BAB II
PEMBAHASAN
Manusia terdiri dari dimensi fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual dimana setiap dimensi harus dipenuhi kebutuhannya. Seringkali permasalahan yang mucul pada klien ketika mengalami suatu kondisi dengan penyakit tertentu (misalnya penyakit fisik) mengakibatkan terjadinya masalah psikososial dan spiritual. Ketika klien mengalami penyakit, kehilangan dan stres, kekuatan spiritual dapat membantu individu tersebut menuju penyembuhan dan terpenuhinya tujuan dengan atau melalui pemenuhan kebutuhan spiritual. Dengan kata lain apabila satu dimensi terganggu, maka dimensi yang lain akan terganggu.
Penelitan menyebutkan seseorang dinyatakan usianya tinggal beberapa bulan, tetapi karena ia memilki koping yang baik berdasarkan pengalaman agamanya (salah satu sumber dimensi spiritual), ia tetap bahagia menjalani hari-harinya dengan bernyanyi dan ceria, membuat puisi-puisi yang indah. Ternyata orang tersebut mampu bertahan hingga bartahun-tahun. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Pressman, dkk (1990) menunjukkan bahwa wanita lanjut usia yang menderita farktur tulang pinggul yang kuat religi dan pengalaman agamanya, ternyata lebih kuat mental dan kurang mengeluh, depresi, dan lebih cepat berjalan daripada yang tidak mempunyai komitmen agama.Dari hal-hal tersebut diatas dapat dikatakan dimensi spiritual menjadi hal penting sebagai terapi kesehatan. Berikut akan diuraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan konsep kesehatan spiritual.
2.1. Pola Normal Spiritual
Dimensi spiritual adalah sesuatu yang terintegrasi dan berhubungan dengan dimensi yang lain dalam diri seorang individu. Spiritualitas mewakili totalitas keberadaan seseorang dan berfungsi sebagai perspektif pendorong yang menyatukan berbagai aspek individual. Dimensi spiritual merupakan salah satu dimensi penting yang perlu diperhatikan oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada seorang klien. Makhija (2002) menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan personal individu. Keyakinan tersebut diketahui sebagai suatu faktor yang kuat dalam penyembuhan dan pemulihan fisik. Oleh karena itu, menjadi suatu hal penting bagi perawat untuk meningkatkan pemahaman tentang konsep spiritual agar dapat memberikan asuhan spiritual dengan baik kepada klien.
Setiap individu memiliki definisi dan konsep yang berbeda mengenai spiritualitas. Kata-kata yang digunakan untuk menjabarkan spiritualitas termasuk makna, transenden, harapan, cinta, kualitas, hubungan, dan eksistensi (Emblen dalam Potter & Perry, 2005).Setiap individu memiliki pemahaman tersendiri mengenai spiritualitas karena masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda mengenai hal tersebur. Perbedaan definisi dan konsep spiritualitas dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup seseorang, serta persepsi mereka tentang hidup dan kehidupan. Pengaruh tersebut nantinya dapat mengubah pandangan seseorang mengenai konsep spiritulitas dalam dirinya sesuai dengan pemahaman yang ia miliki dan keyakinan yang ia pegang teguh.
Konsep spiritual memiliki arti yang berbeda dengan konsep religius. Banyak perawat dalam praktiknya tidak dapat membedakan kedua konsep tersebut karena menemui kesulitan dalam memahami keduanya. Kedua hal tersebut memang sering digunakan secara bersamaan dan saling berhubungan satu sama lain. Konsep religius biasanya berkaitan dengan pelaksanaan suatu kegiatan atau proses melakukan suatu tindakan. Konsep religius merupakan suatu sistem penyatuan yang spesifik mengenai praktik yang berkaitan bentuk ibadah tertentu. Emblen dalam Potter dan Perry mendefinisikan religi sebagai suatu sistem keyakinan dan ibadah terorganisasi yang dipraktikan seseorang secara jelas menunjukkan spiritualitas mereka.
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa religi adalah proses pelaksanaan suatu kegiatan ibadah yang berkaitan dengan keyakinan tertentu. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan spiritualitas diri mereka. Sedangkan spiritual memiliki konsep yang lebih umum mengenai keyakinan seseorang. Terlepas dari prosesi ibadah yang dilakukan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan tersebut.
Konsep spiritual berkaitan berkaitan dengan nilai, keyakinan, dan kepercayaan seseorang. Kepercayaan itu sendiri memiliki cakupan mulai dari atheisme (penolakan terhadap keberadaan Tuhan) hingga agnotisme (percaya bahwa Tuhan ada dan selalu mengawasi) atau theism (Keyakinan akan Tuhan dalam bentuk personal tanpa bentuk fisik) seperti dalam Kristen dan Islam. Keyakinan merupakan hal yang lebih dalam dari suatu kepercayaan seorang individu. Keyakinan mendasari seseorang untuk bertindak atau berpikir sesuai dengan kepercayaan yang ia ikuti.
Keyakinan dan kepercayaan akan Tuhan biasanya dikaitkan dengan istilah agama. Di dunia ini, banyak agama yang dianut oleh masyarakat sebagai wujud kepercayaan mereka terhadap keberadaan Tuhan. Tiap agama yang ada di dunia memiliki karakteristik yang berbeda mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan dan keyakinan sesuai dengan prinsip yang mereka pegang teguh. Keyakinan tersebut juga mempengaruhi seorang individu untuk menilai sesuatu yang ada sesuai dengan makna dan filosofi yang diyakininya. Sebagai contoh, persepsi seorang Muslim mengenai perawatan kesehatan dan respon penyakit tentunya berbeda dengan persepsi seorang Budhis. Semua itu tergantung konsep spiritual yang dipahami sesuai dengan keyakinan dan keimanan seorang individu. Konsep spiritual yang dianut atau dipahami oleh seorang klien dapat mempengaruhi cara pandang klien mengenai segala sesuatunya, tak terkecuali dalam bidang kesehatan. Paradigma mengenai sakit, tipe-tipe pengobatan yang dilakukan, persepsi mengenai kehidupan dan makna yang terkandung di dalamnya adalah contoh penerapan konsep spiritual secara normal pada diri seorang individu. Ada beberapa agama yang menerapkan pola normal spiritualnya dengan cara:
• Beberapa orang menjadi spiritual setelah usia 40 tahun. Pada satu tingkat pergi ke kuil, menghadiri wacana-wacana dan membaca buku-buku atau kitab-kitab dianggap sangat spiritual.
• Tingkat kedua orang memiliki seorang guru mengikuti tradisi maka mereka memiliki sadhana. Ini adalah zaman baru modern gaya
• Ada tingkat ketiga orang yang mempunyai dewa dan mereka upsana.
• Beberapa praktik seni seperti astrologi atau obat atau tari atau musik dan kemudian mereka menggunakan waktu luang ada dalam sadhana spiritual.
• Beberapa orang menghadiri Bhajan dan kemudian melakukan pelayanan sosial yang juga baik seperi pelayanan kesehatan.
Gambar 1. Pola normal spiritual
Pola normal spiritual sangat erat hubungannya dengan kesehatan, Karena dari pola tersebut dapat menciptakan suatu bentuk perilaku adaptif ataupun maladaptif berhubungan dengan penerimaan kondisi diri (lihat gambar 1). Dimensi spiritual merupakan dimensi yang sangat penting diperhatikan oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada semua klien. Bahkan Makhija (2002) menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan personal individu. Lebih lanjut dikatakannya bahwa keimanan diketahui sebagai suatu faktor yang sangat kuat (powerful) dalam penyembuhan dan pemulihan fisik, yang tidak dapat diukur. Mengingat pentingnya peranan spiritual dalam penyembuhan dan pemulihan kesehatan maka penting bagi perawat untuk meningkatkan pemahaman tentang konsep spiritual agar dapat memberikan asuhan spiritual dengan baik kepada semua klien.
2.2 Perkembangan Aspek Spiritual
Perawat yang bekerja di garis terdepan harus mampu memenuhi semua kebutuhan manusia termasuk juga kebutuhan spiritual klien. Berbagai cara dilakukan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien mulai dari pemenuhan makna dan tujuan spiritual sampai dengan memfasilitasi klien untuk mengekspresikan agama dan keyakinannya. Pemenuhan aspek spiritual pada klien tidak terlepas dari pandangan terhadap lima dimensi manusia yang harus dintegrasikan dalam kehidupan. Lima dimensi tersebut yaitu dimensi fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual (Rawlins, 1993). Dimensi-dimensi tersebut berada dalam suatu sistem yang saling berinterksi, interrelasi, dan interdepensi, sehingga adanya gangguan pada suatu dimensi dapat mengganggu dimensi lainnya.
Perawat harus mengetahui tahap perkembangan spiritual dari manusia, sehingga perawat dapat memberikan asuhan keperawatan dengan tepat dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual klien. Tahap perkembangan klien dimulai dari lahir sampai klien meninggal dunia. Perkembangan spiritual manusia dapat dilihat dari tahap perkembangan mulai dari bayi, anak-anak, pra sekolah, usia sekolah, remaja, desawa muda, dewasa pertengahan, dewasa akhir, dan lanjut usia. Secara umum tanpa memandang aspek tumbuh-kembang manusia proses perkembangan aspek spiritual dilhat dari kemampuan kognitifnya dimulai dari pengenalan, internalisasi, peniruan, aplikasi dan dilanjutkan dengan instropeksi. Namun, berikut akan dibahas pula perkembangan aspek spiritual berdasarkan tumbuh-kembang manusia.
Perkembangan spiritual pada anak sangatlah penting untuk diperhatikan. Manusia sebagai klien dalam keperawatan anak adalah individu yang berusia antara 0-18 bulan, yang sedang dalam proses tumbuh kembang, yang mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial, dan spiritual) yang berbeda dengan orang dewasa. Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungan, artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri.
Tahap awal perkembangan manusia dimulai dari masa perkembangan bayi. Haber (1987) menjelaskan bahwa perkembangan spiritual bayi merupakan dasar untuk perkembangan spiritual selanjutnya. Bayi memang belum memiliki moral untuk mengenal arti spiritual. Keluarga yang spiritualnya baik merupakan sumber dari terbentuknya perkembangan spiritual yang baik pada bayi (Widyatuti, 1999). Oleh karena itu, perawat dapat menjalin kerjasama dengan orang tua bayi tersebut untuk membantu pembentukan nilai-nilai spiritual pada bayi.
Dimensi spiritual mulai menunjukkan perkembangan pada masa kanak-kanak awal (18 bulan-3 tahun). Anak sudah mengalami peningkatan kemampuan kognitif. Anak dapat belajar membandingkan hal yang baik dan buruk untuk melanjuti peran kemandirian yang lebih besar. Tahap perkembangan ini memperlihatkan bahwa anak-anak mulai berlatih untuk berpendapat dan menghormati acara-acara ritual dimana mereka merasa tinggal dengan aman. Observasi kehidupan spiritual anak dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana seperti cara berdoa sebelum tidur dan berdoa sebelum makan, atau cara anak memberi salam dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan lebih merasa senang jika menerima pengalaman-pengalaman baru, termasuk pengalaman spiritual.
Perkembangan spiritual pada anak masa pra sekolah (3-6 tahun) berhubungan erat dengan kondisi psikologis dominannya yaitu super ego. Anak usia pra sekolah mulai memahami kebutuhan sosial, norma, dan harapan, serta berusaha menyesuaikan dengan norma keluarga. Anak tidak hanya membandingkan sesuatu benar atau salah, tetapi membandingkan norma yang dimiliki keluarganya dengan norma keluarga lain. Kebutuhan anak pada masa pra sekolah adalah mengetahui filosofi yang mendasar tentang isu-isu spiritual. Kebutuhan spiritual ini harus diperhatikan karena anak sudah mulai berfikiran konkrit. Mereka kadang sulit menerima penjelasan mengenai Tuhan yang abstrak, bahkan mereka masih kesulitan membedakan Tuhan dan orang tuanya.
Usia sekolah merupakan masa yang paling banyak mengalami peningkatan kualitas kognitif pada anak. Anak usia sekolah (6-12 tahun) berfikir secara konkrit, tetapi mereka sudah dapat menggunakan konsep abstrak untuk memahami gambaran dan makna spriritual dan agama mereka. Minat anak sudah mulai ditunjukan dalam sebuah ide, dan anak dapat diajak berdiskusi dan menjelaskan apakah keyakinan. Orang tua dapat mengevaluasi pemikiran sang anak terhadap dimensi spiritual mereka.
Remaja (12-18 tahun). Pada tahap ini individu sudah mengerti akan arti dan tujuan hidup, Menggunakan pengetahuan misalnya untuk mengambil keputusan saat ini dan yang akan datang. Kepercayaan berkembang dengan mencoba dalam hidup. Remaja menguji nilai dan kepercayaan orang tua mereka dan dapat menolak atau menerimanya. Secara alami, mereka dapat bingung ketika menemukan perilaku dan role model yang tidak konsisten. Pada tahap ini kepercayaan pada kelompok paling tinggi perannya daripada keluarga. Tetapi keyakinan yang diambil dari orang lain biasanya lebih mirip dengan keluarga, walaupun mereka protes dan memberontak saat remaja. Bagi orang tua ini merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja.
Dewasa muda (18-25 tahun). Pada tahap ini individu menjalani proses perkembangannya dengan melanjutkan pencarian identitas spiritual, memikirkan untuk memilih nilai dan kepercayaan mereka yang dipelajari saaat kanak-kanak dan berusaha melaksanakan sistem kepercayaan mereka sendiri. Spiritual bukan merupakan perhatian utama pada usia ini, mereka lebih banyak memudahkan hidup walaupun mereka tidak memungkiri bahwa mereka sudah dewasa.
Dewasa pertengahan (25-38 tahun). Dewasa pertenghan merupakan tahap perkembangan spiritual yang sudah benar-benar mengetahui konsep yang benar dan yang salah, mereka menggunakan keyakinan moral, agama dan etik sebagai dasar dari sistem nilai. Mereka sudah merencanakan kehidupan, mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan terhadap kepercayaan dan nilai spiritual.
Dewasa akhir (38-65 tahun) .Periode perkembangan spiritual pada tahap ini digunakan untuk instropeksi dan mengkaji kembali dimensi spiritual, kemampuan intraspeksi ini sama baik dengan dimensi yang lain dari diri individu tersebut. Biasanya kebanyakan pada tahap ini kebutuhan ritual spiritual meningkat.
Lanjut usia (65 tahun sampai kematian). Pada tahap perkembangan ini, menurut Haber (1987) pada masa ini walaupun membayangkan kematian mereka banyak menggeluti spiritual sebagai isu yang menarik, karena mereka melihat agama sebagai faktor yang mempengaruhi kebahagian dan rasa berguna bagi orang lain. Riset membuktikan orang yang agamanya baik, mempunyai kemungkinan melanjutkan kehidupan lebih baik. Bagi lansia yang agamanya tidak baik menunjukkan tujuan hidup yang kurang, rasa tidak berharga, tidak dicintai, ketidakbebasan dan rasa takut mati. Sedangkan pada lansia yang spiritualnya baik ia tidak takut mati dan dapat lebih mampu untuk menerima kehidupan. Jika merasa cemas terhadap kematian disebabkan cemas pada proses bukan pada kematian itu sendiri.
Dimensi spiritual menjadi bagian yang komprehensif dalam kehidupan manusia. Karena setiap individu pasti memiliki aspek spiritual, walaupun dengan tingkat pengalaman dan pengamalan yang berbeda-beda berdasarkan nilai dan keyaninan mereka yang mereka percaya. Setiap fase dari tahap perkembangan individu menunjukkan perbedaan tingkat atau pengalaman spiritual yang berbeda.
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Spiritual
Kesehatan spiritual adalah komponen penting dari seorang individu yang dimiliki dan sebuah aspek integral dari filosofi kesehatan holistik. Kesehatan spiritual pasti mengalami keadaan yang tidak selalu sehat seperti halnya kesehatan fisik. Secara langsung maupun tidak langsung ada beberapa hal yang mempengaruhi kesehatan spiritual. Spiritualitas tidak selalu berkaitan dengan agama, tetapi spiritualitas adalah bagaimana seseorang memahami keberadaannya dan hubungannya dengan alam semesta. Orang-orang mengartikan spiritualitas dengan berbagai cara dan tujuan tersendiri. Setiap agama menyatakan bahwa manusia ada dibawah kuasa Tuhan. Namun, dari semua itu setiap manusia berusaha untuk mengkontrol spiritualitasnya. Inilah yang disebut dengan menjaga kesehatan spiritual.
Hal terpenting yang mempengaruhi kesehatan spiritual dan sebaiknya kita jaga adalah nutrisi spiritual. Hal ini termasuk mendengarkan hal-hal positif dan pesan-pesan penuh kasih serta memenuhi kewajiban keagaman yang dianut. Selain itu juga dengan mengamati keindahan dan keajaiban dunia ini dapat memberikan nutrisi spiritual. Menilai keindahan alam dapat menjadi makanan bagi jiwa kita. Bahkan serangga yang terlihat buruk pun adalah sebuah keajaiban untuk diamati dan dinilai.
Kedamaian dengan meditasi adalah bentuk lain untuk mendapatkan nutrisi spiritual. Hal itu bukanlah meminta tuhan kita apa yang kita inginkan tetapi mencari keheningan untuk merekleksikan dan berterima kasih atas apa pun yang telah kita terima.
Hal lain yang mempengaruhi kesehatan spiritual kita adalah latihan. Tidak hanya latihan dasar untuk kesehatan tubuh, tetapi juga latihan spiritual untuk menjaga spiritual. Latihan ini terdiri dari penggunaan jiwa kita. Sehingga latihan tersebut memberi sentuhan pada jiwa kita dan digunakan untuk menuntun kita untuk bertingkah-laku dengan baik, untuk menunjukan cinta kasih dan perasaan pada oaring lain untuk memahami dan untuk mencari kedamaian.
Faktor lain yang mempengaruhi kesehatan spiritual adalah lingkungan. Hal ini dikarenakan lingkungan dimana kita hidup adalah somber utama kejahatan ynag dapat mempengaruhi jiwa kita. Kita harus waspada untuk menghindari keburukan yang berasal dari lingkungan kita dan mencari hal positif yang dapat diambil. Tantangan yang dapat mengancam kesehatan spiritual kita dapat berasal dari luar maupun dari dalam dari kita.
Ancaman dari luar dikarenakan setiap orang memiliki bentuk penularan spiritual yang menyebarkan penyakit spiritual kepada orang lain disekitar mereka. Beberapa orang merusak moral dan mencoba untuk menarik orang lain untuk mengikuti kepercayaannya. Beberapa agama menberikan bekal keimanan yang cukup untuk menolak kepercayaan lain. Banyak orang-orang yang melakukan hal-hal yang buruk dan jahat. Kemudian mempengaruhi orang lain untuk mengikuti hal-hal buruk yang dilakukan. Keinginan untuk melakukan hal-hal buruk tersebut timbul dari keinginan diri sendiri. Jadi, Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan spiritual adalah nutrisi, latihan dan lingkungan tempat tinggal. Selain itu, terdapat ancaman dari luar maupun dari dalam diri kita. Sehingga kita harus pandai-pandai untuk menjaga kesehatan spiritual kita.
2.4 Karakteristik Spiritual
Karakteristik spiritual yang utama meliputi perasaan dari keseluruhan dan keselarasan dalam diri seorang, dengan orang lain, dan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi sebagai satu penetapan. Orang-orang, menurut kepada tingkat perkembangan mereka, pengalaman, memperhitungkan keamanan individu, tanda-tanda kekuatan, dan perasaan dari harapan. Hal itu tidak berarti bahwa individu adalah puas secara total dengan hidup atau jawaban yang mereka miliki. Seperti setiap hidup individu berkembang secara normal, timbul situasi yang menyebabkan kecemasan, tidak berdaya, atau kepusingan. Situasi yang susah menghasilkan pertanyaan spiritual, mengkaji klien dengan perjuangan spiritual berikut adalah aspek penting dan valid dari memelihara kesehatan dan memberikan asuhan keperawatan.
1. Holism
Holism, posisi mengamati seluruh bidang sebagai suatu system yang kurang berhubungan dengan rukun daripada hubungan yang mengasingkan bagian-bagian, menggabungkan pikiran dan tubuh dan menegaskan semangat (Seller dan Haag, 1998). Sebuah pendekatan yang holistic mengakui perjuangan spiritual sebagai aspek yang valid dan penting dri kesehatan dan asuhan keperawatan (Fig. 50-1). Hal tersebut adalah menggabungkan factor dari “mengadakan penggolongan sebelumnya yang dibangun dari jasmani, pemikiran rasional, jiwa emosional, dan semangat intuisi (Ruffing-rahal, 1984, p.12).
2. Kebutuhan spiritual
Definisi dari kebutuhan spiritual sangat bergantung pada setiap system kepercayaan penulis. Dalam meringkaskan definisi-definisi yang bervariasi, kebutuhan spiritual menunjukkan sebuah ekspresi normal dari dalam diri seseorang yang mencari maksud dalam semua pengalaman dan sebuah hubungan yang dinamik dengan dirinya, orang lain, dan pada lainnya yang tertinggi sebagai ketetapan seseorang. Kebutuhan spiritual yang berasal melalui pengalaman afektif dari semangat, harapan, cinta, dan pengalaman positif yang menjalani sebagai katalis dari maksud dan sintesis. Karakteristik ebutuhan spiritual meliputi:
• Kepercayaan
• Pemaafan
• Cinta dan hubungan
• Keyakinan, kreativitas dan harapan
• maksud dan tujuan serta anugrah dan harapan
Karakteristik dari kebutuhan spiritual ini menjadi dasar dalam menentukan karakteristik dari perubahan fungsi spiritual yang akan mengrahkan individu dalam berperilaku, baik itu kearah perilaku yang adaptif maupun perilaku yang adaptif.
3. Pencarian spiritual
Hidup dapat digambarkan sebagai suatu pencarian spiritual, tidak hanya untuk menjawab pertanyaan filosofi kehidupan, tetapi untuk mencari level tertinggi dari kesadaran atau kesadaran paling dalam dari kehidupan spiritual. Sebagai contoh, program ‘the twelve-step’ dari ‘alcoholics anonymous’ mengidentifikasi kesembuhan sebagai suatu perjalanan spiritual; anggota dari grup ini memrakterkan sebuah disiplin spiritual pada kehidupan yang lebih berarti, hari demi hari. Chapman (1986) meliputi jug aide dari pencarian dalam penetapan kesehatan spiritual yang optimal. Kesehatan spiritual meliputi “… kemampuan kita untuk menemukan dan artikulat diri kita tujuan dasar dalam hidup, belajar bagaimana pada pengalaman cinta, kesenangan, kedamaian dan pemenuhan…”(p. 41).
4. Kesehatan spiritual
Kesehatan spiritual adalah suatu kondisi yang ditandai oleh sebuah penguatan hidup, kedamaian, keselarasan, dan perasaan saling berhubungan dengan Tuhan, dirinya, komunitas, dan lingkungan yang pemeliharaan dan keseluruhan ternama (Greer dan Moberg, 1998). Dalam hirarki kebutuhan manusia, kesehatan spiritual tampak untuk pemenuhan yang mengandung arti dari kebutuhan melebihi tingkat aktualisasi diri.
2.5 Perubahan Fungsi Spiritual
Perilaku individu sangat dipengaruhi oleh spiritualisme dalam kehidupaannya. Perawat professional dituntut untuk mampu memahami perubahan fungsi spiritual agar dapat memberikan asuhan keperawatan pada lingkup kesehatan spiritual sebagai wujud keperawatan holistik. Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Pada laporan tugas mandiri ini, akan dibahas tentang perubahan fungsi spiritual. Laporan ini dibuat dari beberapa sumber pustaka dan mengunduh dari internet.
Spirituality adalah suatu yang dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup kepercayaan dan nilai kehidupan. Spiritualitas mampu menghadirkan cinta, kepercayaan, harapan, dan melihat arti dari kehidupan dan memelihara hubungan dengan sesama. Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan, memenuhi kewajiban agama, dan kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan.
Perilaku dan ekspresi yang beranekaragam mungkin menjadi tanda dari klien yang mengalami kecemasan spiritual. Setiap manusia pernah mengalami masalah spiritual. Masalah spiritual ketika penyakit , kehilangan, dan nyeri menyerang seseorang. Kekuatan spiritual dapat membantu seseorang ke arah penyembuhan atau pada perkembangan kebutuhan dan perhatian spiritual. Individu selama sakit sering menjadi kurang mampu untuk merawat diri mereka dan lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan. Distresss spiritual dapat berkembang sejalan dengan seseorang mencari makna tentang apa yang sedang terjadi, yang mungkin dapat mengakibatkan seseorang merasa sendiri dan terisolasi dari orang lain. Individu mungkin mempertanyakan nilai spiritual mereka, mengajukan pertanyaan tentang jalan hidup seluruhnya, tujuan hidup, dan sumber dari makna hidup.
Orang menderita disfungsi spiritual mungkin mengucapkan antaralain distresss atau mengatakan butuh bantuan. Perwujudan verbalisasi mungkin tepat: “saya merasa bersalah karena saya seharusnya memahami lebih dulu dia mempunyai serangan jantung” atau mungkin berkata,” saya tidak pernah melewati pelayanan di 20 tahun”. Perwujudan mungkin menjadi lebih subjektif sebagai percakapan melantur dari klien tentang hidup, mati, dan nilai. Klien mungkin bertanya kepada perawat untuk berdoa untuk mereka atau memberitahukan pembimbing spiritual dari keadaan sakit mereka
Perubahan perilaku mungkin menjadi perwujudan dari disfungsi spiritual. Klien yang gelisah tentang hasil tes diagnosa atau yang menunjukan kemarahan setelah mendengar hasil mungkin menjadi menderita distresss spiritual. Beberapa orang menjadi lebih merenung, berupaya untuk memperhitungkan situasi dan mencari fakta bacaan yang berlaku. Beberapa reaksi emosional, mencari informasi, dan dukungan dari teman dan keluarga. Pengenalan dari masalah, kemungkinan yang timbul tidak bisa tidur atau kekurangan konsentrasi. Kesalahan, ketakutan, keputusasaan, kekhawatiran, dan kecemasan juga mungkin menjadi indikasi perubahan fungsi spiritual
Ekspresi adaptif dan malaadaptif dari kebutuhan spiritual dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Kebutuhan Pola perilaku adaptif Pola perilaku malaadaptif
Kepercayaan - Kepercayaan diri dan memiliki daya tahan
- Menerima yang lain agar mampu bertemu dengan kebutuhan
- Kepercayaan dalam hidup
- Menerima hasil dari hidup
- Terbuka kepada Tuhan
- Menunjukan ketidaknyamanan dengan kesadaran diri sendiri
- Mudah tertipu
- Merasakan hanya orang dan tempat tertentu saja yang aman
- Mengharapkan orang menjadi tidak ramah dan tidak dapat dipercaya
- Tidak sabar
- Takut akan kehendak Tuhan
Pemaafan - Menerima ketidaksempurnaan diri dan lainnya.
- Tidak menghakimi
- Memandang penyakit berdasarkan realitas
- Mengalami pemaafan diri sendiri
- Menawarkan untuk memaafkan yang lain
- Menerima pemaafan dari Tuhan
- Mempunyai pandangan secara realistis di masa lalu - Memandang penyakit sebagai hukuman
- Percaya Tuhan menghukum
- Merasa untuk memaafkan tergantung dari perilaku
- Tidak bisa untuk menerima diri sendiri
- Diantara mencela diri sendiri atau mencela pekerjaan
Cinta dan hubungan - Mengungkapkan rasa dicintai Tuhan dan lainnya
- Menerima bantuan
- Menerima diri sendiri
- Mencari kebaikan lainnya - Merasa yang lain menghakimi dia
- Berkelakuan diri sendiri secara deskriptif
- Menolak untuk kerjasama dengan tim kesehatan
- Mengkhawatirkan tentang pemisahan dari mencintai seseorang
- Penolakan diri atau menunjukan salah harga diri dan sifat egois
- Kekurangan hubungan cinta dengan Tuhan
- Merasa ada jarak dan terpisahkan dari Tuhan
Keyakinan - Menggantungkan kebijakan bersifat illahi kepada Tuhan
- Motivasi terhadap pertumbuhan
- Mengungkapkan kepuasan dengan keterangan dari hidup setelah mati
- Mengungkapkan kebutuhan untuk masuk kedalam naungan besar dari drama cerita manusia
- Mengungkapkan kebutuhan tanda, ritual
- Mengungkapkan kebutuhan dari makna untuk membagi kepada komunitas seiman - Mengungkapkan dua perasaan yang saling bertentangan tentang Tuhan
- Kekurangan iman di luar batas kewajaran kekuatan atau Tuhan
- Ketakutan mati atau hidup setelah mati
- Putus asa, dan marah dengan Tuhan
- Ketidakjelasan nilai, kepercayaan, dan tujuan
- Konflik nilai
- Kekurangan komitmen
Kreativitas dan harapan - Bertanya informasi tentang kondisi
- Berbicara tentang kondisi realistis
- Menggunakan waktu selama sakit dengan hasil yang bermanfaat
- Mencari jalan untuk menunjukan diri sendiri
- Lebih suka menemukan kenyamanan di dalam diri daripada fisik diri atau kriteria duniawi
- Mengungkapkan harapan dimasa depan
- Terbuka terhadap kemungkinaan dari ketentraman - Mengungkapkan ketakutan dari kehilangan kontrol
- Mengungkapkan kebosanan
- Kekurangan visi dari kemungkinan alternatif
- Ketakutan terapi
- Keputusasaan
- Tidak dapat membantu diri sendiri atau menerima diri
- Tidak dapat menikmati apapun
- Meletakkan hidup atau keputusan besar di genggaman
Maksud dan tujuan - Mengungkapkan kepuasan hidup
- Tinggal hidup di kesepakatan dengan sistem nilai
- Menerima atau memanfaatkan penderitaan untuk mengerti diri sendiri
- Mengungkapkan maksud hidup atau mati
- Mengungkapkan komitmen dan tujuan akhir orientasi
- Mempunyai makna jelas dari apa yang penting
- Mengungkapkan tidak ada tujuan untuk hidup
- Menemukan tidak ada maksud dalam penderitaan
- Mempertanyakan maksud penderitaan
- Mempertanyakan tujuan dari penyakit
- Tidak dapat membentuk tujuan akhir atau mempunyai tujuan akhir tak bisa dicapai
- Mencaci maki obat atau alkohol
- Bercanda tentang hidup setelah kematian
Anugrah atau Karunia - Hidup di pergerakan
- Merasakan berkat dan kemewahan
- Merasakan anugrah yang diberikan di akhirat kepada diri dari Tuhan
- Merasakan ketentraman atau kebulatan hati
- Cemas tentang masa lalu dan masa depan
- Berorientasi kearah penghargaan atau hasil
- Focus pada penyesalan
- Berbicara tentang menjadi lebih baik atau mencoba lebih keras adalah perfeksionis
Pembahasan diatas menggambarkan kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Individu selama sakit sering menjadi kurang mampu untuk merawat diri mereka dan lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan. Perubahan fungsi spiritualitas sering terjadi dalam kehidupan. Oleh karena itu, perubahan fungsi spiritualitas klien perlu dipahami perawat dalam pemberian asuhan keperawatan secara holistik.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesehatan spiritual berkaitan erat dengan dimensi lain dan dapat dicapai jika terjadi keseimbangan dengan dimensi lain ( fisiologis, psikologis, sosiologis, kultural). Kesehatan spiritual sangat berpengaruh terhadap koping yang dimiliki individu. Semakin tinggi tingkat spiritual individu, maka koping yang dimiliki oleh individu tersebut juga akan semakin meningkat. Sehingga mampu meningkatkan respon adaptif terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada diri individu tersebut. Peran perawat adalah bagaimana perawat mampu mendorong klien untuk meningkatkan spiritualitasnya dalam berbagai kondisi, Sehingga klien mampu menghadapi, menerima dan mempersiapkan diri terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada diri individu tersebut.
3.2 Saran
Peningkatan spiritualitas dalam diri setiap individu sangat penting untuk diupayakan. Upaya untuk melakukan peningkatan spiritualitas dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan latihan yoga dan melakukan meditasi. Penting juga diperhatikan pemenuhan nutrisi spiritual. Hal tersebut tentunya tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, akan lebih baik jika dilaksanakan secara berkesinambungan. Dengan meningkatkan spiritualitas dalam diri, maka koping yang kita miliki juga akan meningkat. Sehingga mampu berperilaku dan mempertahankan kesehatan dalam kondisi yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Chapman, L. S. 1997. Spiritual health: A component missing from health promotion. American Journal of Health Promotion, 1(1), 38-41.
Craven, R.F., Hirnle, C.J. 2007. Fundamental of nursing: Human health and function.Third edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Crisp, J. Taylor, C., Potter, P.A., & Perry, A. G. (2001). Fundamental of Nursing, Singapore: Mosby
Danah Zohar. (2000). Spiritual Intelligence The Ultimate Intelligence:Great Britain
Daniel G,.( 1999). Emotional Intelligence, Jakarta.: gramdia, Pustaka Utama
Dombeck. 1995. Spiritual Nursing. Lowa ; University of Lowa
Dorlan. (1995). Dorland’s Pocket Medical Dictionary. Twenty Fifth Edition. Philadelphia : W.B Saunders Company
Fortune, Karen Lee. 2003. Mental Health Nursing 5 th ed. Pearson education, inc. BAB 2.
Greer, J., and Moberg, D. O. 1998. Research in the social scientific study of religion. Greenwich, CT: Jai Press.
Haber j.dkk. 3 nd.(1987). Comprehensive Psychiatric Nursing. New York: Mc Graw-Hill Book Company.
Hungelman. 1985. Spiritual concept nursing care. Three edition. Philadelphia : lippincot williams & wilkins
Hinchliff, Sue.(1997).Kamus Keperawatan. Alih bahasa oleh dr.Andry Hartono.Jakarta: EGC
Kozier, B. Erb, G Berman A.J . (1995). Fundamental of Nursing : concepts, process, and practice. Fifth Edition. California : Addison-Wesley Publishing Company.
Kozier, Erb. Berman. Snyder. (2004). Fudamental of nursing: Concepts, process, and practice. Seventh Edition. New Jersey : Pearson Education. Inc.
Mauk, K & Schmidt, N. (2004). Spiritual Care in Nursing Practice. Philadelpia: Lippincott.
Murray, R. B., and Zentner, J. P. 1993. Nursing concepts for health promotion (5th ed). Englewood Cliffs, NJ: Preventice-Hall.
New Webster’s Dictionary: Of the English Language.(1981). New York: Delair Publishing Company Inc.
Potter, P.A & Perry, A.G.(2005). Fundamental Of Nrsing: Concepts, Process, and Practice. Eds 4. Jakarta: EGC
Potter, P.A. and Perry, A.G. (2005). Fundamental of Nursing : concepts, process, and practice. Sixth Edition. St. Louis : Mosby.
Rawlins, R & Heacock. (1993). Clinical Manual of Pshyciatric Nursing. 2nd Ed. St. Louis: Mosby Year Book.
Ruffling-Rahal, M. A. 1984. The spiritual dimension of well-being: Implications for the elderly. Home Health Nurse, 2, 12-16.
Sellers, S. C., and Haag, B. A. 1998. Spiritual nursing interventions. Journal of Nursing, 16(3), 338-354.
Taylor R, R., Lilis, C., & Lemone, P. (1997). Fundamentals of Nursing: The Art and Science of Nursing Care. Philadelphia: Lippincott.
Town send, Mary C. 2000.Psychiatric Mental Nursing Concept of Care 3 th ed. Philadelphia: F.A. Devis Company. BAB 6. h.89-99
Walter. 1997. Conceptual Models of Nursing: Analysis and Application. USA: Appleton & Lange
Widyatuti. Dimensi Spiritual dalam Keperawatan. Jurnal Keperawatan Indonesia volume II, September 1999.
Yani, A. (1994). Bahan kuliah Aspek Spiritual dalam Keperawatan.
Yetty.K dan Agustini N. (1998). Dimensi Spiritual dalam Asuhan Keperawatan. Makalah
Aspek-aspek Kecerdasan Emosi, tersedia dalam.http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/30/musik_merupakan_stimulasi_terhad.htm(diakses 26 Oktober 2009 pukul 12.10 WIB)
Burry. Asuhan spiritual dalam keperawatan.
http://ners.fk.unair.ac.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=144 diperoleh tanggal 27 Oktober 2009
Daniels, Georg. Spiritual health
www.rsu.edu/faculty/LAndrews/Spiritual%20Health.ppt diperoleh tanggal 27 Oktober 2009
Eko Iman, Paradigma Baru Kecerdasan Manusia, tersedia dalam http://www.mail-archive.com/formiskat@groups.plnkalbar.co.id/msg00083.html(diunduh 26 oktober 2009 11.30 WIB)
Henderson, V. (2006). The concepts of nursing. Journal of advance nursing, 53, (1), 25-31. Diambil pada 28 Oktober 2009 dari jam 20.00 WIB dari http://www.journalofadvancednursing.com/docs/jan_1978.pdf.
Kurtus, Ron. (2008). Factor Involved in Spiritual Health. http://www.school-for-champions.com/spiritualhealth/factors.htm diunduh tangga 28 Oktober 2009 pukul 14.09 WIB
Makhija. (2002). “Spiritual Nursing”. Nursing journal of India. (June, 2002). Style Sheet: http://findarticles.com/p/articles/mi_qa4036/is_%20200206/ai_n9120374. (27 Oktober 2009).
Natsir, Rina Pristiawati. Hubungan aspek dengan spiritual.
http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi/ilmu-keperawatan/hubungan-penerapan-aspek-spiritualitas-perawat-dengan-pemenuhan-kebut diperoleh tanggal 27 Oktober 2009
Sulaiman. Spiritual
http://sulaiman.detik.com/category/spiritual/ diperoleh tanggal 26 Oktober 2009.
Senin, 04 Oktober 2010
NILAI & KEYAKINAN from anather group
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar belakang
Setiap manusia di muak bumi ini selalu berinteraksi satu sama lain. Tak dapat dipungkiri bahwa interaksi tersebut terus terjadi dan tidak seorang pun dapat menghindari interaksi ini. Hal ini merupakan kodrat seorang manusia bahwa mereka diciptakan untuk saling membantu antar sesame dan tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
Interaksi yang terjadi ini juga tidak dapat dihindari oleh perawat dengan klien. Perawat dan klien senantiasa berinterkasi kapan pun dan di manapun ketika asuhan keperawatan sedang diberikan perawat kepada klien. Interaksi ini tidak hanya terjadi dengan orang yang memiliki karakteristik atau budaya yang sama dengan perawat. Namun, terjadi dengan banyak pihak yang memiliki nilai dan keyakinan yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh berbagai macam hal. Tak dapat dipungkiri konflik sering terjadi dalam interaksi ini. Oleh karena itu, diperlukan suatu pemahaman mengenai konsep umum dari nilai keyakinan. Dengan demikian diharapkan, perawat dapat lebih peka terhadap nilai dan keyakinan yang di anut oleh klien dan orang lain. Untuk itu, dalam makalah ini kami mencoba untuk membahas mengenai konsep umum nilai dan keyakinan.
I.2 Rumusan Masalah
Masalah yang kami coba untuk dibahas dalam makalah ini adalah mengenai konsep umum dari nilai dan keyakinan yang meliputi:
a. Pola Nilai dan Keyakinan
b. Sumber-sumber nilai dan keyakinan
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai dan keyakinan
d. Efek Nilai dalam kesehatan fungsional
e. Konflik nilai dalam situasi asuhan keperawatan
I.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memahami konsep umum nilai dan keyakinan yang meliputi:
a. Pola Nilai dan keyakinan
b. Sumber-sumber nilai dan keyakinan
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai dan keyakinan
d. Efek nilai dalam kesehatan fungsional
e. Konflik nilai dalam situasi asuhan keperawatan
I.4 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah dengan menggunakan metode studi pustaka yaitu dengan cara mencari materi yang sesuai dengan topic yang dibahas melalui literature-literature baik buku maupun internet.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Pola Nilai dan Keyakinan
a. Pengertian Nilai
Nilai merupakan konsep yang dibentuk akibat dari penampilan kehidupan keluarga, teman, budaya, pendidikan, pekerjaan dan istirahat. Nilai tergantung individu dalam mempersepsikannya. Nilai antara positif dan negatif sangat berbeda. Masyarakat lebih cenderung menyukai nilai yang berasal dari keyakinan agama, kedekatan keluarga, pandangan seksual, kelompok etnik lainnya, dan keyakinan akan peran jenis kelamin. Ada 7 kriteria yang digunakan untuk mengartikan nilai yaitu: kehendak lebih pada kemampuan kognitif, proses pendewasaan nilai, berubah-ubah dan fleksibel, penampilan nilai, penampilan diri memberikan informasi tentang nilai, secara psikologi kedewasaan orang dewasa karena adanya kepercayaan diri dan kearifan/kebijaksanaan dan proses nilai seseorang dimulai dengan keterbukaan akan kesiapan penampilan.
b. Bentuk- Bentuk Nilai
Nilai dapat dibedakan menjadi tiga sebagai berikut:
1. Nilai Material, segala sesuatu yang berguna bagi unsure manusia
2. Nilai Vital, segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk melakukan aktifitas hidupnya.
3. Nilai Kerohanian, segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai Kerohanian dibedakan menjadi 4 yaitu:
a. Nilai Kebenaran yaitu nilai yang bersumber dari akal manusia(rasio, budi dan cipta)
b. Nilai Keindahan yaitu nilai yang bersumber dari unsur manusia (perasaan dan estetika).
c. Nilai Moral yaitu nilai yang bersumber dari unsure kehendak dan kemauan(karsa dan Etika).
d. Nilai Religius yaitu nilai Ketuhanan, kerohanian yang tinggi dan mutlak yang bersumber dari keyakinan dan kepercayaan manusia(Budiyanto. 2002).
Sedangkan menurut Mubarok, Z. dkk. (2008) Nilai dibagi secara garis besar kedalam dua bentuk yaitu nilai spiritual(nilai yang berhubungan dengan rohani manusia) dan nilai kemanusiaan(nilai yang berhubungan dengan setiap permasalahan hidup manusia yang bersifat universal.
c. Fungsi Nilai
Fungsi utama dari nilai dapat dijelaskan sebagai berikut:
1). Nilai sebagai standar (Rokeach, 1973; Schwartz, 1997), fungsinya adalah:
• Membimbing individu dalam mengambil posisi tertentu dalam social issues tertentu
• Mempengaruhi individu untuk lebih menyukai ideologi politik tertentu dibanding ideologi politik yang lain.
• Mengarahkan cara menampilkan diri pada orang lain.
• Melakukan evaluasi dan membuat keputusan.
• Mengarahkan tampilan tingkah laku membujuk dan mempengaruhi orang lain, memberitahu individu akan keyakinan,
2). Sistim nilai sebagai rencana umum dalam memecahkan konflik dan pengambilan keputusan (Feather, 1994; Rokeach, 1973; Schwartz, 1997).
3). Fungsi motivasional
d. Nilai Sebagai Keyakinan (Belief)
Definisi nilai adalah keyakinan (Rokeach, 1973; Schwartz, 1997; Feather, 1994). Nilai itu sendiri merupakan keyakinan yang tergolong preskriptif atau proskriptif, yaitu beberapa cara atau akhir tindakan dinilai sebagai diinginkan atau tidak diinginkan. Rokeach(1973) mengemukakan bahwa keyakinan, dalam konsep Rokeach, bukan hanya pemahaman dalam suatu skema konseptual, tapi juga predisposisi untuk bertingkah laku yang sesuai dengan perasaan terhadap obyek dari keyakinan tersebut.
Rokeach (1973) dikatakan, sebagai keyakinan, nilai memiliki aspek kognitif, afektif dan tingkah laku dengan penjelasan sebagai berikut:
- Nilai meliputi kognisi tentang apa yang diinginkan, menjelaskan pengetahuan, opini dan pemikiran individu tentang apa yang diinginkan.
- Nilai meliputi afektif, di mana individu atau kelompok memiliki emosi terhadap apa yang diinginkan, sehingga nilai menjelaskan perasaan individu atau kelompok terhadap apa yang diinginkan itu.
- Nilai memiliki komponen tingkah laku, artinya nilai merupakan variabel yang berpengaruh dalam mengarahkan tingkah laku yang ditampilkan.
Sikap (attitude) adalah keyakinan yang menempati posisi periferal/tepi atau paling rendah Sikap merupakan suatu organisasi dari keyakinan-keyakinan sehari-hari tentang obyek atau situasi. Perubahan sikap hanya memiliki pengaruh yang terbatas pada tingkah laku.
Nilai (value) adalah keyakinan berikutnya yang lebih sentral. Nilai melampaui suatu obyek dan situasi tertentu. Nilai memegang peranan penting karena merupakan representasi kognitif dari kebutuhan individu di satu sisi dan tuntutan sosial di sisi lain.
Konsep diri (self-conceptions) adalah keyakinan sentral. Menurut Rokeach(1973) konsep diri adalah keseluruhan konsepsi individu tentang dirinya yang meliputi organisasi semua kognisi dan konotasi afektif yang berupaya menjawab pertanyaan "Siapa diri saya ini?”
e. Hubungan Nilai dan Tingkah Laku
Di dalam kehidupan manusia, nilai berperan sebagai standar yang mengarahkan tingkah laku. Nilai membimbing individu untuk memasuki suatu situasi dan bagaimana individu bertingkah laku dalam situasi tersebut (Rokeach, 1973). Danandjaja (1985) mengemukakan bahwa nilai memberi arah pada sikap, keyakinan dan tingkah laku seseorang, serta memberi pedoman untuk memilih tingkah laku yang diinginkan pada setiap individu. Karenanya nilai berpengaruh pada tingkah laku sebagai dampak dari pembentukan sikap dan keyakinan, sehingga dapat dikatakan bahwa nilai merupakan faktor penentu dalam berbagai tingkah laku sosial (Rokeach, 1973; Danandjaja, 1985).
f. Klarifikasi Nilai(value)
Klarifikasi nilai-nilai merupakan suatu proses dimana seseorang dapat mengerti sistem nilai-nilai yang melekat pada dirinya sendiri. Hal ini merupakan proses yang memungkinkan seseorang menemukan sistem perilakunya sendiri melalui perasaan dan analisis yang dipilihnya dan muncul alternatif-alternatif, apakah pilihan–pilihan ini yang sudah dianalisis secara rasional atau merupakan hasil dari suatu kondisi sebelumnya. Ada tiga fase dalam klarifikasi nilai-nilai individu yang perlu dipahami oleh perawat.
Pilihan: (1) Kebebasan memilih kepercayaan serta menghargai keunikan bagi setiap individu; (2) Perbedaan dalam kenyataan hidup selalu ada perbedaan-perbedaan, asuhan yang diberikan bukan hanya karena martabat seseorang tetapi hendaknya perlakuan yang diberikan mempertimbangkan sebagaimana kita ingin diperlakukan. (3) Keyakinan bahwa penghormatan terhadap martabat seseorang akan merupakan konsekuensi terbaik bagi semua masyarakat.
Penghargaan: (1) Merasa bangga dan bahagia dengan pilihannya sendiri (anda akan merasa senang bila mengetahui bahwa asuhan yang anda berikan dihargai pasen atau klien serta sejawat) atau supervisor memberikan pujian atas keterampilan hubungan interpersonal yang dilakukan; (2) Dapat mempertahankan nilai-nilai tersebut bila ada seseorang yang tidak bersedia memperhatikan martabat manusia sebagaimana mestinya.
Tindakan (1) Gabungkan nilai-nilai tersebut kedalam kehidupan atau pekerjaan sehari-hari; (2) Upayakan selalu konsisten untuk menghargai martabat manusia dalam kehidupan pribadi dan profesional, sehingga timbul rasa sensitif atas tindakan yang dilakukan(Joomla, 2009).
II.2 Sumber-sumber Nilai
Secara garis besar sumber nilai seseorang adalah spiritual seseorang, personal, dan sosial.
a. Spiritual
Sumber nilai yang pertama adalah spiritual atau religious (Fry & Johnstone, 2002). Keyakinan yang dianut seseorang memiliki nilai-nilai yang berasal dari kepercayaan yang dianutnya. Bagi seseorang yang tidak memiliki kepercayaan, mereka tidak mempercayai adanya Tuhan. Bagi seseorang yang beragama nilai-nilai yang dianutnya tergantung kepercayaan yang diyakininya. Islam meyakini adanya satu Tuhan. Dia adalah Allah SWT. Nilai-nilai Islam bersumber dari Allah SWT. Nilai-nilai tersebut sampai kepada manusia melalui perantaraan malaikat Jibril yang menyampaikan kepada Nabi Muhammad saw untuk dirinya sendiri dan disampaikan kepada umatnya. Sumber nilai yang paling hakiki adalah dari Allah SWT.
b. Personal
Sumber nilai yang kedua adalah dari diri seseorang. Nilai yang telah diterima seseorang diinternalisasikan dan menjadi dasar tingkah lakunya. Nilai-nilai personal adalah hasil observasi terhadap tingkah laku dan sikap orang tua atau keluarga dan interaksi dengan budayanya, agama, dan lingkungan social. Nilai personal ini merefleksikan pengalaman dan intelegensi seseorang. Nilai personal ini diinternalisasikan secara sebagian maupun keseluruhan dan dibutuhkan oleh individu itu sendiri.
c. Sosial
Sumber nilai yang terakhir adalah sosial. Individu memperoleh nilai-nilai ini dari orang tua , teman, dan lingkunagna social lainnya seperti profesinya. Biasanya nialai social merupakan hasil kesepakatan antara kelompok tertentu. Nilai-nilai social meliputi nilai sopan santun, nilai kesusilaan, nilai pancasila (ideology), dan nilai budaya yang bersumber dari budaya (Fry & Johnstone, 2002).
II.3 Faktor Nilai dan Keyakinan
Nilai dan keyakinan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
a). Faktor Internal
Faktor Internal meliputi:
1. Pendidikan atau Tingkat Pengetahuan
Permasalahan ilmu pengetahuan meliputi arti sumber, kebenaran pengetahuan, serta sikap ilmuan itu sendiri sebagai dasar untuk tingkah laku selanjutnya. Sehubungan dengan proses perolehan ilmu penegtahuan dengan metode yang benar dan teruji kebenarannya secara ilmiah, maka ilmu pengetahuan dijadikan sumber yang memberikan motivasi untuk melakukan sebuah perbuatan baik dan berbudi pekerti luhur.
Keyakinan seseorang terhadap kesehatan terbentuk oleh variabel intelektual yang terdiri dari pengetahuan tentang berbagai fungsi tubuh dan penyakit , latar belakang pendidikan, dan pengalaman masa lalu. Kemampuan kognitif akan membentuk cara berfikir seseorang termasuk kemampuan untuk memehami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dan menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk menjaga kesehatan sendirinya.
2. Tahap Perkembangan
Status kesehatan dapat ditentukan oleh faktor usia dalam hal ini adalah pertumbuhan dan perkembangan, dengan demikian setiap rentang usia (bayi-lansia) memiliki pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan yang berbeda-beda. Untuk itulah seorang tenaga kesehatan (perawat) harus mempertimbangkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan klien pada saat melakukan perncanaan tindakan. Contohnya: secara umum seorang anak belum mampu untuk mengenal keseriusan penyakit sehingga perlu dimotivasi untuk mendapatkan penanganan atau mengembangkan perilaku pencegahan penyakit..
3. Persepsi tentang fungsi
Cara seseorang merasakan fungsi fisiknya akan berakibat pada keyakinan terhadap kesehatan dan cara melaksanakannya. Contoh, seseorang dengan kondisi jantung yang kronik merasa bahwa tingkat kesehatan mereka berbeda dengan orang yang tidak pernah mempunyai masalah kesehatan yang berarti. Akibatnya, keyakinan terhadap kesehatan dan cara melaksanakan kesehatan pada masing-masing orang cenderung berbeda-beda. Selain itu, individu yang sudah berhasil sembuh dari penyakit akut yang parah mungkin akan mengubah keyakinan mereka terhadap kesehatan dan cara mereka melaksanakannya.
4. Emosi
Factor emosional juga mempengaruhi keyakinan terhadap kesehatan dan cara melaksanakannya. Seseorang yang mengalami respons stres dalam setiap perubahan hidupnya cenderung berespons terhadap berbagai tanda sakit, mungkin dilakukan dengan cara mengkhawatirkan bahwa penyakit tersebut dapat mengancam kehidupannya.
Seseorang yang secara umum terlihat sangat tenang mungkin mempunyai respons emosional yang kecil selama ia sakit. Seorang individu yang tidak mampu melakukan koping secara emosional terhadap ancaman penyakit mungkin akan menyangkal adanya gejala penyakit pada dirinya dan tidak mau menjalani pengobatan. Contoh: seseorang dengan napas yang terengah-engah dan sering batuk mungkin akan menyalahkan cuaca dingin jika ia secara emosional tidak dapat menerima kemungkinan menderita penyakit saluran pernapasan.
5. Spiritual atau Agama
Setiap orang mempunyai kebutuhan fundamental sesuai dengan fitrahnya yang memiliki jasmani dan rohani, apabila dikaitkan dengan berbagai ragam hubungan manusia dalam kehidupannya, di setiap hubungan tersebut ada hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, manusia dengan manusia lain/ masyarakat, dan manuisa dengan dirinya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan rohaninya manusia melaksanakan nilai spiritual dalam kehidupannya.
Agama sebagai keyakinan dapat menjadi bagian dan inti dari system-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, dan menjadi pendorong dan penggerak serta pengontrol bagi tindakan-tindakan para anggota masayarakat tersebut tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran-ajaran agamanya. Pengaruh ajaran agama itu sangat kuat terhadap sistem-sistem nilai dari kebudayaan masyarakat bersangkutan, maka sistem-sistem nilai dari kebudayaan tersebut terwujud sebagai symbol-simbol suci yang maknanya bersumber pada ajaran-ajaran agama yang menjadi acuannya. Dalam keadaan demikian secara langsung atau tidak langsung, etos yang menjadi pedoman dari eksistensi dan kegiatan berbagai pranata yang ada dalam masyarakat dipengaruhi, digerakkan dan diarahkan oleh berbagai sistem nilai yang sumbernya adalah pada agama yang dianutnya dan terwujud dalam kegiatan-kegiatan para warga masyarakatnya sebagai tindakan-tindakan dan karya-karya yang diselimuti oleh simbol-simbol suci.
6. Falsafah Hidup
Falsafah hidup merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang diyakini kebenarnnya, ketepatan dan kemanfaatnya yang kemudian menimbulkan tekad untuk mewujudkannya dalam bentuk sikap, tingkah lalu dan perbuatan. Falsafah atau pandangan hidup bukan timbul seketika atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu yang lama dan terus menerus, sehingga hasil pemikiran itu dapat teruji kebenarannya. Atas dasar ini manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman atau petunjuk yang disebut falsafah atau pandanagn hidup.
7. Observasi, Pertimbangan, Pengalaman
Perjalanan hidup manusia ditandai oleh berbagai pengalamn yang berkisar sekitar dimensi-dimensi: penderitaan-kebahagaian, kegelisahan-harapan, kebencian/prasangka-cinta kasih, ketidakadilan-keadilan, dan lain-lain. Hal ini menumbuhkan kesadaran akan keberadaanya yang berhadapan dengan kenyataan-kenyataan yang tidak terelakkan, suatu dikhotomi asasi kehidupan manusia dalam setiap ragam hubungan yang terbentuk, serta berbagai kemungkinan untuk dipilih dalam menetapakan arah dalam melangkah dan menjadi landasan untuk berpijak.
Pengalaman dan pengetahuan manusia tentang pengenalan alam yang mengitari dirinya, kehidupan budaya yang menlingkupi diri, serta dirinya sendiri, melahirkan suatu pemikiran, gambaran dan gagasan tentang kesemestaan dunia dan kedudukan manusia di dalamnya. Inti dari pemikiran/gambaran/gagasan tersebut membentuk pendirian dan keyakinan manusia tentang arti hidup, tugas dan tanggung jawabnya sebagai manusia. Hal ini terwujud dalam suatu sikap atau panadanga hidup yang menuntunnya kea rah perbuatan-perbuatan tertentu dalam hubungnnya dengan tuhan, alam sekitar, massyarakat, sesame manusia, dan dengan dirinya sendiri.
Seorang individu akan mengobservasi tingkah laku dari lingkungan tertentu dan mencatat respons yang dihasilkan. Tingkah laku yang berhasil atau produktif kemudian akan dapat diadopsi sebagai panduan untuk melakukannya. Misalnya, ketika anak-anak untuk pertama kalinya memasuki sekolah, mereka mengobservasi respons positif guru yang diberikan pada murid yang telah menyelesaikan tugas mereka dengan baik dan tepat waktu.
b). Faktor Eksternal
Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi nilai dan keyakinan meliputi:
1. Keluarga
Nilai menjadi bagian dari sosialisasi individu dalam keluarga, pekerjaan, tempat ibadah, berbagai kelompok sosial lainnya. Ketika anak-anak mengamati orang tua, keluarga dan teman, mereka menerima tingkah laku yang akan yang akan membentuk dasar sistem nilai mereka. Pembentukan kejujuran merupakan salah satu contoh, orang yang mempengaruhi anak kecil umumnya tidak sadar bahwa mereka telah mentransmisikan nilai.
Manusia sebagai mahluk individu dan juga sebagai mahluk sosial membutuhkan adanya ikatan antara individu dengan individu dan antara individu dengan masyarakat. Dalam hubungan keterikatan ini manuisa membanguan sebuah keluarga yang menjalin perbedaan karakter dan kepribadian menjadi satu kesepakatan bersama. Keluarga disebut sebagai institusi sosial yang di dalamnya terdapat banyak nilai norma yang mengatur kehidupan bersama. Kelurga sebagai unit terkecil dari masyarakat, menjadi media yang sangat signifikan dalam membudayakan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti yang terpuji.
2. Masyarakat
Masyarakat merupakan suatu komunitas yang lebih luas dari sebuah keluarga.Dalam kehidupan masyarakat terdapat banyak nilai yang diyakini kebenarannya kemudian dijadikan falsafah hidup dipakai sebagai sumber dalam berprilaku.
3. Teknologi
Teknologi yang berkembang pesat meliputi berbagai bidang kehidupan manusia. Masa sekarang tampaknya sulit memisahkan kehidupan manusia dengan teknologi, bahkan sudah merupakan kebutuhan manusia. Teknologi telah menguasai seluruh sector kehidupan manusia. Manusia semakin harus beradapatasi dengan dunia teknologi dan tidak ada lagi unsure pribadi manusia yang bebas dari pengaruh teknik. Pada masyarakat teknologi, ada tendendi bahwa kemajuan adalah suatu proses dehumanisasi secara perlahan-lahan sampai akhirnya manusia takluk pada teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi erat hubungannya dengan nilai dan moral.
4. Budaya
Dalam lingkup budaya yang lebih besar, mungkin terdapat kelompok masyarakat yang lebih kecil, budaya dengan nilai yang cukup khas yang membuat mereka berbeda dengan kelompok yang dominan. Orang mengambil berbagai nilai budaya dominan di mana mereka hidup. Karena orang belajar untuk menilai apa yang umum, kebiasaan, tingkah laku, ritual, dan sikap orang lain yang tidak umum seringkali dianggap bodoh, tidak efektif atau bahkan berbahaya. Hal ini juga berlaku dalam praktik perawatan kesehatan.
Budaya adalah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, aturan-aturan dan norma-norma yang melingkupi suatu kelompok masyarakat akan mempengaruhi sikap dan tindakan individu dalam masyarakat tersebut. Sikap dan tindakan individu dalam suatu masyarakat dalam beberapa hal yang berkaitan dengan nilai, keyakinan aturan dan norma akan menimbulkan sikap dan tindakan yang cenderung homogen. Artinya, jika setiap individu mengacu pada nilai, keyakinan, aturan dan norma kelompok, maka sikap dan perilaku mereka akan cenderung seragam. Misalnya dalam suatu masyarakat ada aturan mengenai bagaimana melakukan pernikahan sehingga laki-laki dan perempuan dapat disahkan sebagai suami istri. Ketika anggota masyarakat akan menikah, maka proses yang dilalui oleh anggota masyarakat itu akan cenderung sama dengan anggota masyarakat yang lainnya.
Setiap kelompok masyarakat tertentu akan mempunyai cara yang berbeda dalam menjalani kehidupannya dengan sekelompok masyarakat yang lainnya. Cara-cara menjalani kehidupan sekelompok masyarakat dapat didefinisikan sebagai budaya masyarakat tersebut. Satu definisi klasik mengenai budaya adalah sebagai berikut: "budaya adalah seperangkat pola perilaku yang secara sosial dialirkan secara simbolis melalui bahasa dan cara-cara lain pada anggota dari masyarakat tertentu (Wallendorf & Reilly dalam Mowen: 1995)".
Definisi di atas menunjukkan bahwa budaya merupakan cara menjalani hidup dari suatu masyarakat yang ditransmisikan pada anggota masyarakatnya dari generasi ke generasi berikutnya. Proses transmisi dari generasi ke generasi tersebut dalam perjalanannya mengalami berbagai proses distorsi dan penetrasi budaya lain. Hal ini dimungkinkan karena informasi dan mobilitas anggota suatu masyarakat dengan anggota masyarakat yang lainnya mengalir tanpa hambatan.
Interaksi antar anggota masyarakat yang berbeda latar belakang budayanya semakin intens. Oleh karena itu, dalam proses transmisi budaya dari generasi ke generasi, proses adaptasi budaya lain sangat dimungkinkan. Misalnya proses difusi budaya populer di Indonesia terjadi sepanjang waktu. Kita bisa melihat bagaimana remaja-remaja di Indonesia meniru dan menjalani budaya populer dari negara-negara Barat, sehingga budaya Indonesia sudah tidak lagi dijadikan dasar dalam bersikap dan berperilaku. Proses seperti inilah yang disebut bahwa budaya mengalami adaptasi dan penetrasi budaya lain. Dalam hal-hal tertentu adaptasi budaya membawa kebaikan, tetapi di sisi lain proses adaptasi budaya luar menunjukkan adanya rasa tidak percaya diri dari anggota masyarakat terhadap budaya sendiri. Agar budaya terus berkembang, proses adaptasi seperti dijelaskan di atas terus perlu dilakukan. Paradigma yang berkembang adalah bahwa budaya itu dinamis dan dapat merupakan hasil proses belajar, sehingga budaya suatu masyarakat tidak hadir dengan sendirinya. Proses belajar dan mempelajari budaya sendiri dalam suatu masyarakat disebut enkulturasi (enculturati). Enkulturasi menyebabkan budaya masyarakat tertentu akan bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya sebuah masyarakat yang cenderung sulit menerima hal-hal baru dalam masyarakat dan cenderung mempertahankan budaya lama yang sudah tidak relevan lagi disebut sebagai akulturasi (acculturation).
Budaya yang ada dalam sekelompok masyarakat merupakan seperangkat aturan dan cara-cara hidup. Dengan adanya aturan dan cara hidup/ anggota dituntun untuk menjalani kehidupan yang serasi. Masyarakat diperkenalkan pada adanya baik-buruk, benar-salah dan adanya harapan-harapan hidup. Dengan aturan seperti itu orang akan mempunyai pijakan bersikap dan bertindak. Jika tindakan yang dilakukan memenuhi aturan yang telah digariskan, maka akan timbul perasaan puas dalam dirinya dalam menjalani kehidupan. Rasa bahagia akan juga dirasakan oleh anggota masyarakat jika dia mampu memenuhi persyaratan-persyaratan sosialnya. Orang akan sangat bahagia jika mampu bertindak baik menurut aturan budayanya. Oleh karena itu, budaya merupakan sarana untuk memuaskan kebutuhan anggota masyarakatnya.
5. Sosiekonomi
Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit dan mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan bereaksi terhadap penyakitnya. Variabel psikososial mencakup: stabilitas perkawinan, gaya hidup, dan lingkungan kerja. Sesorang biasanya akan mencari dukungan dan persetujuan dari kelompok sosialnya, hal ini akan mempengaruhi keyakinan kesehatan dan cara pelaksanaannya.
II.4 Efek Nilai dalam Kesehatan Fungsional
No Kesehatan fungsional Definisi Nilai-nilai yang terkait Efek/ Respon
1 Bernapas normal Tidak adanya gangguan pada sistem pernapasan • Nilai vital Efek fisik:
positif
• Terlihat lebih segar
• Tidak sesak napas
• Frekuensi pernapasan normal
Negatif
• Ada tanda-tanda sesak napas : peningkatan frekuensi napas dalam satu menit
• Ada napas cuping hidung (cuping hidung ikut bergerak saat bernafas)
• Ada penggunaan otot-otot bantu pernapasan (otot sela iga, otot leher, otot perut)
• Warna kebiruan pada sekitar bibir dan ujung-ujung jari tangan
• Tidak ada gerakan dada
• Tidak ada suara napas
• Tidak dirasakan hembusan napas
• Pasien tidak sadar dan tidak bernapas
Efek Psikologi:
Positif
• Merasa tenang
Negatif
• Merasa Tidak nyaman
2 Kebutuhan nutrisi Zat kimia/ organik dan anorganik yang ditemukan dalam makanana dan diperoleh untuk fungsi tubuh • Nilai material
• Nilai Vital
• Nilai Estetis Efek Fisik:
Positif
• Segar
• Suhu normal
• Kulit jadi sehat
Negatif
• Lemas
• Suhu badan menigkat
• Pucat
Efek Psikologis:
Positif
• Mudah berpikir
• Tenang
Negatif
• Depresi
• Mudah marah
• Penurunan kognitif
3 Eliminasi Berfungsinya sistem ekskresi di tubuh dengan baik • Nilai Vital Efek Fisik:
Positif
• Terlihat lebih segar
• Tidak terjadi retensi urin
Negatif
• Lambung terasa penuh
• Perut terasa sakit
Efek Psikologis:
Positif:
• Merasa lebih nyaman
• Tidak tenang
Negatif:
• Tidak nyaman
• Pikiran melayang
• Susah berkonsentrasi
4 Gerak dan keseimbangan tubuh Kesesuaian antara aktivitas dengan kondisi tubuh • Nilai Vital
• Nilai Material
• Nilai estetika Efek Fisik:
Positif:
• Badan jadi sehat dan segar
• Bisa membantu dalam membentuk tubuh yang bagus dan bugar
Negatif:
• Mudah lelah
• Tidak bersemangat
Efek Psikologis:
Positif:
• Perasaan senang
• Rileks
• Menambah kepercayaan diri
Negatif:
• Mudah tersinggung
• Stres
5 Kebutuhan istirahat dan tidur Berhenti sejenak untuk melakukan aktifitas guna merilekskan otot-otot • Nilai Vital
• Nilai Moral
• Nilai material Efek Fisik:
Positif:
• Segar
• Bersemangat
• Denyut jantung normal
Negatif:
• Di bawah mata tampak garis hitam dan terdapat kantung mata
• Lemes
• Badan pegel-pegel
Efek Psikologis:
Positif:
• Merasa tenang
• Rileks
Negatif:
• Stress
• Susah berkonsentrasi
• Sering lupa
6 Kebutuhan berpakaian Agar dapat melindungi diri dari cuaca • Nilai Material
• Nilai Vital
• Nilai estetika
• Nilai Moral Efek Fisik:
Positif:
• Terlindung dari cuaca
• Menutupi tubuh
Negatif:
• Panas
• Memicu timbulnya kanker kulit
Efek Psikologis:
Positif:
• Nyaman
• Tenang
• Aman
Negatif:
• Malu
7 Koping dan management stress Cara untuk mengatur dan memanagement stress dengan baik • Nilai Vital
• Nilai Spiritual
• Nilai Moral Efek Fisik:
Positif:
• Sehat
• Waras
• Rajin beribadah
Negatif:
• Tidak ceria
Efek psikologis
Positif:
• Tenang
• Rileks
• Mudah berpikir
Negatif:
• Depresi
• Stress
8 Seksual dan reproduksi Terkait dengan penambahan keturunan • Nilai Vital
• Nilai Moral Efek Fisik
Positif:
• Mukanya ceria
• Keturunan bertambah
Negatif:
• Cemberut
Efek Psikologis:
Positif:
• Senang
• Merasa puas
• Pengendalian diri
Negatif:
• Susah mengontrol
• Harga diri rendah
9 Mempertahankan temperature tubuh Keadaan di mana seseorang dapat mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal (36-37o C) • Nilai Vital Efek Fisik
Positif:
• Segar
• Sehat
• Suhu tubuh normal
• Tidak menggigil
Negatif:
• Demam
• Suhu tubuh menigkat
Efek psikologis
Positif:
• Tenang, nyaman
• Mudah berpikir
Negatif:
• Depresi
• Stress
• Mudah lupa
10 Personal Hygiene Untuk mempertahankan atau membantu integriras kulit • Nilai Vital
• Nilai Moral Efek Fisik:
Positif:
• Bersih
• Sehat
Negatif:
• Terasa gatal
• Bau
Efek Psikologis
Positif:
• Nyaman
• Tenang
Negatif:
• Sering menghindar
• Tidak percaya diri
11 Rasa aman dan nyaman Terhindar dari gangguan baik dari alam maupun orang jahat • Nilai Vital
• Nilai Material
• Nilai Vital
• Nilai spiritual Efek Fisik
Positif:
• Tidak gemetar
• Denyut jantung normal
• Tidak keringetan
Negatif:
• Waspada
• Denyut jantung jadi cepat
Efek Psikologis
Positif:
• Tenang
Negatif:
• Takut
12 Berkomunikasi Kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain • Nilai Vital
• Nilai Moral
• Nilai Spiritual Efek Fisik
Positif:
• Berfungsinya panca indera dengan baik
• Sehat
Negatif:
• Organ tertentu akan kaku
• Tidak ada teman
Efek Psikologis:
Positif:
• Tenang
• Nyaman
• Senang
Negatif
• Menarik diri
• Kurang interaksi
13 Kebutuhan Spiritual Kebuthan jiwa/ bathin • Nilai Spiritual
• Nilai Kebenaran Efek Fisik
Positif:
• Sehat
Negatif:
• Sakit
Efek Psikologis
Positif:
• Tenang
• Nyaman
• Damai
Negatif:
• Merasa bersalah
14 Kebutuhan bekerja Kebutuhan manusia untuk mencari penghasilan guna memenuhi kebutuhan • Nilai Vital
• Nilai Material
• Nilai Spiritual Efek Fisik
Positif:
• Dapat memenuhi kebutuhan
• Jarang sakit
Negatif:
• Hidupnya Susah
Efek Psikologis
Positif:
• Tenang
• Bisa bayar zakat
Negatif:
• Stress
• Tidak nyaman
II.5 Konflik Nilai dalam Situasi Asuhan Keperawatan
Konflik adalah suatu perselisihan atau perjuangan yang timbul bila keseimbangan antara perasaan, pikiran, hasrat, dan perilaku seseorang terancam (Deutsch, 1969, dalam La Monica,1998). Definisi lain konflik adalah perjuangan diantara kekuatan-kekuatan interdependen (Douglass dan Bevis, 1979 dalam La Monica,1998). Jadi, konflik merupakan suatu keadaan dimana terjadi adanya pertentangan antara dua atau beberapa kekuatan yang berlawanan. Umumnya kekuatan yang dimaksud bersumber dari keinginan manusia.
Konflik ini sering terjadi dalam setiap tatanan asuhan keperawatan sehingga perawat sebagai seorang manager harus memiliki dua asumsi dasar mengenai konflik yaitu:
a. Konflik adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam suatu organisasi,
b. Jika konflik dapat kelola dengan baik, konflik dapat menghasilkan suatu kualitas produksi, penyelesaian yang kreatif dan berdampak terhadap peningkatan dan pengembangan (Nursalam, 2002).
Terjadinya konflik dalam setiap situasi seperti dalam asuhan keperawatan dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu:
1. Faktor Internal
Faktor internal ini meliputi:
a. Karakteristik kepribadian
b. Sistem nilai dan keyakinan yang dimiliki
c. Kebutuhan
d. Perbedaan persepsi
2. Faktor Eksternal
Faktor Eksternal yang mempengaruhi terjadinya konflik meliputi:
a. Keterbatasan sumber daya
b. Kekaburan peraturan
c. Derajat ketergantungan
Dari berbagai macam faktor yang mempengaruhi terjadinya konflik yang telah disebutkan di atas, sistem nilai dan keyakinan yang dimiliki seseorang adalah salah satu faktor yang dapat menyebabkan konflik. Kluckhon, 1951; Maslow,1959;Rokeach, 1973 dalam Fundamental Keperawatan, menyebutkan bahwa nilai adalah keyakinan personal mengenai harga atas suatu ide, tingkah laku, kebiasaan atau objek yang menyusun suatu standar yang mempengaruhi tingkah laku lain. Nilai setiap orang berbeda-beda tergantung dengan perkembangan dan perubahan seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang menjadi lebih dewasa. Seseorang yang sudah dapat mendefinisikan nilai dengan baik merasa tidak frustasi dan terhindar dari konflik dalam menghadapi kehidupan sehari-hari (Potter & Perry: 1985).
Nilai atau keyakinan dapat menyebabkan terjadinya konflik atau yang lebih dikenal dengan konflik nilai. Konflik nilai terjadi karena adanya perbedaan nilai atau keyakinan yang dianut oleh pihak-pihak terkait. Konflik nilai muncul ketika orang berusaha untuk memaksakan suatu sistem nilai kepada yang lain, atau mengklaim suatu sistem nilai yang eksklusif di mana di dalamnya tidak dimungkinkan adanya perbedaan kepercayaan. Padahal, seharusnya perbedaan nilai tidak harus menyebabkan konflik asalkan manusia dapat hidup berdampingan dengan sedikit adanya perbedaan sistem nilai yang dianut (PP LAKPESDAM NU: 2008)
Menurut Craven & Hirnle tahun 2000, disebutkan bahwa konflik nilai ini akan terjadi kapanpun ketika ada interaksi antara manusia baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam situasi asuhan keperawatan. Konflik nilai yang terjadi dalam situasi asuhan keperawatan dapat diatasi jika perawat dapat peka terhadap nilai pribadinya dan juga nilai yang dimiliki oleh orang lain (klien). Selain itu, perawat juga harus mampu untuk menghargai dan menerima perbedaan . Dengan terjadinya konflik nilai antara perawat dan klien dapat mempengaruhi kepatuhan klien dalam asuhan keperawatan yang diberikan.
Konflik nilai dalam situasi asuhan keperawatan terdiri dari dua macam yaitu,
a. Konflik yang terjadi antara klien dan keluarga
Konflik nilai antar anggota keluarga terjadi karena adanya perbedaan dalam tahap perkembangan, pengalaman dan kesenangan pribadi. Sebagai contoh adalah sesuai dengan pengalaman seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan yang dianutnya, mungkin dapat terjadi penolakan salah satu anggota keluarga untuk melakukan check up kesehatan sebelum sakit dan merasa hal tersebut tidak perlu untuk dilakukan. Hal ini mungkin dapat terjadi karena nilai tradisi yang dianut, kontrol pribadi, kebebasan seseorang dan juga resiko yang dipandang berlebihan dibandingkan dengan tindakan pencegahan yang biasanya. Namun, salah satu anggota keluarganya tidak sependapat dengan hal tersebut dan menganggap bahwa chek up itu penting sehingga terjadi lah konflik di dalamnya. Oleh karena itu, diperlukan peran perawat dalam membantu anggota keluarga untuk menggali tentang riwayat kesehatan dan kebutuhan yang diperlukan klien dibandingkan tetap melanjutkan perdebatan mengenai pentingnya chek up.
Idealnya, perawat dapat membantu masing-masing anggota keluarga dalam mengatur tujuan kesehatan yang hendak dicapai oleh masing-masing individu. Selain itu, perawat juga harus membantu keluarga untuk mewujudkan nilai yang tepat melalui sharing, saling mendengarkan, saling percaya dan bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan.
b. Konflik yang terjadi antara klien dan pelayanan kesehatan
Area konflik antara klien dan penyedia pelayanan kesehatan dapat terjadi karena adanya perbedaan pengetahuan, perbedaan budaya, perbedaan perkembangan dan kesenangan pribadi yang berbeda-beda. Sebagai contoh adalah dalam kasus keluarga yang neneknya baru saja meninggal, orang tua mungkin lebih suka kalau anak bungsunya yang masih kecil tidak hadir dalam pemakaman. Hal ini terjadi karena keyakinan orang tua yang beranggapan bahwa anak-anak tidak mengerti tentang kematian dan mungkin sangat susah bagi mereka kalau kematian adalah hal yang traumatic. Selain itu, orang tua juga ingin untuk melindungi atau menjaga perasaan anak-anaknya dari perasaan sedih.
Ada hal yang perlu ditekankan ketika terjadi suatu konflik yaitu, konflik perlu diselesaikan bukan untuk terus dibiarkan.Ketika menghadapi konflik nilai yang terjadi, terdapat dua sikap yang ditunjukkan oleh perawat yaitu sikap negative dan positif terhadap konflik yang terjadi. Ketika perawat menunjukkan sikap yang negative, perawat akan lebih merasakan bahwa dirinya terancam sehingga muncul banyak pertanyaan dalam dirinya. Sebaliknya, jika perawat dapat menunjukkan sikap yang positif, maka nilai-nilai yang muncul dalam diri perawat adalah rasa menghormati, care, seimbang dan lain sebagainya.
Salah satu cara untuk mengatasi konflik nilai yang terjadi dalam asuhan keperawatan adalah dengan adanya resolusi konflik. Oleh karena itu, tujuan yang paling utama yang diberikan oleh perawat adalah menemani atau membantu klien untuk menggali dan mendefinisikan masalah yang relevan, perilaku dan keyakinan mereka. Klarifikasi atau penjelasan ini mungkin adalah suatu resolusi atau mungkin menjadi tahap pertama dalam proses resolusi ( Craven & Hirnle:2000).
Definisi kedua tentang resolusi adalah resolusi terjadi karena menjawab suatu pertanyaan. Klien mungkin memiliki banyak pertanyaan yang berhubungan dengan kasus yang mereka alami. Peran perawat yang mungkin bisa menjadi resolusi dari konflik nilai yang terjadi adalah dengan menawarkan diri siap membantu klien, dengan cara bertanya kepada klien apakah klien ada hal yang ingin ditanyakan atau tidak. Definisi lain resolusi adalah resolusi melibatkan atau menentukan tindakan selanjutnya. Definisi keempat mengenai resolusi adalah resolusi melibatkan pemecahan masalah. Mungkin perawat dan klien dapat setuju dengan beberapa situasi yang memfasilitasi untuk terjadinya penyelesaian konflik nilai di antara mereka.
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Nilai merupakan keyakinan personal mengenai harga atas suatu ide, tingkah laku, kebiasaan atau objek yang menyusun suatu standar yang mempengaruhi tingkah laku lain. Nilai yang dianut setiap orang berbeda-beda. Nilai akan membentuk suatu pola nilai dan keyakinan karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal yang meliputi pengalaman, pendidikan, emosi, pertimbangan, falsafah hidup, agama, observasi dan persepsi dan eksternal yang meliputi budaya, keluarga, masyarakat dan teknologi, bersumber dari spiritual, personal dan sosial seseorang. Dengan adanya faktor dan sumber nilai tadi akan membentuk suatu keyakinan yang akhirnya terbentuklah nilai yang melekat pada diri seseorang. Nilai yang telah dianut oleh seseorang ini akan menimbulkan efek nilai pada kesehatan fungsional. Selain itu, jika nilai yang di anutnya berbenturan dengan nilai orang lain akan menimbulkan suatu konflik nilai. Akan tetapi, konflik nilai yang terjadi tidak boleh dibiarkan saja, tetapi harus diselesaikan. Salah satu cara untuk menyelesaikan konflik nilai adalah dengan resolusi atau klarifikasi nilai.
III.2 Saran
Nilai dan keyakinan yang dianut oleh setiap orang tidak sama. Begitu pula yang di anut oleh perawat dan klien. Sering terjadi konflik apabila masing-masing orang mempertahankan nilai masing-masing tanpa menghargai nilai orang lain. Oleh karena itu, adanya perbedaan nilai dan keyakina yang dianut bukanlah suatu hal yang harus diperdebatkan, tetapi harus saling menghargai nilai masing-masing. Oleh karena itu, perlu adanya klarifikasi nilai dalam setiap individu sebelum mereka berinteraksi dengan orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Budiyanto. 2002. Kewarganegaraan SMA kelas XI. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Danandjaja, A.1985. Pola Sistem Nilai Para Manajer di Indonesia. Jakarta : Disertasi Psikologi F. Psikologi Universitas Indonesia.
Feather, N. T. 1994. Psychology and Culture. (hal: 183 - 189). Massachusetts: Allyn & Bacon.
Grube, J. W. 1982. Can Values Be Manipulated Arbitrarily ? A Replication that Controls for Regression Effects. Personality and Psychology Bulettin, 8, 528 – 533.
Joomla. “Aspek Nilai.” Style Sheet: http://rumahbelajarpsikologi.com. (28 Oktober 2009).
Mubarok, Z., Hasyim, H., Dewi, I & Harsono, A. 2008. Manusia, akhlak, budi pekerti dan masyarakat. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI.
Mustikasari. “Analisa Kesadaran Diri Perawat.” Style Sheet: http://www.inna-ppni.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=117. (28 Oktober 2009).
Potter, A. & Perry, A. G. 1997. Fundamental of nursing; concepts, process and Practice. Jakarta:EGC.
Rokeach, M. 1973. The Nature of Human Values. New York: The Free Press.
Schwartz, S. H,. Verkasalo, M., Antonovsky, A., Sagiv, L. 1997. Value Priorities and Social Desirability: Much Substance. British Journal of Social Psychology, 36, 3 – 18.
Potter, P.A. & Perry, A.G.(1985).Fundamentals Of Nursing: concepts, Process, and Practice. St Louis: The C.V. Mosby Company.
Craven, R.F & Hirnle, C.J. (2000). Fundamentals of Nursing : Human Health And Function . Philadelphia: Lippincott.
Anonym.” Resolusi Konflik: Kerangka Kerja Membangun Perdamaian”. Style sheet: http://www.conflictanddevelopment.org/data/PCF%20material/CRT/leader/Bab%204-%20Memahami%20Konflik%20dalam%20Masyarakat_BB.pdf (diakses tanggal 28 Oktober 2009)
Potter, P.A. & Perry, A.G. (2006). Fundamentals Of Nursing: concepts, Process, and Practice. Terj. Komalasari, Renata dkk. Volume 1. 4 th Ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Lakpesdam NU.”Panduan Praktis Sistem Peringatan dan Tanggapan Dini Konflik Berbasis Tokoh Agama dan Adat”. Style sheet: http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=159. (2008)
Rahayu Wijayanti. “ Manajemen Konflik” Style Sheet: http://wangmuba.com/2009/02/16/manajemen-konflik/ (16 februari 2009)
PENDAHULUAN
I.1 Latar belakang
Setiap manusia di muak bumi ini selalu berinteraksi satu sama lain. Tak dapat dipungkiri bahwa interaksi tersebut terus terjadi dan tidak seorang pun dapat menghindari interaksi ini. Hal ini merupakan kodrat seorang manusia bahwa mereka diciptakan untuk saling membantu antar sesame dan tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
Interaksi yang terjadi ini juga tidak dapat dihindari oleh perawat dengan klien. Perawat dan klien senantiasa berinterkasi kapan pun dan di manapun ketika asuhan keperawatan sedang diberikan perawat kepada klien. Interaksi ini tidak hanya terjadi dengan orang yang memiliki karakteristik atau budaya yang sama dengan perawat. Namun, terjadi dengan banyak pihak yang memiliki nilai dan keyakinan yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh berbagai macam hal. Tak dapat dipungkiri konflik sering terjadi dalam interaksi ini. Oleh karena itu, diperlukan suatu pemahaman mengenai konsep umum dari nilai keyakinan. Dengan demikian diharapkan, perawat dapat lebih peka terhadap nilai dan keyakinan yang di anut oleh klien dan orang lain. Untuk itu, dalam makalah ini kami mencoba untuk membahas mengenai konsep umum nilai dan keyakinan.
I.2 Rumusan Masalah
Masalah yang kami coba untuk dibahas dalam makalah ini adalah mengenai konsep umum dari nilai dan keyakinan yang meliputi:
a. Pola Nilai dan Keyakinan
b. Sumber-sumber nilai dan keyakinan
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai dan keyakinan
d. Efek Nilai dalam kesehatan fungsional
e. Konflik nilai dalam situasi asuhan keperawatan
I.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memahami konsep umum nilai dan keyakinan yang meliputi:
a. Pola Nilai dan keyakinan
b. Sumber-sumber nilai dan keyakinan
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai dan keyakinan
d. Efek nilai dalam kesehatan fungsional
e. Konflik nilai dalam situasi asuhan keperawatan
I.4 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah dengan menggunakan metode studi pustaka yaitu dengan cara mencari materi yang sesuai dengan topic yang dibahas melalui literature-literature baik buku maupun internet.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Pola Nilai dan Keyakinan
a. Pengertian Nilai
Nilai merupakan konsep yang dibentuk akibat dari penampilan kehidupan keluarga, teman, budaya, pendidikan, pekerjaan dan istirahat. Nilai tergantung individu dalam mempersepsikannya. Nilai antara positif dan negatif sangat berbeda. Masyarakat lebih cenderung menyukai nilai yang berasal dari keyakinan agama, kedekatan keluarga, pandangan seksual, kelompok etnik lainnya, dan keyakinan akan peran jenis kelamin. Ada 7 kriteria yang digunakan untuk mengartikan nilai yaitu: kehendak lebih pada kemampuan kognitif, proses pendewasaan nilai, berubah-ubah dan fleksibel, penampilan nilai, penampilan diri memberikan informasi tentang nilai, secara psikologi kedewasaan orang dewasa karena adanya kepercayaan diri dan kearifan/kebijaksanaan dan proses nilai seseorang dimulai dengan keterbukaan akan kesiapan penampilan.
b. Bentuk- Bentuk Nilai
Nilai dapat dibedakan menjadi tiga sebagai berikut:
1. Nilai Material, segala sesuatu yang berguna bagi unsure manusia
2. Nilai Vital, segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk melakukan aktifitas hidupnya.
3. Nilai Kerohanian, segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai Kerohanian dibedakan menjadi 4 yaitu:
a. Nilai Kebenaran yaitu nilai yang bersumber dari akal manusia(rasio, budi dan cipta)
b. Nilai Keindahan yaitu nilai yang bersumber dari unsur manusia (perasaan dan estetika).
c. Nilai Moral yaitu nilai yang bersumber dari unsure kehendak dan kemauan(karsa dan Etika).
d. Nilai Religius yaitu nilai Ketuhanan, kerohanian yang tinggi dan mutlak yang bersumber dari keyakinan dan kepercayaan manusia(Budiyanto. 2002).
Sedangkan menurut Mubarok, Z. dkk. (2008) Nilai dibagi secara garis besar kedalam dua bentuk yaitu nilai spiritual(nilai yang berhubungan dengan rohani manusia) dan nilai kemanusiaan(nilai yang berhubungan dengan setiap permasalahan hidup manusia yang bersifat universal.
c. Fungsi Nilai
Fungsi utama dari nilai dapat dijelaskan sebagai berikut:
1). Nilai sebagai standar (Rokeach, 1973; Schwartz, 1997), fungsinya adalah:
• Membimbing individu dalam mengambil posisi tertentu dalam social issues tertentu
• Mempengaruhi individu untuk lebih menyukai ideologi politik tertentu dibanding ideologi politik yang lain.
• Mengarahkan cara menampilkan diri pada orang lain.
• Melakukan evaluasi dan membuat keputusan.
• Mengarahkan tampilan tingkah laku membujuk dan mempengaruhi orang lain, memberitahu individu akan keyakinan,
2). Sistim nilai sebagai rencana umum dalam memecahkan konflik dan pengambilan keputusan (Feather, 1994; Rokeach, 1973; Schwartz, 1997).
3). Fungsi motivasional
d. Nilai Sebagai Keyakinan (Belief)
Definisi nilai adalah keyakinan (Rokeach, 1973; Schwartz, 1997; Feather, 1994). Nilai itu sendiri merupakan keyakinan yang tergolong preskriptif atau proskriptif, yaitu beberapa cara atau akhir tindakan dinilai sebagai diinginkan atau tidak diinginkan. Rokeach(1973) mengemukakan bahwa keyakinan, dalam konsep Rokeach, bukan hanya pemahaman dalam suatu skema konseptual, tapi juga predisposisi untuk bertingkah laku yang sesuai dengan perasaan terhadap obyek dari keyakinan tersebut.
Rokeach (1973) dikatakan, sebagai keyakinan, nilai memiliki aspek kognitif, afektif dan tingkah laku dengan penjelasan sebagai berikut:
- Nilai meliputi kognisi tentang apa yang diinginkan, menjelaskan pengetahuan, opini dan pemikiran individu tentang apa yang diinginkan.
- Nilai meliputi afektif, di mana individu atau kelompok memiliki emosi terhadap apa yang diinginkan, sehingga nilai menjelaskan perasaan individu atau kelompok terhadap apa yang diinginkan itu.
- Nilai memiliki komponen tingkah laku, artinya nilai merupakan variabel yang berpengaruh dalam mengarahkan tingkah laku yang ditampilkan.
Sikap (attitude) adalah keyakinan yang menempati posisi periferal/tepi atau paling rendah Sikap merupakan suatu organisasi dari keyakinan-keyakinan sehari-hari tentang obyek atau situasi. Perubahan sikap hanya memiliki pengaruh yang terbatas pada tingkah laku.
Nilai (value) adalah keyakinan berikutnya yang lebih sentral. Nilai melampaui suatu obyek dan situasi tertentu. Nilai memegang peranan penting karena merupakan representasi kognitif dari kebutuhan individu di satu sisi dan tuntutan sosial di sisi lain.
Konsep diri (self-conceptions) adalah keyakinan sentral. Menurut Rokeach(1973) konsep diri adalah keseluruhan konsepsi individu tentang dirinya yang meliputi organisasi semua kognisi dan konotasi afektif yang berupaya menjawab pertanyaan "Siapa diri saya ini?”
e. Hubungan Nilai dan Tingkah Laku
Di dalam kehidupan manusia, nilai berperan sebagai standar yang mengarahkan tingkah laku. Nilai membimbing individu untuk memasuki suatu situasi dan bagaimana individu bertingkah laku dalam situasi tersebut (Rokeach, 1973). Danandjaja (1985) mengemukakan bahwa nilai memberi arah pada sikap, keyakinan dan tingkah laku seseorang, serta memberi pedoman untuk memilih tingkah laku yang diinginkan pada setiap individu. Karenanya nilai berpengaruh pada tingkah laku sebagai dampak dari pembentukan sikap dan keyakinan, sehingga dapat dikatakan bahwa nilai merupakan faktor penentu dalam berbagai tingkah laku sosial (Rokeach, 1973; Danandjaja, 1985).
f. Klarifikasi Nilai(value)
Klarifikasi nilai-nilai merupakan suatu proses dimana seseorang dapat mengerti sistem nilai-nilai yang melekat pada dirinya sendiri. Hal ini merupakan proses yang memungkinkan seseorang menemukan sistem perilakunya sendiri melalui perasaan dan analisis yang dipilihnya dan muncul alternatif-alternatif, apakah pilihan–pilihan ini yang sudah dianalisis secara rasional atau merupakan hasil dari suatu kondisi sebelumnya. Ada tiga fase dalam klarifikasi nilai-nilai individu yang perlu dipahami oleh perawat.
Pilihan: (1) Kebebasan memilih kepercayaan serta menghargai keunikan bagi setiap individu; (2) Perbedaan dalam kenyataan hidup selalu ada perbedaan-perbedaan, asuhan yang diberikan bukan hanya karena martabat seseorang tetapi hendaknya perlakuan yang diberikan mempertimbangkan sebagaimana kita ingin diperlakukan. (3) Keyakinan bahwa penghormatan terhadap martabat seseorang akan merupakan konsekuensi terbaik bagi semua masyarakat.
Penghargaan: (1) Merasa bangga dan bahagia dengan pilihannya sendiri (anda akan merasa senang bila mengetahui bahwa asuhan yang anda berikan dihargai pasen atau klien serta sejawat) atau supervisor memberikan pujian atas keterampilan hubungan interpersonal yang dilakukan; (2) Dapat mempertahankan nilai-nilai tersebut bila ada seseorang yang tidak bersedia memperhatikan martabat manusia sebagaimana mestinya.
Tindakan (1) Gabungkan nilai-nilai tersebut kedalam kehidupan atau pekerjaan sehari-hari; (2) Upayakan selalu konsisten untuk menghargai martabat manusia dalam kehidupan pribadi dan profesional, sehingga timbul rasa sensitif atas tindakan yang dilakukan(Joomla, 2009).
II.2 Sumber-sumber Nilai
Secara garis besar sumber nilai seseorang adalah spiritual seseorang, personal, dan sosial.
a. Spiritual
Sumber nilai yang pertama adalah spiritual atau religious (Fry & Johnstone, 2002). Keyakinan yang dianut seseorang memiliki nilai-nilai yang berasal dari kepercayaan yang dianutnya. Bagi seseorang yang tidak memiliki kepercayaan, mereka tidak mempercayai adanya Tuhan. Bagi seseorang yang beragama nilai-nilai yang dianutnya tergantung kepercayaan yang diyakininya. Islam meyakini adanya satu Tuhan. Dia adalah Allah SWT. Nilai-nilai Islam bersumber dari Allah SWT. Nilai-nilai tersebut sampai kepada manusia melalui perantaraan malaikat Jibril yang menyampaikan kepada Nabi Muhammad saw untuk dirinya sendiri dan disampaikan kepada umatnya. Sumber nilai yang paling hakiki adalah dari Allah SWT.
b. Personal
Sumber nilai yang kedua adalah dari diri seseorang. Nilai yang telah diterima seseorang diinternalisasikan dan menjadi dasar tingkah lakunya. Nilai-nilai personal adalah hasil observasi terhadap tingkah laku dan sikap orang tua atau keluarga dan interaksi dengan budayanya, agama, dan lingkungan social. Nilai personal ini merefleksikan pengalaman dan intelegensi seseorang. Nilai personal ini diinternalisasikan secara sebagian maupun keseluruhan dan dibutuhkan oleh individu itu sendiri.
c. Sosial
Sumber nilai yang terakhir adalah sosial. Individu memperoleh nilai-nilai ini dari orang tua , teman, dan lingkunagna social lainnya seperti profesinya. Biasanya nialai social merupakan hasil kesepakatan antara kelompok tertentu. Nilai-nilai social meliputi nilai sopan santun, nilai kesusilaan, nilai pancasila (ideology), dan nilai budaya yang bersumber dari budaya (Fry & Johnstone, 2002).
II.3 Faktor Nilai dan Keyakinan
Nilai dan keyakinan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
a). Faktor Internal
Faktor Internal meliputi:
1. Pendidikan atau Tingkat Pengetahuan
Permasalahan ilmu pengetahuan meliputi arti sumber, kebenaran pengetahuan, serta sikap ilmuan itu sendiri sebagai dasar untuk tingkah laku selanjutnya. Sehubungan dengan proses perolehan ilmu penegtahuan dengan metode yang benar dan teruji kebenarannya secara ilmiah, maka ilmu pengetahuan dijadikan sumber yang memberikan motivasi untuk melakukan sebuah perbuatan baik dan berbudi pekerti luhur.
Keyakinan seseorang terhadap kesehatan terbentuk oleh variabel intelektual yang terdiri dari pengetahuan tentang berbagai fungsi tubuh dan penyakit , latar belakang pendidikan, dan pengalaman masa lalu. Kemampuan kognitif akan membentuk cara berfikir seseorang termasuk kemampuan untuk memehami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dan menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk menjaga kesehatan sendirinya.
2. Tahap Perkembangan
Status kesehatan dapat ditentukan oleh faktor usia dalam hal ini adalah pertumbuhan dan perkembangan, dengan demikian setiap rentang usia (bayi-lansia) memiliki pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan yang berbeda-beda. Untuk itulah seorang tenaga kesehatan (perawat) harus mempertimbangkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan klien pada saat melakukan perncanaan tindakan. Contohnya: secara umum seorang anak belum mampu untuk mengenal keseriusan penyakit sehingga perlu dimotivasi untuk mendapatkan penanganan atau mengembangkan perilaku pencegahan penyakit..
3. Persepsi tentang fungsi
Cara seseorang merasakan fungsi fisiknya akan berakibat pada keyakinan terhadap kesehatan dan cara melaksanakannya. Contoh, seseorang dengan kondisi jantung yang kronik merasa bahwa tingkat kesehatan mereka berbeda dengan orang yang tidak pernah mempunyai masalah kesehatan yang berarti. Akibatnya, keyakinan terhadap kesehatan dan cara melaksanakan kesehatan pada masing-masing orang cenderung berbeda-beda. Selain itu, individu yang sudah berhasil sembuh dari penyakit akut yang parah mungkin akan mengubah keyakinan mereka terhadap kesehatan dan cara mereka melaksanakannya.
4. Emosi
Factor emosional juga mempengaruhi keyakinan terhadap kesehatan dan cara melaksanakannya. Seseorang yang mengalami respons stres dalam setiap perubahan hidupnya cenderung berespons terhadap berbagai tanda sakit, mungkin dilakukan dengan cara mengkhawatirkan bahwa penyakit tersebut dapat mengancam kehidupannya.
Seseorang yang secara umum terlihat sangat tenang mungkin mempunyai respons emosional yang kecil selama ia sakit. Seorang individu yang tidak mampu melakukan koping secara emosional terhadap ancaman penyakit mungkin akan menyangkal adanya gejala penyakit pada dirinya dan tidak mau menjalani pengobatan. Contoh: seseorang dengan napas yang terengah-engah dan sering batuk mungkin akan menyalahkan cuaca dingin jika ia secara emosional tidak dapat menerima kemungkinan menderita penyakit saluran pernapasan.
5. Spiritual atau Agama
Setiap orang mempunyai kebutuhan fundamental sesuai dengan fitrahnya yang memiliki jasmani dan rohani, apabila dikaitkan dengan berbagai ragam hubungan manusia dalam kehidupannya, di setiap hubungan tersebut ada hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, manusia dengan manusia lain/ masyarakat, dan manuisa dengan dirinya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan rohaninya manusia melaksanakan nilai spiritual dalam kehidupannya.
Agama sebagai keyakinan dapat menjadi bagian dan inti dari system-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, dan menjadi pendorong dan penggerak serta pengontrol bagi tindakan-tindakan para anggota masayarakat tersebut tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran-ajaran agamanya. Pengaruh ajaran agama itu sangat kuat terhadap sistem-sistem nilai dari kebudayaan masyarakat bersangkutan, maka sistem-sistem nilai dari kebudayaan tersebut terwujud sebagai symbol-simbol suci yang maknanya bersumber pada ajaran-ajaran agama yang menjadi acuannya. Dalam keadaan demikian secara langsung atau tidak langsung, etos yang menjadi pedoman dari eksistensi dan kegiatan berbagai pranata yang ada dalam masyarakat dipengaruhi, digerakkan dan diarahkan oleh berbagai sistem nilai yang sumbernya adalah pada agama yang dianutnya dan terwujud dalam kegiatan-kegiatan para warga masyarakatnya sebagai tindakan-tindakan dan karya-karya yang diselimuti oleh simbol-simbol suci.
6. Falsafah Hidup
Falsafah hidup merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang diyakini kebenarnnya, ketepatan dan kemanfaatnya yang kemudian menimbulkan tekad untuk mewujudkannya dalam bentuk sikap, tingkah lalu dan perbuatan. Falsafah atau pandangan hidup bukan timbul seketika atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu yang lama dan terus menerus, sehingga hasil pemikiran itu dapat teruji kebenarannya. Atas dasar ini manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman atau petunjuk yang disebut falsafah atau pandanagn hidup.
7. Observasi, Pertimbangan, Pengalaman
Perjalanan hidup manusia ditandai oleh berbagai pengalamn yang berkisar sekitar dimensi-dimensi: penderitaan-kebahagaian, kegelisahan-harapan, kebencian/prasangka-cinta kasih, ketidakadilan-keadilan, dan lain-lain. Hal ini menumbuhkan kesadaran akan keberadaanya yang berhadapan dengan kenyataan-kenyataan yang tidak terelakkan, suatu dikhotomi asasi kehidupan manusia dalam setiap ragam hubungan yang terbentuk, serta berbagai kemungkinan untuk dipilih dalam menetapakan arah dalam melangkah dan menjadi landasan untuk berpijak.
Pengalaman dan pengetahuan manusia tentang pengenalan alam yang mengitari dirinya, kehidupan budaya yang menlingkupi diri, serta dirinya sendiri, melahirkan suatu pemikiran, gambaran dan gagasan tentang kesemestaan dunia dan kedudukan manusia di dalamnya. Inti dari pemikiran/gambaran/gagasan tersebut membentuk pendirian dan keyakinan manusia tentang arti hidup, tugas dan tanggung jawabnya sebagai manusia. Hal ini terwujud dalam suatu sikap atau panadanga hidup yang menuntunnya kea rah perbuatan-perbuatan tertentu dalam hubungnnya dengan tuhan, alam sekitar, massyarakat, sesame manusia, dan dengan dirinya sendiri.
Seorang individu akan mengobservasi tingkah laku dari lingkungan tertentu dan mencatat respons yang dihasilkan. Tingkah laku yang berhasil atau produktif kemudian akan dapat diadopsi sebagai panduan untuk melakukannya. Misalnya, ketika anak-anak untuk pertama kalinya memasuki sekolah, mereka mengobservasi respons positif guru yang diberikan pada murid yang telah menyelesaikan tugas mereka dengan baik dan tepat waktu.
b). Faktor Eksternal
Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi nilai dan keyakinan meliputi:
1. Keluarga
Nilai menjadi bagian dari sosialisasi individu dalam keluarga, pekerjaan, tempat ibadah, berbagai kelompok sosial lainnya. Ketika anak-anak mengamati orang tua, keluarga dan teman, mereka menerima tingkah laku yang akan yang akan membentuk dasar sistem nilai mereka. Pembentukan kejujuran merupakan salah satu contoh, orang yang mempengaruhi anak kecil umumnya tidak sadar bahwa mereka telah mentransmisikan nilai.
Manusia sebagai mahluk individu dan juga sebagai mahluk sosial membutuhkan adanya ikatan antara individu dengan individu dan antara individu dengan masyarakat. Dalam hubungan keterikatan ini manuisa membanguan sebuah keluarga yang menjalin perbedaan karakter dan kepribadian menjadi satu kesepakatan bersama. Keluarga disebut sebagai institusi sosial yang di dalamnya terdapat banyak nilai norma yang mengatur kehidupan bersama. Kelurga sebagai unit terkecil dari masyarakat, menjadi media yang sangat signifikan dalam membudayakan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti yang terpuji.
2. Masyarakat
Masyarakat merupakan suatu komunitas yang lebih luas dari sebuah keluarga.Dalam kehidupan masyarakat terdapat banyak nilai yang diyakini kebenarannya kemudian dijadikan falsafah hidup dipakai sebagai sumber dalam berprilaku.
3. Teknologi
Teknologi yang berkembang pesat meliputi berbagai bidang kehidupan manusia. Masa sekarang tampaknya sulit memisahkan kehidupan manusia dengan teknologi, bahkan sudah merupakan kebutuhan manusia. Teknologi telah menguasai seluruh sector kehidupan manusia. Manusia semakin harus beradapatasi dengan dunia teknologi dan tidak ada lagi unsure pribadi manusia yang bebas dari pengaruh teknik. Pada masyarakat teknologi, ada tendendi bahwa kemajuan adalah suatu proses dehumanisasi secara perlahan-lahan sampai akhirnya manusia takluk pada teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi erat hubungannya dengan nilai dan moral.
4. Budaya
Dalam lingkup budaya yang lebih besar, mungkin terdapat kelompok masyarakat yang lebih kecil, budaya dengan nilai yang cukup khas yang membuat mereka berbeda dengan kelompok yang dominan. Orang mengambil berbagai nilai budaya dominan di mana mereka hidup. Karena orang belajar untuk menilai apa yang umum, kebiasaan, tingkah laku, ritual, dan sikap orang lain yang tidak umum seringkali dianggap bodoh, tidak efektif atau bahkan berbahaya. Hal ini juga berlaku dalam praktik perawatan kesehatan.
Budaya adalah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, aturan-aturan dan norma-norma yang melingkupi suatu kelompok masyarakat akan mempengaruhi sikap dan tindakan individu dalam masyarakat tersebut. Sikap dan tindakan individu dalam suatu masyarakat dalam beberapa hal yang berkaitan dengan nilai, keyakinan aturan dan norma akan menimbulkan sikap dan tindakan yang cenderung homogen. Artinya, jika setiap individu mengacu pada nilai, keyakinan, aturan dan norma kelompok, maka sikap dan perilaku mereka akan cenderung seragam. Misalnya dalam suatu masyarakat ada aturan mengenai bagaimana melakukan pernikahan sehingga laki-laki dan perempuan dapat disahkan sebagai suami istri. Ketika anggota masyarakat akan menikah, maka proses yang dilalui oleh anggota masyarakat itu akan cenderung sama dengan anggota masyarakat yang lainnya.
Setiap kelompok masyarakat tertentu akan mempunyai cara yang berbeda dalam menjalani kehidupannya dengan sekelompok masyarakat yang lainnya. Cara-cara menjalani kehidupan sekelompok masyarakat dapat didefinisikan sebagai budaya masyarakat tersebut. Satu definisi klasik mengenai budaya adalah sebagai berikut: "budaya adalah seperangkat pola perilaku yang secara sosial dialirkan secara simbolis melalui bahasa dan cara-cara lain pada anggota dari masyarakat tertentu (Wallendorf & Reilly dalam Mowen: 1995)".
Definisi di atas menunjukkan bahwa budaya merupakan cara menjalani hidup dari suatu masyarakat yang ditransmisikan pada anggota masyarakatnya dari generasi ke generasi berikutnya. Proses transmisi dari generasi ke generasi tersebut dalam perjalanannya mengalami berbagai proses distorsi dan penetrasi budaya lain. Hal ini dimungkinkan karena informasi dan mobilitas anggota suatu masyarakat dengan anggota masyarakat yang lainnya mengalir tanpa hambatan.
Interaksi antar anggota masyarakat yang berbeda latar belakang budayanya semakin intens. Oleh karena itu, dalam proses transmisi budaya dari generasi ke generasi, proses adaptasi budaya lain sangat dimungkinkan. Misalnya proses difusi budaya populer di Indonesia terjadi sepanjang waktu. Kita bisa melihat bagaimana remaja-remaja di Indonesia meniru dan menjalani budaya populer dari negara-negara Barat, sehingga budaya Indonesia sudah tidak lagi dijadikan dasar dalam bersikap dan berperilaku. Proses seperti inilah yang disebut bahwa budaya mengalami adaptasi dan penetrasi budaya lain. Dalam hal-hal tertentu adaptasi budaya membawa kebaikan, tetapi di sisi lain proses adaptasi budaya luar menunjukkan adanya rasa tidak percaya diri dari anggota masyarakat terhadap budaya sendiri. Agar budaya terus berkembang, proses adaptasi seperti dijelaskan di atas terus perlu dilakukan. Paradigma yang berkembang adalah bahwa budaya itu dinamis dan dapat merupakan hasil proses belajar, sehingga budaya suatu masyarakat tidak hadir dengan sendirinya. Proses belajar dan mempelajari budaya sendiri dalam suatu masyarakat disebut enkulturasi (enculturati). Enkulturasi menyebabkan budaya masyarakat tertentu akan bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya sebuah masyarakat yang cenderung sulit menerima hal-hal baru dalam masyarakat dan cenderung mempertahankan budaya lama yang sudah tidak relevan lagi disebut sebagai akulturasi (acculturation).
Budaya yang ada dalam sekelompok masyarakat merupakan seperangkat aturan dan cara-cara hidup. Dengan adanya aturan dan cara hidup/ anggota dituntun untuk menjalani kehidupan yang serasi. Masyarakat diperkenalkan pada adanya baik-buruk, benar-salah dan adanya harapan-harapan hidup. Dengan aturan seperti itu orang akan mempunyai pijakan bersikap dan bertindak. Jika tindakan yang dilakukan memenuhi aturan yang telah digariskan, maka akan timbul perasaan puas dalam dirinya dalam menjalani kehidupan. Rasa bahagia akan juga dirasakan oleh anggota masyarakat jika dia mampu memenuhi persyaratan-persyaratan sosialnya. Orang akan sangat bahagia jika mampu bertindak baik menurut aturan budayanya. Oleh karena itu, budaya merupakan sarana untuk memuaskan kebutuhan anggota masyarakatnya.
5. Sosiekonomi
Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit dan mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan bereaksi terhadap penyakitnya. Variabel psikososial mencakup: stabilitas perkawinan, gaya hidup, dan lingkungan kerja. Sesorang biasanya akan mencari dukungan dan persetujuan dari kelompok sosialnya, hal ini akan mempengaruhi keyakinan kesehatan dan cara pelaksanaannya.
II.4 Efek Nilai dalam Kesehatan Fungsional
No Kesehatan fungsional Definisi Nilai-nilai yang terkait Efek/ Respon
1 Bernapas normal Tidak adanya gangguan pada sistem pernapasan • Nilai vital Efek fisik:
positif
• Terlihat lebih segar
• Tidak sesak napas
• Frekuensi pernapasan normal
Negatif
• Ada tanda-tanda sesak napas : peningkatan frekuensi napas dalam satu menit
• Ada napas cuping hidung (cuping hidung ikut bergerak saat bernafas)
• Ada penggunaan otot-otot bantu pernapasan (otot sela iga, otot leher, otot perut)
• Warna kebiruan pada sekitar bibir dan ujung-ujung jari tangan
• Tidak ada gerakan dada
• Tidak ada suara napas
• Tidak dirasakan hembusan napas
• Pasien tidak sadar dan tidak bernapas
Efek Psikologi:
Positif
• Merasa tenang
Negatif
• Merasa Tidak nyaman
2 Kebutuhan nutrisi Zat kimia/ organik dan anorganik yang ditemukan dalam makanana dan diperoleh untuk fungsi tubuh • Nilai material
• Nilai Vital
• Nilai Estetis Efek Fisik:
Positif
• Segar
• Suhu normal
• Kulit jadi sehat
Negatif
• Lemas
• Suhu badan menigkat
• Pucat
Efek Psikologis:
Positif
• Mudah berpikir
• Tenang
Negatif
• Depresi
• Mudah marah
• Penurunan kognitif
3 Eliminasi Berfungsinya sistem ekskresi di tubuh dengan baik • Nilai Vital Efek Fisik:
Positif
• Terlihat lebih segar
• Tidak terjadi retensi urin
Negatif
• Lambung terasa penuh
• Perut terasa sakit
Efek Psikologis:
Positif:
• Merasa lebih nyaman
• Tidak tenang
Negatif:
• Tidak nyaman
• Pikiran melayang
• Susah berkonsentrasi
4 Gerak dan keseimbangan tubuh Kesesuaian antara aktivitas dengan kondisi tubuh • Nilai Vital
• Nilai Material
• Nilai estetika Efek Fisik:
Positif:
• Badan jadi sehat dan segar
• Bisa membantu dalam membentuk tubuh yang bagus dan bugar
Negatif:
• Mudah lelah
• Tidak bersemangat
Efek Psikologis:
Positif:
• Perasaan senang
• Rileks
• Menambah kepercayaan diri
Negatif:
• Mudah tersinggung
• Stres
5 Kebutuhan istirahat dan tidur Berhenti sejenak untuk melakukan aktifitas guna merilekskan otot-otot • Nilai Vital
• Nilai Moral
• Nilai material Efek Fisik:
Positif:
• Segar
• Bersemangat
• Denyut jantung normal
Negatif:
• Di bawah mata tampak garis hitam dan terdapat kantung mata
• Lemes
• Badan pegel-pegel
Efek Psikologis:
Positif:
• Merasa tenang
• Rileks
Negatif:
• Stress
• Susah berkonsentrasi
• Sering lupa
6 Kebutuhan berpakaian Agar dapat melindungi diri dari cuaca • Nilai Material
• Nilai Vital
• Nilai estetika
• Nilai Moral Efek Fisik:
Positif:
• Terlindung dari cuaca
• Menutupi tubuh
Negatif:
• Panas
• Memicu timbulnya kanker kulit
Efek Psikologis:
Positif:
• Nyaman
• Tenang
• Aman
Negatif:
• Malu
7 Koping dan management stress Cara untuk mengatur dan memanagement stress dengan baik • Nilai Vital
• Nilai Spiritual
• Nilai Moral Efek Fisik:
Positif:
• Sehat
• Waras
• Rajin beribadah
Negatif:
• Tidak ceria
Efek psikologis
Positif:
• Tenang
• Rileks
• Mudah berpikir
Negatif:
• Depresi
• Stress
8 Seksual dan reproduksi Terkait dengan penambahan keturunan • Nilai Vital
• Nilai Moral Efek Fisik
Positif:
• Mukanya ceria
• Keturunan bertambah
Negatif:
• Cemberut
Efek Psikologis:
Positif:
• Senang
• Merasa puas
• Pengendalian diri
Negatif:
• Susah mengontrol
• Harga diri rendah
9 Mempertahankan temperature tubuh Keadaan di mana seseorang dapat mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal (36-37o C) • Nilai Vital Efek Fisik
Positif:
• Segar
• Sehat
• Suhu tubuh normal
• Tidak menggigil
Negatif:
• Demam
• Suhu tubuh menigkat
Efek psikologis
Positif:
• Tenang, nyaman
• Mudah berpikir
Negatif:
• Depresi
• Stress
• Mudah lupa
10 Personal Hygiene Untuk mempertahankan atau membantu integriras kulit • Nilai Vital
• Nilai Moral Efek Fisik:
Positif:
• Bersih
• Sehat
Negatif:
• Terasa gatal
• Bau
Efek Psikologis
Positif:
• Nyaman
• Tenang
Negatif:
• Sering menghindar
• Tidak percaya diri
11 Rasa aman dan nyaman Terhindar dari gangguan baik dari alam maupun orang jahat • Nilai Vital
• Nilai Material
• Nilai Vital
• Nilai spiritual Efek Fisik
Positif:
• Tidak gemetar
• Denyut jantung normal
• Tidak keringetan
Negatif:
• Waspada
• Denyut jantung jadi cepat
Efek Psikologis
Positif:
• Tenang
Negatif:
• Takut
12 Berkomunikasi Kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain • Nilai Vital
• Nilai Moral
• Nilai Spiritual Efek Fisik
Positif:
• Berfungsinya panca indera dengan baik
• Sehat
Negatif:
• Organ tertentu akan kaku
• Tidak ada teman
Efek Psikologis:
Positif:
• Tenang
• Nyaman
• Senang
Negatif
• Menarik diri
• Kurang interaksi
13 Kebutuhan Spiritual Kebuthan jiwa/ bathin • Nilai Spiritual
• Nilai Kebenaran Efek Fisik
Positif:
• Sehat
Negatif:
• Sakit
Efek Psikologis
Positif:
• Tenang
• Nyaman
• Damai
Negatif:
• Merasa bersalah
14 Kebutuhan bekerja Kebutuhan manusia untuk mencari penghasilan guna memenuhi kebutuhan • Nilai Vital
• Nilai Material
• Nilai Spiritual Efek Fisik
Positif:
• Dapat memenuhi kebutuhan
• Jarang sakit
Negatif:
• Hidupnya Susah
Efek Psikologis
Positif:
• Tenang
• Bisa bayar zakat
Negatif:
• Stress
• Tidak nyaman
II.5 Konflik Nilai dalam Situasi Asuhan Keperawatan
Konflik adalah suatu perselisihan atau perjuangan yang timbul bila keseimbangan antara perasaan, pikiran, hasrat, dan perilaku seseorang terancam (Deutsch, 1969, dalam La Monica,1998). Definisi lain konflik adalah perjuangan diantara kekuatan-kekuatan interdependen (Douglass dan Bevis, 1979 dalam La Monica,1998). Jadi, konflik merupakan suatu keadaan dimana terjadi adanya pertentangan antara dua atau beberapa kekuatan yang berlawanan. Umumnya kekuatan yang dimaksud bersumber dari keinginan manusia.
Konflik ini sering terjadi dalam setiap tatanan asuhan keperawatan sehingga perawat sebagai seorang manager harus memiliki dua asumsi dasar mengenai konflik yaitu:
a. Konflik adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam suatu organisasi,
b. Jika konflik dapat kelola dengan baik, konflik dapat menghasilkan suatu kualitas produksi, penyelesaian yang kreatif dan berdampak terhadap peningkatan dan pengembangan (Nursalam, 2002).
Terjadinya konflik dalam setiap situasi seperti dalam asuhan keperawatan dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu:
1. Faktor Internal
Faktor internal ini meliputi:
a. Karakteristik kepribadian
b. Sistem nilai dan keyakinan yang dimiliki
c. Kebutuhan
d. Perbedaan persepsi
2. Faktor Eksternal
Faktor Eksternal yang mempengaruhi terjadinya konflik meliputi:
a. Keterbatasan sumber daya
b. Kekaburan peraturan
c. Derajat ketergantungan
Dari berbagai macam faktor yang mempengaruhi terjadinya konflik yang telah disebutkan di atas, sistem nilai dan keyakinan yang dimiliki seseorang adalah salah satu faktor yang dapat menyebabkan konflik. Kluckhon, 1951; Maslow,1959;Rokeach, 1973 dalam Fundamental Keperawatan, menyebutkan bahwa nilai adalah keyakinan personal mengenai harga atas suatu ide, tingkah laku, kebiasaan atau objek yang menyusun suatu standar yang mempengaruhi tingkah laku lain. Nilai setiap orang berbeda-beda tergantung dengan perkembangan dan perubahan seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang menjadi lebih dewasa. Seseorang yang sudah dapat mendefinisikan nilai dengan baik merasa tidak frustasi dan terhindar dari konflik dalam menghadapi kehidupan sehari-hari (Potter & Perry: 1985).
Nilai atau keyakinan dapat menyebabkan terjadinya konflik atau yang lebih dikenal dengan konflik nilai. Konflik nilai terjadi karena adanya perbedaan nilai atau keyakinan yang dianut oleh pihak-pihak terkait. Konflik nilai muncul ketika orang berusaha untuk memaksakan suatu sistem nilai kepada yang lain, atau mengklaim suatu sistem nilai yang eksklusif di mana di dalamnya tidak dimungkinkan adanya perbedaan kepercayaan. Padahal, seharusnya perbedaan nilai tidak harus menyebabkan konflik asalkan manusia dapat hidup berdampingan dengan sedikit adanya perbedaan sistem nilai yang dianut (PP LAKPESDAM NU: 2008)
Menurut Craven & Hirnle tahun 2000, disebutkan bahwa konflik nilai ini akan terjadi kapanpun ketika ada interaksi antara manusia baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam situasi asuhan keperawatan. Konflik nilai yang terjadi dalam situasi asuhan keperawatan dapat diatasi jika perawat dapat peka terhadap nilai pribadinya dan juga nilai yang dimiliki oleh orang lain (klien). Selain itu, perawat juga harus mampu untuk menghargai dan menerima perbedaan . Dengan terjadinya konflik nilai antara perawat dan klien dapat mempengaruhi kepatuhan klien dalam asuhan keperawatan yang diberikan.
Konflik nilai dalam situasi asuhan keperawatan terdiri dari dua macam yaitu,
a. Konflik yang terjadi antara klien dan keluarga
Konflik nilai antar anggota keluarga terjadi karena adanya perbedaan dalam tahap perkembangan, pengalaman dan kesenangan pribadi. Sebagai contoh adalah sesuai dengan pengalaman seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan yang dianutnya, mungkin dapat terjadi penolakan salah satu anggota keluarga untuk melakukan check up kesehatan sebelum sakit dan merasa hal tersebut tidak perlu untuk dilakukan. Hal ini mungkin dapat terjadi karena nilai tradisi yang dianut, kontrol pribadi, kebebasan seseorang dan juga resiko yang dipandang berlebihan dibandingkan dengan tindakan pencegahan yang biasanya. Namun, salah satu anggota keluarganya tidak sependapat dengan hal tersebut dan menganggap bahwa chek up itu penting sehingga terjadi lah konflik di dalamnya. Oleh karena itu, diperlukan peran perawat dalam membantu anggota keluarga untuk menggali tentang riwayat kesehatan dan kebutuhan yang diperlukan klien dibandingkan tetap melanjutkan perdebatan mengenai pentingnya chek up.
Idealnya, perawat dapat membantu masing-masing anggota keluarga dalam mengatur tujuan kesehatan yang hendak dicapai oleh masing-masing individu. Selain itu, perawat juga harus membantu keluarga untuk mewujudkan nilai yang tepat melalui sharing, saling mendengarkan, saling percaya dan bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan.
b. Konflik yang terjadi antara klien dan pelayanan kesehatan
Area konflik antara klien dan penyedia pelayanan kesehatan dapat terjadi karena adanya perbedaan pengetahuan, perbedaan budaya, perbedaan perkembangan dan kesenangan pribadi yang berbeda-beda. Sebagai contoh adalah dalam kasus keluarga yang neneknya baru saja meninggal, orang tua mungkin lebih suka kalau anak bungsunya yang masih kecil tidak hadir dalam pemakaman. Hal ini terjadi karena keyakinan orang tua yang beranggapan bahwa anak-anak tidak mengerti tentang kematian dan mungkin sangat susah bagi mereka kalau kematian adalah hal yang traumatic. Selain itu, orang tua juga ingin untuk melindungi atau menjaga perasaan anak-anaknya dari perasaan sedih.
Ada hal yang perlu ditekankan ketika terjadi suatu konflik yaitu, konflik perlu diselesaikan bukan untuk terus dibiarkan.Ketika menghadapi konflik nilai yang terjadi, terdapat dua sikap yang ditunjukkan oleh perawat yaitu sikap negative dan positif terhadap konflik yang terjadi. Ketika perawat menunjukkan sikap yang negative, perawat akan lebih merasakan bahwa dirinya terancam sehingga muncul banyak pertanyaan dalam dirinya. Sebaliknya, jika perawat dapat menunjukkan sikap yang positif, maka nilai-nilai yang muncul dalam diri perawat adalah rasa menghormati, care, seimbang dan lain sebagainya.
Salah satu cara untuk mengatasi konflik nilai yang terjadi dalam asuhan keperawatan adalah dengan adanya resolusi konflik. Oleh karena itu, tujuan yang paling utama yang diberikan oleh perawat adalah menemani atau membantu klien untuk menggali dan mendefinisikan masalah yang relevan, perilaku dan keyakinan mereka. Klarifikasi atau penjelasan ini mungkin adalah suatu resolusi atau mungkin menjadi tahap pertama dalam proses resolusi ( Craven & Hirnle:2000).
Definisi kedua tentang resolusi adalah resolusi terjadi karena menjawab suatu pertanyaan. Klien mungkin memiliki banyak pertanyaan yang berhubungan dengan kasus yang mereka alami. Peran perawat yang mungkin bisa menjadi resolusi dari konflik nilai yang terjadi adalah dengan menawarkan diri siap membantu klien, dengan cara bertanya kepada klien apakah klien ada hal yang ingin ditanyakan atau tidak. Definisi lain resolusi adalah resolusi melibatkan atau menentukan tindakan selanjutnya. Definisi keempat mengenai resolusi adalah resolusi melibatkan pemecahan masalah. Mungkin perawat dan klien dapat setuju dengan beberapa situasi yang memfasilitasi untuk terjadinya penyelesaian konflik nilai di antara mereka.
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Nilai merupakan keyakinan personal mengenai harga atas suatu ide, tingkah laku, kebiasaan atau objek yang menyusun suatu standar yang mempengaruhi tingkah laku lain. Nilai yang dianut setiap orang berbeda-beda. Nilai akan membentuk suatu pola nilai dan keyakinan karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal yang meliputi pengalaman, pendidikan, emosi, pertimbangan, falsafah hidup, agama, observasi dan persepsi dan eksternal yang meliputi budaya, keluarga, masyarakat dan teknologi, bersumber dari spiritual, personal dan sosial seseorang. Dengan adanya faktor dan sumber nilai tadi akan membentuk suatu keyakinan yang akhirnya terbentuklah nilai yang melekat pada diri seseorang. Nilai yang telah dianut oleh seseorang ini akan menimbulkan efek nilai pada kesehatan fungsional. Selain itu, jika nilai yang di anutnya berbenturan dengan nilai orang lain akan menimbulkan suatu konflik nilai. Akan tetapi, konflik nilai yang terjadi tidak boleh dibiarkan saja, tetapi harus diselesaikan. Salah satu cara untuk menyelesaikan konflik nilai adalah dengan resolusi atau klarifikasi nilai.
III.2 Saran
Nilai dan keyakinan yang dianut oleh setiap orang tidak sama. Begitu pula yang di anut oleh perawat dan klien. Sering terjadi konflik apabila masing-masing orang mempertahankan nilai masing-masing tanpa menghargai nilai orang lain. Oleh karena itu, adanya perbedaan nilai dan keyakina yang dianut bukanlah suatu hal yang harus diperdebatkan, tetapi harus saling menghargai nilai masing-masing. Oleh karena itu, perlu adanya klarifikasi nilai dalam setiap individu sebelum mereka berinteraksi dengan orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Budiyanto. 2002. Kewarganegaraan SMA kelas XI. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Danandjaja, A.1985. Pola Sistem Nilai Para Manajer di Indonesia. Jakarta : Disertasi Psikologi F. Psikologi Universitas Indonesia.
Feather, N. T. 1994. Psychology and Culture. (hal: 183 - 189). Massachusetts: Allyn & Bacon.
Grube, J. W. 1982. Can Values Be Manipulated Arbitrarily ? A Replication that Controls for Regression Effects. Personality and Psychology Bulettin, 8, 528 – 533.
Joomla. “Aspek Nilai.” Style Sheet: http://rumahbelajarpsikologi.com. (28 Oktober 2009).
Mubarok, Z., Hasyim, H., Dewi, I & Harsono, A. 2008. Manusia, akhlak, budi pekerti dan masyarakat. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI.
Mustikasari. “Analisa Kesadaran Diri Perawat.” Style Sheet: http://www.inna-ppni.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=117. (28 Oktober 2009).
Potter, A. & Perry, A. G. 1997. Fundamental of nursing; concepts, process and Practice. Jakarta:EGC.
Rokeach, M. 1973. The Nature of Human Values. New York: The Free Press.
Schwartz, S. H,. Verkasalo, M., Antonovsky, A., Sagiv, L. 1997. Value Priorities and Social Desirability: Much Substance. British Journal of Social Psychology, 36, 3 – 18.
Potter, P.A. & Perry, A.G.(1985).Fundamentals Of Nursing: concepts, Process, and Practice. St Louis: The C.V. Mosby Company.
Craven, R.F & Hirnle, C.J. (2000). Fundamentals of Nursing : Human Health And Function . Philadelphia: Lippincott.
Anonym.” Resolusi Konflik: Kerangka Kerja Membangun Perdamaian”. Style sheet: http://www.conflictanddevelopment.org/data/PCF%20material/CRT/leader/Bab%204-%20Memahami%20Konflik%20dalam%20Masyarakat_BB.pdf (diakses tanggal 28 Oktober 2009)
Potter, P.A. & Perry, A.G. (2006). Fundamentals Of Nursing: concepts, Process, and Practice. Terj. Komalasari, Renata dkk. Volume 1. 4 th Ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Lakpesdam NU.”Panduan Praktis Sistem Peringatan dan Tanggapan Dini Konflik Berbasis Tokoh Agama dan Adat”. Style sheet: http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=159. (2008)
Rahayu Wijayanti. “ Manajemen Konflik” Style Sheet: http://wangmuba.com/2009/02/16/manajemen-konflik/ (16 februari 2009)
MAKALAH NILAI & KEYAKINAN
BAB II
PEMBAHASAN
Manusia terdiri dari dimensi fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual dimana setiap dimensi harus dipenuhi kebutuhannya. Seringkali permasalahan yang mucul pada klien ketika mengalami suatu kondisi dengan penyakit tertentu (misalnya penyakit fisik) mengakibatkan terjadinya masalah psikososial dan spiritual. Ketika klien mengalami penyakit, kehilangan dan stres, kekuatan spiritual dapat membantu individu tersebut menuju penyembuhan dan terpenuhinya tujuan dengan atau melalui pemenuhan kebutuhan spiritual. Dengan kata lain apabila satu dimensi terganggu, maka dimensi yang lain akan terganggu.
Penelitan menyebutkan seseorang dinyatakan usianya tinggal beberapa bulan, tetapi karena ia memilki koping yang baik berdasarkan pengalaman agamanya (salah satu sumber dimensi spiritual), ia tetap bahagia menjalani hari-harinya dengan bernyanyi dan ceria, membuat puisi-puisi yang indah. Ternyata orang tersebut mampu bertahan hingga bartahun-tahun. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Pressman, dkk (1990) menunjukkan bahwa wanita lanjut usia yang menderita farktur tulang pinggul yang kuat religi dan pengalaman agamanya, ternyata lebih kuat mental dan kurang mengeluh, depresi, dan lebih cepat berjalan daripada yang tidak mempunyai komitmen agama.Dari hal-hal tersebut diatas dapat dikatakan dimensi spiritual menjadi hal penting sebagai terapi kesehatan. Berikut akan diuraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan konsep kesehatan spiritual.
2.1. Pola Normal Spiritual
Dimensi spiritual adalah sesuatu yang terintegrasi dan berhubungan dengan dimensi yang lain dalam diri seorang individu. Spiritualitas mewakili totalitas keberadaan seseorang dan berfungsi sebagai perspektif pendorong yang menyatukan berbagai aspek individual. Dimensi spiritual merupakan salah satu dimensi penting yang perlu diperhatikan oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada seorang klien. Makhija (2002) menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan personal individu. Keyakinan tersebut diketahui sebagai suatu faktor yang kuat dalam penyembuhan dan pemulihan fisik. Oleh karena itu, menjadi suatu hal penting bagi perawat untuk meningkatkan pemahaman tentang konsep spiritual agar dapat memberikan asuhan spiritual dengan baik kepada klien.
Setiap individu memiliki definisi dan konsep yang berbeda mengenai spiritualitas. Kata-kata yang digunakan untuk menjabarkan spiritualitas termasuk makna, transenden, harapan, cinta, kualitas, hubungan, dan eksistensi (Emblen dalam Potter & Perry, 2005).Setiap individu memiliki pemahaman tersendiri mengenai spiritualitas karena masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda mengenai hal tersebur. Perbedaan definisi dan konsep spiritualitas dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup seseorang, serta persepsi mereka tentang hidup dan kehidupan. Pengaruh tersebut nantinya dapat mengubah pandangan seseorang mengenai konsep spiritulitas dalam dirinya sesuai dengan pemahaman yang ia miliki dan keyakinan yang ia pegang teguh.
Konsep spiritual memiliki arti yang berbeda dengan konsep religius. Banyak perawat dalam praktiknya tidak dapat membedakan kedua konsep tersebut karena menemui kesulitan dalam memahami keduanya. Kedua hal tersebut memang sering digunakan secara bersamaan dan saling berhubungan satu sama lain. Konsep religius biasanya berkaitan dengan pelaksanaan suatu kegiatan atau proses melakukan suatu tindakan. Konsep religius merupakan suatu sistem penyatuan yang spesifik mengenai praktik yang berkaitan bentuk ibadah tertentu. Emblen dalam Potter dan Perry mendefinisikan religi sebagai suatu sistem keyakinan dan ibadah terorganisasi yang dipraktikan seseorang secara jelas menunjukkan spiritualitas mereka.
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa religi adalah proses pelaksanaan suatu kegiatan ibadah yang berkaitan dengan keyakinan tertentu. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan spiritualitas diri mereka. Sedangkan spiritual memiliki konsep yang lebih umum mengenai keyakinan seseorang. Terlepas dari prosesi ibadah yang dilakukan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan tersebut.
Konsep spiritual berkaitan berkaitan dengan nilai, keyakinan, dan kepercayaan seseorang. Kepercayaan itu sendiri memiliki cakupan mulai dari atheisme (penolakan terhadap keberadaan Tuhan) hingga agnotisme (percaya bahwa Tuhan ada dan selalu mengawasi) atau theism (Keyakinan akan Tuhan dalam bentuk personal tanpa bentuk fisik) seperti dalam Kristen dan Islam. Keyakinan merupakan hal yang lebih dalam dari suatu kepercayaan seorang individu. Keyakinan mendasari seseorang untuk bertindak atau berpikir sesuai dengan kepercayaan yang ia ikuti.
Keyakinan dan kepercayaan akan Tuhan biasanya dikaitkan dengan istilah agama. Di dunia ini, banyak agama yang dianut oleh masyarakat sebagai wujud kepercayaan mereka terhadap keberadaan Tuhan. Tiap agama yang ada di dunia memiliki karakteristik yang berbeda mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan dan keyakinan sesuai dengan prinsip yang mereka pegang teguh. Keyakinan tersebut juga mempengaruhi seorang individu untuk menilai sesuatu yang ada sesuai dengan makna dan filosofi yang diyakininya. Sebagai contoh, persepsi seorang Muslim mengenai perawatan kesehatan dan respon penyakit tentunya berbeda dengan persepsi seorang Budhis. Semua itu tergantung konsep spiritual yang dipahami sesuai dengan keyakinan dan keimanan seorang individu. Konsep spiritual yang dianut atau dipahami oleh seorang klien dapat mempengaruhi cara pandang klien mengenai segala sesuatunya, tak terkecuali dalam bidang kesehatan. Paradigma mengenai sakit, tipe-tipe pengobatan yang dilakukan, persepsi mengenai kehidupan dan makna yang terkandung di dalamnya adalah contoh penerapan konsep spiritual secara normal pada diri seorang individu. Ada beberapa agama yang menerapkan pola normal spiritualnya dengan cara:
• Beberapa orang menjadi spiritual setelah usia 40 tahun. Pada satu tingkat pergi ke kuil, menghadiri wacana-wacana dan membaca buku-buku atau kitab-kitab dianggap sangat spiritual.
• Tingkat kedua orang memiliki seorang guru mengikuti tradisi maka mereka memiliki sadhana. Ini adalah zaman baru modern gaya
• Ada tingkat ketiga orang yang mempunyai dewa dan mereka upsana.
• Beberapa praktik seni seperti astrologi atau obat atau tari atau musik dan kemudian mereka menggunakan waktu luang ada dalam sadhana spiritual.
• Beberapa orang menghadiri Bhajan dan kemudian melakukan pelayanan sosial yang juga baik seperi pelayanan kesehatan.
Gambar 1. Pola normal spiritual
Pola normal spiritual sangat erat hubungannya dengan kesehatan, Karena dari pola tersebut dapat menciptakan suatu bentuk perilaku adaptif ataupun maladaptif berhubungan dengan penerimaan kondisi diri (lihat gambar 1). Dimensi spiritual merupakan dimensi yang sangat penting diperhatikan oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada semua klien. Bahkan Makhija (2002) menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan personal individu. Lebih lanjut dikatakannya bahwa keimanan diketahui sebagai suatu faktor yang sangat kuat (powerful) dalam penyembuhan dan pemulihan fisik, yang tidak dapat diukur. Mengingat pentingnya peranan spiritual dalam penyembuhan dan pemulihan kesehatan maka penting bagi perawat untuk meningkatkan pemahaman tentang konsep spiritual agar dapat memberikan asuhan spiritual dengan baik kepada semua klien.
2.2 Perkembangan Aspek Spiritual
Perawat yang bekerja di garis terdepan harus mampu memenuhi semua kebutuhan manusia termasuk juga kebutuhan spiritual klien. Berbagai cara dilakukan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien mulai dari pemenuhan makna dan tujuan spiritual sampai dengan memfasilitasi klien untuk mengekspresikan agama dan keyakinannya. Pemenuhan aspek spiritual pada klien tidak terlepas dari pandangan terhadap lima dimensi manusia yang harus dintegrasikan dalam kehidupan. Lima dimensi tersebut yaitu dimensi fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual (Rawlins, 1993). Dimensi-dimensi tersebut berada dalam suatu sistem yang saling berinterksi, interrelasi, dan interdepensi, sehingga adanya gangguan pada suatu dimensi dapat mengganggu dimensi lainnya.
Perawat harus mengetahui tahap perkembangan spiritual dari manusia, sehingga perawat dapat memberikan asuhan keperawatan dengan tepat dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual klien. Tahap perkembangan klien dimulai dari lahir sampai klien meninggal dunia. Perkembangan spiritual manusia dapat dilihat dari tahap perkembangan mulai dari bayi, anak-anak, pra sekolah, usia sekolah, remaja, desawa muda, dewasa pertengahan, dewasa akhir, dan lanjut usia. Secara umum tanpa memandang aspek tumbuh-kembang manusia proses perkembangan aspek spiritual dilhat dari kemampuan kognitifnya dimulai dari pengenalan, internalisasi, peniruan, aplikasi dan dilanjutkan dengan instropeksi. Namun, berikut akan dibahas pula perkembangan aspek spiritual berdasarkan tumbuh-kembang manusia.
Perkembangan spiritual pada anak sangatlah penting untuk diperhatikan. Manusia sebagai klien dalam keperawatan anak adalah individu yang berusia antara 0-18 bulan, yang sedang dalam proses tumbuh kembang, yang mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial, dan spiritual) yang berbeda dengan orang dewasa. Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungan, artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri.
Tahap awal perkembangan manusia dimulai dari masa perkembangan bayi. Haber (1987) menjelaskan bahwa perkembangan spiritual bayi merupakan dasar untuk perkembangan spiritual selanjutnya. Bayi memang belum memiliki moral untuk mengenal arti spiritual. Keluarga yang spiritualnya baik merupakan sumber dari terbentuknya perkembangan spiritual yang baik pada bayi (Widyatuti, 1999). Oleh karena itu, perawat dapat menjalin kerjasama dengan orang tua bayi tersebut untuk membantu pembentukan nilai-nilai spiritual pada bayi.
Dimensi spiritual mulai menunjukkan perkembangan pada masa kanak-kanak awal (18 bulan-3 tahun). Anak sudah mengalami peningkatan kemampuan kognitif. Anak dapat belajar membandingkan hal yang baik dan buruk untuk melanjuti peran kemandirian yang lebih besar. Tahap perkembangan ini memperlihatkan bahwa anak-anak mulai berlatih untuk berpendapat dan menghormati acara-acara ritual dimana mereka merasa tinggal dengan aman. Observasi kehidupan spiritual anak dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana seperti cara berdoa sebelum tidur dan berdoa sebelum makan, atau cara anak memberi salam dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan lebih merasa senang jika menerima pengalaman-pengalaman baru, termasuk pengalaman spiritual.
Perkembangan spiritual pada anak masa pra sekolah (3-6 tahun) berhubungan erat dengan kondisi psikologis dominannya yaitu super ego. Anak usia pra sekolah mulai memahami kebutuhan sosial, norma, dan harapan, serta berusaha menyesuaikan dengan norma keluarga. Anak tidak hanya membandingkan sesuatu benar atau salah, tetapi membandingkan norma yang dimiliki keluarganya dengan norma keluarga lain. Kebutuhan anak pada masa pra sekolah adalah mengetahui filosofi yang mendasar tentang isu-isu spiritual. Kebutuhan spiritual ini harus diperhatikan karena anak sudah mulai berfikiran konkrit. Mereka kadang sulit menerima penjelasan mengenai Tuhan yang abstrak, bahkan mereka masih kesulitan membedakan Tuhan dan orang tuanya.
Usia sekolah merupakan masa yang paling banyak mengalami peningkatan kualitas kognitif pada anak. Anak usia sekolah (6-12 tahun) berfikir secara konkrit, tetapi mereka sudah dapat menggunakan konsep abstrak untuk memahami gambaran dan makna spriritual dan agama mereka. Minat anak sudah mulai ditunjukan dalam sebuah ide, dan anak dapat diajak berdiskusi dan menjelaskan apakah keyakinan. Orang tua dapat mengevaluasi pemikiran sang anak terhadap dimensi spiritual mereka.
Remaja (12-18 tahun). Pada tahap ini individu sudah mengerti akan arti dan tujuan hidup, Menggunakan pengetahuan misalnya untuk mengambil keputusan saat ini dan yang akan datang. Kepercayaan berkembang dengan mencoba dalam hidup. Remaja menguji nilai dan kepercayaan orang tua mereka dan dapat menolak atau menerimanya. Secara alami, mereka dapat bingung ketika menemukan perilaku dan role model yang tidak konsisten. Pada tahap ini kepercayaan pada kelompok paling tinggi perannya daripada keluarga. Tetapi keyakinan yang diambil dari orang lain biasanya lebih mirip dengan keluarga, walaupun mereka protes dan memberontak saat remaja. Bagi orang tua ini merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja.
Dewasa muda (18-25 tahun). Pada tahap ini individu menjalani proses perkembangannya dengan melanjutkan pencarian identitas spiritual, memikirkan untuk memilih nilai dan kepercayaan mereka yang dipelajari saaat kanak-kanak dan berusaha melaksanakan sistem kepercayaan mereka sendiri. Spiritual bukan merupakan perhatian utama pada usia ini, mereka lebih banyak memudahkan hidup walaupun mereka tidak memungkiri bahwa mereka sudah dewasa.
Dewasa pertengahan (25-38 tahun). Dewasa pertenghan merupakan tahap perkembangan spiritual yang sudah benar-benar mengetahui konsep yang benar dan yang salah, mereka menggunakan keyakinan moral, agama dan etik sebagai dasar dari sistem nilai. Mereka sudah merencanakan kehidupan, mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan terhadap kepercayaan dan nilai spiritual.
Dewasa akhir (38-65 tahun) .Periode perkembangan spiritual pada tahap ini digunakan untuk instropeksi dan mengkaji kembali dimensi spiritual, kemampuan intraspeksi ini sama baik dengan dimensi yang lain dari diri individu tersebut. Biasanya kebanyakan pada tahap ini kebutuhan ritual spiritual meningkat.
Lanjut usia (65 tahun sampai kematian). Pada tahap perkembangan ini, menurut Haber (1987) pada masa ini walaupun membayangkan kematian mereka banyak menggeluti spiritual sebagai isu yang menarik, karena mereka melihat agama sebagai faktor yang mempengaruhi kebahagian dan rasa berguna bagi orang lain. Riset membuktikan orang yang agamanya baik, mempunyai kemungkinan melanjutkan kehidupan lebih baik. Bagi lansia yang agamanya tidak baik menunjukkan tujuan hidup yang kurang, rasa tidak berharga, tidak dicintai, ketidakbebasan dan rasa takut mati. Sedangkan pada lansia yang spiritualnya baik ia tidak takut mati dan dapat lebih mampu untuk menerima kehidupan. Jika merasa cemas terhadap kematian disebabkan cemas pada proses bukan pada kematian itu sendiri.
Dimensi spiritual menjadi bagian yang komprehensif dalam kehidupan manusia. Karena setiap individu pasti memiliki aspek spiritual, walaupun dengan tingkat pengalaman dan pengamalan yang berbeda-beda berdasarkan nilai dan keyaninan mereka yang mereka percaya. Setiap fase dari tahap perkembangan individu menunjukkan perbedaan tingkat atau pengalaman spiritual yang berbeda.
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Spiritual
Kesehatan spiritual adalah komponen penting dari seorang individu yang dimiliki dan sebuah aspek integral dari filosofi kesehatan holistik. Kesehatan spiritual pasti mengalami keadaan yang tidak selalu sehat seperti halnya kesehatan fisik. Secara langsung maupun tidak langsung ada beberapa hal yang mempengaruhi kesehatan spiritual. Spiritualitas tidak selalu berkaitan dengan agama, tetapi spiritualitas adalah bagaimana seseorang memahami keberadaannya dan hubungannya dengan alam semesta. Orang-orang mengartikan spiritualitas dengan berbagai cara dan tujuan tersendiri. Setiap agama menyatakan bahwa manusia ada dibawah kuasa Tuhan. Namun, dari semua itu setiap manusia berusaha untuk mengkontrol spiritualitasnya. Inilah yang disebut dengan menjaga kesehatan spiritual.
Hal terpenting yang mempengaruhi kesehatan spiritual dan sebaiknya kita jaga adalah nutrisi spiritual. Hal ini termasuk mendengarkan hal-hal positif dan pesan-pesan penuh kasih serta memenuhi kewajiban keagaman yang dianut. Selain itu juga dengan mengamati keindahan dan keajaiban dunia ini dapat memberikan nutrisi spiritual. Menilai keindahan alam dapat menjadi makanan bagi jiwa kita. Bahkan serangga yang terlihat buruk pun adalah sebuah keajaiban untuk diamati dan dinilai.
Kedamaian dengan meditasi adalah bentuk lain untuk mendapatkan nutrisi spiritual. Hal itu bukanlah meminta tuhan kita apa yang kita inginkan tetapi mencari keheningan untuk merekleksikan dan berterima kasih atas apa pun yang telah kita terima.
Hal lain yang mempengaruhi kesehatan spiritual kita adalah latihan. Tidak hanya latihan dasar untuk kesehatan tubuh, tetapi juga latihan spiritual untuk menjaga spiritual. Latihan ini terdiri dari penggunaan jiwa kita. Sehingga latihan tersebut memberi sentuhan pada jiwa kita dan digunakan untuk menuntun kita untuk bertingkah-laku dengan baik, untuk menunjukan cinta kasih dan perasaan pada oaring lain untuk memahami dan untuk mencari kedamaian.
Faktor lain yang mempengaruhi kesehatan spiritual adalah lingkungan. Hal ini dikarenakan lingkungan dimana kita hidup adalah somber utama kejahatan ynag dapat mempengaruhi jiwa kita. Kita harus waspada untuk menghindari keburukan yang berasal dari lingkungan kita dan mencari hal positif yang dapat diambil. Tantangan yang dapat mengancam kesehatan spiritual kita dapat berasal dari luar maupun dari dalam dari kita.
Ancaman dari luar dikarenakan setiap orang memiliki bentuk penularan spiritual yang menyebarkan penyakit spiritual kepada orang lain disekitar mereka. Beberapa orang merusak moral dan mencoba untuk menarik orang lain untuk mengikuti kepercayaannya. Beberapa agama menberikan bekal keimanan yang cukup untuk menolak kepercayaan lain. Banyak orang-orang yang melakukan hal-hal yang buruk dan jahat. Kemudian mempengaruhi orang lain untuk mengikuti hal-hal buruk yang dilakukan. Keinginan untuk melakukan hal-hal buruk tersebut timbul dari keinginan diri sendiri. Jadi, Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan spiritual adalah nutrisi, latihan dan lingkungan tempat tinggal. Selain itu, terdapat ancaman dari luar maupun dari dalam diri kita. Sehingga kita harus pandai-pandai untuk menjaga kesehatan spiritual kita.
2.4 Karakteristik Spiritual
Karakteristik spiritual yang utama meliputi perasaan dari keseluruhan dan keselarasan dalam diri seorang, dengan orang lain, dan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi sebagai satu penetapan. Orang-orang, menurut kepada tingkat perkembangan mereka, pengalaman, memperhitungkan keamanan individu, tanda-tanda kekuatan, dan perasaan dari harapan. Hal itu tidak berarti bahwa individu adalah puas secara total dengan hidup atau jawaban yang mereka miliki. Seperti setiap hidup individu berkembang secara normal, timbul situasi yang menyebabkan kecemasan, tidak berdaya, atau kepusingan. Situasi yang susah menghasilkan pertanyaan spiritual, mengkaji klien dengan perjuangan spiritual berikut adalah aspek penting dan valid dari memelihara kesehatan dan memberikan asuhan keperawatan.
1. Holism
Holism, posisi mengamati seluruh bidang sebagai suatu system yang kurang berhubungan dengan rukun daripada hubungan yang mengasingkan bagian-bagian, menggabungkan pikiran dan tubuh dan menegaskan semangat (Seller dan Haag, 1998). Sebuah pendekatan yang holistic mengakui perjuangan spiritual sebagai aspek yang valid dan penting dri kesehatan dan asuhan keperawatan (Fig. 50-1). Hal tersebut adalah menggabungkan factor dari “mengadakan penggolongan sebelumnya yang dibangun dari jasmani, pemikiran rasional, jiwa emosional, dan semangat intuisi (Ruffing-rahal, 1984, p.12).
2. Kebutuhan spiritual
Definisi dari kebutuhan spiritual sangat bergantung pada setiap system kepercayaan penulis. Dalam meringkaskan definisi-definisi yang bervariasi, kebutuhan spiritual menunjukkan sebuah ekspresi normal dari dalam diri seseorang yang mencari maksud dalam semua pengalaman dan sebuah hubungan yang dinamik dengan dirinya, orang lain, dan pada lainnya yang tertinggi sebagai ketetapan seseorang. Kebutuhan spiritual yang berasal melalui pengalaman afektif dari semangat, harapan, cinta, dan pengalaman positif yang menjalani sebagai katalis dari maksud dan sintesis. Karakteristik ebutuhan spiritual meliputi:
• Kepercayaan
• Pemaafan
• Cinta dan hubungan
• Keyakinan, kreativitas dan harapan
• maksud dan tujuan serta anugrah dan harapan
Karakteristik dari kebutuhan spiritual ini menjadi dasar dalam menentukan karakteristik dari perubahan fungsi spiritual yang akan mengrahkan individu dalam berperilaku, baik itu kearah perilaku yang adaptif maupun perilaku yang adaptif.
3. Pencarian spiritual
Hidup dapat digambarkan sebagai suatu pencarian spiritual, tidak hanya untuk menjawab pertanyaan filosofi kehidupan, tetapi untuk mencari level tertinggi dari kesadaran atau kesadaran paling dalam dari kehidupan spiritual. Sebagai contoh, program ‘the twelve-step’ dari ‘alcoholics anonymous’ mengidentifikasi kesembuhan sebagai suatu perjalanan spiritual; anggota dari grup ini memrakterkan sebuah disiplin spiritual pada kehidupan yang lebih berarti, hari demi hari. Chapman (1986) meliputi jug aide dari pencarian dalam penetapan kesehatan spiritual yang optimal. Kesehatan spiritual meliputi “… kemampuan kita untuk menemukan dan artikulat diri kita tujuan dasar dalam hidup, belajar bagaimana pada pengalaman cinta, kesenangan, kedamaian dan pemenuhan…”(p. 41).
4. Kesehatan spiritual
Kesehatan spiritual adalah suatu kondisi yang ditandai oleh sebuah penguatan hidup, kedamaian, keselarasan, dan perasaan saling berhubungan dengan Tuhan, dirinya, komunitas, dan lingkungan yang pemeliharaan dan keseluruhan ternama (Greer dan Moberg, 1998). Dalam hirarki kebutuhan manusia, kesehatan spiritual tampak untuk pemenuhan yang mengandung arti dari kebutuhan melebihi tingkat aktualisasi diri.
2.5 Perubahan Fungsi Spiritual
Perilaku individu sangat dipengaruhi oleh spiritualisme dalam kehidupaannya. Perawat professional dituntut untuk mampu memahami perubahan fungsi spiritual agar dapat memberikan asuhan keperawatan pada lingkup kesehatan spiritual sebagai wujud keperawatan holistik. Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Pada laporan tugas mandiri ini, akan dibahas tentang perubahan fungsi spiritual. Laporan ini dibuat dari beberapa sumber pustaka dan mengunduh dari internet.
Spirituality adalah suatu yang dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup kepercayaan dan nilai kehidupan. Spiritualitas mampu menghadirkan cinta, kepercayaan, harapan, dan melihat arti dari kehidupan dan memelihara hubungan dengan sesama. Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan, memenuhi kewajiban agama, dan kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan.
Perilaku dan ekspresi yang beranekaragam mungkin menjadi tanda dari klien yang mengalami kecemasan spiritual. Setiap manusia pernah mengalami masalah spiritual. Masalah spiritual ketika penyakit , kehilangan, dan nyeri menyerang seseorang. Kekuatan spiritual dapat membantu seseorang ke arah penyembuhan atau pada perkembangan kebutuhan dan perhatian spiritual. Individu selama sakit sering menjadi kurang mampu untuk merawat diri mereka dan lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan. Distresss spiritual dapat berkembang sejalan dengan seseorang mencari makna tentang apa yang sedang terjadi, yang mungkin dapat mengakibatkan seseorang merasa sendiri dan terisolasi dari orang lain. Individu mungkin mempertanyakan nilai spiritual mereka, mengajukan pertanyaan tentang jalan hidup seluruhnya, tujuan hidup, dan sumber dari makna hidup.
Orang menderita disfungsi spiritual mungkin mengucapkan antaralain distresss atau mengatakan butuh bantuan. Perwujudan verbalisasi mungkin tepat: “saya merasa bersalah karena saya seharusnya memahami lebih dulu dia mempunyai serangan jantung” atau mungkin berkata,” saya tidak pernah melewati pelayanan di 20 tahun”. Perwujudan mungkin menjadi lebih subjektif sebagai percakapan melantur dari klien tentang hidup, mati, dan nilai. Klien mungkin bertanya kepada perawat untuk berdoa untuk mereka atau memberitahukan pembimbing spiritual dari keadaan sakit mereka
Perubahan perilaku mungkin menjadi perwujudan dari disfungsi spiritual. Klien yang gelisah tentang hasil tes diagnosa atau yang menunjukan kemarahan setelah mendengar hasil mungkin menjadi menderita distresss spiritual. Beberapa orang menjadi lebih merenung, berupaya untuk memperhitungkan situasi dan mencari fakta bacaan yang berlaku. Beberapa reaksi emosional, mencari informasi, dan dukungan dari teman dan keluarga. Pengenalan dari masalah, kemungkinan yang timbul tidak bisa tidur atau kekurangan konsentrasi. Kesalahan, ketakutan, keputusasaan, kekhawatiran, dan kecemasan juga mungkin menjadi indikasi perubahan fungsi spiritual
Ekspresi adaptif dan malaadaptif dari kebutuhan spiritual dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Kebutuhan Pola perilaku adaptif Pola perilaku malaadaptif
Kepercayaan - Kepercayaan diri dan memiliki daya tahan
- Menerima yang lain agar mampu bertemu dengan kebutuhan
- Kepercayaan dalam hidup
- Menerima hasil dari hidup
- Terbuka kepada Tuhan
- Menunjukan ketidaknyamanan dengan kesadaran diri sendiri
- Mudah tertipu
- Merasakan hanya orang dan tempat tertentu saja yang aman
- Mengharapkan orang menjadi tidak ramah dan tidak dapat dipercaya
- Tidak sabar
- Takut akan kehendak Tuhan
Pemaafan - Menerima ketidaksempurnaan diri dan lainnya.
- Tidak menghakimi
- Memandang penyakit berdasarkan realitas
- Mengalami pemaafan diri sendiri
- Menawarkan untuk memaafkan yang lain
- Menerima pemaafan dari Tuhan
- Mempunyai pandangan secara realistis di masa lalu - Memandang penyakit sebagai hukuman
- Percaya Tuhan menghukum
- Merasa untuk memaafkan tergantung dari perilaku
- Tidak bisa untuk menerima diri sendiri
- Diantara mencela diri sendiri atau mencela pekerjaan
Cinta dan hubungan - Mengungkapkan rasa dicintai Tuhan dan lainnya
- Menerima bantuan
- Menerima diri sendiri
- Mencari kebaikan lainnya - Merasa yang lain menghakimi dia
- Berkelakuan diri sendiri secara deskriptif
- Menolak untuk kerjasama dengan tim kesehatan
- Mengkhawatirkan tentang pemisahan dari mencintai seseorang
- Penolakan diri atau menunjukan salah harga diri dan sifat egois
- Kekurangan hubungan cinta dengan Tuhan
- Merasa ada jarak dan terpisahkan dari Tuhan
Keyakinan - Menggantungkan kebijakan bersifat illahi kepada Tuhan
- Motivasi terhadap pertumbuhan
- Mengungkapkan kepuasan dengan keterangan dari hidup setelah mati
- Mengungkapkan kebutuhan untuk masuk kedalam naungan besar dari drama cerita manusia
- Mengungkapkan kebutuhan tanda, ritual
- Mengungkapkan kebutuhan dari makna untuk membagi kepada komunitas seiman - Mengungkapkan dua perasaan yang saling bertentangan tentang Tuhan
- Kekurangan iman di luar batas kewajaran kekuatan atau Tuhan
- Ketakutan mati atau hidup setelah mati
- Putus asa, dan marah dengan Tuhan
- Ketidakjelasan nilai, kepercayaan, dan tujuan
- Konflik nilai
- Kekurangan komitmen
Kreativitas dan harapan - Bertanya informasi tentang kondisi
- Berbicara tentang kondisi realistis
- Menggunakan waktu selama sakit dengan hasil yang bermanfaat
- Mencari jalan untuk menunjukan diri sendiri
- Lebih suka menemukan kenyamanan di dalam diri daripada fisik diri atau kriteria duniawi
- Mengungkapkan harapan dimasa depan
- Terbuka terhadap kemungkinaan dari ketentraman - Mengungkapkan ketakutan dari kehilangan kontrol
- Mengungkapkan kebosanan
- Kekurangan visi dari kemungkinan alternatif
- Ketakutan terapi
- Keputusasaan
- Tidak dapat membantu diri sendiri atau menerima diri
- Tidak dapat menikmati apapun
- Meletakkan hidup atau keputusan besar di genggaman
Maksud dan tujuan - Mengungkapkan kepuasan hidup
- Tinggal hidup di kesepakatan dengan sistem nilai
- Menerima atau memanfaatkan penderitaan untuk mengerti diri sendiri
- Mengungkapkan maksud hidup atau mati
- Mengungkapkan komitmen dan tujuan akhir orientasi
- Mempunyai makna jelas dari apa yang penting
- Mengungkapkan tidak ada tujuan untuk hidup
- Menemukan tidak ada maksud dalam penderitaan
- Mempertanyakan maksud penderitaan
- Mempertanyakan tujuan dari penyakit
- Tidak dapat membentuk tujuan akhir atau mempunyai tujuan akhir tak bisa dicapai
- Mencaci maki obat atau alkohol
- Bercanda tentang hidup setelah kematian
Anugrah atau Karunia - Hidup di pergerakan
- Merasakan berkat dan kemewahan
- Merasakan anugrah yang diberikan di akhirat kepada diri dari Tuhan
- Merasakan ketentraman atau kebulatan hati
- Cemas tentang masa lalu dan masa depan
- Berorientasi kearah penghargaan atau hasil
- Focus pada penyesalan
- Berbicara tentang menjadi lebih baik atau mencoba lebih keras adalah perfeksionis
Pembahasan diatas menggambarkan kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Individu selama sakit sering menjadi kurang mampu untuk merawat diri mereka dan lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan. Perubahan fungsi spiritualitas sering terjadi dalam kehidupan. Oleh karena itu, perubahan fungsi spiritualitas klien perlu dipahami perawat dalam pemberian asuhan keperawatan secara holistik.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesehatan spiritual berkaitan erat dengan dimensi lain dan dapat dicapai jika terjadi keseimbangan dengan dimensi lain ( fisiologis, psikologis, sosiologis, kultural). Kesehatan spiritual sangat berpengaruh terhadap koping yang dimiliki individu. Semakin tinggi tingkat spiritual individu, maka koping yang dimiliki oleh individu tersebut juga akan semakin meningkat. Sehingga mampu meningkatkan respon adaptif terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada diri individu tersebut. Peran perawat adalah bagaimana perawat mampu mendorong klien untuk meningkatkan spiritualitasnya dalam berbagai kondisi, Sehingga klien mampu menghadapi, menerima dan mempersiapkan diri terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada diri individu tersebut.
3.2 Saran
Peningkatan spiritualitas dalam diri setiap individu sangat penting untuk diupayakan. Upaya untuk melakukan peningkatan spiritualitas dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan latihan yoga dan melakukan meditasi. Penting juga diperhatikan pemenuhan nutrisi spiritual. Hal tersebut tentunya tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, akan lebih baik jika dilaksanakan secara berkesinambungan. Dengan meningkatkan spiritualitas dalam diri, maka koping yang kita miliki juga akan meningkat. Sehingga mampu berperilaku dan mempertahankan kesehatan dalam kondisi yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Chapman, L. S. 1997. Spiritual health: A component missing from health promotion. American Journal of Health Promotion, 1(1), 38-41.
Craven, R.F., Hirnle, C.J. 2007. Fundamental of nursing: Human health and function.Third edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Crisp, J. Taylor, C., Potter, P.A., & Perry, A. G. (2001). Fundamental of Nursing, Singapore: Mosby
Danah Zohar. (2000). Spiritual Intelligence The Ultimate Intelligence:Great Britain
Daniel G,.( 1999). Emotional Intelligence, Jakarta.: gramdia, Pustaka Utama
Dombeck. 1995. Spiritual Nursing. Lowa ; University of Lowa
Dorlan. (1995). Dorland’s Pocket Medical Dictionary. Twenty Fifth Edition. Philadelphia : W.B Saunders Company
Fortune, Karen Lee. 2003. Mental Health Nursing 5 th ed. Pearson education, inc. BAB 2.
Greer, J., and Moberg, D. O. 1998. Research in the social scientific study of religion. Greenwich, CT: Jai Press.
Haber j.dkk. 3 nd.(1987). Comprehensive Psychiatric Nursing. New York: Mc Graw-Hill Book Company.
Hungelman. 1985. Spiritual concept nursing care. Three edition. Philadelphia : lippincot williams & wilkins
Hinchliff, Sue.(1997).Kamus Keperawatan. Alih bahasa oleh dr.Andry Hartono.Jakarta: EGC
Kozier, B. Erb, G Berman A.J . (1995). Fundamental of Nursing : concepts, process, and practice. Fifth Edition. California : Addison-Wesley Publishing Company.
Kozier, Erb. Berman. Snyder. (2004). Fudamental of nursing: Concepts, process, and practice. Seventh Edition. New Jersey : Pearson Education. Inc.
Mauk, K & Schmidt, N. (2004). Spiritual Care in Nursing Practice. Philadelpia: Lippincott.
Murray, R. B., and Zentner, J. P. 1993. Nursing concepts for health promotion (5th ed). Englewood Cliffs, NJ: Preventice-Hall.
New Webster’s Dictionary: Of the English Language.(1981). New York: Delair Publishing Company Inc.
Potter, P.A & Perry, A.G.(2005). Fundamental Of Nrsing: Concepts, Process, and Practice. Eds 4. Jakarta: EGC
Potter, P.A. and Perry, A.G. (2005). Fundamental of Nursing : concepts, process, and practice. Sixth Edition. St. Louis : Mosby.
Rawlins, R & Heacock. (1993). Clinical Manual of Pshyciatric Nursing. 2nd Ed. St. Louis: Mosby Year Book.
Ruffling-Rahal, M. A. 1984. The spiritual dimension of well-being: Implications for the elderly. Home Health Nurse, 2, 12-16.
Sellers, S. C., and Haag, B. A. 1998. Spiritual nursing interventions. Journal of Nursing, 16(3), 338-354.
Taylor R, R., Lilis, C., & Lemone, P. (1997). Fundamentals of Nursing: The Art and Science of Nursing Care. Philadelphia: Lippincott.
Town send, Mary C. 2000.Psychiatric Mental Nursing Concept of Care 3 th ed. Philadelphia: F.A. Devis Company. BAB 6. h.89-99
Walter. 1997. Conceptual Models of Nursing: Analysis and Application. USA: Appleton & Lange
Widyatuti. Dimensi Spiritual dalam Keperawatan. Jurnal Keperawatan Indonesia volume II, September 1999.
Yani, A. (1994). Bahan kuliah Aspek Spiritual dalam Keperawatan.
Yetty.K dan Agustini N. (1998). Dimensi Spiritual dalam Asuhan Keperawatan. Makalah
Aspek-aspek Kecerdasan Emosi, tersedia dalam.http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/30/musik_merupakan_stimulasi_terhad.htm(diakses 26 Oktober 2009 pukul 12.10 WIB)
Burry. Asuhan spiritual dalam keperawatan.
http://ners.fk.unair.ac.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=144 diperoleh tanggal 27 Oktober 2009
Daniels, Georg. Spiritual health
www.rsu.edu/faculty/LAndrews/Spiritual%20Health.ppt diperoleh tanggal 27 Oktober 2009
Eko Iman, Paradigma Baru Kecerdasan Manusia, tersedia dalam http://www.mail-archive.com/formiskat@groups.plnkalbar.co.id/msg00083.html(diunduh 26 oktober 2009 11.30 WIB)
Henderson, V. (2006). The concepts of nursing. Journal of advance nursing, 53, (1), 25-31. Diambil pada 28 Oktober 2009 dari jam 20.00 WIB dari http://www.journalofadvancednursing.com/docs/jan_1978.pdf.
Kurtus, Ron. (2008). Factor Involved in Spiritual Health. http://www.school-for-champions.com/spiritualhealth/factors.htm diunduh tangga 28 Oktober 2009 pukul 14.09 WIB
Makhija. (2002). “Spiritual Nursing”. Nursing journal of India. (June, 2002). Style Sheet: http://findarticles.com/p/articles/mi_qa4036/is_%20200206/ai_n9120374. (27 Oktober 2009).
Natsir, Rina Pristiawati. Hubungan aspek dengan spiritual.
http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi/ilmu-keperawatan/hubungan-penerapan-aspek-spiritualitas-perawat-dengan-pemenuhan-kebut diperoleh tanggal 27 Oktober 2009
Sulaiman. Spiritual
http://sulaiman.detik.com/category/spiritual/ diperoleh tanggal 26 Oktober 2009.
PEMBAHASAN
Manusia terdiri dari dimensi fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual dimana setiap dimensi harus dipenuhi kebutuhannya. Seringkali permasalahan yang mucul pada klien ketika mengalami suatu kondisi dengan penyakit tertentu (misalnya penyakit fisik) mengakibatkan terjadinya masalah psikososial dan spiritual. Ketika klien mengalami penyakit, kehilangan dan stres, kekuatan spiritual dapat membantu individu tersebut menuju penyembuhan dan terpenuhinya tujuan dengan atau melalui pemenuhan kebutuhan spiritual. Dengan kata lain apabila satu dimensi terganggu, maka dimensi yang lain akan terganggu.
Penelitan menyebutkan seseorang dinyatakan usianya tinggal beberapa bulan, tetapi karena ia memilki koping yang baik berdasarkan pengalaman agamanya (salah satu sumber dimensi spiritual), ia tetap bahagia menjalani hari-harinya dengan bernyanyi dan ceria, membuat puisi-puisi yang indah. Ternyata orang tersebut mampu bertahan hingga bartahun-tahun. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Pressman, dkk (1990) menunjukkan bahwa wanita lanjut usia yang menderita farktur tulang pinggul yang kuat religi dan pengalaman agamanya, ternyata lebih kuat mental dan kurang mengeluh, depresi, dan lebih cepat berjalan daripada yang tidak mempunyai komitmen agama.Dari hal-hal tersebut diatas dapat dikatakan dimensi spiritual menjadi hal penting sebagai terapi kesehatan. Berikut akan diuraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan konsep kesehatan spiritual.
2.1. Pola Normal Spiritual
Dimensi spiritual adalah sesuatu yang terintegrasi dan berhubungan dengan dimensi yang lain dalam diri seorang individu. Spiritualitas mewakili totalitas keberadaan seseorang dan berfungsi sebagai perspektif pendorong yang menyatukan berbagai aspek individual. Dimensi spiritual merupakan salah satu dimensi penting yang perlu diperhatikan oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada seorang klien. Makhija (2002) menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan personal individu. Keyakinan tersebut diketahui sebagai suatu faktor yang kuat dalam penyembuhan dan pemulihan fisik. Oleh karena itu, menjadi suatu hal penting bagi perawat untuk meningkatkan pemahaman tentang konsep spiritual agar dapat memberikan asuhan spiritual dengan baik kepada klien.
Setiap individu memiliki definisi dan konsep yang berbeda mengenai spiritualitas. Kata-kata yang digunakan untuk menjabarkan spiritualitas termasuk makna, transenden, harapan, cinta, kualitas, hubungan, dan eksistensi (Emblen dalam Potter & Perry, 2005).Setiap individu memiliki pemahaman tersendiri mengenai spiritualitas karena masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda mengenai hal tersebur. Perbedaan definisi dan konsep spiritualitas dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup seseorang, serta persepsi mereka tentang hidup dan kehidupan. Pengaruh tersebut nantinya dapat mengubah pandangan seseorang mengenai konsep spiritulitas dalam dirinya sesuai dengan pemahaman yang ia miliki dan keyakinan yang ia pegang teguh.
Konsep spiritual memiliki arti yang berbeda dengan konsep religius. Banyak perawat dalam praktiknya tidak dapat membedakan kedua konsep tersebut karena menemui kesulitan dalam memahami keduanya. Kedua hal tersebut memang sering digunakan secara bersamaan dan saling berhubungan satu sama lain. Konsep religius biasanya berkaitan dengan pelaksanaan suatu kegiatan atau proses melakukan suatu tindakan. Konsep religius merupakan suatu sistem penyatuan yang spesifik mengenai praktik yang berkaitan bentuk ibadah tertentu. Emblen dalam Potter dan Perry mendefinisikan religi sebagai suatu sistem keyakinan dan ibadah terorganisasi yang dipraktikan seseorang secara jelas menunjukkan spiritualitas mereka.
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa religi adalah proses pelaksanaan suatu kegiatan ibadah yang berkaitan dengan keyakinan tertentu. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan spiritualitas diri mereka. Sedangkan spiritual memiliki konsep yang lebih umum mengenai keyakinan seseorang. Terlepas dari prosesi ibadah yang dilakukan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan tersebut.
Konsep spiritual berkaitan berkaitan dengan nilai, keyakinan, dan kepercayaan seseorang. Kepercayaan itu sendiri memiliki cakupan mulai dari atheisme (penolakan terhadap keberadaan Tuhan) hingga agnotisme (percaya bahwa Tuhan ada dan selalu mengawasi) atau theism (Keyakinan akan Tuhan dalam bentuk personal tanpa bentuk fisik) seperti dalam Kristen dan Islam. Keyakinan merupakan hal yang lebih dalam dari suatu kepercayaan seorang individu. Keyakinan mendasari seseorang untuk bertindak atau berpikir sesuai dengan kepercayaan yang ia ikuti.
Keyakinan dan kepercayaan akan Tuhan biasanya dikaitkan dengan istilah agama. Di dunia ini, banyak agama yang dianut oleh masyarakat sebagai wujud kepercayaan mereka terhadap keberadaan Tuhan. Tiap agama yang ada di dunia memiliki karakteristik yang berbeda mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan dan keyakinan sesuai dengan prinsip yang mereka pegang teguh. Keyakinan tersebut juga mempengaruhi seorang individu untuk menilai sesuatu yang ada sesuai dengan makna dan filosofi yang diyakininya. Sebagai contoh, persepsi seorang Muslim mengenai perawatan kesehatan dan respon penyakit tentunya berbeda dengan persepsi seorang Budhis. Semua itu tergantung konsep spiritual yang dipahami sesuai dengan keyakinan dan keimanan seorang individu. Konsep spiritual yang dianut atau dipahami oleh seorang klien dapat mempengaruhi cara pandang klien mengenai segala sesuatunya, tak terkecuali dalam bidang kesehatan. Paradigma mengenai sakit, tipe-tipe pengobatan yang dilakukan, persepsi mengenai kehidupan dan makna yang terkandung di dalamnya adalah contoh penerapan konsep spiritual secara normal pada diri seorang individu. Ada beberapa agama yang menerapkan pola normal spiritualnya dengan cara:
• Beberapa orang menjadi spiritual setelah usia 40 tahun. Pada satu tingkat pergi ke kuil, menghadiri wacana-wacana dan membaca buku-buku atau kitab-kitab dianggap sangat spiritual.
• Tingkat kedua orang memiliki seorang guru mengikuti tradisi maka mereka memiliki sadhana. Ini adalah zaman baru modern gaya
• Ada tingkat ketiga orang yang mempunyai dewa dan mereka upsana.
• Beberapa praktik seni seperti astrologi atau obat atau tari atau musik dan kemudian mereka menggunakan waktu luang ada dalam sadhana spiritual.
• Beberapa orang menghadiri Bhajan dan kemudian melakukan pelayanan sosial yang juga baik seperi pelayanan kesehatan.
Gambar 1. Pola normal spiritual
Pola normal spiritual sangat erat hubungannya dengan kesehatan, Karena dari pola tersebut dapat menciptakan suatu bentuk perilaku adaptif ataupun maladaptif berhubungan dengan penerimaan kondisi diri (lihat gambar 1). Dimensi spiritual merupakan dimensi yang sangat penting diperhatikan oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada semua klien. Bahkan Makhija (2002) menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan personal individu. Lebih lanjut dikatakannya bahwa keimanan diketahui sebagai suatu faktor yang sangat kuat (powerful) dalam penyembuhan dan pemulihan fisik, yang tidak dapat diukur. Mengingat pentingnya peranan spiritual dalam penyembuhan dan pemulihan kesehatan maka penting bagi perawat untuk meningkatkan pemahaman tentang konsep spiritual agar dapat memberikan asuhan spiritual dengan baik kepada semua klien.
2.2 Perkembangan Aspek Spiritual
Perawat yang bekerja di garis terdepan harus mampu memenuhi semua kebutuhan manusia termasuk juga kebutuhan spiritual klien. Berbagai cara dilakukan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien mulai dari pemenuhan makna dan tujuan spiritual sampai dengan memfasilitasi klien untuk mengekspresikan agama dan keyakinannya. Pemenuhan aspek spiritual pada klien tidak terlepas dari pandangan terhadap lima dimensi manusia yang harus dintegrasikan dalam kehidupan. Lima dimensi tersebut yaitu dimensi fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual (Rawlins, 1993). Dimensi-dimensi tersebut berada dalam suatu sistem yang saling berinterksi, interrelasi, dan interdepensi, sehingga adanya gangguan pada suatu dimensi dapat mengganggu dimensi lainnya.
Perawat harus mengetahui tahap perkembangan spiritual dari manusia, sehingga perawat dapat memberikan asuhan keperawatan dengan tepat dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual klien. Tahap perkembangan klien dimulai dari lahir sampai klien meninggal dunia. Perkembangan spiritual manusia dapat dilihat dari tahap perkembangan mulai dari bayi, anak-anak, pra sekolah, usia sekolah, remaja, desawa muda, dewasa pertengahan, dewasa akhir, dan lanjut usia. Secara umum tanpa memandang aspek tumbuh-kembang manusia proses perkembangan aspek spiritual dilhat dari kemampuan kognitifnya dimulai dari pengenalan, internalisasi, peniruan, aplikasi dan dilanjutkan dengan instropeksi. Namun, berikut akan dibahas pula perkembangan aspek spiritual berdasarkan tumbuh-kembang manusia.
Perkembangan spiritual pada anak sangatlah penting untuk diperhatikan. Manusia sebagai klien dalam keperawatan anak adalah individu yang berusia antara 0-18 bulan, yang sedang dalam proses tumbuh kembang, yang mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial, dan spiritual) yang berbeda dengan orang dewasa. Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungan, artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri.
Tahap awal perkembangan manusia dimulai dari masa perkembangan bayi. Haber (1987) menjelaskan bahwa perkembangan spiritual bayi merupakan dasar untuk perkembangan spiritual selanjutnya. Bayi memang belum memiliki moral untuk mengenal arti spiritual. Keluarga yang spiritualnya baik merupakan sumber dari terbentuknya perkembangan spiritual yang baik pada bayi (Widyatuti, 1999). Oleh karena itu, perawat dapat menjalin kerjasama dengan orang tua bayi tersebut untuk membantu pembentukan nilai-nilai spiritual pada bayi.
Dimensi spiritual mulai menunjukkan perkembangan pada masa kanak-kanak awal (18 bulan-3 tahun). Anak sudah mengalami peningkatan kemampuan kognitif. Anak dapat belajar membandingkan hal yang baik dan buruk untuk melanjuti peran kemandirian yang lebih besar. Tahap perkembangan ini memperlihatkan bahwa anak-anak mulai berlatih untuk berpendapat dan menghormati acara-acara ritual dimana mereka merasa tinggal dengan aman. Observasi kehidupan spiritual anak dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana seperti cara berdoa sebelum tidur dan berdoa sebelum makan, atau cara anak memberi salam dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan lebih merasa senang jika menerima pengalaman-pengalaman baru, termasuk pengalaman spiritual.
Perkembangan spiritual pada anak masa pra sekolah (3-6 tahun) berhubungan erat dengan kondisi psikologis dominannya yaitu super ego. Anak usia pra sekolah mulai memahami kebutuhan sosial, norma, dan harapan, serta berusaha menyesuaikan dengan norma keluarga. Anak tidak hanya membandingkan sesuatu benar atau salah, tetapi membandingkan norma yang dimiliki keluarganya dengan norma keluarga lain. Kebutuhan anak pada masa pra sekolah adalah mengetahui filosofi yang mendasar tentang isu-isu spiritual. Kebutuhan spiritual ini harus diperhatikan karena anak sudah mulai berfikiran konkrit. Mereka kadang sulit menerima penjelasan mengenai Tuhan yang abstrak, bahkan mereka masih kesulitan membedakan Tuhan dan orang tuanya.
Usia sekolah merupakan masa yang paling banyak mengalami peningkatan kualitas kognitif pada anak. Anak usia sekolah (6-12 tahun) berfikir secara konkrit, tetapi mereka sudah dapat menggunakan konsep abstrak untuk memahami gambaran dan makna spriritual dan agama mereka. Minat anak sudah mulai ditunjukan dalam sebuah ide, dan anak dapat diajak berdiskusi dan menjelaskan apakah keyakinan. Orang tua dapat mengevaluasi pemikiran sang anak terhadap dimensi spiritual mereka.
Remaja (12-18 tahun). Pada tahap ini individu sudah mengerti akan arti dan tujuan hidup, Menggunakan pengetahuan misalnya untuk mengambil keputusan saat ini dan yang akan datang. Kepercayaan berkembang dengan mencoba dalam hidup. Remaja menguji nilai dan kepercayaan orang tua mereka dan dapat menolak atau menerimanya. Secara alami, mereka dapat bingung ketika menemukan perilaku dan role model yang tidak konsisten. Pada tahap ini kepercayaan pada kelompok paling tinggi perannya daripada keluarga. Tetapi keyakinan yang diambil dari orang lain biasanya lebih mirip dengan keluarga, walaupun mereka protes dan memberontak saat remaja. Bagi orang tua ini merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja.
Dewasa muda (18-25 tahun). Pada tahap ini individu menjalani proses perkembangannya dengan melanjutkan pencarian identitas spiritual, memikirkan untuk memilih nilai dan kepercayaan mereka yang dipelajari saaat kanak-kanak dan berusaha melaksanakan sistem kepercayaan mereka sendiri. Spiritual bukan merupakan perhatian utama pada usia ini, mereka lebih banyak memudahkan hidup walaupun mereka tidak memungkiri bahwa mereka sudah dewasa.
Dewasa pertengahan (25-38 tahun). Dewasa pertenghan merupakan tahap perkembangan spiritual yang sudah benar-benar mengetahui konsep yang benar dan yang salah, mereka menggunakan keyakinan moral, agama dan etik sebagai dasar dari sistem nilai. Mereka sudah merencanakan kehidupan, mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan terhadap kepercayaan dan nilai spiritual.
Dewasa akhir (38-65 tahun) .Periode perkembangan spiritual pada tahap ini digunakan untuk instropeksi dan mengkaji kembali dimensi spiritual, kemampuan intraspeksi ini sama baik dengan dimensi yang lain dari diri individu tersebut. Biasanya kebanyakan pada tahap ini kebutuhan ritual spiritual meningkat.
Lanjut usia (65 tahun sampai kematian). Pada tahap perkembangan ini, menurut Haber (1987) pada masa ini walaupun membayangkan kematian mereka banyak menggeluti spiritual sebagai isu yang menarik, karena mereka melihat agama sebagai faktor yang mempengaruhi kebahagian dan rasa berguna bagi orang lain. Riset membuktikan orang yang agamanya baik, mempunyai kemungkinan melanjutkan kehidupan lebih baik. Bagi lansia yang agamanya tidak baik menunjukkan tujuan hidup yang kurang, rasa tidak berharga, tidak dicintai, ketidakbebasan dan rasa takut mati. Sedangkan pada lansia yang spiritualnya baik ia tidak takut mati dan dapat lebih mampu untuk menerima kehidupan. Jika merasa cemas terhadap kematian disebabkan cemas pada proses bukan pada kematian itu sendiri.
Dimensi spiritual menjadi bagian yang komprehensif dalam kehidupan manusia. Karena setiap individu pasti memiliki aspek spiritual, walaupun dengan tingkat pengalaman dan pengamalan yang berbeda-beda berdasarkan nilai dan keyaninan mereka yang mereka percaya. Setiap fase dari tahap perkembangan individu menunjukkan perbedaan tingkat atau pengalaman spiritual yang berbeda.
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Spiritual
Kesehatan spiritual adalah komponen penting dari seorang individu yang dimiliki dan sebuah aspek integral dari filosofi kesehatan holistik. Kesehatan spiritual pasti mengalami keadaan yang tidak selalu sehat seperti halnya kesehatan fisik. Secara langsung maupun tidak langsung ada beberapa hal yang mempengaruhi kesehatan spiritual. Spiritualitas tidak selalu berkaitan dengan agama, tetapi spiritualitas adalah bagaimana seseorang memahami keberadaannya dan hubungannya dengan alam semesta. Orang-orang mengartikan spiritualitas dengan berbagai cara dan tujuan tersendiri. Setiap agama menyatakan bahwa manusia ada dibawah kuasa Tuhan. Namun, dari semua itu setiap manusia berusaha untuk mengkontrol spiritualitasnya. Inilah yang disebut dengan menjaga kesehatan spiritual.
Hal terpenting yang mempengaruhi kesehatan spiritual dan sebaiknya kita jaga adalah nutrisi spiritual. Hal ini termasuk mendengarkan hal-hal positif dan pesan-pesan penuh kasih serta memenuhi kewajiban keagaman yang dianut. Selain itu juga dengan mengamati keindahan dan keajaiban dunia ini dapat memberikan nutrisi spiritual. Menilai keindahan alam dapat menjadi makanan bagi jiwa kita. Bahkan serangga yang terlihat buruk pun adalah sebuah keajaiban untuk diamati dan dinilai.
Kedamaian dengan meditasi adalah bentuk lain untuk mendapatkan nutrisi spiritual. Hal itu bukanlah meminta tuhan kita apa yang kita inginkan tetapi mencari keheningan untuk merekleksikan dan berterima kasih atas apa pun yang telah kita terima.
Hal lain yang mempengaruhi kesehatan spiritual kita adalah latihan. Tidak hanya latihan dasar untuk kesehatan tubuh, tetapi juga latihan spiritual untuk menjaga spiritual. Latihan ini terdiri dari penggunaan jiwa kita. Sehingga latihan tersebut memberi sentuhan pada jiwa kita dan digunakan untuk menuntun kita untuk bertingkah-laku dengan baik, untuk menunjukan cinta kasih dan perasaan pada oaring lain untuk memahami dan untuk mencari kedamaian.
Faktor lain yang mempengaruhi kesehatan spiritual adalah lingkungan. Hal ini dikarenakan lingkungan dimana kita hidup adalah somber utama kejahatan ynag dapat mempengaruhi jiwa kita. Kita harus waspada untuk menghindari keburukan yang berasal dari lingkungan kita dan mencari hal positif yang dapat diambil. Tantangan yang dapat mengancam kesehatan spiritual kita dapat berasal dari luar maupun dari dalam dari kita.
Ancaman dari luar dikarenakan setiap orang memiliki bentuk penularan spiritual yang menyebarkan penyakit spiritual kepada orang lain disekitar mereka. Beberapa orang merusak moral dan mencoba untuk menarik orang lain untuk mengikuti kepercayaannya. Beberapa agama menberikan bekal keimanan yang cukup untuk menolak kepercayaan lain. Banyak orang-orang yang melakukan hal-hal yang buruk dan jahat. Kemudian mempengaruhi orang lain untuk mengikuti hal-hal buruk yang dilakukan. Keinginan untuk melakukan hal-hal buruk tersebut timbul dari keinginan diri sendiri. Jadi, Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan spiritual adalah nutrisi, latihan dan lingkungan tempat tinggal. Selain itu, terdapat ancaman dari luar maupun dari dalam diri kita. Sehingga kita harus pandai-pandai untuk menjaga kesehatan spiritual kita.
2.4 Karakteristik Spiritual
Karakteristik spiritual yang utama meliputi perasaan dari keseluruhan dan keselarasan dalam diri seorang, dengan orang lain, dan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi sebagai satu penetapan. Orang-orang, menurut kepada tingkat perkembangan mereka, pengalaman, memperhitungkan keamanan individu, tanda-tanda kekuatan, dan perasaan dari harapan. Hal itu tidak berarti bahwa individu adalah puas secara total dengan hidup atau jawaban yang mereka miliki. Seperti setiap hidup individu berkembang secara normal, timbul situasi yang menyebabkan kecemasan, tidak berdaya, atau kepusingan. Situasi yang susah menghasilkan pertanyaan spiritual, mengkaji klien dengan perjuangan spiritual berikut adalah aspek penting dan valid dari memelihara kesehatan dan memberikan asuhan keperawatan.
1. Holism
Holism, posisi mengamati seluruh bidang sebagai suatu system yang kurang berhubungan dengan rukun daripada hubungan yang mengasingkan bagian-bagian, menggabungkan pikiran dan tubuh dan menegaskan semangat (Seller dan Haag, 1998). Sebuah pendekatan yang holistic mengakui perjuangan spiritual sebagai aspek yang valid dan penting dri kesehatan dan asuhan keperawatan (Fig. 50-1). Hal tersebut adalah menggabungkan factor dari “mengadakan penggolongan sebelumnya yang dibangun dari jasmani, pemikiran rasional, jiwa emosional, dan semangat intuisi (Ruffing-rahal, 1984, p.12).
2. Kebutuhan spiritual
Definisi dari kebutuhan spiritual sangat bergantung pada setiap system kepercayaan penulis. Dalam meringkaskan definisi-definisi yang bervariasi, kebutuhan spiritual menunjukkan sebuah ekspresi normal dari dalam diri seseorang yang mencari maksud dalam semua pengalaman dan sebuah hubungan yang dinamik dengan dirinya, orang lain, dan pada lainnya yang tertinggi sebagai ketetapan seseorang. Kebutuhan spiritual yang berasal melalui pengalaman afektif dari semangat, harapan, cinta, dan pengalaman positif yang menjalani sebagai katalis dari maksud dan sintesis. Karakteristik ebutuhan spiritual meliputi:
• Kepercayaan
• Pemaafan
• Cinta dan hubungan
• Keyakinan, kreativitas dan harapan
• maksud dan tujuan serta anugrah dan harapan
Karakteristik dari kebutuhan spiritual ini menjadi dasar dalam menentukan karakteristik dari perubahan fungsi spiritual yang akan mengrahkan individu dalam berperilaku, baik itu kearah perilaku yang adaptif maupun perilaku yang adaptif.
3. Pencarian spiritual
Hidup dapat digambarkan sebagai suatu pencarian spiritual, tidak hanya untuk menjawab pertanyaan filosofi kehidupan, tetapi untuk mencari level tertinggi dari kesadaran atau kesadaran paling dalam dari kehidupan spiritual. Sebagai contoh, program ‘the twelve-step’ dari ‘alcoholics anonymous’ mengidentifikasi kesembuhan sebagai suatu perjalanan spiritual; anggota dari grup ini memrakterkan sebuah disiplin spiritual pada kehidupan yang lebih berarti, hari demi hari. Chapman (1986) meliputi jug aide dari pencarian dalam penetapan kesehatan spiritual yang optimal. Kesehatan spiritual meliputi “… kemampuan kita untuk menemukan dan artikulat diri kita tujuan dasar dalam hidup, belajar bagaimana pada pengalaman cinta, kesenangan, kedamaian dan pemenuhan…”(p. 41).
4. Kesehatan spiritual
Kesehatan spiritual adalah suatu kondisi yang ditandai oleh sebuah penguatan hidup, kedamaian, keselarasan, dan perasaan saling berhubungan dengan Tuhan, dirinya, komunitas, dan lingkungan yang pemeliharaan dan keseluruhan ternama (Greer dan Moberg, 1998). Dalam hirarki kebutuhan manusia, kesehatan spiritual tampak untuk pemenuhan yang mengandung arti dari kebutuhan melebihi tingkat aktualisasi diri.
2.5 Perubahan Fungsi Spiritual
Perilaku individu sangat dipengaruhi oleh spiritualisme dalam kehidupaannya. Perawat professional dituntut untuk mampu memahami perubahan fungsi spiritual agar dapat memberikan asuhan keperawatan pada lingkup kesehatan spiritual sebagai wujud keperawatan holistik. Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Pada laporan tugas mandiri ini, akan dibahas tentang perubahan fungsi spiritual. Laporan ini dibuat dari beberapa sumber pustaka dan mengunduh dari internet.
Spirituality adalah suatu yang dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup kepercayaan dan nilai kehidupan. Spiritualitas mampu menghadirkan cinta, kepercayaan, harapan, dan melihat arti dari kehidupan dan memelihara hubungan dengan sesama. Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan, memenuhi kewajiban agama, dan kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan.
Perilaku dan ekspresi yang beranekaragam mungkin menjadi tanda dari klien yang mengalami kecemasan spiritual. Setiap manusia pernah mengalami masalah spiritual. Masalah spiritual ketika penyakit , kehilangan, dan nyeri menyerang seseorang. Kekuatan spiritual dapat membantu seseorang ke arah penyembuhan atau pada perkembangan kebutuhan dan perhatian spiritual. Individu selama sakit sering menjadi kurang mampu untuk merawat diri mereka dan lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan. Distresss spiritual dapat berkembang sejalan dengan seseorang mencari makna tentang apa yang sedang terjadi, yang mungkin dapat mengakibatkan seseorang merasa sendiri dan terisolasi dari orang lain. Individu mungkin mempertanyakan nilai spiritual mereka, mengajukan pertanyaan tentang jalan hidup seluruhnya, tujuan hidup, dan sumber dari makna hidup.
Orang menderita disfungsi spiritual mungkin mengucapkan antaralain distresss atau mengatakan butuh bantuan. Perwujudan verbalisasi mungkin tepat: “saya merasa bersalah karena saya seharusnya memahami lebih dulu dia mempunyai serangan jantung” atau mungkin berkata,” saya tidak pernah melewati pelayanan di 20 tahun”. Perwujudan mungkin menjadi lebih subjektif sebagai percakapan melantur dari klien tentang hidup, mati, dan nilai. Klien mungkin bertanya kepada perawat untuk berdoa untuk mereka atau memberitahukan pembimbing spiritual dari keadaan sakit mereka
Perubahan perilaku mungkin menjadi perwujudan dari disfungsi spiritual. Klien yang gelisah tentang hasil tes diagnosa atau yang menunjukan kemarahan setelah mendengar hasil mungkin menjadi menderita distresss spiritual. Beberapa orang menjadi lebih merenung, berupaya untuk memperhitungkan situasi dan mencari fakta bacaan yang berlaku. Beberapa reaksi emosional, mencari informasi, dan dukungan dari teman dan keluarga. Pengenalan dari masalah, kemungkinan yang timbul tidak bisa tidur atau kekurangan konsentrasi. Kesalahan, ketakutan, keputusasaan, kekhawatiran, dan kecemasan juga mungkin menjadi indikasi perubahan fungsi spiritual
Ekspresi adaptif dan malaadaptif dari kebutuhan spiritual dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Kebutuhan Pola perilaku adaptif Pola perilaku malaadaptif
Kepercayaan - Kepercayaan diri dan memiliki daya tahan
- Menerima yang lain agar mampu bertemu dengan kebutuhan
- Kepercayaan dalam hidup
- Menerima hasil dari hidup
- Terbuka kepada Tuhan
- Menunjukan ketidaknyamanan dengan kesadaran diri sendiri
- Mudah tertipu
- Merasakan hanya orang dan tempat tertentu saja yang aman
- Mengharapkan orang menjadi tidak ramah dan tidak dapat dipercaya
- Tidak sabar
- Takut akan kehendak Tuhan
Pemaafan - Menerima ketidaksempurnaan diri dan lainnya.
- Tidak menghakimi
- Memandang penyakit berdasarkan realitas
- Mengalami pemaafan diri sendiri
- Menawarkan untuk memaafkan yang lain
- Menerima pemaafan dari Tuhan
- Mempunyai pandangan secara realistis di masa lalu - Memandang penyakit sebagai hukuman
- Percaya Tuhan menghukum
- Merasa untuk memaafkan tergantung dari perilaku
- Tidak bisa untuk menerima diri sendiri
- Diantara mencela diri sendiri atau mencela pekerjaan
Cinta dan hubungan - Mengungkapkan rasa dicintai Tuhan dan lainnya
- Menerima bantuan
- Menerima diri sendiri
- Mencari kebaikan lainnya - Merasa yang lain menghakimi dia
- Berkelakuan diri sendiri secara deskriptif
- Menolak untuk kerjasama dengan tim kesehatan
- Mengkhawatirkan tentang pemisahan dari mencintai seseorang
- Penolakan diri atau menunjukan salah harga diri dan sifat egois
- Kekurangan hubungan cinta dengan Tuhan
- Merasa ada jarak dan terpisahkan dari Tuhan
Keyakinan - Menggantungkan kebijakan bersifat illahi kepada Tuhan
- Motivasi terhadap pertumbuhan
- Mengungkapkan kepuasan dengan keterangan dari hidup setelah mati
- Mengungkapkan kebutuhan untuk masuk kedalam naungan besar dari drama cerita manusia
- Mengungkapkan kebutuhan tanda, ritual
- Mengungkapkan kebutuhan dari makna untuk membagi kepada komunitas seiman - Mengungkapkan dua perasaan yang saling bertentangan tentang Tuhan
- Kekurangan iman di luar batas kewajaran kekuatan atau Tuhan
- Ketakutan mati atau hidup setelah mati
- Putus asa, dan marah dengan Tuhan
- Ketidakjelasan nilai, kepercayaan, dan tujuan
- Konflik nilai
- Kekurangan komitmen
Kreativitas dan harapan - Bertanya informasi tentang kondisi
- Berbicara tentang kondisi realistis
- Menggunakan waktu selama sakit dengan hasil yang bermanfaat
- Mencari jalan untuk menunjukan diri sendiri
- Lebih suka menemukan kenyamanan di dalam diri daripada fisik diri atau kriteria duniawi
- Mengungkapkan harapan dimasa depan
- Terbuka terhadap kemungkinaan dari ketentraman - Mengungkapkan ketakutan dari kehilangan kontrol
- Mengungkapkan kebosanan
- Kekurangan visi dari kemungkinan alternatif
- Ketakutan terapi
- Keputusasaan
- Tidak dapat membantu diri sendiri atau menerima diri
- Tidak dapat menikmati apapun
- Meletakkan hidup atau keputusan besar di genggaman
Maksud dan tujuan - Mengungkapkan kepuasan hidup
- Tinggal hidup di kesepakatan dengan sistem nilai
- Menerima atau memanfaatkan penderitaan untuk mengerti diri sendiri
- Mengungkapkan maksud hidup atau mati
- Mengungkapkan komitmen dan tujuan akhir orientasi
- Mempunyai makna jelas dari apa yang penting
- Mengungkapkan tidak ada tujuan untuk hidup
- Menemukan tidak ada maksud dalam penderitaan
- Mempertanyakan maksud penderitaan
- Mempertanyakan tujuan dari penyakit
- Tidak dapat membentuk tujuan akhir atau mempunyai tujuan akhir tak bisa dicapai
- Mencaci maki obat atau alkohol
- Bercanda tentang hidup setelah kematian
Anugrah atau Karunia - Hidup di pergerakan
- Merasakan berkat dan kemewahan
- Merasakan anugrah yang diberikan di akhirat kepada diri dari Tuhan
- Merasakan ketentraman atau kebulatan hati
- Cemas tentang masa lalu dan masa depan
- Berorientasi kearah penghargaan atau hasil
- Focus pada penyesalan
- Berbicara tentang menjadi lebih baik atau mencoba lebih keras adalah perfeksionis
Pembahasan diatas menggambarkan kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Individu selama sakit sering menjadi kurang mampu untuk merawat diri mereka dan lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan. Perubahan fungsi spiritualitas sering terjadi dalam kehidupan. Oleh karena itu, perubahan fungsi spiritualitas klien perlu dipahami perawat dalam pemberian asuhan keperawatan secara holistik.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesehatan spiritual berkaitan erat dengan dimensi lain dan dapat dicapai jika terjadi keseimbangan dengan dimensi lain ( fisiologis, psikologis, sosiologis, kultural). Kesehatan spiritual sangat berpengaruh terhadap koping yang dimiliki individu. Semakin tinggi tingkat spiritual individu, maka koping yang dimiliki oleh individu tersebut juga akan semakin meningkat. Sehingga mampu meningkatkan respon adaptif terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada diri individu tersebut. Peran perawat adalah bagaimana perawat mampu mendorong klien untuk meningkatkan spiritualitasnya dalam berbagai kondisi, Sehingga klien mampu menghadapi, menerima dan mempersiapkan diri terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada diri individu tersebut.
3.2 Saran
Peningkatan spiritualitas dalam diri setiap individu sangat penting untuk diupayakan. Upaya untuk melakukan peningkatan spiritualitas dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan latihan yoga dan melakukan meditasi. Penting juga diperhatikan pemenuhan nutrisi spiritual. Hal tersebut tentunya tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, akan lebih baik jika dilaksanakan secara berkesinambungan. Dengan meningkatkan spiritualitas dalam diri, maka koping yang kita miliki juga akan meningkat. Sehingga mampu berperilaku dan mempertahankan kesehatan dalam kondisi yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Chapman, L. S. 1997. Spiritual health: A component missing from health promotion. American Journal of Health Promotion, 1(1), 38-41.
Craven, R.F., Hirnle, C.J. 2007. Fundamental of nursing: Human health and function.Third edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Crisp, J. Taylor, C., Potter, P.A., & Perry, A. G. (2001). Fundamental of Nursing, Singapore: Mosby
Danah Zohar. (2000). Spiritual Intelligence The Ultimate Intelligence:Great Britain
Daniel G,.( 1999). Emotional Intelligence, Jakarta.: gramdia, Pustaka Utama
Dombeck. 1995. Spiritual Nursing. Lowa ; University of Lowa
Dorlan. (1995). Dorland’s Pocket Medical Dictionary. Twenty Fifth Edition. Philadelphia : W.B Saunders Company
Fortune, Karen Lee. 2003. Mental Health Nursing 5 th ed. Pearson education, inc. BAB 2.
Greer, J., and Moberg, D. O. 1998. Research in the social scientific study of religion. Greenwich, CT: Jai Press.
Haber j.dkk. 3 nd.(1987). Comprehensive Psychiatric Nursing. New York: Mc Graw-Hill Book Company.
Hungelman. 1985. Spiritual concept nursing care. Three edition. Philadelphia : lippincot williams & wilkins
Hinchliff, Sue.(1997).Kamus Keperawatan. Alih bahasa oleh dr.Andry Hartono.Jakarta: EGC
Kozier, B. Erb, G Berman A.J . (1995). Fundamental of Nursing : concepts, process, and practice. Fifth Edition. California : Addison-Wesley Publishing Company.
Kozier, Erb. Berman. Snyder. (2004). Fudamental of nursing: Concepts, process, and practice. Seventh Edition. New Jersey : Pearson Education. Inc.
Mauk, K & Schmidt, N. (2004). Spiritual Care in Nursing Practice. Philadelpia: Lippincott.
Murray, R. B., and Zentner, J. P. 1993. Nursing concepts for health promotion (5th ed). Englewood Cliffs, NJ: Preventice-Hall.
New Webster’s Dictionary: Of the English Language.(1981). New York: Delair Publishing Company Inc.
Potter, P.A & Perry, A.G.(2005). Fundamental Of Nrsing: Concepts, Process, and Practice. Eds 4. Jakarta: EGC
Potter, P.A. and Perry, A.G. (2005). Fundamental of Nursing : concepts, process, and practice. Sixth Edition. St. Louis : Mosby.
Rawlins, R & Heacock. (1993). Clinical Manual of Pshyciatric Nursing. 2nd Ed. St. Louis: Mosby Year Book.
Ruffling-Rahal, M. A. 1984. The spiritual dimension of well-being: Implications for the elderly. Home Health Nurse, 2, 12-16.
Sellers, S. C., and Haag, B. A. 1998. Spiritual nursing interventions. Journal of Nursing, 16(3), 338-354.
Taylor R, R., Lilis, C., & Lemone, P. (1997). Fundamentals of Nursing: The Art and Science of Nursing Care. Philadelphia: Lippincott.
Town send, Mary C. 2000.Psychiatric Mental Nursing Concept of Care 3 th ed. Philadelphia: F.A. Devis Company. BAB 6. h.89-99
Walter. 1997. Conceptual Models of Nursing: Analysis and Application. USA: Appleton & Lange
Widyatuti. Dimensi Spiritual dalam Keperawatan. Jurnal Keperawatan Indonesia volume II, September 1999.
Yani, A. (1994). Bahan kuliah Aspek Spiritual dalam Keperawatan.
Yetty.K dan Agustini N. (1998). Dimensi Spiritual dalam Asuhan Keperawatan. Makalah
Aspek-aspek Kecerdasan Emosi, tersedia dalam.http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/30/musik_merupakan_stimulasi_terhad.htm(diakses 26 Oktober 2009 pukul 12.10 WIB)
Burry. Asuhan spiritual dalam keperawatan.
http://ners.fk.unair.ac.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=144 diperoleh tanggal 27 Oktober 2009
Daniels, Georg. Spiritual health
www.rsu.edu/faculty/LAndrews/Spiritual%20Health.ppt diperoleh tanggal 27 Oktober 2009
Eko Iman, Paradigma Baru Kecerdasan Manusia, tersedia dalam http://www.mail-archive.com/formiskat@groups.plnkalbar.co.id/msg00083.html(diunduh 26 oktober 2009 11.30 WIB)
Henderson, V. (2006). The concepts of nursing. Journal of advance nursing, 53, (1), 25-31. Diambil pada 28 Oktober 2009 dari jam 20.00 WIB dari http://www.journalofadvancednursing.com/docs/jan_1978.pdf.
Kurtus, Ron. (2008). Factor Involved in Spiritual Health. http://www.school-for-champions.com/spiritualhealth/factors.htm diunduh tangga 28 Oktober 2009 pukul 14.09 WIB
Makhija. (2002). “Spiritual Nursing”. Nursing journal of India. (June, 2002). Style Sheet: http://findarticles.com/p/articles/mi_qa4036/is_%20200206/ai_n9120374. (27 Oktober 2009).
Natsir, Rina Pristiawati. Hubungan aspek dengan spiritual.
http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi/ilmu-keperawatan/hubungan-penerapan-aspek-spiritualitas-perawat-dengan-pemenuhan-kebut diperoleh tanggal 27 Oktober 2009
Sulaiman. Spiritual
http://sulaiman.detik.com/category/spiritual/ diperoleh tanggal 26 Oktober 2009.
Langganan:
Postingan (Atom)