Selasa, 05 Oktober 2010

DOMAIN PROSES BELAJAR & MENGAJAR

PROMOSI KESEHATAN
PENGERTIAN PENDIDIKAN, BELAJAR DAN MENGAJAR SERTA DOMAIN BELAJAR




















FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2009
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan, Belajar, dan Mengajar
Pendidikan merupakan usaha yang dilaksanakan secara sadar untuk mewujudkan suasana belajar serta menuntut peserta didik untuk menggali potensi diri serta berperan aktif dalam prosesnya. Seperti kita ketahui selama ini pendidik dan pengajar merupakan satu pengertian namun sebenarnya kedua kata itu berbeda arti, pendidik merupakan seseorang yang melakukan sesuatu untuk membentuk karakter seseorang serta mentransfer nilai-nilai yang ada di dalam kehidupan, sedangkan pengajar merupakan seseorang yang melakukan sesuatu untuk mentransfer ilmu yang sudah dipelajarinya.
Belajar merupakan perubahan tingkah laku dan kemampuan manusia dan juga proses perubahan tingkah laku yang relative permanen akibat dari latihan atau pengalaman yang dialami oleh seseorang, sedangkan mengajar merupakan interaksi antara dua orang atau lebih untuk memberikan pengetahuan dan mengubah atau membentuk perilaku seseorang.

B. Domain Belajar
Domain belajar atau sebutan lainnya, ranah, dapat diartikan sebagai cakupan dalam proses belajar. Domain belajar terbagi atas 3, antara lain :
1. Kognitif
Kognitif adalah aktivitas mental dalam mengenal dan mengetahui tentang dunia. Kognitif mencakup semua aspek intelektual yang terdiri dari kemampuan berpikir, menganalisa, evaluasi, serta pemahaman. Piaget berteori bahwa selama perkembangannya, manusia mengalami perubahan-perubahan dalam struktur berfikir, yaitu semakin terorganisasi, dan strukutur berfikir selalu dibangun pada struktur dari tahap sebelumnya. Perkembangan manusia itu disebabkan oleh 4 faktor, yaitu kematangan fisik, pengalaman dengan objek-objek fisik, pengalaman sosial dan ekuilibrasi. Terdapat 5 cakupan dalam kognitif, yaitu:
a. Knowledge, dengan pengetahuan maka akan didapatkan sebuah fakta dan informasi baru. Contohnya klien mengetahui tentang penyakit yang dideritanya
b. Comprehension, pemahaman adalah kemampuan untuk memahami materi yang dipelajari. Contoh, klien mampu menguraikan secara cpesifik bagaimana obat-obat yang baru diberikan untuknya akan dapat meningkatkan kesehatan fisiknya.
c. Application,aplikai atau penerapan mencakup penggunaan informasi yang baru diketahuinya untuk diterapkan dalam situasi yang tepat. Contoh, klien dapat mengatur jadwal makannya setelah diberi informasi oleh perawat.
d. Analysis, konsep analisis di sini adalah mengaitkan gagasan yang satu dengan yang lain dengan cara-cara yang tepat. Contoh, klien mampu memisahkan informasi penting dan tidak penting pada penggunaan obat terutama menanggapi mitos yang berkembang di masyarakat.
e. Synthesis, klien mampu menerapkan semua yang dia dapat selama berada di rumah sakit
f. Evaluation, klien mampu menyadari kebutuhan akan informasi kesehatan.

2. Afektif
Afektif terdiri dari perilaku, sikap, minat, konsep diri, tanggung jawab, serta pengendalian diri, serta pembentukan karakter seseorang. Menurut Popham (1995), ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Terdapat 5 cakupan, yaitu :
a. Receiving
Pada tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus, misalnya kelas, kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku, senang bekerjasama, dan sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif.


b. Responding
Responding merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian dari perilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam memberi respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus. Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang membantu teman, senang dengan kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.
c. Valueing
Valeuing melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima suatu nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat komitmen. Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi dari seperangkat nilai yang spesifik. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran, penilaian ini.diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
d. Organizing
Pada tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup.
e. Characterizing
Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai. Pada tingkat ini peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan sosial.
Ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.

a. Sikap
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.
b. Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi. Penilaian minat dapat digunakan untuk:
- Mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,
- Mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya,
- Pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik,
- Menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas,
- Mengelompokkan peserta didik yang memiliki minat sama,
- Acuan dalam menilai kemampuan peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam penyampaian materi,
- Mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik,
- Bahan pertimbangan menentukan program sekolah,
- Meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
c. Konsep Diri
Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi. Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut.
• Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
• Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
• Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya.
• Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
• Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
• Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik.
• Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
• Peserta didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya.
• Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik.
• Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki.
• Peserta didik memahami kemampuan dirinya.
• Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik.
• Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang dilakukan.
• Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain.
• Peserta didik mampu menilai dirinya.
• Peserta didik dapat mencari materi sendiri.
• Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.
d. Nilai
Nilai menurut Rokeach (1968), nilai merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan.
e. Moral
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.

3. Psikomotor
Psikomotor terdiri dari praktik, fisik, keterampilan serta motorik. Pengajaran psikomotor, keterampilan, penerapan, serta penggabungan aktivitas mental dan fisik. Terdapat tujuh cakupan, yaitu:
a. Persepsi, berkaitan dengan pemahaman. Keadaan yang menyadari suatu objek atau kualitas penggunaan seluruh organ indra. Sesorang merasakan adanya rangangan sebagai tanda untuk melakukan tugas tertentu. Misalnya, setelah mendengarkan bunyi mobil ambulans, orang tersebut akan menyetir mobilnya ke tepi untuk menghindari kecelakaan.
b. Set, mengeset kesiapan otak untuk menjalankan tindakan psikomotor, yang diset adalah mental, fisik, dan emosi. Ada tiga perangkat, mental, fisik, dan emosi. Sebagai contoh, seseorang menggunakan penilaian untuk menentukan cara terbaik untuk melakukan tindakan motorik. Sebelum melakukan tindakan, seperti bangun dari kursi roda, seseorang berada pada bentuk dan posisi tubuh yang sesuai. Klien mungkin membuat komitmen untuk menjalankan latihan tertentu secara teratur.
c. Respons terbimbing, Akan kinerja suatu tindakan, di abwah bimbingan seorang instructor. Hal ini merupakan tindakan meniru dari tindakan yang didemonstrasikan. Sebagai contoh, klien menyiapkan injeksi insulin setelalh memperhatikan contoh dari perawat dan mencoba untuk menirunya dengan benar.
d. Mekanisme, mekanisme merupakan tingkat perilaku yang lebih tinggi di mana seseorang telah memiliki kepercayaan diri dan ketrampilan dalam melakukan perilaku tertentu. Biasanya ketrampilan menjadi lebih kompleks dan mencakup lebih dari beberapa tahapan daripada ketrampilan terbimbing. Sebagai contoh, klien mampu mengeluarkan sejumlah insulin dengan jarum suntik dari dosis yang berbeda.
e. Respons kompleks terbuka, mencakup yang terdiri dari pola gerakan yang kompleks.. seseorang memperlihatkan ketrampilan secara halus dan benar tanpa ragu-ragu. Sebagai contoh, klien dapat menyuntikkan insulin secara mandiri pada berbagai tempat penyuntikkan.
f. Adaptasi, terjadi bila seseorang mampu mengubah respon motorik ketika muncul masalah yang tidak diduga. Sebagai contoh, ketika perawat menyuntik, munculnya darah dalam alat suntikan karena diaspirasi mengakibatkan perubahan cara memegang alat suntik.
g. Keaslian, merupakan aktivitas motorik yang paling kompleks yang mencakup penciptaan pola gerakan yang baru. Seseorang bertindak berdasarkan kemampuan dan Keaslian ketrampilan psikomotor yang ada. Sebagai contoh, seorang perawat menggunakan metode yang lain untuk penusukan vena pada klien yang mengalami pembengkakan tangan.

Semua domain belajar merupakan aspek yang harus berjalan secara terintegrasi. Ada kalanya seseorang hanya mahir atau sanggup menjalani salah satu dari ketiganya. Akan tetapi, berusaha untuk seimbang adalah pilihan yang jauh lebih baik.








BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk mewujudkan suasana belajar serta menuntut peserta didik untuk menggali potensi diri. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku akibat latihan dan pengalaman. Mengajar adalah interaksi untuk memberikan pengetahuan dan membentuk perilaku seseorang. Domain belajar terbagi atas tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Ranah kognitif mencakup semua aspek intelektual yang terdiri dari kemampuan berpikir, menganalisa, evaluasi, serta pemahaman. Afektif terdiri dari perilaku, sikap, minat, konsep diri, tanggung jawab, serta pengendalian diri, serta pembentukan karakter seseorang. Psikomotor terdiri dari praktik, fisik, keterampilan serta motorik.

B. Saran
Bagi para pembaca pada umumnya dan perawat pada khususnya disarankan agar mengerti tentang pendidikan, mengajar dan belajar maupun domain belajar itu sendiri. Selain itu pendidikan, belajar dan mengajar merupakan hal yang sangat penting. Hal ini akan mempermudah petugas kesehatan dalam melakukan pendidikan pada pelayanan kesehatan.









DAFTAR PUSTAKA

Latifah, M. “Perkembangan Kognitif.” Style sheet. http://tumbuhkembanganak.edublogs.org/2008/04/29/perkembangan-kognitif/ (tanggal akses 1 Oktober 2009)
Anonym. “Pedoman Pengembangan Instrumen dan Penilaian Ranah Afektif”. Style sheet. http://74.125.153.132/search?q=cache:yLlibrRzEoMJ:smadawates.sch.id/berkas/PENGEMBANGAN%2520%2520PERANGKAT%2520PENILAIAN%2520AFEKTIF.rtf+afektif&cd=4&hl=id&ct=clnk&gl=id (tanggal akses 1 Oktober 2009).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar