Minggu, 10 Oktober 2010

KARAKTERISTIK LINGKUNGAN YANG DAPAT MENINGKATKAN MASALAH PERNAFASAN DI MASYARAKAT

I.PENDAHULUAN
Lingkungan fisik tempat tinggal dimana seseorang bekerja atau tinggal dapat meningkatkan kemungiknan terjadinya penyakit tertentu. Berbagai jenis polusi baik itu udara, air dan suara dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit. Angka kejahatan yang tinggi atau penduduk yang padat juga dapat menyebabkan terjadinya stres sehingga individu lebih mudah terjangkit penyakit akibat dari faktor-faktor lingkungan. Berbagai zat dapat mencemari udara seperti debu kimia, semen, kapas, asbes, zat-zat kimia, gas beracun, polusi dari kendaraan bermotor, peningkatan kepadatan penduduk berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat yang sehat dan lain sebagainya . Semua faktor tersebut dapat mengakibatkan gangguan pada fungsi sistem pernafasan yang berdampak pada kesehatan individu maupun masyrakat.

II. PEMBAHASAN
a. Debu kimia
Berbagai faktor berpengaruh dalam timbulnya penyakit atau gangguan pada saluran napas akibat debu. Faktor itu antara lain adalah faktor debu yang meliputi ukuran partikel, bentuk, konsentrasi, daya larut dan sifat kimiawi, lama paparan. Faktor individual meliputi mekanisme pertahanan paru, anatomi dan fisiologi saluran napas dan faktor imunologis. Sifat kimia dan fisika debu kimia yang tidak berbahaya:
• Rupa: Putih Bubuk
• Bau: Tidak ada
• pH: 10
• Tekanan Uap: Tidak ditentukan
• Titik Didih/Rentang 360°C
• Titik Lebur/ Rentang: 165 to 168°C
• Kelarutan Air: Dapat larut
• Densitas: 1.910 g/cm³ @ 20°C
• Massa Jenis: Tidak ditentukan
• Laju Penguapan: Tidak ditentukan
• Kekentalan: Tidak ditentukan
• Koefisien Partisi (n-oktanol/air) < 0 (tidak berpotensi menjadi biokonsentrat)

Debu yang terdapat dalam udara terbagi dua, yaitu:
• deposit particulate matter yaitu partikel debu yang hanya berada sementara di udara, partikel ini segera meng- endap karena daya tank bumi.
• Suspended particulate matter adalah debu yang tetap berada di udara dan tidak mudah mengendap.

. Partikel debu yang dapat dihirup berukuran 0,1 sampai 10 mikron. Debu yang berukuran antara 5-10 mikron bila terhisap akan tertahan dan tertimbun pada saluran napas bagian atas; yang berukuran antara 3-5 mikron tertahan dan tertimbun pada saluran napas tengah. Partikel debu dengan ukuran 1-3 mikron disebut debu respirabel merupakan yang paling berbahaya karena tertahan dan tertimbun mulai dari bionkiolus terminalis sampai alveoli. Debu yang ukurannya kurang dari 1 mikron tidak mudah mengendap di alveoli, debu yang ukurannya antara 0,1-0,5 mikron berdifusi dengan gerak Brown keluar masuk alveoli; bila membentur alveoli ia dapat tertimbun di situ. Meskipun batas debu respirabel adalah 5 mikron, tetapi debu dengan ukuran 5-10 mikron dengan kadar berbeda dapat masuk ke dalam alveoli. Debu yang berukuran lebih dari 5 mikron akan dikeluarkan semuanya bila jumlahnya kurang dari 10 partikel per miimeter kubik udara. Bila jumlahnya 1.000 partikel per milimeter kubik udara, maka 10% dari jumlah itu akan ditimbun dalam paru.
Debu yang nonfibrogenik adalah debu yang tidak menimbulkan reaksi jaring paru, contohnya adalah debu besi, kapur, timah. Debu ini dulu dianggap mudah merusak paru disebut debu inert. Belakangan diketahui bahwa tidak ada debu yang benar-benar inert. Dalam dosis besar, semua debu bersifat merangsang dan dapat menimbulkan reaksi walaupun ringan. Reaksi itu berupa produksi lendir berlebihan, bila terus berlangsung dapat terjadi hiperplasi kelenjar mukus. Jaringan paru juga dapat berubah dengan terbentuknya jaringan ikat retikulin. Penyakit paru ini disebut pneumokoniosisnonkolagen.
Debu fibrogenik dapat menimbulkan reaksi jaringan paru sehingga terbentuk jaringan parut (fibrosis). Penyakit ini disebut pneumokoniosis kolagen. Termasuk jenis ini adalah debu siika bebas, batubara dan asbes.
Debu yang masuk ke dalam saluan napas, menyebabkan timbulnya reaksi mekanisme pertahanan nonspesifik berupa batuk, bersin, gangguan transport mukosilier dan fagositosis oleh makrofag. Otot polos di sekitar jalan napas dapat terangsang sehingga menimbulkan penyempitan. Keadaan ini terjadi biasanya bila kadar debu melebihi nilai ambang batas. Sistem mukosilier juga mengalami gangguan dan menyebabkan produksi lendir bertambah. Bila lendir makin banyak atau mekanisme pengeluarannya tidak sempurna terjadi obstruksi saluran napas sehingga resistensi jalan napas meningkat. Partikel debu yang masuk ke dalam alveoli akan membentuk fokus dan berkumpul di bagian awal saluran limfe paru. Debu ini akan difagositosis oleh makrofag. Debu yang bersifat toksik terhadap makrofag seperti silika bebas menyebabkan terjadinya autolisis. Makrofag yang lisis bersama silika bebas merangsang terbentuknya makrofag baru. Makrofag baru memfagositosis silika bebas tadi sehingga terjadi lagi autolisis, keadaan ini terjadi berulang-ulang. Pembentukan dan destruksi makrofag yang terus menerus berperan penting pada pembentukan jaringan ikat kolagen dan pengendapan hialin pada jaringan ikat tersebut. Fibrosis ini terjadi pada parenkim paru, yaitu pada dinding alveoli dan jaringan interstisial. Akibat fibrosis paru menjadi kaku, menimbulkan gangguan pengembangan paru yalta kelainan fungsi paru yang restriktif.
Penyakit paru yang dapat timbul karena debu selain tergantung pada sifat-sifat debu, juga tergantung pada jenis debu, lama paparan dan kepekaan dividual. Pneumokoniosis biasanya timbul setclah paparan bertahun-tahun. Apabila kadar debu tinggi atau kadar silika bebas tinggi dapat terjadi silikosis akut yang bermanifestasi setelah paparan 6 bulan. Dalam masa paparan yang sama seseozang thpat mengalami kelainan yang berat sedangkan yang lain kelainnya ringan akibat adanya kepekaan individual. Penyakit akibat debu antara lain adalah asma kerja, bronkitis industri, pneumokoniosis batubara, siikosis, asbestosis dan kanker paru.

