Minggu, 10 Oktober 2010

PERANAN LEOKOSIT DALAM MEMPERTAHANKAN KEADAAN HOMEOSTASIS

OLEH
SUSI PURWATI (0806323246)

I.PENDAHULUAN
Darah merupakan salah satu komponen yang dapat di kategorikan organ dalam tubuh manusia yang memiliki peranan yang besar dalam mempertahankan keadaan homeostasis terkait dengan sistem sirkulasi pada tubuh manusia. Darah itu sendiri terdiri dari berbagai komponen yang membentuk suatu sistem dalam tubuh yang saling memiliki keterkaitan. Perubahan jumlah dan bentuk dari komponen darah mampu mempengaruhi terjadinya gangguan pada kondisi homeostasis seseorang yang berakibat pada perubahan kondisi tubuh. Transfusi darah adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan apabila seseorang mengalami gangguan homeostasis yang disebabkan karena kekurangan salah satu ataupun beberapa komponen (sel-sel darah) darah.
II. PEMBAHASAN
Sistem sirkulasi adalah sistem transport yang mensuplai zat-zat yang diabsorpsi dari saluran pencernaan dan O2 ke jaringan, mengembalikan CO2 ke paru-paru dan produk-produk metabolisme lainnya ke ginjal, berfungsi dalam pengaturan suhu tubuh dan mendistribusikan hormon-hormon dan zat lain yang mengatur fungsi sel. Darah yaitu sebagai pembawa zat-zat tersebut yang dipompakan melalui sistem tertentu ke pembuluh-pembuluh darah oleh jantung. Komposisi darah terdiri dari sebagai berikut:
Komponen Darah Bentuk Jumlah Subtansi

Plasma darah Berupa cairan kompleks karena 90 % komposisisnya terdiri dari H2O Meliputi komponen darah. Pada pria: 58 % BB
Pada wanita : 55 % BB Terdiri dari: senyawa anorganik 10 % (NaCL, KCL, MgCL2, CaCL2Na2SO4, dan buffer fosfat), senyawa organik dan zat buangan 20 % (glukosa, asam amino, laktat piruvat, Ketone Body,

Eritrosit Cakram bikonkaf, diameter 7 mikron Dewasa : 4-6 juta/mm3
Bayi/anak : 9-12 ribu/mm3
Bayi baru lahir : 9-30 ribu/mm3 Spektrin, Hemoglobin dan serabut-serabut protein

Leokosit Berbeda-beda dari tiap jenisnya, dapat dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya granula pada tiap selnya 4-10 ribu/mm3 Terdiri dari 2 jenis yaitu: Granulosit (basofil, neutrofil, eosinofil) dan Agranulosit (limfosit dan monosit) dan sel-sel ini berperan dalan sistem imun


Trombosit Berupa fragmen/potongan kecil sel dengan diameter 2-4 mikron 250-350 ribu /mm3 Terdiri dari vesikel yang mengandung debagian dari sitoplasma megakariosit (sel yang terlepas dari tepi luar sel besar) yang terbungkus oleh membran plasma
Tabel 2.1
Pada pembahasan kali ini, saya akan menguraikan lebih banyak mengenai leokosit. Leokosit adalah sel darah putih yang terdiri dari dua komponen besar, yang melindungi tubuh melawan serbuan bakteri, sehingga leokosit sangat berperan dalam sistem imun guna mempertahankan keadaan hemostasis. Jenis sel tersusun atas dua kategori utama yaitu:
1. Granulosit
Merupakan sel darah putih yang kecil, terdapat granula-granula pada strukturnya, massa seperti manik-manik di dalam sitoplasmanya (subtansi sel). Tiga jenis granulosit adalah basofil, neutrofil, an eosinofil.
• Basofil
Basofil adalah jenis leokosit yang paling sedikit jumlahnya dan paling kurang diketahui sifatnya. Basofil berasal dari sunsum tulang yang membentuk dan menyimpan histamin (berfungsi dalam mempercepat pembersihan partikel-partikel lemak dari darah setelah kita makan makanan yang berlemak) dan heparin (mencegah pembekuan darah).Basofil memilki aftinitas terhadap zat warna dan cenderung menyerap zat warna biru basa.
• Neutrofil
Neutrofil adalah sel jenis leokosit yang memilki peranan penting dalam dalam proses peradangan yang memberikan pertahanan pertama pada invansi bakteri. Peningkatan jumlah neutrofi yang lebih dari jumlah normal menunjukkan adanya infeksi bakteri, untuk mengatasinya biasanya dapat diberikan antibiotik. Neutrofil tidak memilki aftinitas terhadap zat warna karena bersifat netral.
• Eosinofil
Eosinofil memilki aftinitas terhadap zat warna merah eosin. Eosinaofil juga berkontribusi dalam sistem imun biasanya melalui reaksi imfalamasi. Peningkatan Eosinofil di sirkulasi darah pada kasus alergi dengan infestasi parasit internal(misalnya cacing), jelas eosinofil tidak dapat memfagositosis cacing tersebut yang berukuran lebih besar, tetapi sel-sel eosinofil akan melekat dan mengeluarkan bahan-bahan yang dapat mematikan cacing tersebut.
2. Agranulasit
Merupakan subtansi dari leokosit yang tidak mempunyai massa seperti bergranula atau bermanik-manik yang karakteristik pada granulosit. Sel jenis ini hanya memilki satu nukleus saja. Terdiri dari limfosit dan monosit.
• Monosit
Monosit memilki kemiripan tugas dengan Eosinofil yaitu untuk fagositosis. Sel ini di produksi di sumsum tulang kemudian akan beredar dalam darah selama 2-3 hari dan akhirnya menetap di berbagai jaringan dalam tubuh. Monosit akan terus berkembang dan membesar yang dikenal sebagai makrofag yang bertugas sebagai fagositik, memilki usia beberapa bulan sampai beberapa tahun.
• Limfosit
Limfosit memiliki peranan besar dalam sistem imun untuk memperthankan kondisi hemostasis seseorang. Terdapat dua jenis limfosit yaitu limfosit B dan limfosit T. Limfosit B menghasilkan antibodi yang beredar dalam darah. Antibodi akan berikatan dan memberi tanda untuk destruksi benda asing tertentu, misalnya bakteri yang menginduksi pembentukan antibodi itu. Sedangkan limfosit T menyerang secara langsung sel-sel sasaran secara spesifik. Sel-sel yang menjadi sasaran mencakup sel tubuh yang telah dimasuki oleh virus dan sel kanker, memilki rentan usia 100-300 hari yang secra kontinu beredar di jaringan limfoid, limfe dan darah. Jumlah limfosit dalam darah sering meningkat berkaitan dengan infeksi kronik. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat terjadi infeksi tubuh membutuhkan lebih banyak sel-sel pertahanan, sehingga agar keadaan tubuh tetap seimbang, maka produksi dan pematangan limfosit akan bertambah guna menyerang agen-agen infeksi.
Peningkatan jumlah leokosit (lekositosis) menunjukkan adanya proses infeksi atau radang akut, misalnya pada pneumonia, meningitis, apendiktis, tuberkulosis, dan lain-lain. Dapat juga terjadi luka bakar, kanker, leukemia, anemia hemolitik dan stress maupun gangguan emosi. Peningkatan leokosit juga dapat disebabkan karena obat-obatan, misalnya aspirin, heparin, antibiotika. Sedangakan penurunan jumlah leokosit (lekopeni)dapat terjadi pada penderita infeksi tertentu, terutama virus, malaria, anemia. Lekopeni dapat juga disebabkan penggunaan obat terutama asetaminofen, sulfonamide, kemoterapi kanker, diazepam, diuretika, antidiabetika oral, indometasin, dan antibiotika (penicilin, cepalosporin, dan kloramfenikol). Oleh karena itu perrlu dilakkan perhitungan jenis leokosit yang ada dalam darah berdasarkan proporsi % tiap jenis leokosit dari selurh jumlah leokosit untuk mendeteksi dan menggambarkan kejadian dan proses penyakit dalam tubuh. Terutama penyakit infeksi.Berikut ini tabel proporsi leokosit normal pada manusia.
No Jenis Leokosit Dewasa (%) Dewasa (mm3) Anak/Bayi/BBL
1 Neutrofil 50-70 2500-7000 BBL = 61 %
Umur 1 tahun=2 %
A Segmen 50-65 2500-6500 Sama dewasa
B Pita 0-5 0-500 Sama dewasa
2 Eosinofil 1-3 100-300 Sama dewasa
3 Basofil 0,4-1,0 40-100 Sama dewasa
4 Monosit 4-6 200- 600 4-9 %
5 Limfosit 25-35 1700-3500 BBL : 34 %
1 thn : 60 %
6 thn : 42 %
12 thn : 38 %
Tabel 2.2
Pada tabel 2.1 kita dapat melihat bahwa jumlah leokosit pada orang dewasa cenderung lebih sedikit di banding dengan bayi atau anak-anak. Hal tersebut karena beberapa kelenjar (contoh tiroid) akan semakin mengecil seiring pertambahan usia, sehingga kemampuan untuk menghasilkan sel jenis leokosit juga berkurang. Hal tersebut pula yang menjadi salah satu penyebab mengapa seseorang semakin bertambah usianya semakin rentan terhadap penyakit, dapat juga dikarenakan pola makan yang tidak baik.
Pada kasus Pemicu 3, disebutkan bahwa Leokosit Ny. F 11.000/mm3. Itu berarti bahwa Ny. F mengalami leokositosis (peningkatan jumlah leokosit), yang menunjukkan adanya proses infeksi dalam tubuh, sehingga tubuh memproduksi dan menggunakan atau mengedarkan jumlah leokosit di atas normal (4-10 ribu/mm3) untuk melawan agen-agen penyakit dalam tubuh. Hal ini diperkuat lagi dengan adanya data bahwa Ny. F akan diberikan antibiotika. Pertanyaan lain adalah mengapa Ny. F direncanakan akan mendapat transfusi darah Packed Red Cell 2 kolf 300cc. Hal ini karena jumlah Hb Ny. F dibawah normal sebesar 9,6 gr/dl yang seharusnya berkisar antara (12-16 gr/dl), sehingga mengalami sesak nafas dan merasa lemah, karena tugas utama Hb adalah mengangkut oksigen dalam darah. Nah, karena jumlah Hb rendah dalam darah, Maka mengakibatkan oksigen sulit untuk di angkut atau hanya dapat mengangkut oksigen dalam jumlah yang sedikit, sehingga mengganggu sistem sirkulasi terutama pernafasan. Menurut saya inilah yang menyebabkan Ny. F merasa sesak nafas.Oleh karena itu maka perlu dilakukan transfusi darah dari jenis Red Cell agar kebutuhan tubuh akan Hb terpenuhi.
Transfusi darah akan membantu tubuh memelihara fungsi normalnya. Darah tersusun dari sel darah merah, putih dan trombosit. Megingat bahwa darah membawa nutrisi oksigen dan subtansi lain yang penting untuk pertumbuhan yang penting untuk memeperbaiki jaringan tubuh anda.
Tubuh kita memerlukan sejumlah tertentu eritrosit, leokosit dan trombosit. Ketika jumlah sel darah dalam sirkulasi terlalu rendah, tubuh kita tidak dapat berfungsi dengan benar.Sebagai contoh, jumlah sel darah merah yang rendah mengganggu kemampuan tubuh kita untuk membawa oksigen, mengeliminasi produk yang tidak terpakai dan racun, menjaga tetap hangat dan memelihara tekanan darah. Leokosit yang rendah berpengaruh pada kemampuan melawan inspeksi. Dan jika kita tidak mempunyai cukup trombosit maka, darah tidak dapat membeku dengan benar.
Jika kita mengalami defisiensi salah satu komponen darah, salah satu alternatifnya adalah pemberian transfusi darah yang mengandung sel darah yang dibutuhkan. Darah yang kita terima mungkin hanya mengandung salah satu tipe sel atau campuran. Resiko terbesar transfusi darah adalah infeksi dan reaksi alergi dan reaksi ini adalah rendah. Sehingga biasanya seiring pemberian transfusi darah, juga akan diberikan antibiotika pada penerima transfusi darah untuk mengantisipasi terjadinya infeksi.

DAFTAR PUSTAKA
Hoffbrand, A.V.2005. Kapita Selekta Hematologi Edisi 4. Jakarta: EGC
Bakta, I Made.2006. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC
Sherwood, Lauralee.(2001). Research Design: HUMAN PHYSIOLOGY: FROM
CELLS TO SYSTEM. EdsDr. Bram U. Pendit, Sp. KK. Jakarta: EGC.
Ganong, F.1997. Fisiologi Kedokteran. Eds 10. Jakarta: EGC
Cooper, B robert.1996. Diseases. Jakarta: EGC http://id.wikipedia.org/2007/wiki/Transfusi_darah
http://www.medicastore.com/med/detail_pyk./

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar