Svedberg) ribosom sedangkan eukaryota memiliki 80S ribosom pada sitosol mereka.
Vakuola gas
Dengan mengatur jumlah gas dalam vakuola gasnya, bakteri dapat meningkatkan atau mengurangi kepadatan sel mereka secara keseluruhan dan bergerak ke atas atau bawah dalam air.
Endospora
Beberapa genus bakteri dapat membentuk endospora bila keadaan lingkungan yang jelek. Spora adalah kuman dalam bentuk istirahat. Spora bersifat sangat resisten terhadap panas, kekeringan dan zat kimiawi
b. Siklus Hidup bakteri
c. Mekanisme yang menyebabkan kerusakan sel penjamu
Virulensi kuman merupakan derajat patogenitas yang dinyatakan dengan jumlah mikroorganisme atau mikogram toksin yang dibutuhkan untuk membunuh binatang percobaan dengan syarat-syarat tertentu. Patogenitas adalah kemampuan suatu mikroorganisme untuk menyebabkan penyakit.
Virulensi kuman dipengaruhi oleh:
1. Daya invasi
Daya invasi adalah kemampuan untuk berpenetrasi ke jaringan, mengatasi pertahanan tubuh hospes, berkembang biak dan menyebar. Daya invasi dipengaruhi oleh komponen permukaan dan enzim-enzim kuman tertentu yang membantu penyebaran kuman serta membuatnya resisten terhadap fagositosis. Enzim-enzim yang dihasilkan kuman yang membantu penyebarannya antara lain koagulase, fibrinolisin (streptokinase), hyaluronidase, kolagenase, lesitinase dan deoksiribonuklease
2. Toksigenitas
Ada dua jenis toksin yang dihasilkan bacteria yaitu endotoksin dan eksotoksin
Pembeda Eksotoksin Endotoksin
Tempat produksi Dikeluarkan oleh kuman hidup, konsentrasinya dalam medium cair sangat tinggi Sebagai bagian integral dari dinding sel kuman negative Gram
Struktur kimia Polipeptida Kompleks lipopolisakarida
Sifat fisik Relative tidak stabil, dengan pemanasan aktivitas toksin menurun Relatif stabil, aktivitas toksin menetap walaupun dipanaskan
Sifat imunologis Sangat antigenic, menghasilkan antitoksin dalam jumlah banyak dan dapat dibuat toksoid Tidak menginduksi terbentuknya antitoksin dan tidak dapat dibuat toksoid
Toksisitas Sangat toksik, menimbulkan kematian meskipun dalam dosis kecil Kurang toksik, dalam dosis besar baru menimbulkan kematian
Reaksi badan Badan tidak member reaksi panas atau deman Ada reaksi demam
Contih bakteri penghasil Bakteri gran positif seperti: Corynebacterium diptheriae, Clostridium tetani, Clostridium botulinum dan beberapa bakteri gram negative seperti Shigella dysentriae Salmonella , Shigella, Brucella, Neisseria


III. Jamur
a. Struktur Jamur
Jamur merupakan organisme eukariotik dan multiseluler. Struktur tubuh jamur terdiri dari hifa dan hifa itu berkumpul lagi menjadi miselium atau hifa merupakan percabangan dari miselium. Gambar struktur jamur:









b.Siklus Hidup Jamur
(belum menemukan maaf ya….)
c.Mekanisme yang menyebabkan kerusakan sel penjamu
Diagnosis infeksi jamur (mikosis)
1. Mikosis superficial
Terjadi apabila infeksi terletak superficial/ terbatas di kulit dan apendiksnya (rambut dan kuku) contoh: kutu air (athlete’s foot; Trichophyton interdigitalis), selaput lendir , seperti pada kasus sariawan vagina oleh Candida albicans
2. Mikosis Subkutis
Contohnya adalah misetoma yang mengenai kulit, jaringan subkutis dan tulang. Terjadi penyebaran yang lokal dan lambat
3. Mikosis sistemik
Disebabkan oleh misalnya Criptococcus. Terbentuk bila hifa menembus jaringan yang lebih dalam pada lingkungan dengan cuaca sedang, mikosis sistemik jarang terjadi kecuali pada pasien dengan gangguan kekebalan.

Contoh Mikosis pada Manusia
Jamur Mikosis
Candida albicans Sariawan
Trichophyton interdigitale Kutu air
Cryptococcus neoformans Meningitis
Microsporum audouini Kurap
Aspergillus fumigates Infeksi pernapasan


Daftar Pustaka
Staf Pengajar FK UI. 1993. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Binarupa Aksara
Pringgoutomo, S., Himawan, S. dan Tjarta, A. (2002). Buku Ajar Patologi I (Umum). Edisi I. Jakarta: Sagung Seto
STRUKTUR
RIKETSIA Chlamydia Parasit
Tergolong bakteri.
Mengandung asam nukleat yang terdiri dari RNA dan DNA, dinding sel mengandung mukopeptida, mempunyai ribosom, mempunyai enzim yang aktif pada metabolisme, bersifat gram negatif, berukuran 1-0.3 mikron
Tergolong bakteri.
Tediri dari mikroorganisme kokoid kecil, gram negatif , yang bermultiplikasi hanya di dalam sitoplasma sel pejamu vertebrata, berukuran 0.2-1.5 mikron, berbentuk sferis, tidak bergerak, mempunyai ribosom, RNA, DNA, dinding sel dari peptidoglikan yang mengandung asam muramat, mempunyai enzim yang aktif pada metabolisme.
DNA pada badan elementer terkumpuldi dalam inti, sedangkan pada badan inisia DNA tersebar dalam sitoplasma. Strukturnya berbeda-beda, tergantung jenis parasitnya.
Jenis parasit:
Protozoa, nemathelminthes(cacing bulat), cestoda(cacing pita), trematoda(cacing daun), arthropoda

Struktur parasit secara umum: tidak mempunyai alat2 yang diperlukan untuk asimilasi bahan makanan mentah , bergantung pada hospes untuk mendapatkan makanan.

Siklus hidup
RIKETSIA Chlamydia Parasit
Ada 3 macam antigen utama, yaitu antigen grup, antigen species, dan antigen yang serupa dengan proteus.
Hidup sebagai badan elementer yang berkenbangbiak secara tipikal hanya di dalam sel hospesnya. Berkembang biak dengan pembelahan biner.
Ada 2 macam antigen kuman, yaitu antigen grup dan antigen species.
Siklus perkembangan intraselular obligat yang unik dan tidak mampu mensintesis ATP. Chlamydia berkembang biak melalui beberapa stadium. Mulai dengan badan elementer yang infeksius. Berbentuk sferis dengan garis tengah 0.2-0.4mikron, mempunyai satu inti dan sejumlah ribosom. Badan elementer masuk ke dalam sel dengan cara fagositosis. Disekelilingnya terdapat vakuola. Dalam waktu 8 jam badan elementer berkembang menjadi badan inisial yang berukuran 0.8-1.5mikron. bentuk ini juga di sebut sebagai badan retikuler, isi sel kurang padat, kadar RNA 4x lebih banyak daripada DNA, dan tidak bersifat infeksius. 4jam kemudian badan inisial membelah secara biner, membentuk badan intermedit dan kemudian badan elementer. Badan intermesit merupakan bentuk transisi antara badan inisial dan badan elementer. Badan inisial, badan elementer, dan badan intermedik berkumpul pada vakuola dalam di dalam sel, disebut badan inklusi. Siklus perkembangan chlamydia selama 24-48 jam. Untuk mempertahankan siklus hidupnya, parasit harus berada pada suhu optimum. Suhu rendah akan mengahambat pertumbuhan telur danlarva, atau bahkan memusnahkannya. Suhu terik yang kering dapat memusnahkan stadium larvanya.

Lingkaran hidup parasit harus menyesuaikan diri kepada hospes dan lingkungan luar. Kebanyakan parasit manusia mencapai kedewasaan di dalam hospes.
Selama hidup di luar hospes, parasit tinggal diam dalam bentuk kista yang resisten, telur/larva, atau parasit dapat mengalami pertumbuhan secaraaktif dan mengalami metamorfosis.

Stadium larva dapat tumbuh melalui beberapa stadium di dalam hospes perantara sebelum parasit mencapai hospes terakhir. Hospes terakhir mengandung stadium dewasa (parasit dewasa). Biasanya terdapat pada manusia yang merupakan sumber terpenting penyakit.

Hospes reservoar: hewan2 yang mengandung parasit yang sama dengan manusia. Hospes ini bertindak sebagai sumber infeksi tambahan untuk manusia dan menjamin kelangsungan hidup parasit.
Hospes perantara: sebagian/seluruh stadium larva dapat diteruskan kepada hewan lain.

Mekanisme penyebab
RIKETSIA Chlamydia Parasit
Riketsia berkembangbiak di dalam sel endotel pembuluh darah kecil. Sel membengkak dan nekrosis, terjadi trombosis pembuluh darah yang dapat mengakibatkan ruptur. Di kulit nampak nyata adanya lesi vaskular. Vaskulitis yang terjadi pada beberapa organ merupakan dasar terjadinya gangguan hemostatik.

Ditularkan oleh tuma, pinjal, sengkenit, dan tungau kepada manusia dan hewan lainnya.

Mekanisme menyebabkan kerusakan sel pejamu berbeda-beda, tergantung jenis riketsianya. Sebagai contoh, penyakit tifus epidemik. Penyakit ini ditularkan oleh kutu manusia, Pediculus vestimenti yang besarang didalam lipatan pakaian, dalam sehari kutu beberapa kali keluar untuk mengghisap darah dari kulit hospes. Jika darah yang diisapnya mengandung kuman, maka sel2 usus akan terkena infeksi, kuman berkembangbiak di dalamnya, sewaktu sel pecah, kuman keluar dan bercampur dengan tinja kutu. Sambil menhisap darah kutu mengeluarkan tinja. Gigitan kutu menyebabkan rasa gatal. Sewaktu hospes menggaruk , tinja infeksius secara sengaja masuk ke dalam luka gigitan dan menimbulkaninfeksi pada hospes. Pematangan badan inisial menjadi badan elementer disertai dengan meningkatnya sintesis DNA dengan cepat sehingga kadar DNA dan RNA berimbang. Pada waktu sel hospes pecah, badan elementer tersebar keluar dan menimbulkan infeksi pada sel-sel hospes baru Mekanisme parasit mencapai hospes yang dijangkitinya dari sumber pertama berbeda-beda. Beberapa parasit memerlukan kontak langsung, parasit lainnya yang mempunyai lingkungan hidup yang kompleks harus melalui berbagai stadium pertumbuhan, baik sbg bentuk bebas maupun dlm hospes perantara, sebelum menjadi bentuk infektif.
Penularan kontak tidak langsung melalui makanan, air, tanah, hewan vertebrata, dan vektor arthopoda.

Setelah masuk dalam hospes, parasit bermigrasi ke bagian tubuh yang menjadi tempat hidupnya yang tetap, khasnya jaringan merupakan salah satu ciri sifat infeksi dengan parasit. infeksi yang disebabkan parasit menimbulkan gejala2 klinik dan berbagai macam keluhan, tergantung pada species parasit, keadaan hospes, alat tubuh yang diserang, dan jumlah parasit.

Keadaan endemi suatu parasit bergantung pada tersedianya dan adanya hospes yang cocok, pada mudahnya parasit meninggalkan hospes, dan pada lingkungan yang memungkinkan kelangsungan hidup di luar hospes.


Infeksi Riketsia
Penyakit Penyebab Daerah Gambaran penyakit
Tifus Epidemik Rickettsia prowazekii, ditularkan tuma Seluruh dunia Masa inkubasi 7-14 hari ;Onset terjadi secara tiba-tiba ;Demam, sakit kepala, kelelahan ;Ruam muncul hari ke4-ke6
Jika tidak diobati, bisa berakibat fatal, terutama pada penderita diatas 50 tahun
Tifus Belukar Rickettsia tsutsugamushi, ditularkan tungau Asia Pasifik, Jepang, India, Australia, Tailan Masa inkubasi 6-21 hari ;Onset terjadi secara tiba-tiba ;Demam, menggigil, sakit kepala ;Ruam muncul hari ke5-ke8
Erlikiosis Ehrlichia canis, ditularkan kutu anjing coklat Seluruh dunia Menyerupai Demam Berbintik Rocky Mountain, tapi tanpa ruam
Jika tidak diobati, bisa berakibat fatal
Cacar Riketsia Rickettsia akari, ditularkan tuma Pertama kali ditemukan di New York, juga ditemukan di daerah lainnya di Amerika & di Rusia, Korea serta Afrika 1 minggu sebelum demam, muncul koreng di kulit
Demam hilang timbul selama1 minggu disertai menggigil, keringat berlebih, sakit kepala, sensitif thd sinar matahari, nyeri otot
Demam Q Coxiella burnetii (Rickettsia burnetii), penularan melalui cipratan ludah yg mengandung riketsia atau melalui susu yang terinfeksi Seluruh dunia Masa inkubasi 9-28 hari
Onset terjadi secara tiba-tiba
Demam, sakit kepala hebat, menggigil, lemah, nyeri otot, nyeri dada, pneumonitis, tanpa ruam
Demam Parit Bartonella quintana, ditularkan tuma Meksiko, Tunisia, Eritrea, Polandia, Rusia Masa inkubasi 14-30 hari
Onset terjadi secara tiba-tiba
Demam, lemah, pusing, sakit kepala, sakit punggung, sakit tungkai

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar