Minggu, 10 Oktober 2010

Hambatan dalam Komunikasi

I.Pendahuluan
Komunikasi adalah instrumen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang untuk melakukan kontak dengan orang lain karena komunikasi dilakukan oleh seseorang setiap hari baik disadari maupun tidak. Di dunia kesehatan, terutama pada saat menghadapi klien, seorang perawat juga harus mengadakan suatu komunikasi agar informasi yang ada dapat tersampaikan dengan baik. Terutama informasi yang berkenaan dengan kebutuhan klien akan asuhan keperawatan yang akan diberikan. Oleh karena itu, komunikasi adalah faktor yang paling penting , yang digunakan untuk menetapkan hubungan antara perawat dengan klien.
Namun, seringkali informasi yang seharusnya sampai kepada orang yang membutuhkan, ternyata terputus di tengah jalan akibat tidak efektifnya suatu komunikasi yang dilakukan. Pada komunikasi terapeutik antara perawat dengan klien, hal tersebut dapat mungkin terjadi karena disebabkan oleh berbagai hal. Hal –hal tersebut tidak hanya berasal dari klien saja, tetapi juga dapat disebabkan oleh pola komunikasi yang salah yang dilakukan oleh perawat. Komunikasi yang tidak efektif juga dapat disebabkan kegagalan pada proses komunikasi itu sendiri. Kegagalan itu dapat terjadi pada saat pengiriman pesan, penerimaan pesan, serta pada kejelasan pesan itu sendiri (Edelman, 2002).
II. Isi Materi
Secara umum, hambatan komunikasi yang terjadi antara perawat dengan klien dapat dibagi menjadi tiga jenis utama, yakni hambatan fisik, hambatan psikologi, dan hambatan semantik/ bahasa.
A. Hambatan Fisik
Hambatan jenis ini biasanya disebabkan karena keterbatasan fisik atau berkurangnya kerja sistem tubuh sehingga berpengaruh terhadap proses komunikasi yang dilakukan antara perawat dengan klien. Terdapat beberapa hambatan fisik, antara lain :
1. Keterbatasan Fungsi Alat Indera
Kemampuan mendengar, melihat, merasakan, dan membaui adalah elemen yang penting dalam berkomunikasi bagi seorang manusia. Gangguan pada indera-indera yang memiliki fungsi tersebut tentunya dapat menghambat proses komunikasi. Misalnya pada klien yang mengalami ketidakmampuan mendengar, klien tersebut tidak akan menerima pesan suara secara baik dan akurat. Begitu juga dengan klien yang mengalami keterbatasan dalam penglihatannya, mereka akan sulit untuk mengadakan komunikasi secara visual.
2. Kemampuan kognitif
Hambatan yang lain adalah berkurangnya kemampuan kognitif yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor genetis, dampak suatu penyakit, dan lain sebagainya. Kurangnya kemampuan dalam hal kognitif dapat berpengaruh terhadap kemampuan untuk berbicara seperti terbatasnya penggunaan dan pemakaian kosakata, atau bahkan orang tersebut tidak dapat memahami suatu pembicaraan.
3. Keterbatasan Struktur Tubuh
Adanya kelainan pada daerah oral, rongga nasal, dan sistem respirasi dapat mengubah kemampuan seseorang dalam kejelasan berbicara dan kecepatan merespon secara spontan. Misalnya pada klien yang mengalami dispnea yang berat, hal tersebut tentunya akan mengubah pada pola berbicara.
4. Kelumpuhan
Hambatan jenis ini adalah hanbatan yang paling besar yang dapat berakibat pada berkurangnya kemampuan klien dalam melakukan proses berkomunikasi. Perawat harus dapat menentukan cara komunikasi yang efektif sesuai dengan kemampuan yang dimiliki klien.
B. Hambatan Psikologis
Perawat juga harus mempertimbangkan apakah klien menderita penyakit psikologis atau depresi karena kedua hal tersebut dapat mempengaruhi kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif. Perawat harus dapat menentukan apakah klien mengalami gangguan psikologis sehingga dapat menghambat berjalannya proses komunikasi antara perawat dengan klien.
C. Hambatan Semantik
Hambatan dalam hal bahasa seringkali dapat ditemukan dalam proses komunikasi. Hambatan ini dapat disebabkan karena perbedaan bahasa yang digunakan antara klien dengan perawat. Hal ini dapat ditemukan pada daerah-daerah terpencil dimana perawatnya berasal dari kota besar atau daerah yang lain.



Pada komunikasi terapeutik, juga dapat ditemukan beberapa hambatan yang dapat mengganggu berlangsungnya proses komunikasi yang afektif dan akurat. Terdapat tiga jenis hambatan utama dalam komunikasi terapeutik antara perawat dengan klien yakni resisten, transferens, dan kontratransferens. Sedangkan C.L Edelman menambahkan tiga faktor yang lain yakni kegelisahan, sikap, dan kesenjangan hubungan antara perawat dengan klien.
1. Resisten
Resisten adalah upaya klien untuk tetap tidak menyadari aspek penyebab kegelisahan yang dialaminya. Resisten merupakan keengganan alamiah atau penghindaran verbalisasi yang dipelajari atau mengalami peristiwa yang menimbulkan masalah aspek diri seseorang. Resisten sering merupakan akibat dari ketidaksediaan klien untuk berubah ketika kebutuhan untuk berubah telah dirasakan. Perilaku resistens biasanya diperlihatkan oleh klien selama fase kerja, karena fase ini sangat banyak berisi proses penyelesaian masalah.
2. Transferens
Transferens adalah respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan sikap terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dalam kehidupannya di masa lalu. Sifat yang paling menonjol adalah ketidaktepatan respon klien dalam intensitas dan penggunaan mekanisme pertahanan yang maladaptif. Transferens dapat meliputi semua perasaan yang dirasakan klien yang dapat diklasifikasikan sebagai perasaan positif (cinta, sayang, atau hormat) dan perasaan negatif (marah, ketidaksukaan, atau frutrasi).Terdapat dua tipe transferens yang biasanya menjadi masalah dalam hubungan terapeutik antara klien dengan perawat. Pertama adalah tipe permusuhan, baik internal maupun eksternal.Secara internal,klien akan mengalami rasa marah dan ketidaksukaan yang sangat berlebihan. Ini dapat merupakan ekspressi dari rasa depresi atau kecewa yang dirasakan klien namun klien hanya menunjukkan hal tersebut dalam batas perubahan sikap yang ia lakukan. Sedangkan jika eksternal, maka klien akan melakukan kritik penentangan, dan lain sebagainya yang ia sampaikan secara langsung pada perawat. Tipe yang kedua adalah reaksi ketergantungan. Jenis ini memiliki karakteristik dimana klien akan menjadi pribadi yang patuh layaknya seorang bawahan, berusaha meniru seperti perawat, dan lain sebagainya.



3. Kontertranferens
Kontertransferens yaitu hambatan dalam komunikasi terapeutik yang dibuat oleh perawat dan bukan oleh klien. Konterrtransferens merujuk pada respon emosional spesifik oleh perawat terhadap klien yang tidak tepat dalam isi maupun konteks hubungan terapeutik atau ketidaktepatan dalam intensitas emosi. Reaksi ini biasanya berbentuk salah satu dari tiga jenis reaksi sangat mencintai, reaksi sangat bermusuhan atau membenci dan reaksi sangat cemas sering kali digunakan sebagai respon terhadap resisten klien.
4. Kegelisahan
Hambatan ini dapat dirasakan oleh perawat atau klien. Kegelisahan atau ketegangan ini akan semakin meninggi selama proses komunikasi dan dapat mengakibatkan tejadinya ganggguan dalam proses komunikasi itu sendiri. Banyak hal yangdapat menyebabkan terjadinya kegelisahan seperti suasana yang tidak akrab, sikap yang terlalu kaku, dan lain sebagainya.
5. Sikap
Sikap yang bias dan stereotip dapat membatasi perawat dan klien untuk membentuk hubungan yang baik. Biasanya salah satu diantara kedua belah pihak menunjukkan sikap yang buruk sehingga membuat pihak lain tidak merasa nyaman jika berkomunikasi dengan orang tersebut.
6. Kesenjangan Antara Perawat dan Klien
Kesenjangan yang dimaksud di sini adalah berbagai perbedaan yang ada antara diri perawat dengan klien yang dapat mengganggu berjalannya proses komunikasi. Perbedaan tersebut antara lain adalah perbedaan usia, jenis kelamin, agama, suku, kewarganegaraan, latar belakang sosial-ekonomi, bahasa, dan lain sebagainya.Perbedaan tersebut tentunya dapat menyebebkan adanya perbedaan persepsi, cara pandang, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu semua.
III. Kaitan dengan Pemicu
Pada pemicu 1, perawat A, laki-laki,umur 24 tahun, suku jawa, mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan salah satu kliennya, yakni Ny. S yang baru melakukan mastektomi. Ny. S sering diam jika bertemu dengan perawat A, bahkan memalingkan mukanya sebagai tanda penolakan terhadap kedatangan perawat A. Jika dilihat, perawat A dan Ny. S mendapatkan berbagai hambatan sehingga proses komunikasi yang dilakukan tidak berjalan dengan semestinya.Hubungan antara perawat A dan Ny. S yang tidak baik dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kesenjangan antara perawat dengan klien, sikap, serta adanya resisten dan transferens pada diri klien.
Pada kasus Ny. S ini, beliau baru saja melakukan mastektomi karena sebuah alasan medis. Pasca operasi, Ny. S belum terbiasa dengan keadaan yang ada pada dirinya, apalagi beliau adalah seorang wanita. Kemungkinan untuk terjadinya depresi atau sejenisnya dapat terjadi. Selain itu, perbedaan jenis kelamin antara klien dan perawat ternyata dapat menimbulkan hambatan tersendiri. Ny. S mungkin malu jika dirawat oleh perawat A, ditambah lagi masalah kesehatan yang dialamainya adalah hal yang cukup krusial bagi seorang wanita.Kecanggungan, rasa malu, rasa tertekan dan masih belum percaya dengan keadaan yang terjadi membuat Ny. S akhirnya resisten dan cenderung transferens terhadap perawat A. Hal ini ditunjukkan dengan sikap penolakannya terhadap kehadiran perawat A. Ny. S juga menunjukkan sikap ketidaksukaannya pada perawat A dengan diam dan memalingkan muka jika bertemu dengan perawat tersebut. Hal itu mungkin terjadi sebagai bentuk ekspresi dari rasa ketidaksukaannya, rasa malu, dan tertekan.
Selain itu, akibat perbedaan jenis kelamin, umur, dan lain sebagainya. Hal itu dapat memungkinkan terjadinya perubahan sikap antara perwat dengan klien. Hubungan akan terkesan kaku sehingga proses komunikasi tidak dapat berjalan dengan baik.Hal itu merupakan hambatan tersendiri bagi proses komunikasi antara perawat dengan klien.
IV. Daftar Pustaka
Dorlan. (1995). Dorland’s Pocket Medical Dictionary. Twenty Fifth Edition. Philadelphia : W.B Saunders Company
Edelman, C.L. and Carol, L.M. (2002). Health Promotion. Sixth Edition. St. Louis : Mosby
Keliat, B. A. (2002). Hubungan Terapeutik Perawat-Klien. Jakarta : Penerbit EGC.
Kozier, B. Erb, G Berman A.J . (1995). Fundamental of Nursing : concepts, process, and practice. Fifth Edition. California : Addison-Wesley Publishing Company.
Potter, P.A. and Perry, A.G. (2005). Fundamental of Nursing : concepts, process, and practice. Sixth Edition. St. Louis : Mosby.
Stuart, G.W. and Sundeen, S.J. (2005). Principles and Practice of pshychiatric nursing. Fifth Edition. St Louis : Mosby
http://aurajogja.files.wordpress.com/2006/09/pengantar-ilmu-komunikasi-a5.PDF
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/05/komunikasi-antar-budaya-definisi-dan.html

http://niasonline.net/2008/02/15/hambatan-komunikasi-antarbudaya-sekat-integrasi/
http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/504b926582b89da04ffd9ce7d3878246fca3662c.pdf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar