Minggu, 10 Oktober 2010

Keperawatan Transkultural

2.1 Keperawatan Transkultural
1. Konsep Etnik dan Budaya
Etnik adalah seperangkat kondisi spesifik yang dimiliki oleh kelompok tertentu (kelompok etnik). Sekelompok etnik adalah sekumpulan individu yang mempunyai budaya dan sosial yang unik serta menurunkannya ke generasi berikutnya (Handerson, 1981). Etik berbeda dengan ras (race). Ras merupakan sistem pengklasifikasian manusia berdasarkan karakteristik fisik pigmentasi, bentuk tubuh, bentuk wajah, bulu pada tubuh dan bentuk kepala. Ada tiga jenis ras yang umumnya dikenal, yaitu Kaukasoid, Negroid, Mongoloid.
Budaya adalah keyakinan dan perilaku yang diturunkan atau diajarkan manusia kepada generasi berikutnya (Taylor, 1989). Budaya adalah sesuatu yang kompleks yang mengandung pengetahuan,keyakinan, seni, moral, hukum, kebiasaan, dan kecakapan lain yang merupakan kebiasaan manusia sebagai anggota kemunitas setempat.
Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keselurahan hasil budi dan karyanya dan sebuah rencana untuk melakukan kegiatan tertentu (Leininger, 1991).
Menurut konsep budaya Leininger (1978, 1984), karakteristik budaya dapat digambarkan sebagai berikut : (1) Budaya adalah pengalaman yang bersifat universal sehingga tidak ada dua budaya yang sama persis, (2) budaya yang bersifat stabil, tetapi juga dinamis karena budaya tersebut diturunkan kepada generasi berikutnya sehingga mengalami perubahan, (3) budaya diisi dan ditentukan oleh kehidupan manusianya sendiri tanpa disadari.
2. Pengertian Transkultural
Transkultural adalah suatu pelayanan keperawatan yang berfokus pada analisis dan studi perbandingan tentang perbedaan budaya (Leininger, 1978). Keperawatan transkultural adalah ilmu dan kiat yang humanis, yang difokuskan pada perilaku individu atau kelompok, serta proses untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku sehat atau perilaku sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya. Pelayanan keperawatan transkultural diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya.
3. Tujuan keperawatan Transkultural
Tujuan penggunaan keperawatan transkultural adalah untuk mengembangkan sains dan pohon keilmuan yang humanis sehingga tercipta praktik keperawatan pada kultur yang spesifik dan universal. Kultur yang spesifik adalah kultur dengan nilai-nilai norma spesifik yang tidak dimiliki oleh kelompok lain, seperti bahasa. Sedangkan kultur yang universal adalah nilai atau norma yang diyakini dan dilakukan hampir oleh semua kultur seperti budaya berolahraga membuat badan sehat, bugar; budaya minum teh dapat membuat tubuh sehat (Leininger, 1978).
Dalam melaksanakan praktikkeperawatan yang bersifat humanis, perawat perlu memahami landasan teori dan praktik keperawatan yang berdasarkan budaya. Budaya yang telah menjadi kebiasaan tersebut diterapkan dalam asuhan keperawatan transkultural, melalui 3 strategi utama intervensi, yaitu mempertahankan, bernegosiasi dan merestrukturisasi budaya.
4. Paradigma keperawatan transkultural
Paradigma keperawatan transkultural adalah cara pandang, persepsi, keyakinan, nilai-nilai dan konsep dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap 4 konsep sentral, yaitu manusia, keperawatan, kesehatan, dan lingkungan (Leininger, 1978).
a. Manusia
Manusia adalah individu atau kelompok yang memiliki nilai dan norma yang diyakini bergua untuk menetapkan piihan da melakukan tindakan, manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan budayanya setiap saat dan dimanapun dia berada.
Klien yang dirawat di rumah sakit harus belajar budaya baru, yaitu budaya rumah sakit, selain membawa budayanya sendiri. Klien secara aktif memilih budaya dari lingkungan, termasuk perawat dan pengunjung. Klien yang sedang dirawat belajar agar cepat pulih dan segera pulang untuk memulai aktifitas yang lebih sehat.


b. Kesehatan
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi kehidupannya yang terletak pada rentang sehat sakit (Leininger, 1984) dan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan yang dalam konteks budaya digunakan untuk mrnjaga dan memelihara keadaaan seimbang/sehat, yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari.
Asuhan keperawatan yang diberikan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan klien untuk memilih secara aktif budaya yang sesuai dengan status kesehatannya dan klien harus mempelajari lingkungannya.
c. Lingkungan
Lingkungan adalah keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan, keyakinan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang suatu totalitas kehidupan dan budayanya baik berupa lingkungan fisik, sosial dan simbolik.
Lingkungan fisik adalah lingkungan alam yang diciptakan oleh manusia seperti pegunungan, pemukiman padat, bentuk rumah daerah panas (banyak lubang), bentuk rumah daerah dingin (eskimo) dll.
Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu atau kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas seperti keluarga, komunitas dan masjid atau gereja.
Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk atau simbol yang menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu, seperti musik, seni, riwayat hidup, bahasa, atau atribut yang digunakan (kalung,anting, hiasan dinding, ikat kepala, baju atau slogan-slogan)
d. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan dalam praktik keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya. Strategi yang digunakan dalam intervensi dan impelemnatasi keperawatan keluarga adalah mempertahankan, mnegosiasi, dan merestrukturisasi budaya klien.

2.5 Keperawatan Transkultural Pada Keluarga Sunda
1. Sejarah perkembangan keluarga Sunda
Keluarga dalam masyarakat Sunda sebenarnya memiliki dua pengertian, yaitu keluarga dengan pengertian sempit dan pengertian luas. Keluarga dalam pengertian empit berarti keluarga inti atau batih, sedangkan keluarga dalam pengertian luas berarti sanak saudara yang mempunyai ikatan keluarga karena pertalian darah dan perkawinan. Satu keluarga besar disebut sabondoyot atau sakulawedet. Sistem kekerabatan orang Sunda bersifat parental atau bilateral yaitu hak dan kedudukan anggota keluarga dari pihak ayah maupun ibu.
Menurut penyelidikan Atmamiharja (1958), kata Sunda mempunyai arti sebagai berikut :
Sanskerta : Sunda artinya tenaga, bersinar, nama dewa Wisnu, nama satria buta dalam cerita ”Upa Sunda dan Ni Sunda”
Kawai : Sunda artinya air, tumpukan, pangkat, waspada
Jawa :Sunda berarti menyusu, berganda, suara, naik, terbang
Sunda : Sunda berarti bagus, indah, unggul, menyenangkan
2. Aspek Demografi
Penduduk usia kerja didefinisikan sebagai penduduk yang berusia 10 tahun atau lebih. Mereka terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Proporsi penduduk yang tergolong angkatan kerja dikenal sebagai tingkat patisipasi angkatan kerja. Keterlibatan penduduk dalam kegiatan ekonomi diukur dengan porsi penduduk yang masuk dalam pasar kerja (bekerja atau mencari pekerjaan).
Kesempatan kerja memberikan gambaran besarnya tingkat penyerapan pasar kerja sehingga sehingga angkatan kerja yang tidak terserap disebut pengangguran.
3. Aspek Psikososial
Perbedaan kelas sosial dalam keluarga Sunda antara lain :
Beberapa pengelompokan utama pada orang Sunda sebagai hasil sistem masyarakat didasarkan pada berbagai kriteria berikut :
• Berdasarkan tempat : Adanya beberapa orang Sunda pada berbagai tempat / daerah
• Berdasarkan keadaan materi : adanya lapisan masyaakat Sunda
• Berdasarkan prestise feodalistik : adanya orang Sunda bangsawan dan rakyat biasa, orang Sunda terpelajar dan tidak terpelajar
• Berdasarkan profesi mata pencaharian : pegawai negeri, pengusaha, petani, buruh, dan lain-lain.
4. Bentuk keluarga dalam sistem kekerabatan
Sistem kekerabatan orang Sunda bersifat parenta dan bilateral yang berarti hak dan kedudukan anggota keluarga dari pihak ayah dan ibu. Kedudukan suami-istri dalam perkawinan sederajat. Sistem kekerabatannya meliputi hubungan ke atas-ke bawah sampai tujuh tingkatan, dan juga ke samping. Dalam mencari pasangan hidup, stratifikasi sosial sangat berpengaruh. Umumnya memilih orang sederajat tingkat sosial dan garis keturunannya. Sebelumnya, orang tua lebih berperan dalam memilihkan jodoh bagi anak mereka dan selanjutnya anaklah yang menentukan pilihannya.
5. Aspek budaya
Budaya lebih terlihat pada jenis makanan yang disenangi oleh masyarakat Sunda seperti lalapan dan ikan yang dipandang sebagai makanan khas Sunda yang telah dikenal oleh orang-orang didalam dan luar negeri. Minuman khas orang Sunda diantaranya air bening / mineral, bandrek, bajigur, es cincau, dan tuak.
Bila kita telaah sajian makanan orang Sunda, kandungan lemaknya sedikit. Oleh karena itu anak-anak Sunda beresiko mengalami defisiensi vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, K)
6. Praktik kesehatan keluarga
Dalam praktik kesehatan, anggota keluarga Sunda menggunakan orang pintar (dukun). Hal ini masih mendominasi upaya menolong anggota keluarganya yang mengalami gangguan kesehatan. Selain ke dukun, biasanya ke kyai, selanjutnya apabila tidak sembuh-sembuh, biasanya mereka baru pergi ke petugas kesehatan.
Keluarga Sunda percaya bahwa apabila sakit lebih memilih membeli obat di warung atau pergi ke dukun yang dipercayai.Hal tersebut dipraktikkan olehkeluarga Sunda terutama keluarga golongan menengah ke bawah.


7. Implikasi keperawatan keluarga pada Etnik Sunda
Asuhan keperawatan keluarga pada etnik Sunda sebaiknya dilakukan dengan menggunakan pendekatan budaya (transkultural nursing). Pendekatan budaya dilakukan karena dipandang lebih sensitif. Pendekatan budaya bermakna bahwa asuhan keperawatan keluarga dimulai dari keinginan keluarga, kebiasan keluarga, sumber daya keluarga, dan nilai-nilai keluarga. Pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga sebaiknya mengimpliasikan hal-hal berikut :
• Menghargai struktur dan sistem nilai yang dianut keluarga
• Batasan sehat sakit menurut keluarga
• Aktualisasi praktik kesehatan Sunda
• Meningkatkan keterbatasan regimen terapeutik keluarga Sunda


3.1 KASUS
Keluarga Tn. X (30 Tahun) mempunyai istri Ny. H (26 th) Anak Y (4 tahun) dan Anak K (1 tahun) serta Ny. C (50 th) . Tn. X berasal dari suku Sunda, sedangkan Ny. H berasal dari suku Jawa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Hasil wawancara dengan keluarga, anaknya sudah diimunisasi lengkap sambil menunjukkan kartu sehat. Selama ini anaknya hanya sakit batuk pilek biasa, cukup dibelikan obat umum dan sembuh. Tetapi akhir-akhir ini keluarga sedikit pusing memikirkan ibunya , karena 3 bulan yang lalu ibunya dinyatakan positif kencing manis (DM), ibu hanya dibawa ke alternatif, tidak kontrol teratur ke puskesmas dan dibelikan obat ke toko terdekat untuk mengurangi gejala, misalnya nyeri di kakinya. Hasil observasi jari kaki ibu C sebelah kiri terdapat luka kecil sudah 3 minggu, belum sembuh. Pemeriksaan glukotest 200 mg/dl


3.2 ASUHAN KEPERAWATAN
3.2.1 Pengkajian (tanggal 12 Januari 2009)

A. Data Umum
1. Nama KK : Tn. X
2. U m u r : 30 tahun
3. Alamat : Jl. A No. 39 Surabaya
4. Pekerjaan : Swasta
5. Pendidikan : SMA
6. Komposisi Keluarga :

50Genogram. :
7. Tipe Keluarga : keluarga Inti.
8. Suku Bangsa : Tn. X berasal dari suku Sunda, sedangkan Ny. H berasal dari suku Jawa. Keyakinan yang dianut adalah berhubungan dengan pemahaman kepala keluarga membawa Ny. C ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pengobatan dan kontrol teratur untuk cek gula darahnya.
9. Agama : Islam
10. Status Sosial ekonomi keluarga : Suami – Isteri bekerja
11.Aktivitas rekreasi keluarga : Keluarga sesekali mengajak anak-anaknya ke alun-alun dan menonton TV di rumah dianggap sudah berekreasi

B. Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga .
1. Tahap perkembangan saat ini. :
Keluarga berada pada tahap perkembangan keluarga dengan anak pra sekolah.
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi :
Tugas keluarga yang belum terpenuhi tidak ada
3. Riwayat kesehatan keluarga :
Anak-anak Tn. X sudah diimunisasi lengkap,jika sakit batuk pilek dibawa ke Bidan. Ibu C ( Mertua ) menderita DM sejak 3 bulan yang lalu tetapi tidak dapat kontrol secara teratur di Puskesmas karena tidak ada yang mengantarkannya. Kaki kiri Ibu C terdapat lula sudah 3 minggu belum sembuh.


C. Fungsi Keluarga.
Keluarga selalu memperhatikan kesehatan keluarganya, setiap anaknya sakit batuk, pilek dibelikan obat. Riwayat imunisasi anaknya sudah lengkap. Tetapi pemanfaatan sarana kesehtan ( Puskesmas) masih sangat kurang. Ibunya yang menderita DM hanya dibelikan obat di toko terdekat untuk mengurangi keluhan dan ibu tidak kontrol teratur ke Puskesmas. Hal ini karena kepala keluarga lebih percaya ke alternatif terlebih dahulu sebelum ke pelayanan kesehatan.

D. Stress dan Koping Keluarga.
1. Keluarga sedikit pusing memikirkan Ibunya, karena sejak 3 bulan yang lalu Ibunya dinyatakan positif menderita kencing manis (DM). Ibunya tidak kontrol dan pengobatan seadanya.
2. Kemampuan keluarga merespon terhadap stressor.
Keluarga hanya bias membeli obat meskipun obat-obatan umum.
3. Strategi koping yang digunakan.
Keluarga Tn. X membeli obat meskipun obat-obat umum

E. Pemeriksaan Fisik.
Pemeriksaan fisik dilakukan pada setiap anggota keluarga yang sakit. Pada Ibu C didapatkkan jari kaki sebelah kiri terdapat luka kecil dan sudah 3 minggu belum sembuh . Pemeriksaan glukotest 200 mg/dl.


3.2.2 Diagnosa Keperawatan

1. Analisa Data

D a t a
Masalah
Penyebab
Data Subyektif :
• Keluarga mengatakan sedikit pusing memikirkan Ibu C, karena sejak 3 bulan yang lalu ibu C dinyatakan positif kencing manis (DM).
• Keluarga mengatakan 3 minggu yang lalu jari kaki ibu C sebelah kiri terdapat luka kecil dan belum sembuh
Data Obyektif :
• Pada kaki ibu C sebelah kiri terdapat luka kecil dan belum sembuh.
• Hasil pemeriksaan glukotest 200 mg/dl.

Data Subyektif.
• Keluarga mengatakan ibu C dibawa ke alternatif dulu
• Keluarga mengatakan dibelikan obat di toko untuk mengurangi gejala misalnya nyeri
1. Resiko terjadinya kompilkasi menahun diabetes mellitus.
2. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit yang meluas.

















Perubahan pemeliharaan kesehatan ibu C






Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

















Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan .

2. Daftar Diagnosa Keperawatan.
1. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit yang meluas berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.
2. Resiko terjadinya komplikasi menahun diabetes mellitus ibu C keluarga Tn. X berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.
3. Perubahan pemeliharaan kesehatan ibu C berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan


3. Skoring tiap diagnosa kepe
Diagnosa keperawatan. :
Resiko terjadinya komplikasi menahun diabetes mellitus Ibu C
keluarga Tn, X.
No
Kriteria
Perhitungan
Skor
Pembenaran
1.







2.




3.





4.
Sifat masalah







Kemungkinan masalah dapat diubah.


Potensi masalah untuk dicegah.




Menonjolnya masalah.
2/3 x 1







2/2 x 2




2/3 x 1





2/2 x 1
2/3







2




2/3





1

Pada penderita DM bila tidak mendapat kan perawatan dan pengobatan secara teratur akan berdampak kepada koplikasi menahun DM.
Sumber dan tindakan dapat dijangkau oleh keluarga.

Keluarga mempunyai dana dan kemampuan intelektual bila diberikan penyuluhan tentang penyakit DM.

Keluarga menyadari adanya masalah tetapi kurang menyadari dampak bila anggota keluarga yang sakit tidak dikontrol secara teratur.

Keluarga menyadari adanya masalah tetapi budaya menganggap bahwa itu hal yang biasa

Total skor

4 1/3







Diagnosa Keperawatan.:
Resiko tinggi kerusakan integritas kulit yang meluas

No
Kriteria
Perhitungan
Skor
Pembenaran
1.




2.



3.



4.
Sifat masalah




Kemungkinan masalah dapat diubah.

Potensi untuk mencegah masalah.

Menonjolnya masalah.
3/3 x 1




2 / 2 x 2



2/3/ x 1



2/2 x 1
1




2



2/3



1
Luka pada penderita DM bila tidak dirawat dengan baik dan benarakan menjadi infeksi yang meluas (gangren).

Alat untuk perawatan luka dapat dijangkau oleh keluarga.


Perluasan luka dapat dicegah dengan perawatan luka yang benar.

Keluarga menyadari adanya masalah tetapi budaya menganggap bahwa itu hal yang biasa.


Total
4 2/3












Diagnosa Keperawatan.:
Perubahan pemeliharaan kesehatan Ibu C
No
Kriteria
Perhitungan
Skor
Pembenaran
1.



2.



3.



4.
Sifat masalah



Kemungkinan masalah dapat diubah.

Potensi untuk mencegah masalah.

Menonjolnya masalah.
3/3 x 1



1 / 2 x 2



1/3 x 1



1/2 x 1
1



1



1/3



1
Keluarga tetap membelikan obat meskipun obat umum untuk mengurangi keluhan

Fasilitas toko obat dekat dengan rumah .


Keluhan dapat dicegah dengan minum obat tertatur


Keluarga menyadari adanya masalah tetapi budaya menganggap hal yang sewajarnya


Total
3 1/3


4. Prioritas Diagnosa keperawatan.
1. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit yang luas Ibu C berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit
2. Resiko terjadinya komplikasi menahun diabetes mellitus. berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit
3. Perubahan pemeliharaan kesehatan Ibu C berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan



3.2.3 Perencanaan.
NO

1 .
Diagnosa Keperawatan
Resiko tinggi kerusakan integrira kulit yang luas
T u j u a n
Kriteria Evaluasi
Kriteria Intervensi
Umum
Khusus
Kriteria
Standar

Setelah dilakukan tindakan keperawatan,tidak terjadi perluasan luka dikaki kiri Ibu C.
1. Ibu C dapat kontrol teratur untuk DM dan luka pada kaki kiri.
2. Ibu C dapat menyebutkan bila luka dikaki sembuh ( berangsur ).
3. Keluarga dapat membagi peran untuk perawatan kesehatan Ibu C.
1. Verbal
(Pengetahuan)
1. Keluarga dapat menyebutkan tanda dan gejala meluasnya luka infeksi dikaki Ibu C
2. Keluarga dapat mengidentifikasi tanda-tanda meluasnya luka infeksi dikaki Ibu C
3. Keluarga dapat memutuskan tindakan bila ada tanda meluasnya luka infeksi.
1. Kaji pengetahuan keluarga tentang-tanda infeksi
2. Kaji kemampuan keluarga dalam merawat luka infeksi kaki Ibu C.
3. Kaji tindakan keluarga yang pernah dilakukan setelah mengetahui ada luka dikaki Ibu C
4. Diskusikan tanda-tanda Infeksi dengan keluarga
5. Diskusikan dengan keluarga cara perawatan luka dan mencegah perluasan
6. Diskusikan alternatif yang dapat dilakukan untuk mengontrolll keadaan luka






7. Beri kesempatan keluarga untuk menanykan penjelasan yang belum dimengerti.
8. Evaluasi secara singkat terhadap topikuntuk mencegah meluasnya infeksi pada keluarga
9. Berikan pujian terhadap kemampuan keluarga yang diungkapkan setiap diskusi.





2.Psikomotor (Prilaku)
1. Keluarga dapat menyiapkan sarana perawatan yang diperlukan oleh Ibu C
2. Ibu dapat minum obat dengan pengawasan dokter
3. keluarga dapat memfasilitasi Ibu C untuk kontrol DM ke puskesmas
4. Keluarga dapat memodifikasi diet dan olah raga untuk kesehatan Ibu C.
1. Kaji kemampuan keluarga untuk menyediakan sarana perawatan Ibu C
2. Ajarkan cara memelihara kebersihan luka Ibu C
3. Ajarkan cara merawat luka Ibu C
4. Ajarkan dan anjurkan untuk Cekkondisi Ibu C dan minum obat setelah ada hasil cek dari dokter.
5. Anjurkan menjaga kebersihan rumah terutama ruangan Ibu C
6. Anjurkan untuk memodifikasi diet diabetes sesuai advis dokter
7. Kolaborasikan ke puskesmas untuk bantuan
8. Lakukan kunjungan rumah setelah keluarga diberi pendidikan
9. Beri pujian atas kemampuan keluarga
10. Berikan penguatan terhadap perilaku yang telah dilakukan untuk dipertahankan setiap hari.









3.2.4 IMPLEMENTASI

No. tanggal &waktu
Diagnosis Keperawatan
Implementasi
15 Januari 2009
pukul 16.00 WIB














16 Januari 2009
pukul 18.30 WIB
Resiko tinggi kerusakan integrira kulit yang luas
1. Melakukan bina hubungan saling percaya dengan keuarga
2. Mengkaji ulang pengetahuan keluarga tentang-tanda infeksi
3. Mengkaji ulang kemampuan keluarga dalam merawat luka infeksi kaki Ibu C.
4. Mengkaji ulang tindakan keluarga yang pernah dilakukan setelah mengetahui ada luka dikaki Ibu C
5. Mendiskusikan tanda-tanda Infeksi dengan keluarga
6. Mendiskusikan dengan keluarga cara perawatan luka dan mencegah perluasan
7. Mendiskusikan alternatif yang dapat dilakukan untuk mengontrol keadaan luka
8. Memberi kesempatan keluarga untuk menanyakan penjelasan yang belum dimengerti.
9. Mengevaluasi secara singkat terhadap topik untuk mencegah meluasnya infeksi pada keluarga
10. Memberikan pujian terhadap kemampuan keluarga yang diungkapkan setiap diskusi

1. Mengkaji ulang kemampuan keluarga untuk menyediakan sarana perawatan Ibu C
2. Mengajarkan cara memelihara kebersihan luka Ibu C
3. Mengajarkan cara merawat luka Ibu C
4. Mengajarkan dan anjurkan untuk Cek kondisi Ibu C dan minum obat setelah ada hasil cek dari dokter.
5. Menganjurkan menjaga kebersihan rumah terutama ruangan Ibu C
6. Menganjurkan untuk memodifikasi diet diabetes sesuai advis dokter
7. Melakukan kolaborasi ke puskesmas untuk bantuan medis
8. Melakukan kunjungan rumah setelah keluarga diberi pendidikan
9. Memberi pujian atas kemampuan keluarga
10. Memberikan penguatan terhadap perilaku yang telah dilakukan untuk dipertahankan setiap hari.

3.2.5 EVALUASI

Prioritas
No Dx keperawatan
Evaluasi
1
Resiko tinggi kerusakan integrira kulit yang luas
S : Keluarga megatakan luka di kaki Ibunya berangsur membaik
O : Luka bersih, tidak ada nanah, diameter 1 cm, kemerahan di sekitar luka
A : Masalah teratasi sebagian karena luka masih kemerahan
P : Rencana dilanjutkan untuk perawatan luka, diet DM, kebersihan ruangan ibu C, kunjungan rumah untuk mengontrol gula darah




BAB 4
PEMBAHASAN


Pada tahap pengkajian asuhan keperawatan keluarga, merupakan tahap yang tidak mudah dilakukan. Hal tersebut disebabkan oleh karena keluarga merupakan bagian dari masyarakat yang hidup dalam suatu komunitas tertentu dengan berbagai latar belakang baik budaya, ekonomi, social, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, umur, agama dan sebagainya. Setiap latar belakang tersebut akan mempengaruhi keluarga dalam penerimaan, kesadaran, kemampuan khususnya dalam bidang kesehatan dan keperawatan.
Terkadang faktor-faktor tersebut di atas dapat mendukung kesehatan bahkan dapat juga menghambat tercapainya kesehatan yang optimal, misalnya saja pengetahuan. Apabila keluarga mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang kesehatan dan keperawatan, maka keluarga akan dapat dengan mudah mengenali masalah kesehatan, memutuskan tindakan, memelihara kesehatan anggota keluarga dan dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan sebagai rujukan apabila penanganan di rumah tidak menunjukkan hasil. Namun apabila pengetahuan keluarga rendah maka fenomena di atas akan terjadi sebalikya.
Pada saat pengkajian di keluarga, perawat juga dapat mengalami kesulitan BHSP (Bina hubungan saling percaya). Apabila perawat tidak dapat melakukan pendekatan kepada keluarga dan berhasil maka keluarga dapat terbuka dengan perawat pengkajian dapat dilaksanakan dengan lancar, namun apabila hubungan saling percaya tidak dibina maka pengakajian mengalami kesulitan.
Di samping itu pengkajian keperawatan keluarga terkadang tidak dapat dilaksanakan sekaligus pada satu waktu, yang diartikan tidak dapat selesai dalam waktu satu (1) hari. Hal tersebut dikarenakan keluarga terkadang disibukkan oleh kegiatan rumah tangga, bekerja sehingga pada saat perawat melakukan pengkajian, hanya mempunyai waktu beberapa saat. Sehingga pengkajian dilanjutkan pada hari berikutnya.
Pada format pengkajian, perlu pendataan tentang riwayat imunisasi anak. Terkadang muncul fenomena bahwa orang tua sering lupa tentang riwayat imunisasi anaknya atau KMS (Kartu Menuju Sehat) hilang maka pengkajian riwayat imunisasi tersebut tidak lengkap. Di samping itu perlu pendataan silsilah keluarga dalam bentuk genogram, namun terkadang mendapatkan kesulitan dalam pelaksanaannya, misalnya keluarga tidak dapat mengingat umur anggota keluarganya, tidak dapat mengetahui penyakit keturunan yang diderita oleh salah satu anggota keluarganya. Sehingga genogram tidak dapat terdokumentasi lengkap dimana minimal terdokumentasi 3 generasi.
Adapun kelebihan Teori transkultural dalam aplikasinya antara lain ::
1. Data yang didapatkan lebih lengkap dan mengena karena lebih mendekatkan pada pengkajian transkultural atau budaya yang merupakan bagian dari latar belakang keluarga
2. Pengkajian pada askep keluarga lebih spesifik dan lebih jelas karena diarahkan ke spesifikasi teori tertentu
3. Adanya sumber data memperkuat dan memperlengkap pemahaman tentang asuhan keperawatan keluarga.
4. Memfasilitasi keluarga mengenali lebih jauh kesehatan keluarga dan penanganannya
Adapun keluarga Kekurangan Teori transkultural antara lain :
1. Perlu waktu yang lebih lama karena perlu menggali data dari beberapa sumber
2. Jika hanya berdasarkan tinjauan teoritis, data perkembangan kultur atau budaya tidak terkaji dan tidak dapat mendapatkan dapat yang mendekati latar belakang keluarga
3. Pada keluarga dengan kultur yang kuat dan keluarga berusaha untuk mempertahankan budayanya dimana kultur tersebut bertentangan dengan kesehatan maka intervensi perawat akan menemukan kesulitan untuk bernegosiasi dan merestrukturisasi budaya.

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN
1. Keperawatan transkultural adalah ilmu dan kiat yang humanis, yang difokuskan pada perilaku individu atau kelompok, serta proses untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku sehat atau perilaku sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya
2. Tujuan penggunaan keperawatan transkultural adalah untuk mengembangkan sains dan pohon keilmuan yang humanis sehingga tercipta praktik keperawatan pada kultur yang spesifik dan universal
3. Asuhan keperawatan keluarga dengan pendekatan Transkultural akan mendapatkan data yang lebih lengkap dan mengena karena lebih mendekatkan pada pengkajian budaya yang merupakan bagian dari latar belakang keluarga

5.2. SARAN
1. Perlu penambahan data pengkajian budaya /transkultural pada pengkajian asuhan keperawatan keluarga
2. Perlu modifikasi bentuk format terutama untuk keluarga dengan latar belakang budaya yang kental yang dapat mempengaruhi kesehatan dan keperawatan








DAFTAR PUSTAKA


Asuhan keperawatan keluarga dengan pendekatan keperawatan transkultural
Sudiharto
Jakarta : EGC
2007
Pengantar keperawatan kesehatan keluarga ( Teori dan Praktek )
Ali, Zaidin
Depok : Raflesia
1999
Perawatan kesehatan keluarga : Suatu proses
Bailon, Salvicion G.
Philippines : S.G. Bailon
1978
Pedoman Keperawatan di Rumah
Hastings, Diana
Jakarta : EGC
2005
Asuhan keperawatan keluarga : Aplikasi dalam praktik
Suprajitno
Jakarta : EGC
2004
Keperawatan keluarga : Teori & Praktik
Friedman , Marilyn M.
Jakarta : EGC
1998
Perawatan kesehatan keluarga
Dep.Kes RI
Jakarta : Dep.Kes RI
1996
Penjabaran delapan fungsi keluarga
BKKBN
Kediri : BKKBN
1995
Perawatan di Rumah
Hasting, Diana
Jakarta : Arcan
1995
Panduan kesehatan keluarga
Dep. Kes RI
Jakarta : Yayasan Essentia Medica
1995
Diposkan oleh NERS di 19:24
Label: kesehatan



BARUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU
APLIKASI TEORI TRANSCULTURAL NURSING
DALAM PROSES KEPERAWATAN
Rahayu Iskandar, Ners, M.Kep
PENDAHULUAN

Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada abad ke-21,
termasuk tuntutan terhadap asuhan keperawatan yang berkualitas akan semakin
besar. Dengan adanya globalisasi, dimana perpindahan penduduk antar negara
(imigrasi) dimungkinkan, menyebabkan adaya pergeseran terhadap tuntutan
asuhan keperawatan.
Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body of knowledge yang kuat,
yang dapat dikembangkan serta dapat diaplikasikan dalam praktek keperawatan.
Perkembangan teori keperawatan terbagi menjadi 4 level perkembangan yaitu
metha theory, grand theory, midle range theory dan practice theory.

Salah satu teori yang diungkapkan pada midle range theory adalah
Transcultural Nursing Theory. Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropologi dan
dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep
keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai
kultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah
penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan
asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan
mengakibatkan terjadinya cultural shock.

Cultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat
tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini
dapat menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan
beberapa mengalami disorientasi. Salah satu contoh yang sering ditemukan adalah
ketika klien sedang mengalami nyeri. Pada beberapa daerah atau negara
diperbolehkan seseorang untuk mengungkapkan rasa nyerinya dengan berteriak
atau menangis. Tetapi karena perawat memiliki kebiasaan bila merasa nyeri hanya
dengan meringis pelan, bila berteriak atau menangis akan dianggap tidak sopan,
maka ketika ia mendapati klien tersebut menangis atau berteriak, maka perawat
akan memintanya untuk bersuara pelan-pelan, atau memintanya berdoa atau malah
memarahi pasien karena dianggap telah mengganggu pasien lainnya. Kebutaan
budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas
pelayanan keperawatan yang diberikan.

PENGERTIAN

Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada
proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan
kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan
pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan
untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya
kepada manusia (Leininger, 2002).

Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensi
dari keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan
keperawatan. Tindakan Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam
memberikan dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinya
diberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan,
masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal. Human caring secara
umum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan
bimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yang
universal dimana ekspresi, struktur dan polanya bervariasi diantara kultur satu
tempat dengan tempat lainnya.

Konsep dalam Transcultural Nursing

1. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang
dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan
mengambil keputusan.

2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan
atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan
melandasi tindakan dan keputusan.

3. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang
optimal daei pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan
variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan
budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan
termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan
individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).

4. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap
bahwa budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki
oleh orang lain.

5. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang
digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.

6. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada
mendiskreditkan asal muasal manusia

7. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi
pada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan
kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan
dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling
memberikan timbal balik diantara keduanya.

8. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan,
dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian
untuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan
kondisi dan kualitas kehidupan manusia.

9. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,
mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan
yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan
manusia.

10. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,
kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung
atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk
mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup
dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.

11. Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan
untuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain
karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada
kelompok lain.

Paradigma Transcultural Nursing
Leininger (1985) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagai
cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep
sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew
and Boyle, 1995).

1. Manusia

Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai
dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan
melakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia memiliki
kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun
dia berada (Geiger and Davidhizar, 1995).

2. Sehat

Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi
kehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatu
keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untuk
menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasi
dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama
yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang
adaptif (Andrew and Boyle, 1995).

3. Lingkungan

Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi
perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang
sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling
berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik.
Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti
daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah di
daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari
sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang
berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam
masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus
mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut.
Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang
menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni,
riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.

4. Keperawatan

Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik
keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang
budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memnadirikan individu sesuai
dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan
adalah perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasi
budaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).

a. Cara I : Mempertahankan budaya
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan
dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan
sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga
klien dapat meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya,
misalnya budaya berolahraga setiap pagi.
b. Cara II : Negosiasi budaya
Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk
membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih
menguntungkan kesehatan. Perawat membantu klien
agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan
kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang
berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani yang
lain.
c. Cara III : Restrukturisasi budaya
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki
merugikan status kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya
hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Pola rencana
hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan
keyakinan yang dianut.

Proses keperawatan Transcultural Nursing

Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan
asuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari
terbit (Sunrise Model) seperti yang terdapat pada gambar 1. Geisser (1991)
menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai
landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew and
Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

1. Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi
masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and
Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada
pada "Sunrise Model" yaitu :
a. Faktor teknologi (tecnological factors)
Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau
mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan
kesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan
berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan
kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien
tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi
permasalahan kesehatan saat ini.
b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang
amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang
sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di
atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat
adalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien
terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang
berdampak positif terhadap kesehatan.
c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)
Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama
lengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin,
status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan
hubungan klien dengan kepala keluarga.
d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan
oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma
budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas
pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :
posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang
digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi
sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan
membersihkan diri.
e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala
sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan
keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji
pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan
jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara
pembayaran untuk klien yang dirawat.
f. Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber
material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh.
Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan
klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga,
biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor
atau patungan antar anggota keluarga.
g. Faktor pendidikan (educational factors)
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam
menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi
pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh buktibukti
ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi
terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang
perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis
pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri
tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.