b. Polusi Kendaraan Bermotor
Polusi yang berasal dari kendaraan bermotor dapat berasal dari bahan bakar maupun dari asap kendaraan serta dari suara yang ditimbulkan dari kendaraan bermotor itu sendiri yang dapat berdampak pada gangguan kesehatan. Selain itu, jenis bahan bakar dan karakteristik kendaraan bermotor yang digunakan juga berpengaruh mengemisikan pencemaran udara serta kualitas perawatan pemilik kendaraan bermotor turut memberikan sumbangsih.
Kendaraan bermotor akan mengeluarkan berbagai gas jenis maupun partikulat yang terdiri dari berbagai senyawa anorganik dan organik dengan berat molekul yang besar yang dapat langsung terhirup melalui hidung dan mempengaruhi masyarakat di jalan raya dan sekitarnya.
Emisi kendaraan bermotor mengandung berbagai senyawa kimia. Komposisi dari kandungan senyawa kimianya tergantung dari kondisi mengemudi, jenis mesin, alat pengendali emisi bahan bakar, suhu operasi dan faktor lain yang semuanya ini membuat pola emisi menjadi rumit. Jenis bahan bakar pencemar yang dikeluarkan oleh mesin denganbahan bakar bensin maupun bahan bakar solar sebenarnya sama saja, hanya berbeda proporsinya karena perbedaan cara operasi mesin. Secara visual selalu terlihat asap dari knalpot kendaraan bermotor dengan bahan bakar solar, yang umumnya tidak terlihat pada kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin.
Walaupun gas buang kendaraan bermotor terutama terdiri dari senyawa yang tidak berbahaya seperti nitrogen, karbon dioksida dan upa air, tetapi didalamnya terkandung juga senyawa lain dengan jumlah yang cukup be sar yang dapat membahayakan gas buang membahayakan kesehatan maupun lingkungan.
Bahan pencemar yang terutama terdapat didalam gas buang buang kendaraan bermotor adalah karbon monoksida (CO), berbagai senyawa hindrokarbon, berbagai oksida nitrogen (NOx) dan sulfur (SOx), dan partikulat debu termasuk timbel (PB). Bahan bakar tertentu seperti hidrokarbon dan timbel organik, dilepaskan keudara karena adanya penguapan dari sistem bahan bakar.
Lalu lintas kendaraan bermotor, juga dapat meningkatkan kadar partikular debu yang berasal dari permukaan jalan, komponen ban dan rem. Setelah berada di udara, beberapa senyawa yang terkandung dalam gas buang kendaraan bermotor dapat berubah karena terjadinya suatu reaksi, misalnya dengan sinar matahari dan uap air, atau juga antara senyawa-senyawa tersebut satu sama lain.
Proses reaksi tersebut ada yang berlangsung cepat dan terjadi saat itu juga di lingkungan jalan raya, dan adapula yang berlangsung dengan lambat. Reaksi kimia di atmosfer kadangkala berlangsung dalam suatu rantai reaksi yang panjang dan rumit, dan menghasilkan produk akhir yang dapat lebih aktif atau lebih lemah dibandingkan senyawa aslinya.
Sebagai contoh, adanya reaksi di udara yang mengubah nitrogen monoksida (NO) yang terkandung di dalam gas buang kendaraan bermotor menjadi nitrogen dioksida (NO2 ) yang lebih reaktif, dan reaksi kimia antara berbagai oksida nitrogen dengan senyawa hidrokarbon yang menghasilkan ozon dan oksida lain, yang dapat menyebabkan asap awan fotokimi (photochemical smog).
Pembentukan smog ini kadang tidak terjadi di tempat asal sumber (kota), tetapi dapat terbentuk di pinggiran kota. Jarak pembentukan smog ini tergantung pada kondisi reaksi dan kecepatan angin. Untuk bahan pencemar yang sifatnya lebih stabil sperti limbah (Pb), beberapa hidrokarbon-halogen dan hidrokarbon poliaromatik, dapat jatuh ke tanah bersama air hujan atau mengendap bersama debu, dan mengkontaminasi tanah dan air.
Senyawa tersebut selanjutnya juga dapat masuk ke dalam rantai makanan yang pada akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia melalui sayuran, susu ternak, dan produk lainnya dari ternak hewan. Karena banyak industri makanan saat ini akan dapat memberikan dampak yang tidak diinginkan pada masyarakat kota maupun desa.
Pencemaran suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatka oleh bunyi atau suara yang mengganggu ketentraman makhluk hidup di sekitarnya. Pencemaran suara juga dapat ditimbulkan dari kendaraan bermotor. Biasanya diukur dalam satuan dB atau desibel. Pencemaran suara yang bersifat terus-menerus dengan tingkat kebisingan di atas 80 dB dapat mengakibatkan efek atau dampak yang merugikan kesehatan manusia. Berikut ini adalah beberapa efek samping negatif dari pencemaran suara : stres, perubahan denyut nadi, tekanan darah berubah, gangguan fungsi jantung, dan kontraksi perut engakibatkan mual.



c. Kepadatan Penduduk
Jumlah penduduk dalam suatu wilayah dapat mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat di wilayah tersebut. Karena adanya hubungan timbal balik antara lingkungan dengan individu yang menempati suatu ruang hidup. Kepadatan penduduk yang melampaui daya dukung lingkungan, menyebabkan sejumlah masalah sosial, ekonomi, lingkungan, dan prasarana. Jumlah penduduk yang padat memberikan tekanan pada sumber-sumber yang terbatas di kota seperti tanah, kesempatan kerja, tersedianya potensi air bersih, sarana dan prasarana, serta ruang terbuka hijau. Akibatnya, ruang yang seharusnya dimanfaatkan untuk ruang terbuka hijau (RTH) dibangun guna memenuhi tuntutan pembangunan lain.
Ruang terbuka hijau (RTH) secara tidak langsung semakin menyempit yang dapat berakibat kualitas lingkungan menurun. Berkurangnya RTH di wilayah perkotaan akan menurunkan kualitas udara, dan ini akan menyebabkan penyakit pada sistem pernafasan yang disebabkan karena udara kotor. Penyakit ini biasanya disebabkan kondisi udara kotor di lingkungan permukiman padat, yaitu penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). ISPA adalah penyebab nomor satu kesakitan pada bayi dan balita, dan menempati urutan teratas dalam statistik kesehatan. Kondisi udara kotor berkaitan besar dengan kondisi tidak adanya atau kurangnya RTH. Selain itu kondisi persediaan air bersih diligkungan yang padat penduduknya juga. Selain itu juga produksi sampah pada wilayah yang padat penduduknya juga akan meningkat, apabila tidak ditangani dengan baik, Dapat menjadi sumber tumbuh dan berkembangnya agen-agen infeksius yang tidak hanya menyerang sistem pernafasan, Tetapi juga sistem-sistem lain pembangun individu.

DAFTAR PUSTAKA:
Mubarak, H.,Zakky, MA, dkk. (2008). MPKT Buku Ajar II Manusia, Akhlak, Budi Pekerti Dan Masyarakat. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Irmayanti , M. Si, Dr. Meliono, dkk. MODUL MPKT. (2007). Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI
Smaatmadja, Nursid. 1989. Studi Lingkungan Hidup. Bandung: Penerbit Alumni.
Potter, P.A & Perry, A.G.(2005). Fundamental Of Nrsing: Concepts, Process, and Practice. Eds 4. Jakarta: EGC
Bates DV. (1972).Air pollutans and the human lung. Am Rev Respir Dis. Hal 105 : 1-13.
Fitri, Dewi.”APA-Style Citations of Electronic Sources.”
Style Sheet, http://www.livescience.com (2 April . 2009).
http://www.pdf-search-engine.com/kepadatan-penduduk-dan-kesehatan-pdf.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar