Minggu, 10 Oktober 2010

PERANAN LEOKOSIT DALAM MEMPERTAHANKAN KEADAAN HOMEOSTASIS

OLEH
SUSI PURWATI (0806323246)

I.PENDAHULUAN
Darah merupakan salah satu komponen yang dapat di kategorikan organ dalam tubuh manusia yang memiliki peranan yang besar dalam mempertahankan keadaan homeostasis terkait dengan sistem sirkulasi pada tubuh manusia. Darah itu sendiri terdiri dari berbagai komponen yang membentuk suatu sistem dalam tubuh yang saling memiliki keterkaitan. Perubahan jumlah dan bentuk dari komponen darah mampu mempengaruhi terjadinya gangguan pada kondisi homeostasis seseorang yang berakibat pada perubahan kondisi tubuh. Transfusi darah adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan apabila seseorang mengalami gangguan homeostasis yang disebabkan karena kekurangan salah satu ataupun beberapa komponen (sel-sel darah) darah.
II. PEMBAHASAN
Sistem sirkulasi adalah sistem transport yang mensuplai zat-zat yang diabsorpsi dari saluran pencernaan dan O2 ke jaringan, mengembalikan CO2 ke paru-paru dan produk-produk metabolisme lainnya ke ginjal, berfungsi dalam pengaturan suhu tubuh dan mendistribusikan hormon-hormon dan zat lain yang mengatur fungsi sel. Darah yaitu sebagai pembawa zat-zat tersebut yang dipompakan melalui sistem tertentu ke pembuluh-pembuluh darah oleh jantung. Komposisi darah terdiri dari sebagai berikut:
Komponen Darah Bentuk Jumlah Subtansi

Plasma darah Berupa cairan kompleks karena 90 % komposisisnya terdiri dari H2O Meliputi komponen darah. Pada pria: 58 % BB
Pada wanita : 55 % BB Terdiri dari: senyawa anorganik 10 % (NaCL, KCL, MgCL2, CaCL2Na2SO4, dan buffer fosfat), senyawa organik dan zat buangan 20 % (glukosa, asam amino, laktat piruvat, Ketone Body,

Eritrosit Cakram bikonkaf, diameter 7 mikron Dewasa : 4-6 juta/mm3
Bayi/anak : 9-12 ribu/mm3
Bayi baru lahir : 9-30 ribu/mm3 Spektrin, Hemoglobin dan serabut-serabut protein

Leokosit Berbeda-beda dari tiap jenisnya, dapat dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya granula pada tiap selnya 4-10 ribu/mm3 Terdiri dari 2 jenis yaitu: Granulosit (basofil, neutrofil, eosinofil) dan Agranulosit (limfosit dan monosit) dan sel-sel ini berperan dalan sistem imun


Trombosit Berupa fragmen/potongan kecil sel dengan diameter 2-4 mikron 250-350 ribu /mm3 Terdiri dari vesikel yang mengandung debagian dari sitoplasma megakariosit (sel yang terlepas dari tepi luar sel besar) yang terbungkus oleh membran plasma
Tabel 2.1
Pada pembahasan kali ini, saya akan menguraikan lebih banyak mengenai leokosit. Leokosit adalah sel darah putih yang terdiri dari dua komponen besar, yang melindungi tubuh melawan serbuan bakteri, sehingga leokosit sangat berperan dalam sistem imun guna mempertahankan keadaan hemostasis. Jenis sel tersusun atas dua kategori utama yaitu:
1. Granulosit
Merupakan sel darah putih yang kecil, terdapat granula-granula pada strukturnya, massa seperti manik-manik di dalam sitoplasmanya (subtansi sel). Tiga jenis granulosit adalah basofil, neutrofil, an eosinofil.
• Basofil
Basofil adalah jenis leokosit yang paling sedikit jumlahnya dan paling kurang diketahui sifatnya. Basofil berasal dari sunsum tulang yang membentuk dan menyimpan histamin (berfungsi dalam mempercepat pembersihan partikel-partikel lemak dari darah setelah kita makan makanan yang berlemak) dan heparin (mencegah pembekuan darah).Basofil memilki aftinitas terhadap zat warna dan cenderung menyerap zat warna biru basa.
• Neutrofil
Neutrofil adalah sel jenis leokosit yang memilki peranan penting dalam dalam proses peradangan yang memberikan pertahanan pertama pada invansi bakteri. Peningkatan jumlah neutrofi yang lebih dari jumlah normal menunjukkan adanya infeksi bakteri, untuk mengatasinya biasanya dapat diberikan antibiotik. Neutrofil tidak memilki aftinitas terhadap zat warna karena bersifat netral.
• Eosinofil
Eosinofil memilki aftinitas terhadap zat warna merah eosin. Eosinaofil juga berkontribusi dalam sistem imun biasanya melalui reaksi imfalamasi. Peningkatan Eosinofil di sirkulasi darah pada kasus alergi dengan infestasi parasit internal(misalnya cacing), jelas eosinofil tidak dapat memfagositosis cacing tersebut yang berukuran lebih besar, tetapi sel-sel eosinofil akan melekat dan mengeluarkan bahan-bahan yang dapat mematikan cacing tersebut.
2. Agranulasit
Merupakan subtansi dari leokosit yang tidak mempunyai massa seperti bergranula atau bermanik-manik yang karakteristik pada granulosit. Sel jenis ini hanya memilki satu nukleus saja. Terdiri dari limfosit dan monosit.
• Monosit
Monosit memilki kemiripan tugas dengan Eosinofil yaitu untuk fagositosis. Sel ini di produksi di sumsum tulang kemudian akan beredar dalam darah selama 2-3 hari dan akhirnya menetap di berbagai jaringan dalam tubuh. Monosit akan terus berkembang dan membesar yang dikenal sebagai makrofag yang bertugas sebagai fagositik, memilki usia beberapa bulan sampai beberapa tahun.
• Limfosit
Limfosit memiliki peranan besar dalam sistem imun untuk memperthankan kondisi hemostasis seseorang. Terdapat dua jenis limfosit yaitu limfosit B dan limfosit T. Limfosit B menghasilkan antibodi yang beredar dalam darah. Antibodi akan berikatan dan memberi tanda untuk destruksi benda asing tertentu, misalnya bakteri yang menginduksi pembentukan antibodi itu. Sedangkan limfosit T menyerang secara langsung sel-sel sasaran secara spesifik. Sel-sel yang menjadi sasaran mencakup sel tubuh yang telah dimasuki oleh virus dan sel kanker, memilki rentan usia 100-300 hari yang secra kontinu beredar di jaringan limfoid, limfe dan darah. Jumlah limfosit dalam darah sering meningkat berkaitan dengan infeksi kronik. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat terjadi infeksi tubuh membutuhkan lebih banyak sel-sel pertahanan, sehingga agar keadaan tubuh tetap seimbang, maka produksi dan pematangan limfosit akan bertambah guna menyerang agen-agen infeksi.
Peningkatan jumlah leokosit (lekositosis) menunjukkan adanya proses infeksi atau radang akut, misalnya pada pneumonia, meningitis, apendiktis, tuberkulosis, dan lain-lain. Dapat juga terjadi luka bakar, kanker, leukemia, anemia hemolitik dan stress maupun gangguan emosi. Peningkatan leokosit juga dapat disebabkan karena obat-obatan, misalnya aspirin, heparin, antibiotika. Sedangakan penurunan jumlah leokosit (lekopeni)dapat terjadi pada penderita infeksi tertentu, terutama virus, malaria, anemia. Lekopeni dapat juga disebabkan penggunaan obat terutama asetaminofen, sulfonamide, kemoterapi kanker, diazepam, diuretika, antidiabetika oral, indometasin, dan antibiotika (penicilin, cepalosporin, dan kloramfenikol). Oleh karena itu perrlu dilakkan perhitungan jenis leokosit yang ada dalam darah berdasarkan proporsi % tiap jenis leokosit dari selurh jumlah leokosit untuk mendeteksi dan menggambarkan kejadian dan proses penyakit dalam tubuh. Terutama penyakit infeksi.Berikut ini tabel proporsi leokosit normal pada manusia.
No Jenis Leokosit Dewasa (%) Dewasa (mm3) Anak/Bayi/BBL
1 Neutrofil 50-70 2500-7000 BBL = 61 %
Umur 1 tahun=2 %
A Segmen 50-65 2500-6500 Sama dewasa
B Pita 0-5 0-500 Sama dewasa
2 Eosinofil 1-3 100-300 Sama dewasa
3 Basofil 0,4-1,0 40-100 Sama dewasa
4 Monosit 4-6 200- 600 4-9 %
5 Limfosit 25-35 1700-3500 BBL : 34 %
1 thn : 60 %
6 thn : 42 %
12 thn : 38 %
Tabel 2.2
Pada tabel 2.1 kita dapat melihat bahwa jumlah leokosit pada orang dewasa cenderung lebih sedikit di banding dengan bayi atau anak-anak. Hal tersebut karena beberapa kelenjar (contoh tiroid) akan semakin mengecil seiring pertambahan usia, sehingga kemampuan untuk menghasilkan sel jenis leokosit juga berkurang. Hal tersebut pula yang menjadi salah satu penyebab mengapa seseorang semakin bertambah usianya semakin rentan terhadap penyakit, dapat juga dikarenakan pola makan yang tidak baik.
Pada kasus Pemicu 3, disebutkan bahwa Leokosit Ny. F 11.000/mm3. Itu berarti bahwa Ny. F mengalami leokositosis (peningkatan jumlah leokosit), yang menunjukkan adanya proses infeksi dalam tubuh, sehingga tubuh memproduksi dan menggunakan atau mengedarkan jumlah leokosit di atas normal (4-10 ribu/mm3) untuk melawan agen-agen penyakit dalam tubuh. Hal ini diperkuat lagi dengan adanya data bahwa Ny. F akan diberikan antibiotika. Pertanyaan lain adalah mengapa Ny. F direncanakan akan mendapat transfusi darah Packed Red Cell 2 kolf 300cc. Hal ini karena jumlah Hb Ny. F dibawah normal sebesar 9,6 gr/dl yang seharusnya berkisar antara (12-16 gr/dl), sehingga mengalami sesak nafas dan merasa lemah, karena tugas utama Hb adalah mengangkut oksigen dalam darah. Nah, karena jumlah Hb rendah dalam darah, Maka mengakibatkan oksigen sulit untuk di angkut atau hanya dapat mengangkut oksigen dalam jumlah yang sedikit, sehingga mengganggu sistem sirkulasi terutama pernafasan. Menurut saya inilah yang menyebabkan Ny. F merasa sesak nafas.Oleh karena itu maka perlu dilakukan transfusi darah dari jenis Red Cell agar kebutuhan tubuh akan Hb terpenuhi.
Transfusi darah akan membantu tubuh memelihara fungsi normalnya. Darah tersusun dari sel darah merah, putih dan trombosit. Megingat bahwa darah membawa nutrisi oksigen dan subtansi lain yang penting untuk pertumbuhan yang penting untuk memeperbaiki jaringan tubuh anda.
Tubuh kita memerlukan sejumlah tertentu eritrosit, leokosit dan trombosit. Ketika jumlah sel darah dalam sirkulasi terlalu rendah, tubuh kita tidak dapat berfungsi dengan benar.Sebagai contoh, jumlah sel darah merah yang rendah mengganggu kemampuan tubuh kita untuk membawa oksigen, mengeliminasi produk yang tidak terpakai dan racun, menjaga tetap hangat dan memelihara tekanan darah. Leokosit yang rendah berpengaruh pada kemampuan melawan inspeksi. Dan jika kita tidak mempunyai cukup trombosit maka, darah tidak dapat membeku dengan benar.
Jika kita mengalami defisiensi salah satu komponen darah, salah satu alternatifnya adalah pemberian transfusi darah yang mengandung sel darah yang dibutuhkan. Darah yang kita terima mungkin hanya mengandung salah satu tipe sel atau campuran. Resiko terbesar transfusi darah adalah infeksi dan reaksi alergi dan reaksi ini adalah rendah. Sehingga biasanya seiring pemberian transfusi darah, juga akan diberikan antibiotika pada penerima transfusi darah untuk mengantisipasi terjadinya infeksi.

DAFTAR PUSTAKA
Hoffbrand, A.V.2005. Kapita Selekta Hematologi Edisi 4. Jakarta: EGC
Bakta, I Made.2006. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC
Sherwood, Lauralee.(2001). Research Design: HUMAN PHYSIOLOGY: FROM
CELLS TO SYSTEM. EdsDr. Bram U. Pendit, Sp. KK. Jakarta: EGC.
Ganong, F.1997. Fisiologi Kedokteran. Eds 10. Jakarta: EGC
Cooper, B robert.1996. Diseases. Jakarta: EGC http://id.wikipedia.org/2007/wiki/Transfusi_darah
http://www.medicastore.com/med/detail_pyk./

PENGARUH KERJA OTAK TERHADAP SISTEM SIRKULASI

OLEH
SUSI PURWATI (0806323246)
KELAS C3

I. PENDAHULUAN
Badan manusia memiliki dua sistem saraf (neural) yaitu saraf pusat atau sumsum otak yang merupakan pusat kecerdasan, intelegensi, dan kehendak. Terkadang sistem ini juga memberikan perintah kepada otot atau urat, sedangkan sistem lainnya adalah sistem simpatik yang bekerja secara otomatis. Sistem ini menguasai seluruh isi perut, seperti hati, liver, paru-paru dan sebagainya. Mekanisme kerja dari sistem kedua bergantung pada sistem pertama, dengan bantuan dari dua sistem inilah, badan kita mendapatkan kemudahan untuk melakukan aktivitas di dunia luar.
Otak merupakan pusat kendali dan koordinasi untuk seluruh tubuh. Peranan otak sangat besar sekali sebagai bagian dari sistem saraf pusat, terjadi kerusakan sedikit saja di otak, maka seluruh hidup yang dijalani akan berantakan, minimal kualitas hidup akan berkurang. Salah satu bagian dari otak adalah batang otak, yang mampu mengendalikan fungsi-fungsi penyangga kehidupan dasar misalnya pernapasan dan laju denyut jantung. Mengontrol tingkat kesiagaan. Menyiagakan kita terhadap informasi sensorik yang masuk. Mengendalikan suhu. Mengendalikan proses pencernaan. Menyampaikan informasi dari serebelum. Secara tidak langsung batang otak dapat dikatakan sebagai suatu pusat ko’ordinasi tubuh.

II. PEMBAHASAN
Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar, gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, pernafasan, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya.
Otak terbentuk dari dua jenis sel: glia dan neuron. Glia berfungsi untuk menunjang dan melindungi neuron, sedangkan neuron membawa informasi dalam bentuk pulsa listrik yang di kenal sebagai potensial aksi. Mereka berkomunikasi dengan neuron yang lain dan keseluruh tubuh dengan mengirimkan berbagai macam bahan kimia yang disebut neurotransmitter . Neurotransmitter ini dikirimkan pada celah yang di kenal sebagi sinapsis. Pada manusia jumlah neuron jutaan hingga seratus milliar neuron.

Organ otak terdiri dari 3 bagian; otak bagian depan, bagian tengah dan bagian belakang. Otak bagian depan (Forebrain) terdiri dari:
1. Cerebrum
• Merupakan bagian otak yang paling besar dan sangat kompleks
• Merupakan tempat memproses pengetahuan, logika, kecerdasan, kepribadian dan daya ingat.
• Seluruh pemikiran, sensasi, tindakan dan pergerakan dikendalikan dalam cerebrum
• Cerebrum terbagi pula menjadi 3 area dengan fungsi yang berbeda;
1) Sensory Area
Informasi yang diterima dari Panca Indera (mata, telinga,hidung, lidah, kulit) memberikan sensasi perasaan tertentu yang dihasilkan dari area ini.
2) Motor Area
Area ini mengirim instruksi pada berbagai organ atau otot untuk melakukan berbagai aktifitas yang diperintahkan.
3) Association Area
Merupakan area tempat mendaftarkan dan menyimpan informasi yang ditanggapi dan direspon berdasarkan pengalaman masa lalu. Area ini berasosiasi dengan logika, pengetahuan dan tingkat kecerdasan.
• Dalam Cerebrum ada 4 lobe (cuping) yang mengontrol setiap aktifitas;
1) Occipital lobe, mengontrol aktifitas visual.
2) Temporal lobe, mengontrol aktifitas pendengaran.
3) Parietal lobe mengontrol sentuhan, bau, suhu, dan kesadaran.
4) Frontal lobe, mengontrol aktifitas otot, suara, dan daya ingat.

2. Hypothalamus
Hypothalamus merupakan bagian dari otak depan yang bertugas mengatur suhu tubuh, rasa lapar, haus, tekanan darah dan lain sebagainya.
Pada otak bagian tengah (Midbrain) terdapat syaraf-syaraf yang berfungsi untuk mengendalikan gerak kepala dan leher dalam rangka merespon sensasi visual dan pendengaran. Selain itu juga pada otak bagian tengah dikendalikan otot-otot mata, mengatur perubahan ukuran pupil dan mengatur ketajaman lensa mata.
Otak bagian belakang (Hindbrain) terdiri dari 3 bagian, yaitu:
1. Cerebellum
Mengendalikan keakuratan gerak dan keterampilan motorik seperti berjalan digaris lurus, mengendarai sepeda, memegang pensil, dan sebagainya.
2. Pons
Berperan sebagai jembatan yang membawa semua sensasi perasaan dan perintah penggerak syaraf dari otak ke tulang belakang.
3. Medula Oblongata
• Merupakan ujung belakang dari keseluruhan organ otak yang dilanjutkan ke tulang belakang.
• Mempunyai pusat refleks yang mengendaliakn aktifitas seperti menelan, batuk, bersin, muntah, detak jantung dan pernafasan.

Penjelasan yang singkat dan sederhana diatas tergambar jelas bahwa otak merupakan salah satu organ tubuh yang mengatur banyak sekali instruksi dalam tubuh. Instruksi itu disalurkan melalui kabel berupa susunan syaraf. Bersama-sama dengan otak, sistem jaringan syaraf, syaraf tulang belakang dan organ indera tubuh membentuk apa yang disebut sebagai jaringan sistem listrik dalam tubuh.


Kontribusi kerja otak terhadap sistem sirkulasi dilakukan oleh batang otak. Sistem batang otak memiliki alat penerima (signal) yang akan terus menerus bekerja mengendali kadar karbon dioksida (CO2) dalam darah. Jika kadar CO2 berada dalam kepekatan yang tinggi signal yang terletak dalam batang otak akan memberi signal kepada pusat penafasan untuk menambah kelajuan dan kedalaman bernafas untuk memasok O2 agar terjadi keseimbangan. Selain batang otak sistem dalam paru-paru itu sendiri yang akan mengubah proses pernafasan. Sistem itu akan berfungsi dengan sendiri tanpa henti 24 jam kecuali mati. Batang otak mengendalikan fungsi vital kehidupan, seperti sistem jantung pembuluh darah dan pernafasan. Gangguan pada batang otak dapat menimbulkan gangguan yang serius dan mengancam jiwa. Kematian klinis ditentukan dari berhentinya aktivitas batang otak sehingga tidak adanya refleks batang otak dan pernapasan spontan. Pada kasus mati batang otak, denyut jantung dan pernafasan masih terjadi meskipun akan berhenti segera setelah alat pendukung kehidupan (ventilator) dihentikan.

Otak (serebral) kita mendapat asupan darah dari arteri karotis interna dan arteri vertebra yang kemudian membentuk “circle willis”. Tidak seperti di organ lain, volume darah dan cairan ekstravaskular di otak relatif konstan. Jika terjadi perubahan akan menyebabkan perubahan resiprokal pada bagian lain. Kecepatan aliran darahnya pun rangenya relatif sempit, rata-rata kecepatan aliran darah ke otak adalah sebesar 55 ml/menit/100 gram. Otak paling mudah mengalami iskemia. Gangguan aliran darah ke otak selama 5 detik saja dapat menyebabkan penurunan kesadaran. Jika berlanjut dan jaringan mengalami iskemia dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang irreversibel. Oleh karena itu, kekurangan oksigen pada otak dapat sangat berkaibat fatal, karena dapat menyebabkna kematian, walaupun hanya dalam beberapa detik saja.

Aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah disebabkan oleh penumpukan dari zat-zat lemak (lipid, kolesterol) yang makin lama makin banyak dan menumpuk di bawah lapisan terdalam (endotelium) dari dinding pembuluh nadi. Tumpukan zat-zat lemak tersebut akan mengalami oksidasi yang lama kelamaan akan membentuk plak yang dapat menyebabkan pengerasan arteri. Pembentukan plak lemak dalam arteri merupakan faktor yang mempengaruhi pembentukan bekuan darah (thrombus) yang dapat menghambat aliran darah. Apabila proses aterosklerosis yang terjadi pada pembuluh darah di otak akan memicu terjadinya infark serebral yang menyebabkan stroke. Stroke merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh kerusakan sirkulasi dalam satu atau lebih pembuluh darah yang mensuplai darah ke otak. Akibat adanya penyempitan pembuluh darah di otak maka sirkulasi darah terganggu sehingga penyediaan oksigen dan darah ke otak menjadi berkurang atau terhenti, yang kemudian merusak area-area tertentu dalam jaringan otak. Kondisi-kondisi tersebut mengakibatkan jaringan otak rusak dan fungsinya terganggu. Tanpa aliran darah yang memasok sel-sel otak dengan oksigen segar, maka sel-sel otak akan segera mati.

Pada kasus NY.F dinyatakan bahwa kecepatan pernafasan adalah 28kl/menit, Seharusnya pernafasan normal adalah 16-20 kl/menit. Itu artinya terjadi peningkatan pernafasan. Pada dasarnya peningkatan kecepatan pernafasan adalah indikasi bahwa tubuh membutuhkan suplai O2 yang lebih banyak, sehingga jantung memompa darah lebih kencang dan kec. Pernafansan menjadi meningkat. Peningkatan kerja jantung yang mengakibatkan kec.pernafasan meningkat dipengaruhi oleh kontribusi dari sistem batang otak. Dimana batang otak memiliki sinyal atau kepekaan terhadap situasi atau kondisi tubuh apabila kadar CO2 berada dalam kepekatan yang tinggi signal yang terletak dalam batang otak akan memberi signal kepada pusat penafasan untuk menambah kelajuan dan kedalaman bernafas untuk memasok O2 agar terjadi keseimbangan. Selain batang otak sistem dalam paru-paru itu sendiri yang akan mengubah proses pernafasan. Sehingga kebutuhan tubuh akan O2 dapat terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA
Cooper, B robert.1996. Diseases. Jakarta: EGC
Ganong, F.1997. Fisiologi Kedokteran. Eds 10. Jakarta: EGC
Price, A., Sylvia.(2006). PATOFISIOLOGI: Clinical Concepts Of Disease
Processes. Eds 6. Jakarta: EGC
Shafer, WG., Hine, MK., Levy, BM. A Textbook of oral pathology. 4th ed.
Philadelphia: WB. Saunders. 1983. 137-9.
Sherwood, Lauralee.(2001). Research Design: HUMAN PHYSIOLOGY: FROM
CELLS TO SYSTEM. EdsDr. Bram U. Pendit, Sp. KK. Jakarta: EGC.
http://www.medicastore.com/med/detail_pyk./
http://id.wikipedia.org/2007/wiki/otak
http://www.emedicine.com/derm/topic886.htm. Accessed 5 Maret, 2009.

22 CARA MENINGKATKAN KINERJA OTAK

Otak kita adalah sebuah superkomputer seberat 1,5 kg. Sebagai pusat kontrol yang mengendalikan hidup anda, otaklah yang menentukan bagaimana cara anda berpikir dan berinteraksi dengan orang lain. Otak anda jauh lebih rumit dari komputer apapun dengan 100 juta milyar sel otak yang saling berhubungan satu sama lain. Mengoptimalkan fungsi otak adalah suatu keharusan jika anda ingin mengeluarkan potensi diri anda semaksimal mungkin. Dan sementara anda berolahraga atau melakukan yoga untuk menjaga kondisi tubuh, seringkali latihan mental menjadi terlupakan. Berapapun umur anda, latihan mental memiliki efek positif dan global pada otak anda. Dan inilah 22 cara untuk melakukannya:

1. Berlari untuk Sel Otak

Para peneliti mengatakan bahwa orang yang melakukan banyak latihan fisik mungkin memiliki otak yang lebih baik. Peneliti di Salk Institute menemukan bahwa tikus yang suka berlari pada roda latihan mengalami pertumbuhan sel-sel baru dua kali lebih banyak pada otak daerah memori dan belajar. Para peneliti belum yakin dengan penyebabnya tetapi ada kemungkinan bahwa hal ini dikarenakan oleh latihan fisik yang tidak dipaksakan. Yang artinya, dengan menemukan cara untuk menikmati olahraga daripada terpaksa melakukannya dapat membuat anda menjadi lebih pintar juga. Jadi lakukanlah olahraga yang anda gemari, lari pagi dengan musik atau fitness dengan teman-teman anda untuk lebih menyegarkan otak anda.

2. Mencoba Hal Baru

Pakar neurobiology dari Duke University , professor Lawrence C. Katz, Ph.D mengatakan bahwa menemukan cara baru dalam berpikir dan mencoba berbagai hal baru dapat meningkatkan fungsi dari daerah otak yang kurang aktif. Pada intinya cobalah lakukan apa saja yang dapat membuat anda keluar dari kebiasaan cara berpikir anda selama ini, misalnya mencoba berbagai masakan baru, pergi ke kantor melalui jalan lain, mengunjungi tempat-tempat baru atau mencoba membuat suatu karya seni.

3. Bertanya

Biasakan diri anda untuk selalu ingin tahu! Tanyakan kepada diri anda sendiri dan orang lain di sekitar anda tentang berbagai hal. Biasakan untuk bertanya "kenapa?" setidaknya 10 kali sehari. Otak anda menjadi terlatih dan kesempatan serta solusi akan muncul dalam kehidupan anda.

4. Tertawa

Peneliti mengatakan bahwa tertawa baik untuk kesehatan. Tanpa peneliti harus memberitahu, seumur hidup kita sudah merasakan khasiat tertawa yang dapat mengurangi stress dan tekanan mental. Jadi tertawalah sebelum tertawa itu dilarang!

5. Menjadi Pecinta Ikan

Omega-3 yang banyak terkandung dalam ikan telah lama diketahui baik untuk jantung. Tapi penelitian terakhir mengungkapkan bahwa omega-3 juga baik untuk otak karena mereka membantu sistem sirkulasi yang memompa oksigen ke kepala anda dan meningkatkan fungsi membran yang mengelilingi sel otak. Orang yang banyak mengkonsumsi ikan atau omega-3 bisa memiliki keadaan mental dan kecerdasan yang lebih baik dan lebih tahan terhadap depresi. Menyantap hidangan ikan seperti salmon, sarden, mackerel, dan tuna setidaknya 3 kali dalam seminggu adalah awal yang baik.

6. Menggali Ingatan

Lihatlah kembali album foto lama atau buku tahunan sekolah anda. Otak anda adalah sebuah mesin ingatan, jadi biarkanlah ia bekerja supaya tidak berkarat.

7. Kurangi Lemak

Lemak dapat mengurangi aliran darah yang mengandung oksigen ke otak anda dan menghambat metabolisme dari glukosa yag merupakan "makanan" untuk otak. Anda masih boleh mendapatkan 30% dari kebutuhan kalori perhari anda dalam bentuk lemak dan jauhi makanan ringan yang banyak mengandung lemak.

8. Bermain Teka-teki

Menyelesaikan teka-teki di waktu luang adalah cara yang baik untuk melatih otak anda dan menjaga kondisinya. Tidak masalah apakah itu teka-teki silang, jigsaw atau permainan logika. Tetapi lakukanlah dengan menyadari bahwa teka-teki tersebut hanyalah sebuah permainan untuk kesenangan.

9. Efek Mozart

Frances Rauscher seorang psikolog di University of Wisconsin menemukan bahwa mendengarkan Mozart dapat meningkatkan kemampuan matematik dan ruang seseorang. Tetapi perlu diperingati bahwa tidak semua orang mengalami efek Mozart ini. Dan beberapa ahli juga mengatakan bahwa hal ini terjadi karena musik dapat membuat orang yang mendengarnya merasa nyaman dan rileks dan rangsangan yang serupa juga dapat menghasilkan efek yang sama. Bahkan ada satu penelitian yang menemukan bahwa dengan mendengarkan cerita maka otak kita juga akan semakin berkembang.

10. Meningkatkan Keterampilan

Beberapa rangsangan mental yang diulang-ulang sebenarnya baik untuk otak anda selama anda terus meningkatkan keahlian dan pengetahuan dasar anda. Kegiatan sehari-hari seperti berkebun, menjahit, membaca, mengisi teka-teki silang dapat berguna untuk kesehatan otak anda asalkan anda mendorong diri anda untuk terus melakukannya pada tingkat yang berbeda. Misalnya menjahit dengan pola yang lebih sulit, melukis dengan tehnik yang lebih sulit, atau mengerjakan teka-teki silang yang lebih besar dan sulit.

11. Jauhi Alkohol

Penelitian pada tikus menemukan bahwa alcohol tidak hanya merusak otak tetapi juga mencegahnya untuk pulih kembali. Penelitian terhadap 3500 pria di Jepang menemukan bahwa mereka yang minum secara teratur (kira-kira sekali sehari) akan memiliki fungsi kognitif yang lebih baik ketika mereka bertambah tua jika dibandingkan dengan mereka yang tidak minum sama sekali. Tetapi bagaimanapun juga jika anda minum melebihi batas normal maka kemampuan memori dan reaksi anda akan semakin menurun.

12. Bermain

Luangkan waktu anda untuk bermain. Tidak masalah apakah itu permainan kartu, video game, monopoli atau bahkan tarik tambang.Bermain sangat bagus untuk jiwa dan otak anda. Dengan bermain maka otak anda akan diberikan kesempatan untuk berpikir secara strategis.

13. Hal Yang Dilakukan Sebelum Tidur

Melihat atau membaca hal-hal penting (hanya jika informasi tersebut tidak akan mengganggu tidur anda) sebelum anda tidur dapat membantu meningkatkan ingatan anda terhadap hal-hal tersebut sebesar 20-30%. Sebaliknya jika anda tidak bisa tidur karena sesuatu hal yang mengusik pikiran anda, anda bisa "mengeluarkannya" dari pikiran anda dengan menulis semuanya diatas sehelai kertas. Jadi selalu siapkan pulpen dan kertas di samping tempat tidur anda.

14. Konsentrasi

Konsentrasi dapat meningkatkan kemampuan otak. Tentu saja anda tahu mengenai hal ini, tapi yang mungkin anda tidak sadari adalah hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi anda. Misalnya anda ingin menelepon seseorang sejak pagi tadi, jika hal ini tidak anda lakukan maka akan mengganggu konsentrasi anda untuk beraktifitas seharian, bahkan ketika anda tidak menyadarinya. Biasakan untuk berhenti sejenak dan bertanya "Apa yang sedang ada di pikiran saya saat ini?". Ingat-ingat dan selesaikan hal tersebut. Untuk contoh di atas, segera telepon orang tersebut atau masukkan ke agenda esok hari, sehingga anda dapat berpikir dengan jernih dan rileks.

15. Hanya untuk Pasangan Suami Istri

Bagi anda yang sudah menikah, berdasarkan penelitian Winnifred B. Cutler, PhD dan koleganya di University of Pennsylvania , bercinta adalah salah satu kunci untuk menjaga kesehatan otak. Keintiman dan ikatan emosional yang terjadi pada saat bercinta dapat melepaskan perasaan negatif seperti kemarahan dan kekecewaan dari pikiran. Sedangkan untuk para istri, tingkat estrogennya akan meningkat dan tingkat estrogen yang meningkat juga meningkatkan aktivitas otak secara keseluruhan dan meningkatkan memori.

16. Bermain dan Bekerja

Tanpa kepuasan pribadi, maka anda tidak bisa mengerjakan sesuatu dengan maksimal Ketika diri seseorang berkembang melalui belajar dan kreativitas, ia lebih bersemangat dan akan memberikan 127% kemampuannya untuk pekerjaan. Ingat-ingatlah apa yang anda sukai ketika anda masih kecil dan terapkan hal tersebut ke dalam pekerjaan anda. Ini adalah kunci menuju kejeniusan, bakat dan talenta anda. Da Vinci, Edison dan Picasso semuanya suka bermain dan mereka suka bereksplorasi.

17. Siklus Kesadaran

Kesadaran anda terus mengalami siklus naik turun dalam kehidupan sehari-hari. Lama siklus yang terjadi sekitar 90 menit dengan 30 menitnya adalah durasi ketika kesadaran anda dalam kondisi yang lemah. Pelajari dan ketahui siklus anda sehingga anda bisa fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan konsentrasi penuh ketika kesadaran anda sedang dalam keadaan siklus yang baik dan bukan yang lemah.

18. Belajar

Sebenarnya kita sedang mengembangkan potensi otak kita ketika kita menggunakannya untuk mempelajari hal-hal baru. Pelajari topik baru dari bidang pekerjaan anda atau hobi anda. Jika saat ini tidak ada topik yang membuat anda tertarik, cobalah mempelajari sebuah kata baru tiap harinya. Biasakan pikiran anda untuk terus belajar.

19. Menulis Untuk Dibaca

Menulis adalah salah satu stimulan yang baik untuk otak anda karena menulis dapat mengembangkan kapasitas otak anda. Cobalah memulainya dengan menulis cerita masa kanak-kanak anda atau mulai membuat blog sendiri atau apa saja selama anda menulisnya dengan tujuan untuk dibaca oleh orang lain.

20. Aroma Terapi

Aroma terapi dapat membantu anda untuk menjaga konsentrasi sekaligus menenangkan pikiran. Gunakan di tempat kerja untuk meningkatkan performa anda tetapi sebelumnya pastikan dahulu tidak ada yang alergi terhadapnya.

21. Meningkatkan Kekuatan Otak

Kopi dan minuman lainnya yang mengandung kafein dapat membantu mahasiswa meraih nilai tinggi pada saat ujian. Tetapi kafein sebenarnya menghambat aliran darah pada otak dan memiliki efek negatif lainnya. Oleh karena itu gantilah kopi dengan ginkgo biloba atau teh gotu kola. Ginkgo biloba telah dibuktikan dapat meningkatkan konsentrasi dan aliran darah ke otak dan

22. Membangun Sebuah Komunitas

Berkenalanlah dengan orang banyak di berbagai tempat untuk menemukan kesempatan baru dan solusi untuk masalah anda. Kelilingi diri anda dengan orang-orang dari berbagai bidang yang mendorong anda untuk terus maju sehingga kreatifitas anda akan terus berkembang.

KAITAN SISTEM SIRKULASI & PERSYARAFAN DALAM PROSES OKSIGENASI

OLEH
SUSI PURWATI (0806323246)
I.PENDAHULUAN
Oksigenasi adalah memberikan aliran gas oksigen (O2) lebih dari 21 % pada tekanan 1 atmosfir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh. Pada dasarnya tujuan oksigenasi adalah untuk mempertahankan suplai oksigen pada jaringan agar tetap dalam kondisi normal, untuk menurunkan kerja paru-paru dan untuk menurunkan kerja jantung. Karena oksigen sangat dibutuhkan untuk mempertahankan kehidupan. Fungsi sistem pernapasan dan jantung adalah menyuplai kebutuhan oksigen tubuh yang di atur oleh sistem saraf pusat secara tidak sadar oleh sistem saraf otonom.

II.PEMBAHASAN
Sebagian besar sel dalam tubuh memperoleh energi dari reaksi kimia yang melibatkan oksigen dan pembuangan karbondioksida. Pertukaran gas pernapasan terjadi antara udara di lingkungan dan darah. Terdapat tiga langkah dalam proses oksigenasi, yakni:
• Ventilasi
Ventilasi merupakan proses untuk mengerakkan gas ke dalam dan keluar paru-paru. Ventilasi membutuhkan koordinasi otot paru dan thokraks yang elastis dan persarafan yang utuh. Otot pernapasan inspirasi utama adalah diafragma. Diafragma dipersarafi oleh saraf frenik yang keluar dari medulla spinalis pada vertebra servikal keempat.
• Perfusi
Fungsi utama serkulasi paru adalah mengalirkan darah ke dan dari membran kapiler alvceoli sehingga dapat berlangsung pertukaran gas.
• Difusi
Difusi merupakan gerakan molekul dari suatu daerah dengan konsentrasi yang lebih tinggi ke daerah dengan konsentrasi yang lebih rendah. Difusi gas pernapasan terjadi di membran kapiler alveolar dan kecepatan difusi dapat dipengaruhi oleh ketebalan membran. Jika membran tebal dapat mengakibatkan gas memerlukan waktu lebih lama untuk melewati membran tersebut, sehingga mengakibatkan proses difusi yang lambat, akibatnya mengganggu proses pengiriman oksigen ke jaringan. Jika suplai oksigen pada jaringan tidak terpenuhi maka dapat mengakibatkan sesak Daerah permukaan membran dapat mengalami perubahan sebagai akibat suatu penyakit kronik (mis. emfisema), penyakit akut (mis. pneumothoraks), atau proses pembedahan (mis. lobektomi). Apabila alveoli yang berfungsi lebih sedikit, maka daerah permukaan menjadi berkurang.

Supaya pertukaran gas dapat terjadi, organ, saraf, dan otot pernapasan harus utuh dan sistem saraf pusat mampu mengatur siklus pernapasan tersebut dan pengaturan saraf dan kimiawi mengontrol fluktuasi dalam frekuensi dan kedalaman pernapasan untuk memenuhi perubahan kebutuhan oksigen jaringan yang melibatkan organ jantung dan paru-paru. Sistem sirkulasi itu sendiri terbagi menjadi dua yaitu:
1.Sirkulasi pulmonal (pernapafasan eksternal)
Sirkulasi pulmonal dimulai pada arteri pulmonar yang menerima darah vena yang membawa campuran oksigen dari ventrikel kanar. Aliran darah yang melalui sistem ini bergantung pada kemampuan pompa ventrikel kanan, yang mengeluarkan darah sekitar 4 sampai 6 liter/menit. Darah mengalir dari alteri pulmonar melalui alterior pulmonar ke kapiler pulmonar tempat darah kontak dengan membran kapiler-alveolar dan berlangsung pertukaran gas pernapasan. Darah yang kaya oksigen kemudian bersirkulasi melalui venula pulmonar dan vena pulmonar kembali ke atrium kiri.
Tekanan dalam sistem sirkulasi pulmonar adalah rendah jika dibandingkan dengan tekanan dalam sistem sirkulasi sistemik. Tekanan arteri sistolik pulmonar yang normal antara 20 dan 30 mm Hg, tekanan diastolik kurang dari 12 mm Hg dan tekanan rata-rata kurang dari 20 mm Hg (daily dan Schroeder, 1994). Dinding pembuluh darah pulmonar lebih tipis daripada dinding pembuluh darah di dalam sirkulasi sistemik dan berisi lebih sedikit otot halus karena tekanan dan tahanan yang rendah. Paru-paru menerima curah jantung total dari ventrikel kanan dan tidak meneruskan aliran darah dari satu daerah ke daerah lain, kecuali pada kasus hipoksia alveolar.
Gas pernapasan mengalami pertukaran di alveoli dan kapiler jaringan tubuh. Oksigen ditransfer dari paru-paru ke darah dan karbon dioksida ditransfer dari darah ke alveoli untuk dikeluarkan sebagai produk sampah. Pada tingkat jaringan, oksigen ditrasfer dari darah ke jaringan, dan karbon dioksida ditrasfer dari jaringan ke darah untuk kembali ke alveoli dan dikeluarkan. Transfer ini bergantung pada proses difusi. Jumlakh oksigen yang larut dalam plasma relatif kecil, yakni hanya sekitar 3%. Sebagian besar oksigen ditrasportasi oleh hemoglobin. Hemoglobin berfungsi sebagai pembawa oksigen dan karbon dioksida. Molekul hemoglobin bercampur dengan oksigen untuk membentuk oksihemoglobin. Pembentukan oksihemoglobin dengan mudah berbalik (reversibel), sehingga memungkinkan hemoglobin dan oksigen berpisah, membuat oksigen menjadi bebas. Sehingga oksigen ini bisa masuk ke dalam jaringan.

2. Sirkulasi Jaringan (Interna / Sistermik)
Sirkulasi sistemik mengantarkan nutrien dan oksigen ke jaringan dan membuang sampah dari jaringan. Darah merah (hemoglobin) yang banyak mengandung oksigen dari seluruh tubuh masuk ke dalam jaringan akhirnya mencapai kapiler, darah mengeluarkan O2 ke dalam jaringan, mengambil CO2 untuk dibawa ke paru-paru dan di paru-paru terjadi pernapasan eksterna. Paru-paru mempunyai 2 sumber suplai darah, dari arteri bronkialis dan arteri pulmonalis. Sirkulasi bronkial menyediakan darah teroksigenasi dari sirkulasi sistemik dan berfungsi memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan paru-paru. Arteri bronkialis berasal dari aorta torakalis dan berjalan sepanjang dinding posterior bronkus. Vena bronkialis yang besar mengalirkan darahnya ke dalam sistem azigos, yang kemudian bermuara pada vena kava superior dan mengembalikan darah ke atrium kanan. Vena bronkialis yang lebih kecil akan mengalirkan darah vena pulmonalis.Karena sirkulasi bronkial tidak berperanan pada pertukaran gas, darah yang tidak teroksigenasi mengalami pirau sekitar 2% sampai 3% curah jantung. Arteri pulmonalis yang berasal dari ventriel kanan mengalrkan darah vena campuran ke paru-paru dimana darah tersebut mengambil bagian dalam pertukaran gas. Jalinan kapiler paru-paru yang halus mengitari dan menutupi alveolus, merupakan kontak erat yang diperlukan untuk proses pertukaran gas antara alveolus dan darah. Darah yang teroksigenasi kemudian dikembalikan melalui vena pulmonalis ke ventrikel kiri yang selanjutnya membagikannya kepada sel-sel melalui sirkulasi sistemik.

Pengendalian Pernapasan (Kontrol Neurokimia)
1. Pengendalian oleh saraf
Sistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi keringat.

Gbr. Saraf tepi dan aktivitas-aktivitas yang dikendalikannya
Sistem sirkulasi di persarafi oleh sistem saraf otonom, Oleh karena itu saya akan membahas lebih banyak mengenai sistem saraf otonom
Sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum tulang belakang dan menuju organ yang bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masing-masing jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion. Urat saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra ganglion dan yang berada pada ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion.
Sistem saraf otonom dapat dibagi atas sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Perbedaan struktur antara saraf simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatik mempunyai ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada sumsum tulang belakang sehingga mempunyai urat pra ganglion pendek, sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat pra ganglion yang panjang karena ganglion menempel pada organ yang dibantu. Fungsi sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan (antagonis). Sistem saraf parasimpatik terdiri dari keseluruhan "nervus vagus" bersama cabang-cabangnya ditambah dengan beberapa saraf otak lain dan saraf sumsum sambung.
Pengendalian sirkulasi oleh saraf melalui Pusat otomatik dalam medulla oblongata mengeluarkan impuls eferen ke blok pernapasan, melalui radik saraf servikalis diantarkan kediafragma oleh saraf premikus.
Fungsi saraf otonom:
Parasimpatik Simpatik
mengecilkan pupil
menstimulasi aliran ludah
memperlambat denyut jantung
membesarkan bronkus
menstimulasi sekresi kelenjar pencernaan
mengerutkan kantung kemih memperbesar pupil
menghambat aliran ludah
mempercepat denyut jantung
mengecilkan bronkus
menghambat sekresi kelenjar pencernaan
menghambat kontraksi kandung kemih

Kontrol Pernapasan
Ventilasi melibatkan dua aspek berbeda, yang keduanya dapat dipengaruhi oleh kontrol saraf: (1) siklus ritmis antara inspirasi dan ekspirasi dan (2) pengaturan besarnya ventilasi, yang pada gilirannya bergantung pada kontrol frekuensi bernapas dan kedalaman tidal volume. Irama bernapas terutama ditentukan oleh aktivitas pemacu yang diperlihatkan oleh neuron-neuron inspirasi yang terletak di pusat kontrol pernapasan di medula batang otak. Sewaktu neuron-neuron inspirasi ini melepaskan muatan secara spontan, impuls akhirnya mencapai otot-otot inspirasi, sehingga terjadi inspirasi. Apabila neuron inspirasi berhenti melepaskan muatan, otot inspirasi melemas dan terjadi ekspirasi. Apabila ekspirasi aktif akan terjadi, otot-otot ekspirasi diaktifkan oleh keluaran dari neuron-neuron ekspirasi di medula. Irama dasar ini diperhalus oleh keseimbangan aktivitas di pusat apnustik dan pneumotaksik yang terletak lebih tinggi di batang otak di pons. Pusat apnustik memperpanjang inspirasi, sementara pusat pneumotaksik yang lebih kuat membatasi inspirasi.
Tiga faktor kimia berperan dalam penentuan besarnya ventilasi: PO2, PCO2, dan konsentasi dalam H+ darah arteri. Faktor dominan dalam pengaturan ventilasi dari terus menerus (menit ke menit) adalah PCO2 arteri. Peningkatan PCO2 arteri merupakan stimulus kimiawi terkuat yang merangsang ventilasi. Perubahan PCO2 arteri mengubah ventilasi terutama dengan menimbulkan perubahan setara pada konsentrasi H+ CES otak, yang sangat peka di kemoreseptor sentral. Kemoreseptor perifer responsif terhadap peningkatan konsentrasi H+ arteri, yang juga secara refleks meningkatkan ventilasi. Penyesuaian kadar CO2 penghasil asam dalam darah arteri penting untuk mempertahankan keseimbangan asam-basa tubuh. Kemoreseptor perifer juga secara refleks merangsang pusat pernapasan sebagai respons terhadap penurunan mencolok PO2 arteri (< 60 mmHg). Respons ini berfungsi sebagai mekanisme darurat untuk meningkatkan respirasi apabila kadar PO2 arteri turun di bawah rentang aman berdasarkan bagian datar kurva O2-Hb.

Pengendalian secara kimia
Pengendalian dan pengaturan secara kimia meliputi frekuensi kecepatan dan dalamnya gerakan pernapasan, pusat pernapasan dalam sumsum sangat peka, sehingga kadar alkali harus tetap dipertahankan, karbondioksida adalah produksi asam dari metabolisme dan bahan kimia yang asam ini merangsang pusat pernapasan untuk mengirim keluar impuls saraf yang bekerja atas otot pernapasan.
Kecepatan pernapasan pada wanita lebih tinggi dari pada pria.
Kebutuhan tubuh terhadap O2. 4 menit saja tidak terdapat O2, maka akan mengakibatkan kerusakan pada otak yang tidak dapat diperbaiki dan bisa menimbulkan kematian. Bila O2 tidak mencukupi maka darah merahnya hilang berganti kebiru-biruan misaknya yang terjadi pada bibir, telinga, lengan dan kaki disebut sianosis.


DAFTAR PUSTAKA
Sherwood, Lauralee.(2001). Research Design: HUMAN PHYSIOLOGY: FROM
CELLS TO SYSTEM. EdsDr. Bram U. Pendit, Sp. KK. Jakarta: EGC.
Ganong, F.1997. Fisiologi Kedokteran. Eds 10. Jakarta: EGC
Price, A., Sylvia.(2006). PATOFISIOLOGI: Clinical Concepts Of Disease
Processes. Eds 6. Jakarta: EGC
http://www.medicastore.com/med/detail_pyk./
http://id.wikipedia.org/2007/wiki/Oksigenasi

KARAKTERISTIK LINGKUNGAN YANG DAPAT MENINGKATKAN MASALAH PERNAFASAN DI MASYARAKAT

I.PENDAHULUAN
Lingkungan fisik tempat tinggal dimana seseorang bekerja atau tinggal dapat meningkatkan kemungiknan terjadinya penyakit tertentu. Berbagai jenis polusi baik itu udara, air dan suara dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit. Angka kejahatan yang tinggi atau penduduk yang padat juga dapat menyebabkan terjadinya stres sehingga individu lebih mudah terjangkit penyakit akibat dari faktor-faktor lingkungan. Berbagai zat dapat mencemari udara seperti debu kimia, semen, kapas, asbes, zat-zat kimia, gas beracun, polusi dari kendaraan bermotor, peningkatan kepadatan penduduk berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat yang sehat dan lain sebagainya . Semua faktor tersebut dapat mengakibatkan gangguan pada fungsi sistem pernafasan yang berdampak pada kesehatan individu maupun masyrakat.

II. PEMBAHASAN
a. Debu kimia
Berbagai faktor berpengaruh dalam timbulnya penyakit atau gangguan pada saluran napas akibat debu. Faktor itu antara lain adalah faktor debu yang meliputi ukuran partikel, bentuk, konsentrasi, daya larut dan sifat kimiawi, lama paparan. Faktor individual meliputi mekanisme pertahanan paru, anatomi dan fisiologi saluran napas dan faktor imunologis. Sifat kimia dan fisika debu kimia yang tidak berbahaya:
• Rupa: Putih Bubuk
• Bau: Tidak ada
• pH: 10
• Tekanan Uap: Tidak ditentukan
• Titik Didih/Rentang 360°C
• Titik Lebur/ Rentang: 165 to 168°C
• Kelarutan Air: Dapat larut
• Densitas: 1.910 g/cm³ @ 20°C
• Massa Jenis: Tidak ditentukan
• Laju Penguapan: Tidak ditentukan
• Kekentalan: Tidak ditentukan
• Koefisien Partisi (n-oktanol/air) < 0 (tidak berpotensi menjadi biokonsentrat)

Debu yang terdapat dalam udara terbagi dua, yaitu:
• deposit particulate matter yaitu partikel debu yang hanya berada sementara di udara, partikel ini segera meng- endap karena daya tank bumi.
• Suspended particulate matter adalah debu yang tetap berada di udara dan tidak mudah mengendap.

. Partikel debu yang dapat dihirup berukuran 0,1 sampai 10 mikron. Debu yang berukuran antara 5-10 mikron bila terhisap akan tertahan dan tertimbun pada saluran napas bagian atas; yang berukuran antara 3-5 mikron tertahan dan tertimbun pada saluran napas tengah. Partikel debu dengan ukuran 1-3 mikron disebut debu respirabel merupakan yang paling berbahaya karena tertahan dan tertimbun mulai dari bionkiolus terminalis sampai alveoli. Debu yang ukurannya kurang dari 1 mikron tidak mudah mengendap di alveoli, debu yang ukurannya antara 0,1-0,5 mikron berdifusi dengan gerak Brown keluar masuk alveoli; bila membentur alveoli ia dapat tertimbun di situ. Meskipun batas debu respirabel adalah 5 mikron, tetapi debu dengan ukuran 5-10 mikron dengan kadar berbeda dapat masuk ke dalam alveoli. Debu yang berukuran lebih dari 5 mikron akan dikeluarkan semuanya bila jumlahnya kurang dari 10 partikel per miimeter kubik udara. Bila jumlahnya 1.000 partikel per milimeter kubik udara, maka 10% dari jumlah itu akan ditimbun dalam paru.
Debu yang nonfibrogenik adalah debu yang tidak menimbulkan reaksi jaring paru, contohnya adalah debu besi, kapur, timah. Debu ini dulu dianggap mudah merusak paru disebut debu inert. Belakangan diketahui bahwa tidak ada debu yang benar-benar inert. Dalam dosis besar, semua debu bersifat merangsang dan dapat menimbulkan reaksi walaupun ringan. Reaksi itu berupa produksi lendir berlebihan, bila terus berlangsung dapat terjadi hiperplasi kelenjar mukus. Jaringan paru juga dapat berubah dengan terbentuknya jaringan ikat retikulin. Penyakit paru ini disebut pneumokoniosisnonkolagen.
Debu fibrogenik dapat menimbulkan reaksi jaringan paru sehingga terbentuk jaringan parut (fibrosis). Penyakit ini disebut pneumokoniosis kolagen. Termasuk jenis ini adalah debu siika bebas, batubara dan asbes.
Debu yang masuk ke dalam saluan napas, menyebabkan timbulnya reaksi mekanisme pertahanan nonspesifik berupa batuk, bersin, gangguan transport mukosilier dan fagositosis oleh makrofag. Otot polos di sekitar jalan napas dapat terangsang sehingga menimbulkan penyempitan. Keadaan ini terjadi biasanya bila kadar debu melebihi nilai ambang batas. Sistem mukosilier juga mengalami gangguan dan menyebabkan produksi lendir bertambah. Bila lendir makin banyak atau mekanisme pengeluarannya tidak sempurna terjadi obstruksi saluran napas sehingga resistensi jalan napas meningkat. Partikel debu yang masuk ke dalam alveoli akan membentuk fokus dan berkumpul di bagian awal saluran limfe paru. Debu ini akan difagositosis oleh makrofag. Debu yang bersifat toksik terhadap makrofag seperti silika bebas menyebabkan terjadinya autolisis. Makrofag yang lisis bersama silika bebas merangsang terbentuknya makrofag baru. Makrofag baru memfagositosis silika bebas tadi sehingga terjadi lagi autolisis, keadaan ini terjadi berulang-ulang. Pembentukan dan destruksi makrofag yang terus menerus berperan penting pada pembentukan jaringan ikat kolagen dan pengendapan hialin pada jaringan ikat tersebut. Fibrosis ini terjadi pada parenkim paru, yaitu pada dinding alveoli dan jaringan interstisial. Akibat fibrosis paru menjadi kaku, menimbulkan gangguan pengembangan paru yalta kelainan fungsi paru yang restriktif.
Penyakit paru yang dapat timbul karena debu selain tergantung pada sifat-sifat debu, juga tergantung pada jenis debu, lama paparan dan kepekaan dividual. Pneumokoniosis biasanya timbul setclah paparan bertahun-tahun. Apabila kadar debu tinggi atau kadar silika bebas tinggi dapat terjadi silikosis akut yang bermanifestasi setelah paparan 6 bulan. Dalam masa paparan yang sama seseozang thpat mengalami kelainan yang berat sedangkan yang lain kelainnya ringan akibat adanya kepekaan individual. Penyakit akibat debu antara lain adalah asma kerja, bronkitis industri, pneumokoniosis batubara, siikosis, asbestosis dan kanker paru.

b. Polusi Kendaraan Bermotor
Polusi yang berasal dari kendaraan bermotor dapat berasal dari bahan bakar maupun dari asap kendaraan serta dari suara yang ditimbulkan dari kendaraan bermotor itu sendiri yang dapat berdampak pada gangguan kesehatan. Selain itu, jenis bahan bakar dan karakteristik kendaraan bermotor yang digunakan juga berpengaruh mengemisikan pencemaran udara serta kualitas perawatan pemilik kendaraan bermotor turut memberikan sumbangsih.
Kendaraan bermotor akan mengeluarkan berbagai gas jenis maupun partikulat yang terdiri dari berbagai senyawa anorganik dan organik dengan berat molekul yang besar yang dapat langsung terhirup melalui hidung dan mempengaruhi masyarakat di jalan raya dan sekitarnya.
Emisi kendaraan bermotor mengandung berbagai senyawa kimia. Komposisi dari kandungan senyawa kimianya tergantung dari kondisi mengemudi, jenis mesin, alat pengendali emisi bahan bakar, suhu operasi dan faktor lain yang semuanya ini membuat pola emisi menjadi rumit. Jenis bahan bakar pencemar yang dikeluarkan oleh mesin denganbahan bakar bensin maupun bahan bakar solar sebenarnya sama saja, hanya berbeda proporsinya karena perbedaan cara operasi mesin. Secara visual selalu terlihat asap dari knalpot kendaraan bermotor dengan bahan bakar solar, yang umumnya tidak terlihat pada kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin.
Walaupun gas buang kendaraan bermotor terutama terdiri dari senyawa yang tidak berbahaya seperti nitrogen, karbon dioksida dan upa air, tetapi didalamnya terkandung juga senyawa lain dengan jumlah yang cukup be sar yang dapat membahayakan gas buang membahayakan kesehatan maupun lingkungan.
Bahan pencemar yang terutama terdapat didalam gas buang buang kendaraan bermotor adalah karbon monoksida (CO), berbagai senyawa hindrokarbon, berbagai oksida nitrogen (NOx) dan sulfur (SOx), dan partikulat debu termasuk timbel (PB). Bahan bakar tertentu seperti hidrokarbon dan timbel organik, dilepaskan keudara karena adanya penguapan dari sistem bahan bakar.
Lalu lintas kendaraan bermotor, juga dapat meningkatkan kadar partikular debu yang berasal dari permukaan jalan, komponen ban dan rem. Setelah berada di udara, beberapa senyawa yang terkandung dalam gas buang kendaraan bermotor dapat berubah karena terjadinya suatu reaksi, misalnya dengan sinar matahari dan uap air, atau juga antara senyawa-senyawa tersebut satu sama lain.
Proses reaksi tersebut ada yang berlangsung cepat dan terjadi saat itu juga di lingkungan jalan raya, dan adapula yang berlangsung dengan lambat. Reaksi kimia di atmosfer kadangkala berlangsung dalam suatu rantai reaksi yang panjang dan rumit, dan menghasilkan produk akhir yang dapat lebih aktif atau lebih lemah dibandingkan senyawa aslinya.
Sebagai contoh, adanya reaksi di udara yang mengubah nitrogen monoksida (NO) yang terkandung di dalam gas buang kendaraan bermotor menjadi nitrogen dioksida (NO2 ) yang lebih reaktif, dan reaksi kimia antara berbagai oksida nitrogen dengan senyawa hidrokarbon yang menghasilkan ozon dan oksida lain, yang dapat menyebabkan asap awan fotokimi (photochemical smog).
Pembentukan smog ini kadang tidak terjadi di tempat asal sumber (kota), tetapi dapat terbentuk di pinggiran kota. Jarak pembentukan smog ini tergantung pada kondisi reaksi dan kecepatan angin. Untuk bahan pencemar yang sifatnya lebih stabil sperti limbah (Pb), beberapa hidrokarbon-halogen dan hidrokarbon poliaromatik, dapat jatuh ke tanah bersama air hujan atau mengendap bersama debu, dan mengkontaminasi tanah dan air.
Senyawa tersebut selanjutnya juga dapat masuk ke dalam rantai makanan yang pada akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia melalui sayuran, susu ternak, dan produk lainnya dari ternak hewan. Karena banyak industri makanan saat ini akan dapat memberikan dampak yang tidak diinginkan pada masyarakat kota maupun desa.
Pencemaran suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatka oleh bunyi atau suara yang mengganggu ketentraman makhluk hidup di sekitarnya. Pencemaran suara juga dapat ditimbulkan dari kendaraan bermotor. Biasanya diukur dalam satuan dB atau desibel. Pencemaran suara yang bersifat terus-menerus dengan tingkat kebisingan di atas 80 dB dapat mengakibatkan efek atau dampak yang merugikan kesehatan manusia. Berikut ini adalah beberapa efek samping negatif dari pencemaran suara : stres, perubahan denyut nadi, tekanan darah berubah, gangguan fungsi jantung, dan kontraksi perut engakibatkan mual.



c. Kepadatan Penduduk
Jumlah penduduk dalam suatu wilayah dapat mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat di wilayah tersebut. Karena adanya hubungan timbal balik antara lingkungan dengan individu yang menempati suatu ruang hidup. Kepadatan penduduk yang melampaui daya dukung lingkungan, menyebabkan sejumlah masalah sosial, ekonomi, lingkungan, dan prasarana. Jumlah penduduk yang padat memberikan tekanan pada sumber-sumber yang terbatas di kota seperti tanah, kesempatan kerja, tersedianya potensi air bersih, sarana dan prasarana, serta ruang terbuka hijau. Akibatnya, ruang yang seharusnya dimanfaatkan untuk ruang terbuka hijau (RTH) dibangun guna memenuhi tuntutan pembangunan lain.
Ruang terbuka hijau (RTH) secara tidak langsung semakin menyempit yang dapat berakibat kualitas lingkungan menurun. Berkurangnya RTH di wilayah perkotaan akan menurunkan kualitas udara, dan ini akan menyebabkan penyakit pada sistem pernafasan yang disebabkan karena udara kotor. Penyakit ini biasanya disebabkan kondisi udara kotor di lingkungan permukiman padat, yaitu penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). ISPA adalah penyebab nomor satu kesakitan pada bayi dan balita, dan menempati urutan teratas dalam statistik kesehatan. Kondisi udara kotor berkaitan besar dengan kondisi tidak adanya atau kurangnya RTH. Selain itu kondisi persediaan air bersih diligkungan yang padat penduduknya juga. Selain itu juga produksi sampah pada wilayah yang padat penduduknya juga akan meningkat, apabila tidak ditangani dengan baik, Dapat menjadi sumber tumbuh dan berkembangnya agen-agen infeksius yang tidak hanya menyerang sistem pernafasan, Tetapi juga sistem-sistem lain pembangun individu.

DAFTAR PUSTAKA:
Mubarak, H.,Zakky, MA, dkk. (2008). MPKT Buku Ajar II Manusia, Akhlak, Budi Pekerti Dan Masyarakat. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Irmayanti , M. Si, Dr. Meliono, dkk. MODUL MPKT. (2007). Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI
Smaatmadja, Nursid. 1989. Studi Lingkungan Hidup. Bandung: Penerbit Alumni.
Potter, P.A & Perry, A.G.(2005). Fundamental Of Nrsing: Concepts, Process, and Practice. Eds 4. Jakarta: EGC
Bates DV. (1972).Air pollutans and the human lung. Am Rev Respir Dis. Hal 105 : 1-13.
Fitri, Dewi.”APA-Style Citations of Electronic Sources.”
Style Sheet, http://www.livescience.com (2 April . 2009).
http://www.pdf-search-engine.com/kepadatan-penduduk-dan-kesehatan-pdf.html

SISTEM SIRKULASI PULMONAL & MEKANISME TERJADINYA JARINGAN FIBROSA PADA PARU

OLEH
SUSI PURWATI (0806323246)
KELAS C3

I. PENDAHULUAN
Paru merupakan organ penting bagi tubuh yang mempunyai fungsi utama sebagai alat pernafasan (respirasi). Proses pernafasan yaitu pengambilan oksigen dari udara luar dan pengeluaran CO2 dari paru – paru. Sistem pernafasan membawa udara melalui hidung dengan suhu 21° C, 26°C, rh 50-60 % ke dalam alveoli Dirongga hidung udara dibersihkan dari debu ukuran 2 – 10 u, dipanaskan dan dilembabkan oleh bulu dan lendir hidung sebelum masuk ke trakea. Debu yang lolos ditangkap oleh lendir dari sel-sel mukosa di bronkus dan bronkioli, cilia set mukosa ini bergerak berirama mendorong kotoran keluar dengan kecepatan 16 mm/menit. Proses transfer oksigen setelah sampai di alveoli terjadi proses difusi oksigen ke eritrosit yang terikat oleh haemoglobin sejumlah 20 ml/100 ml darah dan sebagian kecil larut dalam plasma 0,3 ml/ 100 CC, jika Hb 15 gr% Dan sebaliknya karbondioksida dari darah dibawa ke alveoli untuk dikeluarkan melalui udara ekspirasi. Sehingga O2 akhirnya dapat didistribusikan ke berbagai jenis sel dan jaringan tubuh. Paru-paru dapat mengalami jejas apabila ada agen pencetus yang tidak mampu diorganisir oleh sistem imun, salah satunya adalah fibrinoma yang menrupakan jaringan fibrosa yang mengalami iritasi.

II. PEMBAHASAN
Sirkulasi Pulmonal
Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung, farinx, larinx trachea, bronkus, dan bronkiolus. Hidung ; Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam. rongga hidung. Saluran-saluran itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum. (rongga) hidung. Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam. rongga hidung. Farinx (tekak) ; adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Maka ‘letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal).

Proses fisiologi pernafasan dimana O2 dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-jaringan, dan C02 dikeluarkan keudara ekspirasi dapat dibagi menjadi tiga stadium. Stadium pertama adalah ventilasi yaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan keluar paru-paru. karena ada selisih tekanan yang terdapat antara atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik dari otot-otot. Stadium kedua, transportasi yang terdiri dan beberapa aspek yaitu :
(1) Difusi gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksternal) dan antara darah sistemik dan sel.-sel jaringan
(2) Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonal dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus.

Sirkulasi pulmonal (pernapafasan eksternal) dimulai pada arteri pulmonar yang menerima darah vena yang membawa campuran oksigen dari ventrikel kanan. Aliran darah yang melalui sistem ini bergantung pada kemampuan pompa ventrikel kanan, yang mengeluarkan darah sekitar 4 sampai 6 liter/menit. Darah mengalir dari arteri pulmonar melalui alterior pulmonar ke kapiler pulmonar tempat darah kontak dengan membran kapiler-alveolar dan berlangsung pertukaran gas pernapasan. Darah yang kaya oksigen kemudian bersirkulasi melalui venula pulmonar dan vena pulmonar kembali ke atrium kiri.
Tekanan dalam sistem sirkulasi pulmonar adalah rendah. Tekanan arteri sistolik pulmonar yang normal antara 20 dan 30 mm Hg, tekanan diastolik kurang dari 12 mm Hg dan tekanan rata-rata kurang dari 20 mm Hg (daily dan Schroeder, 1994). Dinding pembuluh darah pulmonar tipis dan berisi lebih sedikit otot halus karena tekanan dan tahanan yang rendah. Paru-paru menerima curah jantung total dari ventrikel kanan dan tidak meneruskan aliran darah dari satu daerah ke daerah lain, kecuali pada kasus hipoksia alveolar.
Gas pernapasan mengalami pertukaran di alveoli dan kapiler jaringan tubuh. Oksigen ditransfer dari paru-paru ke darah dan karbon dioksida ditransfer dari darah ke alveoli untuk dikeluarkan sebagai produk sampah. Pada tingkat jaringan, oksigen ditrasfer dari darah ke jaringan, dan karbon dioksida ditrasfer dari jaringan ke darah untuk kembali ke alveoli dan dikeluarkan. Transfer ini bergantung pada proses difusi. Jumlakh oksigen yang larut dalam plasma relatif kecil, yakni hanya sekitar 3%. Sebagian besar oksigen ditrasportasi oleh hemoglobin. Hemoglobin berfungsi sebagai pembawa oksigen dan karbon dioksida. Molekul hemoglobin bercampur dengan oksigen untuk membentuk oksihemoglobin. Pembentukan oksihemoglobin dengan mudah berbalik (reversibel), sehingga memungkinkan hemoglobin dan oksigen berpisah, membuat oksigen menjadi bebas. Sehingga oksigen ini bisa masuk ke dalam jaringan.
Gangguan distrihusi disebabkan oleh
Retensi spututm menyebabkan obstruksi bronchioli, hipovcntilasi alveolair dan atelektasis
Aspirasi masuknya benda asing ke jalan nafas.
Bronchospasme karena asthma bronchiale atau alergi
(3) Reaksi kimia dan fisik dari 02 dan C02 dengan darah respimi atau respirasi interna menipak-an stadium akhir dari respirasi, yaitu sel dimana metabolik dioksida untuk- mendapatkan energi, dan C02 terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru-paru
(4) Transportasi, yaitu. tahap kcdua dari proses pemapasan mencakup proses difusi gas-gas melintasi membran alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0,5 urn). Kekuatan mendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas.
(5) Perfusi, yaitu pemindahan gas secara efektif antar alveolus dan kapiler paru-paru membutuhkan distribusi merata dari udara dalam paru-paru dan perfusi (aliran darah) dalam kapiler dengan perkataan lain ventilasi dan perfusi. dari unit pulmonary harus sesuai pada orang normal dengan posisi tegak dan keadaan istirahat maka ventilasi dan perfusi hampir seimbang kecuali pada apeks paru-paru.
Aliran darah di kapiler paru (perfusi) ikut menentukan jumlah O2 yang dapat diangkut Masaah timbul jika terjadi ketidak-seimbangan antara ventilasi alveolair (VA) dengan perfusi (Q) yang lazim disebut VA/Q imbalance. Dapat terjadi :
Ventilasi normal, perfusi normal → semua O2 diambil darah
Ventilasi normal, perfusi kurang → ventilasi berlebihan, tak semua O2 sempat diambil unit ini dinamai “dead space” yang terajadi pada shock dan emboli paru.
Ventilasi berkurang → perfusi normal. Darah tidak mendapat cukup oksigen (desaturasi) unit ini disebut “Shunt”. Terjadi pada atelektasis edema paru. ARDS dan aspirasi cairan
Silent unit: tidak ada ventilasi dan perfusi
Bila Dead Space unti banyak, pendceita kekurangan oksigen, merasa sesak tetapi pO2-nya mungkin normal Bila Shunt Unit banyak, penderita merasa sesak dan pO2-nya menurun. Pada keadaan normal, shunt hanya 1 – 2% dari sirkulasi. Gejala sesak © 2004
mulai timbul jika hunt > 5% Bila saturasi < 80% maka pO2 < 50 mmHg, penderita akan cyanosis.
Kadar 02 inspirasi harus ditingkatkan jika jumlah shunt meningkat.

Mekanisme Pembentukan Jaringan fibrosa Pada Paru
Pada saluran pernafasan dapat mengalami peradangan akibat infeksi virus. Inveksi virus yang paling sering dijumpai adalah infeksi Tuberkolosis (TBC) yang terjadi melalui udara, yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Sel efektorya adalah makrofag, sedangkan limfosit (biasanya sel T) adalah sel imunoresponsifnya. Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari satu sampai tiga basil ; gumpalan yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkhus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus, basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bakteri namun tidak membunuh organisme tersebut. Setelah hari-hari pertama leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa yang tertinggal, atau proses dapat juga berjalan terus, dan bakteri terus difagosit atau berkembang-biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid, yang dikelilingi oleh limfosit. Reaksi ini membutuhkan waktu 10 – 20 hari .

Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif padat dan seperti keju, isi nekrosis ini disebut nekrosis kaseosa. Bagian ini disebut dengan lesi primer. Daerah yang mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi di sekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast, menimbulkan respon yang berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel.
Lesi primer paru-paru dinamakan fokus Ghon dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks Ghon. Respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas kedalam bronkhus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkular yang dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk kedalam percabangan trakheobronkial. Proses ini dapat terulang kembali di bagian lain di paru-paru, atau basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga tengah, atau usus. Lesi primer menjadi rongga-rongga serta jaringan nekrotik yang sesudah mencair keluar bersama batuk. Bila lesi ini sampai menembus pleura maka akan terjadi efusi pleura tuberkulosa.
Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen bronkhus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dekat perbatasan rongga bronkus. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh dengan bahan perkejuan, dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak terlepas. Keadaan ini dapat menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif.
Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme yang lolos melalui kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil, yang kadang-kadang dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lain. Jenis penyebaran ini dikenal sebagai penyebaran limfohematogen, yang biasanya sembuh sendiri. Penyebaran hematogen merupakan suatu fenomena akut yang biasanya menyebabkan tuberkulosis milier. Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk kedalam sistem vaskuler dan tersebar ke organ-organ tubuh.


DAFTAR PUSTAKA
Sherwood, Lauralee.(2001). Research Design: HUMAN PHYSIOLOGY: FROM
CELLS TO SYSTEM. EdsDr. Bram U. Pendit, Sp. KK. Jakarta: EGC.
Ganong, F.1997. Fisiologi Kedokteran. Eds 10. Jakarta: EGC
Price, A., Sylvia.(2006). PATOFISIOLOGI: Clinical Concepts Of Disease
Processes. Eds 6. Jakarta: EGC
Shafer, WG., Hine, MK., Levy, BM. A Textbook of oral pathology. 4th ed.
Philadelphia: WB. Saunders. 1983. 137-9.
http://www.medicastore.com/med/detail_pyk./
http://id.wikipedia.org/2007/wiki/Oksigenasi
http://www.emedicine.com/derm/topic886.htm. Accessed 5 Maret, 2009.

PENGERTIAN MASYARAKAT & MASYARAKAT MAJEMUK SERTA ETIKA KEMAJEMUKAN

Oleh
Susi Purwati (0806323246)


1. PENDAHULUAN

Manusia merupakan bagian dari masyarakat yang dituntut untuk selalu melakukan interaksi antara satu sama lainnya dalam hal pemenuhan kebutuhannya sebagai makhluk sosial. Manusia dalam menjalankan kehidupannya akan membentuk suatu ikatan terkecil yang disebut keluarga. Keluarga berfungsi dalam hal pemenuhan kebutuhaan bio-psiko-sosio manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. Dalam perkembangannya kumpulan dari beberapa keluarga akan membentuk suatu masyarakat, yang akan tumbuh semakin luas menjadi suatu bangsa. Tata cara kehidupan setiap masyrakat dibentuk berdasarkan perpaduan antara berbagai sikap, cara berpikir, cara bergaul dan cara hidup dari tiap masing-masing individu sesuai dengan kultur yang dibawa dan diyakini oleh setiap individu.

2. PEMBAHASAN & ISI
Manusia dalam kehidupannya akan membentuk dan menjadi bagian dalam suatu ikatan sosial yaitu masyarakat. Ada beberapa unsur yang harus dipenuhi untuk membentuk suatu ikatan yang disebut ”masyarakat” antara lain:
 Harus ada kelompok manusia
 Bertempat tinggal dalam daerah tertentu dalam waktu yang relatif lama.
 Adanya aturan

A. Pengertian Masyarakat Menurut Para Ahli Sosiologi & Antropologi
Linton
Masyarakat adalah sekelompok manusia, yang telah cukup lama hidup dan bekerjasama, sehingga mereka dapat mengorganisasika dirinya dan berpikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan bats-batas tertentu.
M, J. Heskovits
Masyarakat adalah kelompok individu yang mengorganisasikan dan mengikuti suatu cara hidup tertentu.
J.L Gillin J.P Gillin
Masyarakat adalah kelompok manusia yang tersebar mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama.
S.R Steinmentz
Masyarakat adalah sebagai kelompok manusia yang terbesar meliputi pengelompokan-pengelompokan manusia yang lebih kecil yang mempunyai perhubungan erat dan teratur.
Mack Ever
Masyarakat adalah suatu sistem dari cara kerja dan prosedur, otoritas dan saling bantu-membantu yang meliputi kelompok-kelompok dan pembagian-pembagian sosial, sistem pengawasan tingkah laku manusia dan kebebasan. Sistem yang kompleks dan selalu berubah dari relasi sosial.

Jadi, Masyarakat dalam arti luas adalah keseluruhan dari semua hubungan dalam hidup bersama denagn tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa dan lain-lain. Masyarakat dalam arti sempit merupakan sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu. Oleh karena itu dapat disimpulkan. Masyarakat adalah kelompok manusia yang telah lam bertempat tinggal disuatu daerah yang tertentu dan memilki aturan bersama untuk mencapai tujuan sama yaitu mencapai kesejahteraan.

B. Masyarakat Majemuk
Masyarakat di Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, ras, dan bangsa yang memilki latar belakang yang berbeda-beda baik dari segi kultur, bahasa maupun sikap dari masing-masing individu. Oleh karena itu, masyrakat Indonesia dikatakan masyrakat yang majemuk, Namun masyarakat Indonesia tetap memilki satu status dan kedudukan yang sama yakni sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara Indonesia.
Masyarakat majemuk adalah suatu keadaan masyarakat dimana setiap kelompok kebudayaan memilki lembaga-lembaga yang berkaitan dengan setiap bidang kehidupan kecuali politik, dimana lembaga setiap kelompok kebudayaan tertentu memegang kekuasaan dalam masyarakat yang bersangkutan. Atas dasar pengertian tersebut masyarakat majemuk dibedakan atas tiga kategori yaitu :
o Kemajemukan sturuktural, dominasi politik dipegang oleh suatu kelompok tertentu.
o Kemajemukan sosial, suatu keadaan dimana hak dan kewajiban tersebar secara merata diantara kelompok sosial yang ada.
o Kemajemukan budaya, seluruh warga masyarakat merupan bagian dari publik tanpa memperhatikan identifikasi yang ideal maupun yang nyata.