2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang
budayanya yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi
keperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnosa
keperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkultural
yaitu : gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur,
gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan
ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang
diyakini.

3. Perencanaan dan Pelaksanaan
Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah
suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah
suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah
melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien (Giger
and Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam
keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankan
budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan
kesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang
menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang
dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.

a. Cultural care preservation/maintenance
1) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang
proses melahirkan dan perawatan bayi
2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
b. Cultural careaccomodation/negotiation
1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
3) Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana
kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien
dan standar etik

c. Cultual care repartening/reconstruction
1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang
diberikan dan melaksanakannya
2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya
kelompok
3) Gunakan pihak ketiga bila perlu
4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan
yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua
5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan
Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya
masingmasing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan
perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka.
Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak
percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akan
terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan
menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.

Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap
keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan
kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau
beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan
budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.

KESIMPULAN

Dari uraian yang telah dijabarkan pada bab terdahulu tentang penerapan asuhan
keperawatan Transkultural dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Keperawatan transkultural adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan
yang difokuskan kepada individu dan kelompok untuk mempertahankan,
meningkatkan perilaku sehat sesuai dengan latar belakang budaya
2. Pengkajian asuhan keperawatan dalam konteks budaya sangat diperlukan untuk
menjembatani perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh perawat dengan klien
3. Diagnosa keperawatan transkultural yang ditegakkan dapat mengidentifikasi
tindakan yang dibutuhkan untuk mempertahankan budaya yang sesuai dengan
kesehatan, membentuk budaya baru yang sesuai dengan kesehatan atau bahkan
mengganti budaya yang tidak sesuai dengan kesehatan dengan budaya baru.
4. Perencanaan dan pelaksanaan proses keperawatan transkultural tidak dapat begitu
saja dipaksakan kepada klien sebelum perawat memahami latar belakang budaya
klien sehingga tindakan yang dilakukan dapat sesuai dengan budaya klien.
5. Evaluasi asuhan keperawatan transkultural melekat erat dengan perencanaan dan
pelaksanaan proses asuhan keperawatan transkultural.
REFERENSI

Andrew . M & Boyle. J.S, (1995), Transcultural Concepts in Nursing Care, 2nd Ed,
Philadelphia, JB Lippincot Company

Cultural Diversity in Nursing, (1997), Transcultural Nursing ; Basic Concepts and
Case Studies, Ditelusuri tanggal 14 Oktober 2006 dari
http://www.google.com/rnc.org/transculturalnursing

Fitzpatrick. J.J & Whall. A.L, (1989), Conceptual Models of Nursing : Analysis and
Application, USA, Appleton & Lange

Giger. J.J & Davidhizar. R.E, (1995), Transcultural Nursing : Assessment and
Intervention, 2nd Ed, Missouri , Mosby Year Book Inc

Iyer. P.W, Taptich. B.J, & Bernochi-Losey. D, (1996), Nursing Process and Nursing
Diagnosis, W.B Saunders Company, Philadelphia

Leininger. M & McFarland. M.R, (2002), Transcultural Nursing : Concepts,
Theories, Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw Hill
Companies

Swasono. M.F, (1997), Kehamilan, kelahiran, Perawatan Ibu dan Bayi dalam
Konteks Budaya, Jakarta, UI Press

Royal College of Nursing (2006), Transcultural Nursing Care of Adult ; Section One
Understanding The Theoretical Basis of Transcultural Nursing Care
Ditelusuri tanggal 14 Oktober 2006 dari
http://www.google.com/rnc.org/transculturalnursing.


BARUUUUUUUUUUUUUUUUUUU
Seseorang biasanya abai dengan kesehatan mental atau jiwa, karena selalau menganggap gangguan mental berarti gila. Anggapan itu sangat menyesatkan. Padahal gangguan mental itu bisa saja berbentuk stres, kecemasan, sulit tidur, tak bisa konsentrasi, gampang tersinggung, dan perasaan tertekan.


Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dan Ikatan Psikologi Klinis (IPK) memberikan sejumlah tips agar kita terhindar dari gangguan kesehatan mental.


1. Tetap aktif. Olahraga teratur dan menjaga kebersihan serta penampilan diri dapat membantu Anda memiliki perasaan positif.


2. Libatkan diri dalam kelompok. Ikut dalam kegiatan atau klub, bertemu teman atau handai tolan secara teratur dalam suasana menyenangkan dan suportif, mempunyai sahabat tempat saling bercerita, ikut kursus-kursus, atau mempelajari hal baru yang Anda sukai.


3. Menerima diri sendiri. Kita adalah pribadi unik, berbeda satu sama lain, dan tidak ada manusia sempurna. Semua orang memiliki kelemahan seperti halnya kelebihan. Terimalah dan cintai diri sendiri secara wajar.


4. Relaks. Terlalu banyak kegiatan malah akan membuat Anda merasa tertekan. Luangkan waktu bersantai dan beristirahat. Penting juga untuk bisa tidur malam dengan baik, yang akan membantu meredakan stres.


Tidur yang baik dan teratur merupakan penyegar pikiran. Tak lupa, lakukan hobi yang bisa membuat Anda merasa nyaman serta relaks.


5. Hindari alkohol dan narkoba. Kedua zat berbahaya ini malah akan memperburuk kondisi Anda.


6. Makan secara sehat dan teratur. Ini akan membantu Anda merasa lebih baik dan memberi lebih banyak energi.


7. Dekatkan diri pada Tuhan. Anda akan merasa ada sesuatu kekuatan yang akan menolong. Ada harapan untuk menjadi lebih baik serta mendapat ketenangan.


8. Kenali gejala kesehatan mental yang terganggu. Memiliki kesehatan mental yang baik berarti mampu mengatasi tekanan hidup sehari-hari. Bila Anda merasa tidak mampu mengatasi, atau malah mengatasi dengan alkohol dan narkoba (napza), Anda mungkin mempunyai masalah yang memerlukan bantuan orang lain.


9. Mencari bantuan. Bila Anda sakit secara fisik, maka Anda akan berkonsultasi pada dokter. Begitu pula dengan kesehatan mental Anda. Jangan merasa malu atau ragu untuk mencari pemecahan masalah kesehatan mental Anda pada konselor, psikolog klinis, atau psikiater. [L1]




BARUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU
PENYAKIT autis bukanlah gangguan mental, bukan juga karena santet atau gangguan dari roh jahat. Penyakit ini murni karena gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak. Gejalanya timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun. Hal ini terungkap dalam seminar autisme yang digelar Jambi Independent bekerja sama dengan Yayasan Bunga Bangsa dan Parent Support Group Sabtu (10/5) di Aula Lantai 3, Graha Pena Jambi Independent.
http://yudhim.blogspot.com/2008/01/mengenal-beberapa-jenis-gangguan-mental.html


BARUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU...........
Mengenal Beberapa Jenis Gangguan Mental
written by Yudhi at 2008-01-30

Oleh Staff IQEQ
Pada suatu saat dalam kehidupannya, manusia tentu pernah mengalami suatu kejadian yang begitu membekas dalam seluruh struktur kepribadiannya. Peristiwa tersebut disebut peristiwa traumatis. Contohnya adalah kematian orang yang dicintai, kegagalan dalam menempuh ujian, maupun pengalaman yang tidak menyenangkan yang membuat takut. Peristiwa-peristiwa traumatik seperti itu akan mempengaruhi kondisi psikologis seseorang sehingga pola perilakunya berubah.
Salah satu cabang psikologi yang mempelajari gangguan-gangguan psikis, emosional, dan perilaku yang menyimpang disebut Psikopatologi.
Abnormalitas adalah suatu perilaku yang bertentangan dengan suatu keadaan yang normal. Adapun normalitas seseorang yang disepakati para ahli adalah sebagai berikut :
• Persepsi yang efisien terhadap kenyataan, artinya seseorang tidak memandang sesuatu dengan membesar-besarkan atau mengecilkan sesuatu
• Mengenali diri sendiri
• Mampu mengendalikan perilakunya atas kehendaknya sendiri
• Memiliki harga diri dan diterima oleh lingkungannya
• Mampu memberi perhatian dan membina hubungan cinta kasih
• Produktif
Ada banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya gangguan mental. Faktor-faktor tersebut adalah :
• Faktor fisiologis dan biologis, seperti terjadinya kerusakan pada otak (brain damage), kegagalan perkembangan otak, ataupun cacat fisik lainnya yang berpengaruh pada kegagalan otak. Faktor-faktor ini biasa disebut dengan Samatogenik
• Faktor psikologis, seperti rasa sepi, stress, kecemasan, dan sebagainya. Faktor ini biasa disebut dengan Psikogenik
• Faktor lingkungan, seperti peperangan, kerusuhan rasial, kelaparan, kehidupan di penjara, lingkungan sekolah yang terlalu kompetitif, dan sebagainya
Untuk menentukan jenis-jenis gangguan mental, para ahli sepakat menggunakan kalsifikasi DSM-III, atau singkatan dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders revisi ke 3 tahun 1980. Menurut DSM-III, jenis-jenis gangguan mental adalah sebagai berikut :
• Disorders first evident in infancy, childhood, or adolescence atau penyimpangan/kekacauan fungsi perkembangan pada masa kanak-kanak dan remaja. Termasuk di dalamnya adalah : retardasi mental, hiperaktif, kecemasan pada anak-anak, penyimpangan perilaku makan (seperti anoreksia), dan semua penyimpangan dari perkembangan yang normal
• Organic mental disorders, mencakup di dalamnya semua penyimpangan/kekacauan mental yang disebabkan oleh kerusakan otak akibat pengaruh dari berbagai penyakit yang berhubungan dengan traumatik dan kecemasan seperti penyakit kelamin serta pengaruh racun yang masuk ke dalam tubuh seperti penggunaan alkohol yang kelewat batas
• Substance use disorders, mencakup di dalamnya semua peyimpangan/kekacauan mental yang disebabkan oleh pengaruh zat-zat kimia, seperti penggunaan narkotika, zat-zat adiktif, psikotropika, alkohol, nikotin, dan sebagainya
• Schizophrenic disorders, atau kelompok penyimpangan/kekacauan kepribadian sehingga tidak mampu berhubungan lagi dengan realitas atau kenyataan
• Paranoid disorders, atau perasaan curiga terhadap segala sesuatu yang berlebihan seperti perasaan seakan-akan dirinya diintai terus-menerus, perasaan seakan-akan semua orang membencinya, dan sebagainya
• Affective disorders, atau depresi berat yang membuat seseorang selalu tidak bergairah murung, dan apatis
• Anxiety disorders, atau kecemasan yang berlebihan seperti kecemasan akan harga diri, kecemasan akan masa depan, dan sebagainya
• Somatoform disorders, yaitu kerusakan pada organ tubuh atau timbulnya penyakit parah yang disebabkan oleh faktor psikologis seperti kecemasan yang berlarut-larut, tetapi bila diteliti secara medis tidak ditemukan adanya penyakit atau gangguan medis lainnya
• Dissociative disorders, gangguan temporal yang menyebabkan gagalnya fungsi memory atau hilangnya kontrol terhadap emosi, seperti amnesia dan kasus kepribadian ganda (multiple personality)
• Psychosexual disorders, termasuk di dalamnya semua penyimpangan identitas seksual (transexual), kemampuan seksualitas (impoten, ejakulasi dini, frigiditas), dan kelainan seksual (menikmati hubungan seks dengan anak kecil, dengan binatang, atau dengan mayat). Homoseksualitas termasuk di dalamnya jika orang tersebut tidak menikmati keadaannya sebagai seorang homoseks
• Conditions not attributable to a mental disorder, atau kondisi-kondisi yang tidak termasuk dalam kegagalan/kekacauan mental, seperti masalah-masalah rumit yang membuat seseorang harus mencari jalan keluarnya (seperti masalah perkawinan), hubungan orang tua dengan anak, atau kekerasan terhadap anak-anak
• Personality disorders, ketidakmampuan seseorang untuk berperilaku dan mengatasi stress, seperti perilaku antisosial
Gangguan-gangguan karena kecemasan
Seseorang mengalami gangguan kecemasan bila setiap saat dalam kehidupannya sehari-hari ia selalu merasakan tegangan psikologis yang cukup tinggi, walaupun persoalan yang dihadapi cukup ringan. Orang yang selalu cemas, kadang-kadang akan terserang rasa panik, yaitu suatu periode ketakutan yang luar biasa seakan-akan malapetaka besar akan terjadi. Keadaan ini akan diikuti oleh gejala-gejala gangguan fisik seperti jantung berdegub kencang, nafas tersenggal-senggal, keringat dingin, gemetar yang hebat, bahkan kadang-kadang sampai pingsan. Individu yang mengalami gangguan kecemasan tidak tahu faktor-faktor yang menyebabkan dia bertingkah laku seperti itu. Kecemasan ini sering disebut free-floating, karena tidak jelas faktor yang menyebabkannya. Para ahli berpendapat bahwa penyebab gangguan ini lebih bersifat internal daripada eksternal.
Phobia adalah gangguan kecemasan yang lebih spesifik, yang timbul bila menghadapi rangsangan tertentu saja, seperti jenis serangga tertentu, tempat yang tinggi, tempat yang tertutup, dan sebagainya. Salah satu penyebab dari phobia adalah serangan rasa panik atau pengalaman-pengalaman yang menakutkan di masa lampau.
Bila individu cenderung selalu terdorong memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia pikirkan dan melakukan tindakan-tindakan yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan, maka ia mengalami gangguan obsesif-kompulsif. Walau penyebab gangguan kecemasan ini sulit untuk diketahui, tetapi reaksi mereka menunjukkan bahwa individu-individu tersebut mempunyai perasaan tidak mampu dalam menghadapi situasi-situasi yang mereka pandang mengancam.
Gangguan-gangguan afektif
Gangguan-gangguan afektif adalah gangguan-gangguan terhadap suasana hati (mood). Bila mengalami gangguan ini, orang akan menunjukkan reaksi seperti amat tertekan batinnya (depresif) dan kadang-kadang menunjukkan reaksi riang gembira yang agak berlebihan (manic). Bila seseorang sedang mengalami gangguan manic yang agak ringan, yang disebut hipomania, orang tersebut akan kelihatan energik, entusiastik, dan penuh kepercayaan diri. Ia mengerjakan banyak tugas dan membicarakan banyak ide besar tanpa memperhitungkan segi praktis atau kelayakannya. Bila gangguan sudah cukup berat, ia akan bernyanyi-nyanyi, berteriak-teriak, memukul-mukul tembok, dan terus sangat aktif selama beberapa jam. Mereka mudah marah kalau diganggu dan tindakannya dapat bersifat merusak. Menurut DSM-III, gejala perilaku menyimpang yang biasanya disebut manic-depressive, diberi nama gangguan bipolar (a bipolar disorder), karena suasana hati berpindah-pindah dari kutub yang satu ke kutub yang lain dalam suatu kontinum.
Schizophrenia
Ciri umum gangguan ini adalah :
• Gangguan-gangguan pada pikiran dan perhatian penderita
• Gangguan-gangguan pada persepsi. Dunia ini seakan-akan nampak lain di mata penderita
• Gangguan-gangguan pada fungsi efek atau perasaan. Mereka sering terlihat depresif dan menarik diri dari lingkungan
• Menarik diri dari kenyataan. Penderita sering berkhayal sendiri dan tenggelam dalam dunia batinnya sendiri
• Mengalami delusi dan halusinasi. Penderita merasa yakin bahwa sesuatu akan terjadi pada dirinya (delusi) dan kadang-kadang diikuti oleh pengalaman-pengalaman individu (merasa melihat atau mendengar sesuatu) yang tidak dialami oleh orang lain. Bila keyakinan yang timbul adalah seolah-olah ada orang yang mengejar-ngejar dirinya (merasa mau dibunuh misalnya), maka penderita mengalami delusi persekusi. Bila penderita yakin bahwa ia mempunyai kekuatan atau kemampuan luar biasa, ia mengalami delusi grandeur.
Gangguan kepribadian
Gangguan kepribadian merupakan pola-pola perilaku yang bersifat mal-adaptif atau merugikan si pelaku dalam hubungannya dengan orang lain. Beberapa bagian dari gangguan kepribadian adalah :
• Kepribadian narsistik, yaitu rasa kagum yang berlebihan terhadap diri sendiri, merasa selalu berhasil dan superior, selalu mencari perhatian dan pujian, dan tidak peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain
• Kepribadian tergantung, yaitu pasif luar biasa, tidak mampu mengambil suatu keputusan, ada kecenderungan rendah diri, dan kebutuhan yang kuat untuk selalu ditolong orang lain
• Kepribadian antisosial atau yang biasa disebut dengan Psikopat, yaitu kecilnya rasa tanggung jawab, rendahnya nilai-nilai moral, dan dianggap tidak memiliki suara hati, tidak mempunyai perhatian terhadap orang lain, selalu memikirkan diri sendiri, tidak mempunyai rasa bersalah walaupun perilakunya merugikan orang lain. Para ahli berpendapat bahwa gangguan kepribadian ini disebabkan oleh pola asuhan yang salah ketika masih kanak-kanak. Tetapi temuan baru di bidang biologis menunjukkan bahwa kemungkinan individu-individu ini sejak lahir telah membawa cacat yang disebut underreactive autonomic nervous system atau sistem syaraf otonom yang kurang relatif
Gangguan karena obat-obatan berbahaya
Obat-obat berbahaya seperti narkotika, alkohol, ganja, dan pil-pil psikotropika, bila tidak digunakan menurut petunjuk dokter, dapat menimbulkan akibat-akibat yang sangat serius pada diri pemakai. Ciri-ciri utama dari obat-obatan tersebut adalah mempengaruhi sistem syaraf pusat, baik menekan maupun merangsang syaraf pusat, serta mengembangkan toleransi tubuh. Penggunaan dalam takaran berlebihan dan dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan gangguan fisik serius yang dapat menimbulkan kematian. Bila syaraf-syaraf otak rusak karena penggunaan obat-obat berbahaya ini, maka akan timbul gejala-gejala perilaku seperti pada psikosis. Gejala-gejala ini disebut psikosis obat (drug psychosis).
[http://www.iqeq.web.id/art/art10.shtml]

BARUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU................
Albert Maramis

Penyakit mental, disebut juga gangguan mental, penyakit jiwa, atau gangguan jiwa, adalah gangguan yang mengenai satu atau lebih fungsi mental. Penyakit mental adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Penyakit mental ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita (dan keluarganya).

Penyakit mental dapat me-ngenai setiap orang, tanpa mengenal umur, ras, agama, maupun status sosial-ekonomi. Penyakit mental bukan disebabkan oleh kelemahan pribadi.

Di masyarakat banyak beredar kepercayaan atau mitos yang salah mengenai penyakit mental, ada yang percaya bahwa penyakit mental disebabkan oleh gangguan roh jahat, ada yang menuduh bahwa itu akibat guna-guna, karena kutukan atau hukuman atas dosanya. Kepercayaan yang salah ini hanya akan merugikan penderita dan keluarganya karena si sakit tidak mendapat pengobatan secara cepat dan tepat.

Sekitar 20% dari kita akan mengalami gangguan mental pada suatu waktu dalam hidup kita.

Gangguan mental yang mungkin dialami oleh tiap orang itu berbeda-beda dalam hal jenis, keparahan, lama sakit, frekuensi kekambuhan, dan cara pengobatannya.

Ada lebih dari 400 macam gangguan mental, tetapi yang umum dikenal masyarakat hanya satu saja, yaitu apa yang disebut “gila”. Akibatnya setiap orang yang datang berkonsultasi ke psikolog atau berobat ke psikiater dikatakan gila, sehingga mereka yang sesungguhnya memerlukan pengobatan merasa malu untuk berobat. Padahal, gangguan mental yang berat ini (gila) hanya merupakan bagian yang sangat kecil dari sekian banyak macam penyakit/gangguan mental.

Yang penting untuk diketahui, penyakit mental dapat diobati. Seperti halnya orang dengan diabetes (kencing manis) yang harus minum obat kencing manis, demikian juga orang dengan gangguan mental yang serius perlu obat untuk meredakan gejala-gejalanya.

Kita harus mencari pertolongan untuk mengatasi gangguan mental seperti halnya kita pergi berobat untuk penyakit lainnya.

Orang dengan penyakit mental membutuhkan dukungan/suport, penerimaan dan pengertian dari kita semua. Mereka juga punya hak seperti orang lain. Bukan malah ditakuti, dijauhi, diejek, atau didiskriminasi.

Berikut ini contoh berbagai gangguan mental yang sering dijumpai:

• Depresi

• Anxietas/Kecemasan

• Gangguan Panik

• Fobia (termasuk Sosialfobia)

• Obsesi Kompulsi

• Skizofrenia

• Gangguan Bipolar (Manik-Depresif)

• Ketergantungan Zat/Narkoba/Alkohol

• Gangguan Stres Pasca Trauma

• Retardasi Mental

• Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktif

• Autisme

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar