Minggu, 10 Oktober 2010

PEMAHAMAN AGAMA ISLAM MELALUI BUDAYA

PEMAHAMAN AGAMA ISLAM MELALUI BUDAYA
OLEH
SUSI PURWATI (0806323246)
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
KELAS D

Referensi
Judul :1. Kisah Para Wali
2. Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya
3. Islam, Relativisme Budaya dan Toleransi Beragama
Pengarang :1. Hariwijaya
2. Muhammad Syamsu As
3. A Fatih Syuhud
Data Publikasi :1. Nirwana
2. Lentera
3. http://afatih.wordpress.com/2005/10/27/islam-relativisme-budaya-dan-toleransi-beragama/

I. PENDAHULUAN
Ajaran agama Islam adalah jalan hidup yang diajarkan oleh Tuhan pencipta alam dan manusia, yang paling tahu tentang makhluk ciptaan-NYA itu sendiri. Diantara pandangan Islam terhadap manusia sebagai ajaran adalah bahwa manusia merupakan makhluk fisik, ruhaniah, rasional, sosial, dan ber-Tuhan kepada Allah. Pada dasarnya agama dan budaya merupakan kebutuhan manusia yang penting untuk dapat mempertahankan manusia sebagai manusia dan masyarakat yang bermartabat. Budaya melekat pada diri pribadi pada tiap individu. Salah satu contoh yang paling fenomenan di Indonesia dalam penyebaran, penanaman serta pemahaman nilai-nilai Islam adalah penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh walisongo yang selalu melakukan pendekatan melalui tehnik akulturasi budaya masyarakat dengan nilai-nilai ajaran agama Islam.

II. PEMBAHASAN
Pada zaman dahulu jika kita mengingat tentang perjuangan para walisongo yang menyebarkan agama Islam di pulau jawa selalu tidak terlepas dengan melekatkan nilai-nilai Islam dengan kebudayaan atau adat-istriadat masyarakat sekitar. Yakni dengan pendekatan pada masyarakat pribumi dan akulturasi budaya (percampuran budaya Islam dan budaya lokal). Dakwah mereka adalah dakwah kultural. Banyak peninggalan Walisongo menunjukkan, bahwa budaya dan tradisi lokal mereka sepakati sebagai media dakwah. Hal ini dijelaskan baik semua atau sebagian dalam banyak sekali tulisan seputar Walisongo dan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Misalnya, dalam Ensiklopedi Islam; Târikhul-Auliyâ’ karya KH Bisri Mustofa; Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia karya KH Saifuddin Zuhri; Sekitar Walisanga karya Solihin Salam; Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya karya Drg H Muhammad Syamsu As.; Kisah Para Wali karya Hariwijaya; dan Kisah Wali Songo: Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid MA.
Dahulu di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha, dan terdapat berbagai kerajaan Hindu dan Budha, sehingga budaya dan tradisi lokal saat itu kental diwarnai kedua agama tersebut. Budaya dan tradisi lokal itu oleh Walisongo tidak dianggap “musuh agama” yang harus dibasmi. Bahkan budaya dan tradisi lokal itu mereka jadikan “teman akrab” dan media dakwah agama, selama tak ada larangan dalam nash syariat.
Pertama-pertama, Walisongo belajar bahasa lokal, memperhatikan kebudayaan dan adat, serta kesenangan dan kebutuhan masyarakat. Lalu berusaha menarik simpati mereka. Karena masyarakat Jawa sangat menyukai kesenian, maka Walisongo menarik perhatian dengan kesenian, di antaranya dengan menciptakan tembang-tembang keislaman berbahasa Jawa, gamelan, dan pertunjukan wayang dengan lakon islami. Setelah penduduk tertarik, mereka diajak membaca syahadat, diajari wudhu’, shalat, dan sebagainya.
Walisongo sangat peka dalam beradaptasi, caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Misalnya, kebiasaan berkumpul dan kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian keluarga tidak diharamkan, tapi diisi pembacaan tahlil, doa, dan sedekah. Bahkan Sunan Ampel—yang dikenal sangat hati-hati—menyebut shalat dengan “sembahyang” (asalnya: sembah dan hyang) dan menamai tempat ibadah dengan “langgar”, mirip kata sanggar. Bangunan masjid dan langgar pun dibuat bercorak Jawa dengan genteng bertingkat-tingkat, bahkan masjid Kudus dilengkapi menara dan gapura bercorak Hindu. Selain itu, untuk mendidik calon-calon dai, Walisongo mendirikan pesantren-pesantren yang menurut sebagian sejarawan mirip padepokan-padepokan orang Hindu dan Budha untuk mendidik cantrik dan calon pemimpin agama.
Walhasil, Walisongo adalah ulama-wali yang alim dan bijak. Mereka dan metode dakwah serta peninggalannya seyogianya dihormati. Nabi bersabda pada Sayidina Ali, “Demi Allah, sungguh Allah memberi petunjuk pada seseorang (hingga masuk Islam) melalui kamu itu lebih baik bagimu daripada memperoleh unta merah” (HR Bukhari-Muslim). Nabi juga bersabda, “Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, dia mendapat pahala sebagaimana orang yang melakukannya” (HR Muslim). Hadits terakhir ini, menurut Sayid Alawi bin Abbas al-Maliki, menunjukkan keutamaan ilmu dan bahwa Nabi mendapat pahala seperti pahala seluruh umatnya, sejak diutus sampai Kiamat. Maka begitu pula Walisongo, sebagai penyebar Islam “pertama”, mereka mendapat pahala seperti pahala semua umat Islam Indonesia, sejak dakwahnya sampai Kiamat. Ini merupakan salah satu contoh bahwa budaya dapat dijadikan sebagai salah satu cara alternative pendekatan masyarakat untuk lebih mudah memahami Islam.

III. KESIMPULAN
Cara-cara yang dilakukan Islam, sepanjang sejarah penyebarannya, adalah untuk memahami. Sedang mempraktikkan relativisme budaya merupakan contoh terbaik dalam kehidupan antar-umat beragama dalam teori dan praktik. Islam tidak mengijinkan pemaksaan budayanya pada yang lain. Islam tidak membolehkan penghakiman atas nilai-nilai yang dianut orang lain. Islam hanya mengatakan kalian ikuti apa yang terbaik yang sesuai untuk umat manusia biasa, tanpa mengganggu rasa sentimen yang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar